Hadis Nikah Mut’ah

Saudara Abu Hassan,

Lanjutan dari artikal nikah mut’ah yang lepas, berikut ini adalah sumber pegangan kami mengapa nikah mut’ah diharamkan sampai ke hari kiamat. Bagaimanapun tidak menghairankan kerana anda tidak mengunapakai hadis Imam Muslim ini – atau anda sekadar memakai hadis yang membenarkan sahaja. Hadis yang melarang tidak laku bagi saudara sekalipun sumber riwayatnya dari Imam Ali r.a!

Hadis mengizinkannya :

1. Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah r.a katanya:

“Kami pernah berperang bersama Rasullah s.a.w. dan bersama kami tiada orang-orang perempuan. Lalu kami berkata, “ Apakah tidak lebih baik kalau kami melakukan pengembirian?” Beliau s.a.w. melarang kami berbuat demikian, kemundian beliau s.a.w memberikan kelonggaran kepada kami untuk mengawini perempuan, dengan memberikan sehelai kain untuk masa yang ditentukan. Kemudian itu Abdullah membacakan ayat :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S al Maidah ayat 87)

2. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Akwa’ r.a  katanya :

“ Datang kepada kami orang yang disuruh Rasullah s.a.w menyiarkan sesuatu, katanya “Sesungguhnya Rasullah s.a.w. mengizinkan  kamu melakukan nikah mut’ah”.

Hadis Larangan :

3. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Salamah r.a. katanya :

“Rasullah s.a.w  memberi kelonggaran melakukan nikah Mut’ah di tahun Authas ( waktu penaklukan Makkah) selama 3 hari kemudian baginda melarangnya”

4. Imam Muslim meriwayatkan dari sabrah Al Juhaniyyi r.a mengatakan :

“ Bahawa dia pernah bersama Rasullah s.a.w. dan beliau s.a.w bersabda : Hai orang banyak! Sesunggunya akau pernah mengizinkan kamu melakukan nikah mut’ah dengan perempuan , tetapi sekarang  sesungguhnya Allah telah melarang itu sampai hari kiamat. Sebab itu siapa di antara kamu yang masih mempunyai perempuan itu, hendaklah di suruhnya pergi dan jangan kamu minta kembali apa yang telah kamu berikan, barang sedikitpun.”

5. Imam Muslim meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib r.a mengatakan :

“Bahawa Rasullah s.a.w. melarang nikah Mut’ah di hari perang Khaibar dan melarang memakan daging keledai jinak”

Saudara,

Hadis ke lima di atas adalah hadis yang sama diriwayat oleh kitab Syiah sendiri – rujuk Ali berkata, “Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengharamkan pada Perang Khaibar daging himar jinak dan nikah mut’ah.” (At-Tahdzif Juz II/186) , adakah saudara lepas pandang , atau masih bertaqiah?

Rujukan: Terjemahan Hadis Sahih Muslim Oleh Fachuruddin HS, Penerbit Bulan Bintang 1978, MS 153-154

Kuliah Tambahan :

About these ads

2 thoughts on “Hadis Nikah Mut’ah

  1. Apa pendapat islam tentang nikah mut’ah?

    Jawab: nikah mut’ah adalah haram dan bathil jika terjadi berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim Rahimahumallah dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Hiyal (6560) dan Muslim dalam kitab An-Nikah (1407), juga terdapat dalam Sunan Tirmidzi dalam kitab An-Nikah (1121), Sunan An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shaid wa Adz-Dzaba’ih (4334), Sunan Ibnu Majah dalam kitab An-Nikah (1961), Musnad Ahmad bin Hanbal (1/79), Muwaththa’ Malik dalam kitab An-Nikah (1151), Sunan Ad-Darimi dalam kitab ¬An-Nikah (2197), “Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam melarang jenis pernikahan mut’ah dan (melarang) memakan daging keledai Ahliyah pada hari Khaibar.”

    Dalam riwayat Malik 2/542, Ahmad (1/79, 103, 142), Al-Bukhari (5/78, 6/129, 2 30, 8/61), Muslim (2/1027, 1028 no.1407), Tirmidzi (3/430, 4/254, no.1121, 1794), An-Nasa’I, (6/125-126, 7/202, 203, no.3365,3367,4335,4336), Ibnu Majah (1/630, no.1961), Ad-Darimi (2/86, 140), Abdurrazzaq (7/501-502, no.14032), Abu Ya’la (1/434, no.576), Ibnu Hibban (9/450,453, no.4143,4145), dan Al-Baihaqi (7/201,202) “Beliau melarang dari jenis mut’atun nisaa’ (menikahi wanita dengan cara mut’ah) pada hari Khaibar.”

    Imam Al-Khattabi berkata, “Pengharaman nikah mut’ah berdasarkan ijma’, kecuali sebagian syi’ah dan tidak sah qa’idah mereka yang menyatakan untuk ‘mengembalikan perselisihan kepada Ali’, padahal telah shahih dari Ali pendapatnya bahwa nikah mut’ah telah dihapus hukumnya.”

    Imam Al-Baihaqi menukilkan dari Ja’far bin Muhammad (Al-Baqir) bahwa beliau pernah ditanya tentang nikah mut’ah maka beliau menjawab, “itu adalah perbuatan zina.”

    Demikian pula imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda. Lafazh hadits (yang akan disebutkan ini) juga diriwayatkan Ahmad 2/405-406, Muslim 2/1025, no.1406. Ibnu Majah 2/631, no.1962, Ad-Darimi 2/140, Abdurrazaq 7/504, no.14041, Ibnu Abi Syaibah 4/292, Abu Ya’la 2/238 no.939, Ibnu Hibban 9/454-455 no.4147, dan Al-Baihaqi 7/203. “Sungguh! Aku dahulu mengijinkan kalian untuk melakukan mut’ah dengan wanita. (Ketauhilah!) sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Barangsiapa yang masih melakukannya hendaklah meninggalkannya dan jangan mengambil sesuatu yang telah ia berikan kepadanya (wanita yang dia mut’ahi).”

    Wabillahit Taufiq, wash shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam

    [ Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’ ]
    Ketua: Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz
    Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi
    Anggota I: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudyan
    Anggota II: Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud

    sumber : http://haulasyiah.wordpress.com/2009/03/30/fatwa-hukum-nikah-mutah-1/

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s