Mencari Dan Menanti Malam Penuh Keberkatan

Dengan nama Allah

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

Ya Allah

 aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah

Dan Nabi Muhammad itu rasulMu.

 

Tiada Tuhan melainkan Allah

Allah Maha Besar

Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi

 

Maha suci Allah dengan segala kepujianNya

Maha suci Allah yang Maha Agung.

Tiada suatu daya dan tiada suatu kekuatan

Melainkan dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

 

Ya Allah

Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung

Dan aku bertaubat kepada Nya.

 

Ya Allah

Engkaulah pemelihara ku

Tiada Tuhan melainkan engkau

Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMU

Dan aku di bawah sumpah setia dan janji Mu

Tiada upaya aku, aku berlindung dengan Mu

Dari kejahatan yang telah aku lakukan

Dan akui nikmat Mu ke atas ku dan juga dosa ku

Maka ampunilah aku

Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosaku melainkan Engkau.

 

Allah Maha Besar

Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi

 

Ya Allah

sesungguhnya  aku bermohon kepada Mu

akan keredhaan Mu

dari kemurkaan Mu dan siksa neraka.

 

Ya Allah

sesungguhnya engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemurah.

engkau amat menyukai keampunan

maka ampunilah akui dan kedua ibu bapa kami

dan seluruh  muslimin dan muslimat

dengan rahmat Mu , wahai tuhan yang Maha Pengasih

dari kalangan  mereka yang mengasihani.

 

Ya Allah

Aku bersujud seluruh muka ku dan seluruh diri ku

Kepada Allah yang menciptakannya dan membentuk rupa

Yang menciptakan pendengaran dan penglihatan ku

 

Dan aku memohon keampunan Mu

Wahai yang tiada tuhan melainkan Engkau

Maha suci Engkau

Sesungguhnya aku dari kalangan mereka yang zalim

 

Tuhanku, ampunilah aku dan rahmatilah aku

Dan terimalah taubatku

Dan Engkaulah sebaik baik Pengasih dari kalangan mereka yang pengasih.

 

Ya Allah

Aku mencari  dan menanti malam penuh keberkatan

“Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan”

Maka  dengan rahmatMu, kurniakanlah ia kepada Ku.

 

Ya Allah

sesungguhnya  aku bermohon kepada Mu

akan keredhaan dan rahmat Mu

dari kemurkaan Mu dan siksa neraka.

 

Ya Allah, perkenankanlah Munajatku.

Malam Sepuluh Terakhir Ramadan

Ramadan, kini kita memasuki 1/3 yang terakhir, atau sepuluh yang terakhir. Mengikut kelender atau takwin Ramadan 1432, Ramadan kali ini sebanyak 29 hari, bermakna 10 terakhir ialah pada  20 -29 Ramadan.

Istimewanya di dalam 10 malam terakhir ini, terdapat pula malam Lailatul Qadar, maksud firman Allah:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan       – QS Al Qadr 97: 1-3

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fii sabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka allah menurunkan S.97:1-3, bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama 1000 bulan.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi yang bersumber dari Mujahid.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di zaman Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukan selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan S.97:1-3 yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal 1000 bulan Bani Isra’il tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

Berikut ini artikal berkaitan:

Amalan Nabi s.a.w Di Malam Sepuluh Terakhir

Lailatul Qadar

Kebesaran Lailatul Qadar

atau dengar lah penjelasan Maulana Asri Yusof:

Kebesaran Lailatul Qadar

Kebesaran Lailatul Qadar [i]

Kebesaran malam ini sebenamya berpangkal pada dua perkara:

Pertama: Turunnya Al Qur-an.

Turunnya Al Qur-an layak benar dijadikan hari besar, karena dialah malam dimulai penghidupan baru.

Firman Allah s.w.t. :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan

Kedua: Turunnya para Malaikat dalam suatu perangkatan besar yang penuh bercahaya gilang gemilang, disertai Jibril un­tuk memberikan ”tahiyyah” kepada Shaimin mukhlishin dan untuk menyaksikan amal ibadat mereka, serta untuk mengembangkan salam dan rahmat diantara penduduk bumi.

Karananyalah malam ini dapat dinamakan “lailatus Salam”. Para Malaikat turun mengucapkan Salam kepada penduduk bumi. Dapat dinamakan juga “lailatus syaraf” (malam kemulia­an) bagi umat Islam ini. Dan dinamakan juga dengan “lailatut Tajalli malam Allah melimpahkan cahaya-Nya dan hidayah- Nya kepada para ‘abid, para shaim dan orang-orang yang beribadat malam.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas r.a., ujarnya:

“Bersabda Rasulullah s.a.w.: Apabila datang lailatul qadar turunlah Jibril dalam suatu perangkatan besar. Mereka bersalawat kepada segala hamba yang sedang berdiri, atau sedang duduk yang menyebut nama Allah. Маkа apabila telah datang hari raya, Allah membanggakan diri kepada Malaikat-Nya dengan hamba-Nya itu. Allah bertitah: “Hai Malaikat-Ku! apakah pembalasan kepada seseorang upahan yang telah menyempurnakan karyanya? “Para Malaikat menjawab: “Tuhan kami, pembalasannya disempurnakan upahnya”. Berkata Allah s.w.t.: Malaikatku, hamba-hambaku baik lelaki, atau perempuan telah menyelesaikan fardhu yang diwajibkan atas mereka. Kemudian mereka keluar ke tanah lapang, untuk berdo’a. Demi Kebesaran Ku, Keagungan-Ku, Kemulian- Ku, Ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, Aku akan memperkenankan do’a mereka. Kemudian berkatalah Allah kepada hambanya: Kembalilah kamu sungguh Aku telah menggantikan keburukanmu dengan kebaikan”.

Malam itu menjadi salam dari permulaannya, hingga keluar fajar, Larntaran itulah dia lebih baik dari 1000 bulan. 1000 bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Itulah menurut kebiasaan umur manusia. Маkа malam itu lebih baik dari umur manusia, dari umur segala manusia, bahkan lebih dari itu.

Ringkasnya, malam itu lebih baik dari sepanjang masa.

Diantara keutamaan yang Allah limpahkan kepada para ham­ba muslimin, ialah mengampuni segala dosa bagi orang-orang yang beribadat di malam itu.


[i] Di petik dari Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms 234-238 – Cetakan Bulan Bintang 1977

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar [i]

Lailatul qadar, adalah salah satu dari malam-malam bulan Ramadan yang disebutkan dalam dua surah A1 Qur-an. Dalam surah Ad Dukhan Allah mensifatkannya dengan malam yang mendatangkan keberkatan (lailah mubarakah), di malam itu diselesaikan segala urusan.

Firman Allah maksudnya :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur-an) di malam yang penuh keberkatan. Sesungguhnya Kami adalah orang yang memberi peringatan. Di dalamnya diselesaikan segala urusan yang penuh mengandung hikmah. Sebagai suatu perintah dari diri Kami. Sesungguh­nya Kami mengirimkan utusan-utusan sebagai suatu Rahmat dari Tuhaumu. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (ayat 2; S. 44, Ad Dukhan).

 

Dalam Surat Al Qadar Allah mensifatkannya dengan suatu sifat yang sangat mulia, yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Malaikat turun di dalamnya. Dan malam itu merupakan “salam” (kesejahteraan) bagi manusia.

Firman Allah maksudnya :

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur-an) pada malam Al qadar. Apakah yang dimaksudkan dengan malam al qadar. Malam al qadar itu adalah lebih baik dari 1000 bulan. Turunlah Malaikat dan Ruh(Jibril) padanya dengan idzin Tuhan mereka. Selamatlah malam itu hingga keluar fajar(ayat I - 6; Al Qadar).

Dalam surat All Baqarah di isyaratkan kepada sebab-sebab yang karenanya malam ini memperoleh kedudukan yang sangat tinggi itu.

Firman Allah maksudnya:

„Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur-an untuk menjadi pelunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan yang nyata yang merupakan petunjuk dan pemisah antara yang haq dan dengan yang bathil”. (Q.A. 185; S. 2; Al Baqaroh).

Sudah nyata, bahwa permulaan turun Al Quran atau permulaan turun ayat Risalah, adalah didalam bulan Ramadlan. Lailatul qadar, adalah malam yang penuh keberkatan (lailah mubarakah) yang mempiuiyai keistimewaan, malam yang lebih baik dari seriibu bulan, bahkan dari seumur manusia.

Al Imam Muhammad Abduh mema’nakan Al Qadar sebagai berikut: Qadar adakala berma’na: “taqdir”, karena Allah pada malam ini memulai mentaqdirkan agamaNya dan membatasi Khiththah untuk Nabi-Nya dalam menyeru manusia kepada Agama, yang melepaskan mereka dari kerusakkan dan kehancuran, yang sedang mereka derita. Dan adakala berma’na: “syarf” (kemuliaan dan kebesaran), karena Allah telah mengangkatkan pada malam itu kedudukan Nabi-Nya dan memuliakannya dengan Risalah, membangkitnya menjadi Rasul. Hal ini telah diisyaratkan Allah, bahkarn ditegaskan, bahwa malam itu, adalah malam yang mulia, malam difturankan All Qur-an.

Dalam Surat AI Qadar berulangkali Allah metnyebutkan kalimat Al Qadar dan ditanyakan apakah Al Qadar itu?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kemuliaan malam itu, adalah kemuliaan yang sukar diketahui keadaannya.


[i]Di Scan dari Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms232-234 – Cetakan Bulan Bintang 1977

DENGAR JUGA KULIAH INI :

Amalan Nabi s.a.w Di Malam Sepuluh Terakhir

Amalan Nabi s.a.w Di Malam Sepuluh Terakhir[i]

 

Adalah Rasulullah s.a.w. mengkhususkan puluhan akhir (dari 21-30 atau dari 20-29) dari bullan Ramadan, dengan beberapa ibadat yang beliau tidak kerjakan di likur yang lain.

Di antara ibadat-ibadat yang beliau istimewakan, ialah:

  1. Menghidupkan malamnya.
  2. Membangunkan keluarganya (isterinya) untuk shalat di malam-malam yang sepuluh itu.
  3. Mengikat kain pinggang ( Tidak bersama isteri)
  4. Mandi diantara maghrib dan ‘isya dan menghiaskan diri diam-diam yang diharapkan adanya lailatul qadar.Berdaya upaya dengan segala kesanggupan dan kesungguhan, mencari lailatul qadar.
  5. Mengerjakan i’tikaf di dalam mesjid pada likur yang terakhiir dalam bulan Ramadlan.

‘Aisyah r.a berkata:

“Adalah Nabi s.a.w. bersungguh sungguh di puluhan yang akhir, ара yang beliau tidak kerjakan di puluhan yang lain”. (H.R. Muslim).

 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah r.a , ujarnya:

“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila telah masuk puluhan yang akhir, dari bulan Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengikat pinggangnya”.

 

Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dari Abu Jaafar Muhammad ibn Ali  bahawa Nabi s.a.w bersabda:

“Barangsiapa datang kepadanya bulan Ramadan, lalu berpuasa pada siang harinya, dia shalat malam pada malamnya, dia pejamkan matanya dari melihat dari yang dilarang Allah, dia pelihara kemaluannya, lidah dan tangannya dan selalu berusaha shalat jama’ah dan bersegera menghadiri Jumaat, maka sungguh dia sempurna, mendapatkan lailatul qadar dan memperoleh pahala pemberian Allah yang tidak ternilai harganya”.



[i] Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms225-227

IKTIKAF

IKTIKAF

Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda

 

Maksudnya:

“Aku pernah beriktikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadan agar mendapatkan malam Lailatul Qadar. Kemudian aku beriktikaf pada sepuluh malam perte­ngahan. Tiba-tiba Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Malam itu ada di sepuluh malam terakhir.’ Kerana itu, bagi orang yang ingin beriktikaf, hendaklah dia beriktikaf di malam-malam itu. “ [1]

Dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahawa Aisyah r.a berkata:

Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sehingga Allah mewafatkannya. Kemudian isteri-isterinya membiasakan  diri beriktikaf pada hari-hari itu setelah baginda wafat.” [2]

Dalam hadith yang lain  menyebut Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam selalu beriktikaf pada bulan Ramadan selama sepuluh hari. Dan pada tahun wafatnya, baginda beriktikaf selama 20 hari. [3]

Kesimpulan:

Rasulullah s.a.w selalu melakukan iktikafpada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Yang dimaksud dengan iktikaf adalah berusaha untuk selalu berada di masjid dengan tujuan melakukan ketaatan kepada Allah s.w.t dengan khusyuk. Iktikaf merupakan salah satu sunnah yang telah ditetapkan dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Iktikaf juga bermaksud memutuskan semua interaksi dengan orang lain agar seseorang dapat lebih tenang melaksanakan ibadah. Iktikaf dilakukan di dalam masjid dengan tujuan mengharapkan keutamaan serta menjumpai Lailatul Qadar. Oleh itu, orang yang sedang beriktikaf harus menyibukkan dirinya dengan berzikir, membaca al-Quran, solat, dan ibadah-ibadah lainnya, di samping menghindarkan diri dari urusan dunia yang tidak penting baginya.

Petikan : Hikmah Berpuasa Di Bulan Ramadan Oleh Dr. ‘Aid Abdullah Al Qarni, Mukasurat  104-106


[1]Riwayat Muslim no 215 dalam kitab as Shiyam

[2] Diriwayat Bukhari no 2026 dan Muslim no 5 dalam kitab al iktikaf

[3] Diriwayat Bukhari no 2044

KEUTAMAAN 10 HARI TERAKHIR RAMADAN

KEUTAMAAN 10 HARI TERAKHIR RAMADAN

Dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah riwayat dari Aisyah r.a bahawa:

 

Maksudnya: “Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. “[1]

Dalam kitab Sahih Bukhari Muslim juga disebutkan bahawa Aisyah r.a berkata:

 

 

Maksudnya :“Ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam mengetatkan kain sarungnya, menghabiskan waktu malamnya untuk beribadah, dan membangunkan keluarganya[2]

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad, Aisyah r.a berkata:

 

Maksudnya: “Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam mengisi waktu dua puluh hari pertama bulan Ramadan dengan solat dan tidur, tetapi jika telah memasuki sepuluh hari terakhir, baginda bersungguh-sungguh beribadah dan mengetatkan kain sarungnya. “

Kesimpulan: Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sangat istimewa dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Pada hari-hari tersebut, Nabi sallallahu ‘alayhi wa sallam selalu bersungguh-sungguh dan memperbanyak ibadah: Solat,membaca Al Quran, berzikir, bersedekah,Qiamulail dan sebagainya. Nabi mengetatkan kain sarungnya, iaitu menjauhkan dirinya dari isteri-isterinya dan menghabiskan semua waktunya untuk solat dan berzikir. Semua itu baginda lakukan kerana kemuliaan malam-malam tersebut, selain terdapat malam Lailatul Qadar di dalamnya, iaitu suatu malam yang jika seseorang menjalankan ibadah dengan penuh keimanan dan harapan, maka Allah s.w.t akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Petikan : Hikmah Berpuasa Di Bulan Ramadan Oleh Dr. ‘Aid Abdullah Al Qarni, Mukasurat  102-103


[1]Riwayat Muslim no 1175

[2] Riwayat Muslim no 1174 dan Bukhari no 2024

SEDEKAH DI BULAN RAMADAN

Tazkirah Malam ke 8  Ramadan di Masjid As Syakirin Oleh Ustaz Ya Ali Dahaman:

SEDEKAH  DI BULAN RAMADAN

Rasulullah s.a. w bersabda: 

Maksudnya:  “SesungguhnyaAllah memiliki dua malaikat yang setiap pagi berdoa kepada-Nya. Salah satu dari mereha berdoa, ‘Ya Allah, limpahkan rezeki kepada orang yang berinfak.  Sedangkan yang satunya lagi berkata, ‘Ya Allah, berikan kehancuran  kepada orang yang tidak mahu berinfak” [1]

Rasulullah s.a. w bersabda:   

Maksudnya:  “Sedekah itu dapat menghapus dosa, umpama air yang memadamkan api”[2]

Rasulullah s.a. w bersabda:  

 

Maksudnya : “Orang yang memberikan makanan untuk orang lain berbuka, dia akan memperoleh balasan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa dikurang sedikit pun”[3]

Maksud Firman Allah :

Dan kalau kamu memberi pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik, nescaya Allah akan melipat gandakan balasan-Nya kepada kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu; dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun. ( At Taghabun 17 )

Petikan : Hikmah Berpuasa Di Bulan Ramadan Oleh Dr. ‘Aid Abdullah Al Qarni, Mukasurat  304-306


[1]Riwayat Bukhari no 1442  ,Riwayat Muslim no 1010

[2] Riwayat Ahmad  3/321 Sahih mengikut syarat Muslim

[3] Riwayat Ahmad  4/114 Hadis sahih