Galakan Untuk Kahwin Mutah Dan Sanggahannya

Dalam urusan nikah mut’ah Syi’ah memiliki banyak keburukan, kekejian, hal-hal yang menjijikkan dan kebodohan terhadap Islam. Mereka mengangkat nilai setiap keburukan dan meninggikan setiap yang kotor. Mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah (berupa zina) atas nama agama dan dusta terhadap para Imam. Mereka membolehkan semua yang mereka mau, mereka membiarkan nafsu tenggelam dalam kelezatan yang menipu dan kemungkaran-kemungkaran. Mut’ah adalah sebaik-baik saksi dan bukti, mereka telah menghiasi mut’ah dengan segala kesucian, keagungan dan keanggunan, hingga mereka menjadikan balasan pelakunya adalah surga -Naudzubillah-, mereka memperbanyak keutamaan-keutamaan mut’ah dan keistimewaannya, seraya menyesatkan -sebagaimana lazimnya- orang-orang yang mereka jadikan sebagai tawanan bagi ucapan-ucapan mereka yang dusta. Di antaranya ialah:

Al-Kasyani dalam tafsirnya, berbohong atas Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda, Telah datang kepadaku Jibril darl sisi Tuhanku, membawa sebuah hadiah. Kepadaku hadiah itu adalah menikmati wanita-wanita mukminah (dengan kawin kontrak). Allah belum pernah memberikan hadiah kepada para nabipun sebelumku, Ketahuilah mut’ah adalah keistimewaan yang dikhususkan oleh Allah untukku, karena keutamaanku melebihi semua para nabi terdahulu. Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dalam umurnya, la menjadi ahli surga. Jika laki-laki dan wanita yang melakukan mut’ah berter di suatu tempat, maka satu malaikat turun kepadanya untuk menjaga hingga mereka berpisah. Apabila mereka bercengkerama maka obrolan mereka adalah berdzikir dan tasbih. Apabila yang satu memegang tangan pasangannya maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bercucuran keluar dari jemari keduanya. Apabila yang satu mencium yang lain maka ditulis pahala mereka setiap ciuman seperti pahala haji dan umrah. Dan ditulis dalam jima’ (persetubuhan) mereka, setiap syahwat dan kelezatan satu kebajikan bagaikan gunung-gunung yang menjulang ke langit. Jika mereka berdua asyik dengan mandi dan air berjatuhan, maka Allah menciptakan dengan setiap tetesan itu satu malaikat yang bertasbih dan menyucikan Allah, sedang pahala tasbih dan taqdisnya ditulis untuk keduanya hingga hari Kiamat.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani)

Mereka juga berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka telah bersabda: “Mut’ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut’ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut’ah adalah kafir murtad.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356)

Mereka juga berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda: “’Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dimerdekakan sepertiganya dari api neraka, yang mut’ah dua kali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan yang melakukan mut’ah tiga kali dimerdekakan dirinya dari neraka.”

Mereka menambah tingkat kejahatan dn kesesatan merea dengan meriwayatkan atas nama Rasulullah Shallallhu‘alihi wasallam: “Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita Mukminah, maka seoloh-olah dia telah berziarah ke Ka’bah (berhaji sebanyak 70 kali).(‘Ujalah Hasanah Tarjamah Risalah Al Mut’ah oleh Al-Majlisi Hal.16).

Mut’ah, Rukun, Syarat dan Hukumnya

Fathullah Al-Kasyani menukil di dalam tafsirnya sebagai berikut, “Supaya diketahui bahwa rukun akad mut’ah itu ada lima: Suami, istri, mahar, pembatasan waktu (Taukit) dan shighat ijab qabul.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.357)

Dia menjelaskan, “Bilangan pasangan mut’ah itu tidak terbatas, dan pasangan laki-laki tidak berkewajiban memberi nama, tempat tinggal, dan sandang serta tidak saling mewarisi antara suami-istri dan dua pasangan mut’ah ini. Semua ini hanya ada dalam akad nikah yang langgeng,” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.352)

 

Syarat-syarat Mut’ah

  1. Perkawinan ini cukup dengan akad (teransaksi) antara dua orang yang ingin bersenang-senang (mut’ah) tanpa ada para saksi!
  2. Laki-laki terbebas dari beban nafkah!
  3. Boleh bersenang-senang (tamattu’) dengan para wanita tanpa bilangan tertentu, sekalipun dengan seribu wanita!
  4. Istri atau pasangan wanita tidak memiliki hak waris!
  5. Tidak disyaratkan adanya ijin bapak atau wali perempuan!
  6. Lamanya kontrak kawin mut’ah bisa beberapa detik saja atau lebih dari itu!
  7. Wanita yang dinikmati (dimut’ah) statusnya sama dengan wanita sewaan atau budak!

Abu Ja’far Ath-Thusi menukil bahwa Abu Abdillah Alaihis-Salam (Imam mereka yang di anggap suci) ditanya tentang mut’ah apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Tidak, juga tidak hanya tujuh puluh.”

Sebagaimana dia juga pernah ditanya apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Kawinlah (secara mut’ah) dengan seribu orang dari mereka karena mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada waris dia hanya wanita sewaan.”(At-Tahdzif oleh Abu Ja’far Aht-Thusi, Juz III/188)

Mereka menisbatkan kepada imam keenam. yang ma’shum dia bersabda, “Tidak mengapa mengawini gadis jika dia rela tanpa ijin bapaknya.” (At-Tahdzif Al-Ahkam juz VII/256)

Mereka menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq, dia ditanya, “Apa yang harus, saya katakan jika saya telah berduaan dengannya?” Dia berkata, engkau cukup mengatakan ,aku mengawinimu secara mut’ah (untuk bersenang-senang saja) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, tidak ada yang mewarisi dan tidak ada yang diwarisi, selama sekian! hari.Jika kamu mau, sekian tahun, Dan kamu sebutkan upahnya, sesuatu yang kalian sepakati sedikit atau banyak.(Al-Furu’ Min Al Kafi Juz V/455)

Demikianlah kawin mut’ah dalam agama Syi’ah yang dengannya mereka menipu orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang yang awam, seraya menyihir mata mereka dengan berbagai macam atraksi sulap dan sihir serta, mengada-ada ucapan dusta, atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Bantahan terhadap Kebolehan Mut’ah

Sesungguhnya nikah mut’ah pernah dibolehkan pada awal Islam untuk kebutuhan dan darurat waktu itu kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengharamkannya untuk selama-lamanya hingga hari Kiamat. Beliau malah mengharamkan dua kali, pertama pada waktu Perang Khaibar tahun 7 H, dan yang kedua pada Fathu Makkah, tahun 8 H.

Mereka [Syi’ah sendiri] meriwayatkan bahwa Ali berkata, “Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengharamkan pada Perang Khaibar daging himar jinak dan nikah mut’ah.” (At-Tahdzif Juz II/186) Riwayat inipun terdapat dalam sahih Bukhari. Maka semakin jelas tentang agama mereka yang dibangun atas dasar rekayasa, ucapan mereka bertentangan satu sama lain. Maka kami membantah kalian wahai Syi’ah !!, dengan kitab-kitab kalian sendiri.

Ini adalah salah satu sebab yang membuat mereka berakidah taqiyah (berbohong). Padahal perlu diketahui bahwa dalam agama Syi’ah tidak boleh melakukan taqiyah dalam mut’ah, la taqiyyata fi al-mut’ah (tidak ada taqiyah dalam mut’ah).

Ali, Umar dan Ibnu Abbas Berlepas Diri

Kemudian, Umar tidak pernah mengatakan, “Mut’ah halal pada zaman Nabi dan saya melarangnya!” Tetapi mut’ah dulu halal dan kini Umar menegaskan dan menegakkan hukum keharamannya. Yang demikian itu karena masih ada orang yang melakukannya. Adapun dia mengisyaratkan bahwa dulu memang pernah halal, ya, akan tetapi beberapa waktu setelah itu diharamkan. Di antara yang menguatkan lagi adalah pelarangan ‘Ali ketika menjadi khalifah.

Syi’ah tidak memiliki bukti dari Salaf Shalih kecuali dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, akan tetapi Ibnu abbas sendiri telah rujuk dan mencabut kembali kebolehannya kembali kepada pengharamannya, ketika di mengetahui larangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia (Ibnu Abbas) telah berkata : “Sesungguhnya hal ini perlu saya jelaskan agar sebagian Syi’ah Rafidhoh tidak berhasil mengelabui sebagian kaum Muslimin.” (Sunan Al-Baihaqi 318 100 ; muhammad Al-Ahdal, hal. 251-252)

Sebagaimana kitab Syi’ah sendiri menyebutkan keharamannya, dan Imam Syi’ah ke-enam [yang diangap suci dari kesalahan] telah berkata kepada sebagian sahabatnya : “Telah aku haramkan mut’ah atas kalian berdua” (Al-Furu’ min Al-Kafi 2 48).

Adapun dalil mereka dengan sebagian hadits-hadits yang ada pada kitab Shahih Ahlussunnah maka hadits-hadits tersebut telah dinasakh [dihapus hukumnya]. Hal ini menjadi jelas dari hadits-hadits yang datang mengharamkan setelahnya. Di antara yang menunjukkan mut’ah bukan nikah adalah mereka [syi’ah] memandang bahwa mut’ah boleh dengan berapa saja sekalipun seribu wanita. Ini adalah menyalahi Syari’at yang hanya membolehkan [paling banyak] empat wanita.

Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi * –  “Asy-Syi’ah minhum ‘alaihim”

____________________________________

* SYAIKH MAMDUH BIN FARHAN AL-BUHAIRINama lengkap:
Abu Maria Mamduh ibn Muhammad ibn Ali Farhan al-Buhairi
Tempat tanggal lahir:
Makkah al-Mukarramah, 10/8/1387 H
Nasab:
Bersambung ke suku Khazraj al-Anshariyyah
Status:
Berkeluarga, baru dikarunia 2 anak putri

Pendidikan formal:
Seluruh jenjang pendidikannya ditempuh di Makkah hingga tamat dari Ma’had al-Haram al-Makki as-Syarif

Pendidikan non formal:
Mulazamah pada Syaikh Ibn Bazz dan Syaikh Ibn Utsaimin saat beliau berdua berada di Makkah al-Mukarramah
Belajar pada para ulama di Masjidil Haram
Aktifitas:

  1. Direktur perhimpunan Muslim Muallaf dunia
  2. Anggota di banyak lembaga islam
  3. Bekerja di bidang dakwah di banyak Negara Islam
  4. Penulis kitab-kitab Islamiyyah terutama bidang dakwah
  5. Komisaris majalah Qiblati
  6. Konsultan dalam masalah keluarga di majalah Qiblati

Karya tulis dalam bentuk kitab:

  1. Asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim (telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul GEN Syi’ah, Sejarah konspirasi Yahudi dan Penyimpangan Aqidah Syi’ah, Dar al-Falah, Jakarta, 2002)
  2. Imathathul-Litsam wa Kabhul-Awham (terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Kuburan agung, Darul Haq, jakarta, 2005
  3. Khushumul Qur`an atau ar-Rass ala Syubuhatil Qur`an (telah diterjemahkan dan belum diterjemahkan. Beberapa bagiannya telah dimuat di rubrik Koreksi dalam majalah Qiblati)
  4. Al-Hadharah al-Islamiyyah
  5. Haqiqatul Kitab al-Muqaddas
  6. dll.

Apakah syiah

Apakah syiah itu ?


Syiah adalah aliran sempalan dalam Islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran-aliran sempalan dalam Islam.
Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam Islam adalah aliran yang ajaran-ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah.
Selanjutnya oleh karena aliran-aliran Syiah itu bermacam-macam, ada aliran Syiah Zaidiyah ada aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah ada aliran Syiah Ismailiyah dll, maka saat ini apabila kita menyebut kata Syiah, maka yang dimaksud adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah yang sedang berkembang di negara kita dan berpusat di Iran atau yang sering disebut dengan Syiah Khumainiyah.
Hal mana karena Syiah inilah yang sekarang menjadi penyebab adanya keresahan dan permusuhan serta perpecahan didalam masyarakat, sehingga mengganggu dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita.
Tokoh-tokoh Syiah inilah yang sekarang sedang giat-giatnya menyesatkan umat Islam dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Apa arti kata Syiah menurut bahasa ?

Kata Syiah berasal dari bahasa Arab yang artinya pengikut, juga mengandung makna pendukung dan pecinta, juga dapat diartikan kelompok.
Sebagai contoh : Syiah Muhammad artinya pengikut Muhammad atau pecinta Muhammad atau kelompok Muhammad.
Oleh karena itu dalam arti bahasa, Muslimin bisa disebut sebagai Syiahnya Muhammad bin Abdillah SAW dan pengikut Isa bisa disebut sebagai Syiahnya Isa alaihis salam.
Kemudian perlu diketahui bahwa di zaman Rasulullah SAW Syiah-syiah atau kelompok-kelompok yang ada sebelum Islam, semuanya dihilangkan oleh Rasulullah SAW, sehingga saat itu tidak ada lagi Syiah itu dan tidak ada Syiah ini.
Hal mana karena Rasulullah SAW diutus untuk mempersatukan umat dan tidak diutus untuk membuat kelompok-kelompok atau syiah ini syiah itu.
Allah berfirman :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا         ( العمران:١۰٣)


“ Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai (berkelompok-kelompok).”

Tapi setelah Rasulullah SAW wafat, benih-benih perpecahan mulai ada, sehingga saat itu ada kelompok-kelompok atau syiah-syiah yang mendukung seseorang, tapi sifatnya politik.
Misalnya sebelum Sayyidina Abu Bakar di baiat sebagai Khalifah, pada waktu itu ada satu kelompok dari orang-orang Ansor yang berusaha ingin mengangkat Saad bin Ubadah sebagai Khalifah. Tapi dengan disepakatinya Sayyidina Abu Bakar menjadi Khalifah, maka bubarlah kelompok tersebut.
Begitu pula saat itu ada kelompok kecil yang berpendapat bahwa Sayyidina Ali lebih berhak menjadi Khalifah dengan alasan karena dekatnya hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah SAW. Tapi dengan baiatnya Sayyidina Ali kepada Khalifah Abu Bakar, maka selesailah masalah tersebut.
Oleh karena dasarnya politik dan bukan aqidah, maka hal-hal yang demikian itu selalu terjadi, sebentar timbul dan sebentar hilang atau bubar.
Begitu pula setelah Sayyidina Ali dibaiat sebagai Khalifah, dimana saat itu Muawiyah memberontak dari kepemimpinan Kholifah Ali, maka hal yang semacam itu timbul lagi, sehingga waktu itu ada kelompok Ali atau Syiah Ali dan ada kelompok Muawiyah atau syiah Muawiyah.
Jadi istilah syiah pada saat itu tidak hanya dipakai untuk pengikut atau kelompok Imam Ali saja, tapi pengikut atau kelompok Muawiyah juga disebut Syiah.
Argumentasi tersebut diperkuat dengan apa yang tertera dalam surat perjanjian atau Sohifah At-tahkim antara Imam Ali dengan Muawiyah, dimana dalam perjanjian tersebut disebutkan:


هذا ما تقاضى عليه على بن ابى طالب ومعاوية بن ابى سفيان وشيعتهما

( اصول مذهب الشيعة )

Ini adalah apa yang telah disepakati oleh Ali bin Abi Talib dan Muawiyah bin Abi Sufyan dan kedua Syiah mereka.
(Ushul Mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah)

Dengan demikian penyebutan kata syiah pada saat itu memang sudah ada, tetapi hanya dalam arti bahasa dan dasarnya hanya bersifat politik dan bukan landasan aqidah atau mazhab.
Adapun aqidah para sahabat saat itu, baik Imam Ali dan kelompoknya maupun Muawiyah dan kelompoknya, mereka sama-sama mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Hal ini dikuatkan oleh keterangan Imam Ali, dimana dalam suratnya kepada Ahli Amsor, beliau menceritakan mengenai apa yang terjadi antara beliau (Imam Ali) dengan Ahli Syam (Muawiyah) dalam perang Siffin sbb:


كان بدء امرنا انا التقينا والقوم من اهل الشام، والظاهر ان ربنا واحد، ونبينا واحد،         ودعوتنا فى الاسلام واحد، ولا نستزيدهم فى الاسلام بالله والتصديق برسوله، ولا          يستزيدوننا، الامر واحد الا ما اختلفنا فيه من دم عثمان، ونحن منه براء

( نهج البلاغة- ٤٤٨ )

Adapun mas’alah kita, yaitu telah terjadi pertempuran antara kami dengan ahli syam (Muawiyah dan Syiahnya).
Yang jelas Tuhan kita sama, Nabi kita juga sama dan da’wah kita dalam Islam juga sama. Begitu pula Iman kami pada Allah serta keyakinan kami kepada Rasulullah, tidak melebihi iman mereka, dan iman mereka juga tidak melebihi iman kami.
Masalahnya hanya satu, yaitu perselisihan kita dalam peristiwa terbunuhnya (Kholifah) Usman, sedang kami dalam peristiwa tersebut, tidak terlibat.”
(Nahjul Balaghoh – 448)

Selanjutnya, oleh karena permasalahannya hanya dalam masalah politik yang dikarenakan terbunuhnya Khalifah usman RA dan bukan dalam masalah aqidah, maka ketika Imam Ali mendengar ada dari pengikutnya yang mencaci maki Muawiyah dan kelompoknya, beliau marah dan melarang, seraya berkata:


انى اكره لكم ان تكونوا سبابين ، لكنكم لو وصفتم اعمالهم، وذكرتم حالهم، كان اصوب     فى القول وابلغ فى العذر، وقلتم مكان سبكم اياهم، اللهم احقن دماءنا ودماءهم، واصلح

ذات بيننا وبينهم   ( نهج البلاغة -٣٢٣)


“ Aku tidak suka kalian menjadi pengumpat (pencaci-maki), tapi andaikata kalian tunjukkan perbuatan mereka dan kalian sebutkan keadaan mereka, maka hal yang demikian itu akan lebih diterima sebagai alasan. Selanjutnya kalian ganti cacian kalian kepada mereka dengan :
Yaa Allah selamatkanlah darah kami dan darah mereka, serta damaikanlah kami dengan mereka
(Nahjul Balaghoh – 323)

Demikian pengarahan Imam Ali kepada pengikutnya dan pecintanya. Jika mencaci maki Muawiyah dan pengikutnya saja dilarang oleh Imam Ali, lalu bagaimana dengan orang-orang Syiah sekarang yang mencaci maki bahkan mengkafirkan Muawiyah dan pengikut-pengikutnya, layakkah mereka disebut sebagai pengikut   Imam Ali
Kembali kepada pengertian Syiah dalam bahasa yang dalam bahasa Arabnya disebut Syiah Lughotan, sebagaimana yang kami terangkan diatas, maka sekarang ini ada orang-orang Sunni yang beranggapan bahwa dirinya otomatis Syiah. Hal mana tidak lain dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka akan hal tersebut. Sehingga mereka tidak tahu bahwa yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah Madzhab Syiah atau aliran syiah atau lengkapnya adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyyah).
Oleh karena itu, istilah Syiah Lughotan tersebut tidak digunakan oleh orang-orang tua kita (Salafunassholeh), mereka takut masyarakat awam tidak dapat membedakan antara kata syiah dengan arti kelompok atau pengikut dengan aliran syiah atau Madzhab Syiah. Hal mana karena adanya aliran-aliran syiah yang bermacam-macam, yang kesemuanya telah ditolak dan dianggap sesat oleh Salafunassholeh.
Selanjutnya salafunassholeh menggunakan istilah Muhibbin bagi pengikut dan pecinta Imam Ali dan keturunannya dan istilah tersebut digunakan sampai sekarang.
Ada satu catatan yang perlu diperhatikan, oleh karena salafunassholeh tidak mau menggunakan kata Syiah dalam menyebut kata kelompok atau kata pengikut dikarenakan adanya aliran-aliran Syiah yang bermacam-macam, maka kata syiah akhirnya hanya digunakan dalam menyebut kelompok Rofidhah, yaitu orang-orang Syiah yang dikenal suka mencaci maki Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar.
Sehingga sekarang kalau ada yang menyebut kata Syiah, maka
yang dimaksud adalah aliran atau madzhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah.
Memang dengan tidak adanya penerangan yang jelas mengenai Syiah Lughotan dan Syiah Madhhaban, maka mudah bagi orang-orang Syiah untuk mengaburkan masalah, sehingga merupakan kesempatan yang baik bagi mereka dalam usaha mereka mensyiahkan masyarakat Indonesia yang dikenal sejak dahulu sebagai pecinta keluarga Rasulullah SAW.

Apa yang dimaksud dengan aliran (madzhab)Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah itu ?


Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah salah satu aliran Syiah dari sekian banyak aliran-aliran Syiah yang satu sama lain berebut menamakan aliran Syiahnya sebagai madzhab Ahlul Bait. Dan penganutnya mengklaim hanya dirinya saja atau golongannya yang mengikuti dan mencintai Ahlul Bait. Aliran Syiah inilah yang dianut atau diikuti oleh mayoritas (65 %) rakyat IRAN. Begitu pula sebagai aliran Syiah yang diikuti oleh orang-orang di Indonesia yang gandrung kepada Khumaini dan Syiahnya.
Apabila dibanding dengan aliran-aliran Syiah yang lain, maka aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini merupakan aliran Syiah yang paling sesat (GHULAH) dan paling berbahaya bagi agama, bangsa dan negara pada saat ini.
Dengan menggunakan strategi yang licik yang mereka namakan TAGIYAH (berdusta) yang berakibat dapat menghalalkan segala cara, aliran ini dikembangkan.
Akibatnya banyak orang-orang yang beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tertipu dan termakan oleh propaganda mereka, sehingga keluar dari agama nenek moyangnya (Islam) dan masuk Syiah.
Karena didasari oleh Ashobiyah atau kefanatikan yang mendalam, maka aliran ini cepat menjalar dan berkembang, terutama dikalangan awam Alawiyyin (keturunan nabi Muhammad) dan Muhibbin (pecinta mereka). Sehingga bagaikan penyakit kanker yang ganas sedang berkembang didalam tubuh yang sehat, yang ratusan tahun dikenal beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Sebenarnya bagi orang-orang yang berpendidikan agama, wabah ini tidak sampai menggoyahkan iman mereka, tapi bagi orang-orang yang kurang pengetahuan Islamnya, mudah sekali terjangkit penyakit ini.
Dalam situasi yang memprihatinkan ini, bangkitlah orang-orang yang merasa terpanggil untuk melawan dan memerangi aliran tersebut. Berbagai cara telah mereka tempuh, ada yang dengan jalan berceramah, ada yang dengan menulis, bahkan ada yang dengan jalan berdiskusi dan Alhamdulillah mendapat sambutan yang positif dari masyarakat dan dari pemerintah.
Berbeda dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang penuh dengan saling hormat menghormati dan penuh dengan cinta mencintai serta penuh dengan maaf memaafkan karena berdasarkan Al Ahlaqul Karimah dan Al Afwa Indal Magdiroh (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) serta Husnudhdhon (baik sangka), maka ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini penuh dengan caci maki dan penuh dengan fitnahan-fitnahan serta penuh dengan laknat-melaknat, karena dilandasi dengan Suudhdhon (buruk sangka) dan dendam kesumat serta kefanatikan yang tidak berdasar.
Dapat kita lihat bagaimana mereka tanpa sopan berani dan terang-terangan mencaci maki para sahabat, memfitnah istri-istri Rasulullah SAW, khususnya Siti Aisyah, bahkan Rasulullah sendiri tidak luput dari tuduhan mereka.
Ajaran-ajaran Syiah yang meresahkan dan membangkitkan amarah umat Islam ini, membuat para ulama di seluruh dunia sepakat untuk memberikan penerangan kepada masyarakat. Ratusan judul kitab diterbitkan, berjuta kitab dicetak dengan maksud agar masyarakat mengetahui kesesatan Syiah dan waspada terhadap gerakan Syiah. Dalam menulis kitab-kitab tersebut para ulama kita itu mengambil sumber dan sandaran dari kitab-kitab Syiah (kitab-kitab rujukan Syiah), sehingga sukar sekali bagi orang-orang Syiah untuk menyanggahnya.
Selanjutnya dengan banyaknya beredar kitab-kitab yang memuat dan memaparkan kesesatan ajaran Syiah, maka banyak orang-orang yang dahulunya terpengaruh kepada Syiah, menjadi sadar dan kembali kepada aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Hal ini tentu tidak lepas hidayah dan inayah serta taufiq dari Allah SWT. Terkecuali orang-orang yang memang bernasib buruk, yaitu orang-orang yang sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai orang Syagi (celaka dan sengsara).
Semoga kita dan keluarga kita digolongkan sebagai orang-orang yang Suada’ atau orang-orang yang beruntung yang diselamatkan oleh Allah dari aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah yang sesat dan menyesatkan.

Sumber : http://www.albayyinat.net/

PANDANGAN IMAM KHOMEINI DALAM KITAB AL-HUKUMAH AL-ISLAMIAH DAN KASYFU AL-ASRAR

Oleh Zakaria @ Mahmud Daud

Pendahuluan

Kajian ini ditulis untuk menjelaskan pandangan dan sikap Khomeini terhadap beberapa perkara yang ditulis dalam kitabnya terutama Kitab “al-Hukumah-al-Islamiyyah” atau “Wilayat al-Faqih” dan “Kitab Kasyf al-Asrar”. Pandangan dan pendapat beliau perlu dijelaskan kepada umum khususnya kepada umat Islam Malaysia yang bermazhab Ahli Sunnah, semoga dengan penjelasan nanti, kita dapat mengetahui pandangan beliau yang sebenar terhadap beberapa masalah yang menyentuh ajaran Islam.

Daripada penjelasan ini nanti dapatlah kita mengambil kesimpulan adakah ajaran atau pandangannya bersesuaian dengan pandangan Ahli Sunnah atau sebaliknya dan juga kita boleh menilai siapa Imam Khomeini yang sebenar, kerana umat Islam di Malaysia sekarang ini berbelah bagi pendapat mengenai beliau. Ada segolongan mengatakan Khomeini seorang ‘ulama Syiah yang sesat lagi menyesatkan manakala golongan lain pula mengatakan beliau adalah seorang mujaddid atau reforman, seorang ulama agung yang mengguling kerajaan Shah Iran dan dapat menubuh kerajaan Islam Iran di abad kedua puluh ini.

Untuk mengetahui buah fikiran dan pendapat beliau maka perlu mengkaji hasil karya tulisannya sendiri yang menjadi umum khususnya golongan Syiah Imamiyyah di Iran sekarang. Tanpa kita mengetahui buah fikiran beliau yang sebenar, kita tidak dapat membuat apa-apa komentar dan hukum terhadapnya. Untuk itu di bawah ini akan dijelaskan secara ringkas antara isi kedua-dua buah kitab tersebut.

PENGENALAN RINGKAS KEDUA-DUA KITAB TERSEBUT

Khomeini adalah seorang ulama besar golongan Syiah yang luas ilmu pengetahuan dan dia seorang pemimpin yang dikenali di seluruh dunia. Beliau telah menghasilkan beberapa buah kitab agama. Antara karya-karya tulisan beliau ialah: “Al-Hukumah al-Islamiyyah” atau “Wilayatal-Faqih”, “Kitab Kasyf al-Asrar”, “Kitab Tahrir al-Wasilah” dan lain-lain lagi.

Kitab “al-Hukumah al-Islamiyyah” sebagaimana yang ada ditangan penulis dicetak di Beirut, Lubnan, oleh percetakan “Muassasah al-’ Alami, tanpa menyebut tahun ia dicetak. Kitab ini adalah himpunan daripada beberapa tajuk kuliah agama yang disampaikan oleh Khomeini kepada pelajar-pelajar agama di Najaf, di bawah tajuk ‘ Wilayah al-Faqih ‘. Kuliah tersebut bermula pada 13 Zulqi’dah 1398H sehingga 1 Zulhijjah tahun yang sama. 1 Tebal kitab ini adalah kira-kira 150 halaman, dan mengandungi 49 tajuk-tajuk kecil. Antara tajuk-tajuk penting ialah penjelasan mengenai pentingnya membentuk sebuah kerajaan Islam, menjelaskan hakikat undang-undang Islam dalam kewangan, pertahanan, hukum-hukum jenayah, menerangkan mengenai pemerintahan Islam dan syarat-syarat seorang pemerintah, haram berhukum kepada pemerintah yang zalim, dan ulama adalah rujukan dalam semua perkara dan lain-lain.

Kitab “Kasyf al-Asrar” pula setakat yang penulis tahu, dicetak dalam dua bahasa, pertama dalam bahasa Parsi (edisi asal) dan keduanya dalam bahasa Arab (edisi terjemahan). Edisi asal dalam bahasa Parsi dicet’ak di Qum oleh percetakan Dar Intisyarat Azadi dizaman revolusi. 2 Kitab asal berbahasa Parsi ini setebal kira-kira 350 halaman. 3 Adapun edisi Bahasa Arab telah diterjemahkan oleh Dr. Muhammad al-Bandari dan kata-kata aluannya ditulis oleh Dr. Ahmad al-Khatib, seorang pensyarah dan Fakulti Syariah, Urnversiti Jordan. Kitab ini setebal 344 halaman, di cetak oleh pencetakan Dar Ammar, Amman. Isi kandungan kitab ini pada keseluruhannya mengandungi jawapan Khomeini terhadap 12 persoalan pokok yang dikemukakan kepadanya. Di antaranya mengenai Tauhid, Imamah, kedudukan Fuqaha atau ulama Mujtahid, kerajaan dan tugasnya, undang-undang, hukum Nasakh-Mansukh al-Quran dan al-Sunna, sebab-sebab orang ramai menjauhi diri daripada menghayati agama dan lain-lain.

BEBERAPA PENDAPAT KHOMEINI DALAM KEDUA-DUA KITAB TERSEBUT

Di sini penulis akan menulis kajian mengenai kedua-dua kitab tersebut. Oleh kerana kitab ini besar, maka penulis hanya ingin menyebut beberapa pendapat dan pandangan beliau yang nampak kontroversi sahaja. Kemudian selepas disebut tiap-tiap pendapat beliau, penulis sertakan ulasan ringkas sebagai penjelas kepada pembaca sekalian. Kajian ini akan dimulakan dengan kitab “al- Hukumah al-Islamiyyah”, kemudian diikuti dengan kitab “Kasyf al-Asrar”.

A) PENDAPA T KHOMEINI DALAM ” AL-HUKUMAH AL-ISLAMIYY AH” DAN ULASAN

Setelah dikaji isi kandungan kitab ini didapati terdapat beberapa pendapat Khomeini yang ganjil tentang beberapa perkara seperti kedudukan imam-imam dan kelebihan mereka, Khalifah-khalifah Islam terutama Khalifah Abu Bakar, Umar dan Othman r.a. dan lain-lain lagi. Antara perkara yang perlu disebut di sini ialah:

i) KEDUDUKAN IMAM-IMAM

Mengenai perkara ini Khomeini menyebut bahawa kedudukan mereka begitu tinggi sehingga melebihi kedudukan para Rasul dan Malaikat, mereka juga dianggap tidak melakukan dosa (ma’sum), semua kata-kata imam dan pendapatnya semuanya betul dan benar dan tidak pernah salah, mereka tidak pemah lupa dan lalai. Makhluk seluruhnya tunduk dan patuh kepada mereka. Sebelum dicipta alam ini mereka adalah cahaya (Nur) yang duduk mengelilingi ‘Arasy Allah’. Tentang hal ini Khomeini berkata:

“Maka sesungguhnya bagi imam-imam (ketua negara) itu mempunyai maqam dan kedudukan yang terpuji, darjah yang tinggi dan mempunyai kuasa ‘Khalifah Takwiniyyah’ (kuasa yang dilantik oleh Allah), segala atom-atom di dunia tunduk dan patuh kepada kekuasaanNya.” 4

Beliau menyebut lagi:

“Dan diantara perkara penting dalam mazhab kita (mazhab Syiah), kita (beriktikad) bahawa imam-imam kita mempunyai maqam, atau kedudukan yang tinggi yang tidak sampai ke maqam tersebut oleh para Malaikat yang hampr (dekat dengan Allah) dan tidak juga oleh para Nabi dan Rasul Allah”. 5

“Mengikut riwayat-riwayat dan Hadith-hadith Rasulullah yang ada pada kita (orang-orang Syiah), bahawa Rasulullah s.a.w dan semua Imam-Imam a.s., sebelum alam ini dijadikan mereka semua adalah Nur, kemudian Allah menjadikan mereka mengelilingi ‘Arsy-Nya dan Allah memberikan kepada mereka kedudukan yang paling tinggi (tidak diketahui kedudukan yang paling tinggi itu melainkan Allah jua) dan Malaikat Jibril berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hadith Mi’raj, jika aku hampiri sekadar satu jari lagi nescaya aku akan terbakar”. 6

Pada halaman lain Khomeini ada menyebut’:-

“Tidak tergambar kepada kita bahawa para imam itu bersifat lalai dan lupa “. 7

Dan katanya lagi:-

Sesungguhnya ajaran para Imam sama seperti ajaran-ajaran al-Quran yang bukan untuk sesuatu generasi tertentu sahaja, bahkan ajaran itu untuk semua manusia di setiap tempat dan masa hingga ke Hari Kiamat. Ia wajib dilaksanakan dan wajib diikuti.” 8‑

Ulasan:

Daripada petikan di atas jelas menunjukkan bahawa Khomeini menyanjung tinggi para imam dan meletakkan mereka ke taraf yang paling tinggi mengatasi taraf nabi-nabi dan malaikat. Alam seluruhnya tunduk kepada mereka, ajaran-ajaran dan buah fikiran mereka disamakan dengan ajaran al-Quran. Setiap pendapat dan kata-kata mereka mesti diikuti dan dilaksanakan dalam kehidupan. Ini berlawanan sekali dengan pandangan al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w. serta pendapat ulama Ahli Sunnah Wal-Jama’ah.

Ulama Ahli Sunnah berpendapat bahawa tidak ada manusia yang lebih tinggi pangkat dan tarafnya mengatasi taraf para nabi dan Rasul. Selepas Rasulullah s.a.w., maka Khulafa’ ar-Rasyidinlah orang yang paling mulia dan tinggi darjatnya, dan yang paling mulia di kalangan mereka ialah Abu Bakar r.a. kemudian diikuti oleh Omar ibn al-Khattab, Othman ibn Affan dan Ali ibn Abu Talib.

Tidak ada ajaran yang lebih tinggi daripada ajaran al-Quran dan hadith Rasulullah s.a.w. Kedua-dua ajaran tersebut adalah sumber utama hukum syara’ , manakala sumber-sumber lain seperti Qias dan lain-lain diambil daripada al-Quran dan hadis dan dijadikan sumber ketiga, keempat dan seterusnya.

Anggapan mengatakan kata-kata imam sama dengan al-Quran dan lebih tinggi daripada hadith adalah pendapat yang melampau yang dan tidak boleh diterima.

ii) KEDUDUKAN KHALIFAH AR-RASYIDIN DAN PENENTUAN PERLANTlKAN ALl

Perkara kedua ialah mengenai kedudukan Khalifah ar-Rasyhidin dan beberapa orang sahabat Rasulullah s.a.w. .Semasa membicarakan tentang ‘Kerajaan Islam ” Khomeini tidak mengiktirafkan kerajaan ketiga-tiga Khalifah Abu Bakar, Umar dan Othman sebagai khalifah Islam, bahkan beliau tidak menyebut langsung kerajaan di zaman ketiga-tiga Khalitah tersebut. Beliau menganggap kerajaan Islam hanya ada pada zaman Rasulullah dan di zaman Saidina Ali dan juga di zaman beberapa orang imam mereka selepas itu, iaitu kerajaan dua belas Imam mereka. Beliau menganggap Saidina Abu Bakar, Omar dan Othman r.a. telah merampas hak Saidina Ali. Juga beliau mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah diabaikan oleh sahabat- sahabat lain dengan melantik Abu Bakar.

Mengenai perkara di atas Khomeini menyebut antara lain:-

“Telah thabit (tetap) pada syara’ dan pada akal bahawa sebagaimana pentingnya di zaman Rasulullah s.a.w. dan di zaman Amirul-Mu’minin Ali bin Abu Talib r.a. mesti adanya sebuah kerajaan Islam (maka perkara itu) masih berterusan penting adanya sampai ke zaman kini”. 9

Di tempat lain beliau membawa bukti Nabi menentukan Ali sebagai penggantinya dengan berkata:-

“Kami beriktikad (dan percaya) dengan walayah, dan kami beriktikad dengan sesungguhnya bahawa Nabi S.A.W. akan menentukan pengganfi selepasnya dan memang Baginda melakukannya”. 10

Selepas beberapa baris beliau menambah:-

“Dan demikianlah Rasulullah s.a.w. melakukan perlantikan (Ali menjadi khalifah selepasnya). Jika Baginda tidak melakukannya, maka Baginda tentunya tidak menyampaikan risalahnya dan penentuan khalifah selepas itu bertujuan supaya khalifah melaksanakan hukuman dan undang-undang (Allah), mengawalnya dan supaya melakukan keadilan sesama manusia. Ini adalah merupakan satu usaha bagi menyempurnakan tugas risalahnya”. 11

Di tempat lain beliau membawa bukti Rasulullah s.a.w. telah melantik Ali dengan berkata:-

“Di Ghadir Khum (setelah pulang daripada) menunaikan Haji Wida’, Nabi s.a.w. menentukan seorang hakim (Imam) sebagai penggantinya (iaitu Ali), dan bermula dari sinilah perselisihan faham mula tercetus di jiwa umat Islam, dan kalau sekiranya Nabi s.a.w. hanya menentukan Amirul-Mi’minin Ali sebagai mufti, sebagai pentafsir al-Quran atau sebagai seorang ulama yang menerangkan hukum hakam agama, tentunya dia tidak ditentang oleh sesiapa pun, tetapi (kerana ditentukan menjadi penggantinya) maka (Ali) ditentang, diperangi dan dibunuh”. 12

Beliau juga menyebut:-

“Sesungguhnya (Nabi s.a.w.) telah menentukan Amirul-Mu’minin sebagai wali (imam) untuk orang ramai dan (bermula dari sini) berkekalanlah berpindahnya jawatan imam yang lain sehingga sampai kepada imam al-Mahdi al-Muntazar a.s”. 13

Penentuan Ali menjadi pengganti ini disebut lagi dalam kitab “Kasyf al-Asrar” dengan panjang lebar.

Ulasan:

Daripada petikan di atas jelaslah bahawa Imam Khomeini seolah-olah tidak mengiktiraf kerajaan Khalifah ar-Rasyidin kecuali di zaman Ali sahaja dan beliau juga menetapkan Sayyidina Ali telah ditentukan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai penggantinya, tetapi jawatan itu dirampas oleh ketiga-tiga khalifah. Ini bererti bahawa ketiga-tiga khalifah telah melakukan ( dosa )besar kerana melanggar hukum dan ketetapan yang telah ditetapkan oleh Rasullah S.A.W. sedangkan yang sebenarnya Baginda tidak pernah menentukan sedemikian dan khalifah tersebut tidak bersalah. Hadith Ghadir Khum tidak boleh dijadikan hujah kerana beberapa sebab, antaranya:-

1. Perkataan Maula dalam ‘Hadith Ghadir Khum’ bukan bermaksud ‘khalifah atau Imam’ atau ‘ketua negara’ tetapi mem beri maksud, ‘penolong’ atau ‘pembantu Baginda’. 14

Maksud yang disebut ini disokong sendiri oleh al-Hasan al- Muthanna cucu Saidina Ali. Apabila beliau ditanya,Adakah tidak Rasulullah S.A.W. bersabda”:-

Sesiapa yang aku ini penolongnya maka Ali adalah penolongnya.

Mendengar soalan itu beliau menjawab:-

“Ya ! Akan tetapi, demi Allah (dengan kata-kata itu) Rasullah s.a.w. tidak bermaksud (menentukan) Ali menjadi Imam atau Khalifah. Jika Baginda mahu melantik dia menjadi pengganti, tentu Baginda menyebut dengan terang, kerana Rasulullah selalu berterus terang dengan orang Islam. Jika benarlah sebagaimana yang didakwa, tentu Baginda berkata begini, Wahai manusia, ini adalah pemimpin kamu dan pemerintah kamu selepas aku, maka hendaklah kamu semua mendengar kata-katanya dan mematuhinya’. Demi Allah jika sekiranya Allah dan RasulNya telah memilih Ali menjadi pengganti dan pemerintah kepada orang-orang Islam selepas Baginda, tiba-tiba Ali meninggal tidak mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya tentu Ali merupakan orang yang mula-mula sekali melanggar perintah Allah dan RasulNya.:” 15

Jika sekiranya apa yang didakwa oleh Khomeini dan Syiah-syiah lain itu betul dan benar bahawa Nabi telah menentukan Ali menjadi Khalifah dengan disaksi oleh ramai para sahabat, maka mengapa mereka yang begitu ramai tidak membantah Saidina Omar dan Abu Bakar serta sahabat-sahabat lain yang berada di Saqifah membincangkan mengenai perlantikan Abu Bakar menjadi Khalifah ? Sedangkan kita tahu para sahabat adalah antara umat Islam yang paling kuat mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Kalau benarlah apa yang didakwa, tentu mereka bangkit menentang keputusan tersebut. Manakala Sayyidina Ali sendiri pula tidak pernah mengemukakan hujah dan bukti yang dia lebih berhak daripada Abu Bakar, Omar dan Othman menjadi khalifah.

Semasa Ali tidak memberi baiah kepada Abu Bakar diawal perlantikannya, dia tidak berhujah dengan hadith itu bagi menuntut haknya menjadi khalifah. Ini semua membuktikan bahawa Hadith Ghadir Khum tidak boleh menjadi hujah yang Rasulullah s.a.w. telah menentukan Ali menjadi penggantinya sebaik sahaja Baginda wafat.

iii) TIDAK MENGIKTlRAF KERAJAAN MUA’WIYYAH, UMAWIYYAH DAN ABBASIYAH

Khomeini juga menganggap kerajaan Muawiyah tidak sah, kerana itu beliau tidak mengiktirafnya, dan tidak mengiktiraf kerajaan Umawiyyah seluruhnya. Beliau berkata:-

“Sesungguhnya Muawiyah telah membunuh ramai orang Islam dengan semata-mata disyaki (orang itu melakukan kejahatan) dan menawan orang ramai beberapa lama serta membuang negeri juga menghalau mereka dari rumahnya secara zalim, tidak ada kesalahan yang mereka lakukan kecuali kerana mereka beriman kepada Allah semata-mata. Kerajaan Muawiyah itu tidak melambang atau menyerupai kerajaan Islam, sama ada dari dekat atau jauh”. 16

Kemudian katanya lagi:-

“Di awal Islam, golongan Umawiyyah dan pengikut-pengikutnya berusaha menghalang supaya kerajaan Imam Ali bin Abu Talib a.s. tidak teguh, sedangkan kerajaan itu diredai Allah dan Rasul-Nya. Dengan usaha jahat mereka itu berubahlah kedudukan pemerintahan serta menyelewenglah daripada Islam.

Kemudian selepas ilu datang pula golongan Abbasiyah dan mereka pun mengikut jejak langkah yang sama dan menukar sistem khalifah dengan bentuk kekuasaan raja berketurunan”. 17

Ulasan:

Dari sini jelaslah Khomeini tidak mengiktirafkan kerajaan pimpinan Muawiyah, Kerajaan Bani Umaiyyah dan Abbasiyah. Beliau menganggap khalifah-khalifah zaman itu merampas hak Ahlul Bait secara kekerasan dan kezaliman. Apabila kerjaan Islam Bani Umayyah dan Abbasiyah serta pimpinan Abu Bakar, Umar dan Uthman tidak diiktiraf oleh Khomeini, maka tidak ada lagi kerajaan Islam di dalam sejarah dunia kecuali kerajaan pimpinan Rasullah s.a.w dan kerajaan di zama Ali dan Husin sahaja. Kalau inilah pandangan beliau, maka tentunya pendapat itu tidak boleh diterima, kerapa apa yang sebenarnya tidak demikian. Ahli Sunnah menganggap kerajaan Abu Bakar, Umar, Uthman dan kerajaan Bani Umawiyah serta Abbasiyah adalah kerajaan Islam.

Ahli Sunnah dari kalangan Mufassirin, Muhaddisin dan Fuqaha, termasuk Imam empat mengiktiraf Kerajaan ini sebagai Kerajaan Islam. Manakala kesalahan yang dilakukan oleh setengah khalifah itu tetap salah. Kalau mereka bertaubat Insya Allah, Allah menerima taubat mereka.

IV) TIDAK MENGIKTIRAF KADI-KADI BUKAN DARIPADA KALANGAN SYIAH

Satu lagi perkara yang ditimbulkan Khomeini dalam kitab “al-Hukumah al-Islamiyyah” ialah beliau tidak mengiktiraf kadi-kadi yang dilantik sama ada yang dilantik oleh Khalifah Abu Bakar, Umar dan Uthman atau oleh Khalifah Umawiyyah dan seterusnya. Disini beliau membawa satu contoh hadith yang ia dakwa diriwayat oleh Abu Abdillah a.s.:

“Bahawa Abu Abdullah berkata, ‘Amirul mu’minin Ali berkata kepada Syuraih (seorang kadi dari kalangan sahabat), wahai Syuraih, sesungguhnya engkau telah menduduki satu majlis atau satu jawatan yang tidak harus menduduki majlis ataujawatan itu kecuali Nabi atau wasinya atau orang yang celaka,”18

Kemudian beliau menambah:

“Syuraih ini telah memegang jawatan kadi hampir 50 tahun, dan dia menyokong Muawiyah, memujinya serta menyebut sesuatu kebaikan yang dia bukan ahlinya. Sikap beliau demikian meruntuh kerajaan (Islam) yang telah dibina oleh Amirulmu’minin akan tetapi (walaupun sikapnya demikian). Saidina Ali a.s. tidak berkuasa hendak memecatnya, kerana orang sebelumnya telah melantiknya”. 19

Ulasan:

Di akhir petikan di atas nampak kepada kita Sayyidina Ali r.a. takut kepada orang. Di manakah sifat berani yang ada pada Ali yang diakui oleh ahli Sunnah dan Syiah sehingga dia tidak berani merubah kesalahan? Ini tidak betul.

Sikap Khomeini tidak mengiktiraf kadi yang dilanlik oleh kerajaan Islam yang bukan daripada kalangan Syiah, sebagaimana di atas itu bukanlah perkara baru bagi orang-orang Syiah, bahkan sikap demikian telah dipegang oleh ulama mereka dahulu dan sekarang.

Al-Kulaini, pengarang Kilab “al-Kafi” juga mengambil sikap yang sama, beliau berpendapat mana-mana kadi atau imam yang bukan daripada kalangan Syiah dianggap sebagai Taghut, dan sesiapa yang berhakimkan kepada kadi tersebut, maka orang-orang dianggap sebagai berhakim kepada Taghut. 20

Jadi daripada petikan-petikan dan ulasan di atas jelaslah bahawa dalam kitab “al-Hukumah al-Islamiyyah”, tulisan Khomeini itu terdapat banyak perkara yang berlawanan Ulama Ahli Sunnah, dan banyak pula kata-kata yang menghina Abu Bakar, Umar, Uthman dan Muawiyah juga kerajaan Umawiyyah dan Abbasiah. Dari sini penulis mengambll kesimpulan bahawa pendapat beliau itu tidak boleh diterima dan serentak dengan itu beliau tidak perlu disanjung tinggi oleh setiap umat Islam pengikut Ahli Sunnah.

Kemudian di bawah ini mari kita cuba melihat pendapat Khomeini dalam Kitab “Kasyf al-Asrar”.

B) PENDAPA T KHOMEINI DALAM KASYF DAN ULASAN

Dalam dua belas jawaban Khomeini dalam kitab di atas didapati banyak buah pikirannya yang tidak tepat dan berbeza dengan pendapat Ahli Sunnah wal Jamaah. Antaranya beliau berpendapat meminta sesuatu hajat daripada orang-orang mati atau batu-batu kubur tidak syirik, imam-imam mereka tidak terkena dosa bahkan ma’sum. Khalifah Abu Bakar dan Omar semasa hidupnya melakukan kesalahan yang berlawanan dengan al-Quran dan hadith. Malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Saidatina Fatimah binti Rasulullah s.a.w. selepas kewafatan baginda dan Rasulullah s.a.w. takut kepada orang ramai untuk menyampaikan risalahnya dan lain-lain.

Dibawah ini diterangkan perkara itu dengan ringkas berserta dengan ulasannya.

i) MEMINTA SESUATU DARIPADA KUBUR ATAU DENGAN BATUNYA TIDAK SYIRIK

Semasa menerangkan mengenai tauhid beliau menyebut bahawa meminta sesuatu hajat daripada kubur atau batu dan tanah kubur imam-imam mereka tidak dianggap syirik. Di bawah tajuk kecil, “Meminta sesuatu hajat daripada orang mati tidak syirik”, beliau berkata,” Maka dengan itu meminta sesuatu hajat daripada batu kecil atau daripada batu besar tidak syirik, sekali pun (cara itu) satu amalan yang batil. 21

Kemudian dalam menjawab soalan yang berbunyi: “Adakah meminta syafa’at daripada tanah (kubur para imam) dianggap syirik?”

Beliau berkata:-

” Perkara itu tidak dianggap syirik dan kufur, apabila berlaku permintaan itu atas asas atau anggapan bahawa Allah berkuasa menerima permintaan melalui (imam-imam) yang bermati-matian kerana mempertahankan agama dan mengorbankan nyawa kerana Allah”. 22

Di tempat lain beliau menyebut, ” Kalau seseorang sakit datang menziarahi mana-mana kubur imam dan meminta supaya disembuhkan penyakitnya, maka penyakit itu akan sembuh.”

Beliau berkata:- ” Akan tetapi banyak kita dengar tentang kubur imam dan sesungguhnya kita tahu bahawa beratus-ratus ribu orang yang datang melawat ke kubur-kubur imam pada tiap-tiap tahun dan mungkin di dalam beberapa tahun itu akan lahirnya seorang yang dikehendaki oleh Allah akan sembuh penyakitnya dengan sebab dia berdamping dengan kubur imam-imam itu. Kalau sekiranya kamu pergi ke kubur dan meminta daripada Allah supaya disembuhkan daripada penyakit ganjil dan bodoh -Kedua-duanya adalah seburuk-buruk penyakit- mungkin doa kamu diterima dan jangan kamu berputus asa dari pada rahmat Allah ” 23

Di tempal lain beliau menambah:-

“Sesungguhnya Allah telah memberi kuasa kepada tanah untuk menghidupkan roh, dan tidak harus seseorang berkata bahawa Allah tidak berkuasa -hendak menjadikan tanah yang tidak ada roh -boleh menghidupkan semua sesuatu”. 24

Ulasan:

Petikan di atas jelas bahawa Khomeini membolehkan seseorang meminta sesuatu hajat daripada kubur daripada batunya dan tidak dianggap syirik, sedangkan perkara itu adalah syirik besar kerana memohon sesuatu kepada yang lain daripada Allah s.w.t. menyembuh penyakit jahil dan bodoh ia boleh dilakukan dengan roh imam mereka di kubur. Cara ini menyalahi sunnah Allah dan berlawanan dengan ajaran Islam serta dengan sebab-musabab yang diharuskan. Islam mengajar ummatnya supaya berubat dengan cara yang halal. Penyakit jahil dan bodoh hendaklah diatasi dengan belajar di samping berdoa kepada Allah S.W.T. Penyakit ini biasa pula hendaklah diubat melalui ruwatan. Rasulullah s.a.w. menyebut tidak ada penyakit yang tidak ada ubat kecuali mati.

ii) MEMBINA QUBBAH ATAS KUBUR IMAM DAPAT PAHALA BESAR

Khomeini juga membenarkan pengikutnya membina Imam atau qubbah di atas kubur-kubur imam dan sesiapa yang membina qubbah itu akan diberi pahala yang besar serta dihapuskan dosanya. Bagi menguatkan pendapatnya, beliau menyebul pendapat ‘Syeikh al-Thusi’ yang menyebul bahawa :-

“Sayyidina Ali bertanya Rasulullah s.a.w., dan Baginda berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau (wahai Ali) akan berpindah ke Iraq dan akan dikebumikan di bumi Iraq”. Kemudian Ali bertanya lagi, Wahai Rasulullah, apakah balasan pahala bagi orang datang menziarahi kubur-kubur kami dan mendirikan bangunan qubbah di atasnya?”, Rasulullah men.iawab, ‘Wahai Abu al-Hasan (Ali), sesungguhnya Allah menjadikan kubur engkau dan kubur anak-anak engkau sebagai satu kawasan syurga dan sebagai satu tanah lapang daripada tanah lapang syurga. Allah telah memilih beberapa orang daripada makhluk-Nya dan memasukkan rasa kasih sayang kepada kamu di dalam hati mereka, dan mereka sanggup menanggung bala bencana dan kehinaan kerana mempertahankan kamu. Mereka mengulangi membina kubur-kubur dan datang menziarahi kamu (di kubur) sebagai tanda taqarrub mereka kepada Allah dan Rasul-Nya Sesungguhnya sesiapa yang membina kubur-kubur Kamu dan datang menziarahinya, maka pahalanya sama seperti dia bersama pengikut Nabi Sulaiman bin Daud membina al-Quds. Sesungguhnya sesiapa yang datang menziarahi kubur-kubur kamu, dia akan memperolehi pahala sebanyak 70 kali haji selain Haji Islam (haji wajib), dan dihapuskan dosanya serta jadilah dia (bersih daripada dosa) seperti kanak-kanak yang baru lahir daripada perut ibunya’. 25

Ulasan:

Lihatlah betapa beraninya Khomeini memetik riwayat palsu yang disebut oleh at-Thusi, sedangkan pendapat beliau itu berlawanan dengan hadith yang melarang umatnya membina qubbah di ata kubur.

Rasulullah s.a.w .bersabda:26

Jabir r.a. berkata,  Rasulullah s.a.w. melarang menambak kubur, duduk di atasnya dan membuat binaan di atasnya.

Mengenai membina Qubbah di atas kubur ini ramai ulama menegahnya,Imam asy-Syafie berkata:-

“Sesungguhnya aku suka meninggikan kubur sekadar sejengkal (mengatasi tanah biasa) dan aku suka jangan dibina sebarang bangunan dan tembok” 27

Ibn Hajar al Haitami dalam kitab al-Zawajir berkata:-

“Dan wajib disegerakan meruntuh masjid-masjid dan bangunan-bangunan qubbah di atas kubur kerana bangunan itu lebih mudarat atau lebih bahaya daripada ‘Masjid Dhirar’ kerana ia diasaskan di atas maksiat kepada Rasulullah s.a.w.”. 28

Imam al-Syaukani pula menyebut:

“Berapa banyak telah berlaku kerosakkan disebabkan pembinaan qubbah di atas kubur dan memperelokkannya, antara kerosakan itu ialah orang-orang jahil beriktiqad mengenai binaan itu sama seperti iktiqad orang-orang kafir terhadap berhala mereka, sehingga mereka memuja dan memuliakan (bangunan dan kubur tersebut), kerana menganggap perkara itu berkuasa memberi sesuatu manfaat kepadanya dan dapat mengelak sesuatu bala”. 29

Selain daripada itu Nabi sendiri tidak ada menyebut ganjaran pahala yang begitu besar akan diberikan kepada orang yang membina kubur-kubur imam dan yang datang menziarahinya. Apa yang ada Baginda sebut, menziarahi kubur adalah sunat kerana ia boleh mengingati mati dan hari Akhirat.

iii) SAYYIDA TINA FATIMAH MENERIMA WAHYU

Antara pendapat Khomeini lagi dia mengatakan Sayyidatina Fatimah menerima wahyu daripada Malaikat Jibril selepas Baginda s.a.w. wafat. Beliau berkata:-

“Dalam hadith disebut bahawa selepas baginda wafat, Malaikat Jibril datang kepada Fatimah membawa beberapa berita ghaib dan Amiral-mu’minin (Ali) menjalankan tugas menulis berita ghaib itu dan itulah dia Mashaf Fatimah”. 30

Ulasan:

Adakah seseorang selain daripada Nabi dan Rasul menerima wahyu Allah? Mengikut aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, orang yang menerima wahyu Allah hanya Nabi dan Rasul sahaja. Anak-anak para Rasul tidak pernah menerima wahyu kecuali jika dia juga menjadi nabi, seperti Nabi Sulaiman anak Nabi Daud a.s.

Apakah yang dimaksudkan oleh Khomeini bahawa wahyu tersebut adalah ‘Mashaf Fatimah’? Adakah ia memberi maksud, “al-Quran lain yang diturunkan kepada Fatimah sebagai tambahan kepada al-Quran mashaf Uthman? Kalau inilah maksudnya, adakah ia berbeza dengan al-Quran mashaf ‘Othman itu? Jika “Ya!”, maka sikap Khomeini itu sama dengan sikap ulama-ulama Syiah lain yang mengatakan al-Quran mashaf Uthman yang ada sekarang telah diubah dan dikurangkan beberapa ayat oleh Saidina Uthman. Manakala mashaf yang tidak diubah ialah “Mashaf Fatimah”.

Hajj Mirza Husin bin Muhammad Taqi al-Nuri al-Tabarsi – seorang ulama agung Syiah -telah berpendapat demikian dan pendapatnya itu disokong olah ulama-ulama Syiah lain. Kerana itu pada tahun 1292H beliau menulis kitab berjudul :-

“Kata Putus Untuk Membuktikan Berlakunya Penyelewengan Kitab Suci Tuhan”

Dalam kitab ini beliau menyebut bahawa beratus-ratus pendapat ulama Syiah yang lain daripada pelbagai zaman mengatakan bahaw al-Quran sekarang telah berlaku penambahan dan pengurangan”. 31

Kalau inilah pandangan Khomeini, alangkah beraninya dia membuat tuduhan yang bukan-bukan terhadap al-Quran itu sendiri dan juga terhadap sahabat Rasulullah s.a.w., khususnya Saidina Uthman r.a.

IV) TUDUHAN TERHADAP SAHABAT-SAHABAT RASULULLAH S.A.W DAN MENGHINA MEREKA

Dalam tajuk “al-Imamah”, Khomeini menyebut Sayyidina Abu Bakar, Umar dan Uthman banyak melanggar hukum-hukum al-Quran dan Hadis Rasul. Beliau mengatakan mereka gila kuasa, memeluk Islam secara nifaq, bertujuan mendapat kekuasaan. Sayyidina Uthman dan Muawiyah ialah sahabat yang bodoh dan tidak layak menjadi khalifah. Beliau menyebut hal ini dengan katanya :-

“Kami di sini tidak ada sebarang hubungan dengan kedua-dua syeikh (Abu Bakar dan Umar) terhadap apa yang mereka lakukan yang berlawanan dengan al-Quran dan mempermainkan hukum Ilahi, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu mengikut sesuka hati mereka, dan melakukan kezaliman ke atas Sayyidatina Fatimah, anak Rasulullah s.a.w.. Tetapi kami mahu menjelaskan tentang kejahilan mereka berdua terhadap hukum-hukum Ilahi dan agama, iaitu:-

Abu Bakar menjatuhkan hukuman potong tangan kiri ke atas seorang pencuri, dan membakar seorang pencuri yang lain, sedangkan hukuman tersebut adalah haram. Beliau jahil mengenai hukum pusaka, beliau tidak menjatuhkan hukuman qisas ke atas Khalid bin al-Walid yang membunuh Malik bin Nuwairah dan mengambil isterinya pada malam itu juga.

Adapun Umar, maka amalannya (yang menyalahi hukum) tidak dapat dihitung banyaknya. Antaranya dia menyuruh melaksanakan hukum rejam ke atas perempuan mengandung dan ke atas perempuan gila. Adapun Uthman, Muawiyah dan Yazid, maka orang ramal semua tahu keadaan mereka bertiga dengan jelas”. 32

Kemudian beliau menambah lagi :-

“Orang seumpama mereka ini yang jahil lagi bodoh melakukan kezaliman, tidak layak memegang jawatan lmamah dan menjadi Ulu al-Amri”. 33

Di tempat lain disebut:-

“Di awal-awal Islam beberapa orang sahabat Nabi yang terkenal suci dan bersih agamanya seperti Amirul- Mu’minin Ali, Sayyidina Hassan, Husin, Salman al- Farisi, Abu Dhar, al-Miqdad, ‘Ammar, al-Abbas dan Ibn Abbas, mereka semua bangkit menentang (Abu Bakar dan Umar) dan mereka mahu melaksanakan perintah Allah dan perintah Nabi mengenai Ulu al-Amri”. Tetapi pakatan yang lahir bersama lahimya manusia dan kerana pengaruh hawa nafsu itulah yang menolak kebenaran. Perlantikan Abu Bakar di Saqifah untuk memerintah dianrgap bermulanya perletakan batu asas yang salah. 34

Ulasan:

Dari sini jelas bahawa Khomeini begitu berani membuat tuduhan karut kepada Abu Bakar, Umar, Uthman dan Muawiyah, sehingga dikatakan sahabat ini jahil dan bodoh, tidak mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya serta melanggarnya. Kalau sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Uthman dianggap jahat, jahil dan banyak melanggar hukum Allah, maka mengapa Baginda menggolongkan mereka bertiga ke dalam kurnpulan 10 orang sahabat  yang dijamin masuk syurga. 35

Kalau Abu Bakar jahat, mengapa Baginda mengambil beliau menjadi temannya semasa berhijrah dan mengambil Saidatina Aisyah sebagai isteri Baginda, dan Abu Bakar sebagai mertuanya. Kalau Umar jahat mengapa Baginda mengahwini anaknya Hafsah dan mengapa Sayyidina Ali mengahwinkan anaknya Ummi Kalthom dengan Umar, dan kalau Sayyidina Uthman juga jahat mengapa Nabi mengahwini kedua-dua anaknya Ummi Kalthom dan Ruqaiyyah dengan Uthman? Manakala Muawiyah pula mengapa dilantik oleh Baginda sebagai seorang penulis wahyu dan dilantik oleh Abu Bakar, Umar dan Uthman menjadi gabenor di Syam beberapa tahun? Adakah Rasulullah bersabahat dengan orang jahat.? Tentu tidak!

Sebenarnya sahabat-sahabat tersebut bukan jahat dan jahil sepertimana yang didakwa oleh Khomeini, tetapi beliau dan golongan Syiah keseluruhannya sengaja membenci ramai para sahabat Rasulullah s.a.w.. Manakala tuduhan yang dikemukakan oleh Khomeini terhadap ketiga-tiga orang sahabat Nabi itu sebenarnya telah dijawab oleh ramai ulama Ahli Sunnah dalam mereka seperti Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab ”as-Sawaiq Muhriqah Fi al-Radd Ala Ahl al-Bida’ Wa al_Zandaqiyah” dan oleh asy-Syeikh Abdul Aziz ad-Dahlawi dalam “Mukhtasar at-Tuhfah al-Ithna Asyariyyah” dan lain-lain lagi.

V) SEBAB-SEBAB AL-QURAN TIDAK MENYEBUT DENGAN TERANG TENTANG PERLANTIKAN ALl MENJADI PENGGANTI BAGINDA S.A.W.

Selepas Khomeini menerangkan kejahilan Abu Bakar, dan Uthman dan kezaliman mereka, beliau menyebut yang al-Quran ada menjelaskan secara terus terang mengenai perlantikan Ali menjadi pengganti Rasulullah s.a.w. Tetapi ayat-ayat itu dibuang sahabat Rasulullah s.a.w. yang ada kepentingan. Katanya:-

“Kita yakin bahawa jika sekiranyaAllah menyebut perkara itu dengan terus terang dalam al-Quran, maka perselisihan tidak akan terhapus, bahkan beberapa penyelewengan lain tetap akan berlaku pula”. 36

“Kalaulah di dalam al-Quran Allah menyebut mengenai pcrlantikan imam (Ali) maka siapakah yang dapat memberi jaminan perselisihan sesama Islam tidak akan berlaku, kerana mereka yang mendakwa dirinya beragama Islam dan sahabat, juga oleh kerana mereka telah membuat pakatan, tentunya mereka tidak berpegang dengan ayat-ayat al-Quran dan mereka yang gila kuasa apabila mendapati matlamat mereka tidak tercapai dengan Islam, mereka akan menubuhkan pakatan (jahat) bagi menentang Islam”. 37

“Kalaulah masalah Imamah telah dijelaskan oleh al-Quran dengan terang, maka mereka yang tidak mengambil berat terhadap Islam dan al-Quran -kerana mereka gila kuasa -tentunya akan mengambil al- Quran sebagai cara bagi mencapai matlamatnya, iaitu dengan membuang ayat-ayat al-Quran dan menggugurkannya daripada dilihat oleh orang ramai buat selama-lamanya”. 38

Ulasan:

Alangkah beraninya Khomeini membuat tuduhan palsu kepada Khalifah Rasulullah s.a.w. dan lain-lain lagi sehingga dikatakan mereka berani menghapuskan ayat-ayat al-Quran demi untuk memperolehi hajat dan kuasa pemerintahan.

Kalau kita terima dakwaan beliau yang mengatakan para sahabat , berani mengubah al-Quran, ini bererti dakwah dan didikan Nabi terhadap para sahabat tidak berjaya dan tidak berkesan, dan dakwah Baginda dianggap sia-sia. Baginda tidak dapat membentuk peribadi para sahabat dengan peribadi Islam. Kalau inilah yang berlaku, maka bukan sahabat sahaja yang dituduh oleh Khomeni, tetapi termasuk juga Rasulullah sendiri. Kalau ini berlaku, maka siapalah lagi yang mendapat didikan Baginda? Barangkali hanya Khomeini dan ulama-ulama mereka sahajalah yang mendapat didikan Rasulullah s.a.w. yang sebenar.

VI) ABU BAKAR DAN UMAR MELANGGAR HUKUM AL-QURAN

Tidak cukup dengan tuduhan-tuduhan di atas dilemparkan kepada Abu Bakar dan Umar, bahkan ditambah lagi dengan tuduhan lain, sehingga dibuat dua tajuk khas. Pertama: Abu Bakar menyalahi al-Quran. Kedua: Umar menyalahi Kitab Allah. 39

Dalam lajuk pertama Khomeini menyebut:-

“Di sini kami terpaksa menyebut beberapa contoh kedua-dua (Abu Bakar dan Umar) menyalahi al-Quran, antaranya ialah:-

  1. Fatimah binti Rasulullah datang berjumpa dengan Abu Bakar dan meminta pusakaayahnya. Abu Bakar menjawab bahawa Nabi bersabda maksudnya: “Kami para Nabi tidak membahagikan pusaka, apa yang kami tinggal adalah sedekah “.  Pendapat Abu Bakar ini berlawanan dengan ayat 5-6 Surah Maryam ! 40
  2. Semua ulama sepakat mengatakan satu bahagian daripada harta zakat mesti diberi kepada orang muallaf bahkan boleh diberi kepada orang kafir 1/3 daripada harta zakat untuk mengambil hati mereka dan untuk menarik mereka memeluk Islam akan tetapi Abu Bakar menggugurkan hukum ini dengan perintah Umar. 41

Dalam tajuk kedua Khomeini menyebut beberapa contoh Sayyidina Umar melanggar hukum al-Quran, diantaranya dikatan beliau mengharamkan Nikah mut’ah. Umar menghukum jatuh talak tiga bagi suami yang menceraikan isterinya dengan talak tiga serentak. 42 Selepas menyebut perkara itu Khomeini berkata,

Daripada semua yang telah disebut di atas, jelaslah kedua-kedua Syeikh (Abu Bakar dan Umar) melakukan perkara berlawanan dengan al-Quran”. 43

Ulasan:

Daripada petikan ini jelas sekali Khomeini masih tidak berpuas hati dengan tuduhan-tuduhan sebelumnya terhadap Abu Bakar dan Umar, ditambah lagi dengan tuduhan-tuduhan lain seperti dalam contoh-contoh di atas.

Mengenai Abu Bakar tidak memberi pusaka kepada Fatimah, Abu Bakar tidak jahat dan beliau tidak membuat hadith palsu, sebagaimana didakwa oleh Khomeini, tetapi kerana beliau mahu mengikut perintah Nabi di dalam hadith sebagaimana yang dijelaskan, hadith yang diterangkan oleh Abu Bakar itu adalah hadith sahih. Ibn Taimiyah menyebut :-

“Hadith tersebut telah diriwayatkan oleh ramai para sahabat tennasuk Abu Bakar, Umar, Uthman, Ali, Talhah, al-Zubair, Saad, Abdul Rahman bin’ Auf, al-Abbas, isteri-isteri Nabi, juga Abu Hurairah r.a, kemudian ulama hadith meriwayatkan hadith itu daripada sahabat tersebut dan memasukkan ke dalam hadith dan musnad mereka”. 44

Apa yang didakwa oleh Khomeini bahawa sikap Abu Bakar itu berlawanan dengan ayat al-Quran, maka itu tidak timbul, kerana kedua-dua ayat yang dibawanya memberi maksud “mewarisi pangkat kenabian” bukan mewarisi harta pusaka. Ayat pertama bermaksud, Nabi Sulaiman mewarisi pangkatkenabian Nabi Daud. 45 Manakala yang kedua bermaksud Nabi Yahya mewarisi pangkat kenabian Nabi Zakaria. 46

Apa yang dikatakan Sayyidina Abu Bakar tidak memberi habuan kepada muallaf setelah mendengar pendapat Umar juga tidak boleh dianggap salah, kerana masa itu Islam telah kuat dan orang Islam telah ramai, kerana itu habuan tersebut tidak lagi wajib diberikan kerana semata-mata untuk memujuk dan mengambil hati golongan muallaf. Kerana itu apabila golongan tersebut datang kepada Umar meminta habuannya, Omar berkata: -Selepas dia berjihad “Habuan ini telah diberi oleh Rasulullah s.a.w. kepada kamu bertujuan untuk memuliakan Islam dan tidak perlu lagi memujuk atau mengambil hati kamu”. Apabila perkara ini diketahui oleh Abu Bakar, beliau bersetuju dengan keputusannya. Persetujuan itu tidak dibantah oleh ramai para sahabat -termasuk Sayyidina Uthman dan Ali, bahkan kedua-dua mereka tidak memberi habuan tersebut semasa pemenntahan mereka. 47

Kalaulah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar itu salah, mengapa Khomeini hanya mencela Abu Bakar dan umar sahaja, dan tidak mencela Sayyidina Ali yang juga tidak memberi habuan itu semasa pemerintahannya?

Apa yang dikatakan Sayyidina Umar mengharamkan nikah mut’ah juga tidak benar, kerana nikah tersebut telah diharamkan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri. Banyak hadith menjelaskan perkara ini, antaranya, hadith Muslim daripada ar-Rabii bin Sabrah al-Hujani bahawa Rasulullah s.a.w. bcrsabda, maksudnya: ” Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku telah mengizinkan kamu beristimta’ dengan perempuan (Nikah mut’ah), sesungguhnya (sekarang) Allah telah mengharamkan perkara itu sampai ke hari Qiamat. Sesiapa yang ada padanya perempuan (yang dinikah secara ini ) maka hendaklah dilepaskan dan jangan kamu mengambil daripadanya sebarang harta , yang kamu berikan kepada mereka walaupun sedikit sebagai maskahwin. 48

Jadi daripada ulasan-ulasan ringkas di atas dapatlah dibuat, kesimpulan bahawa Abu Bakar dan Umar sebenamya tidak melanggar hukum-hakam al-Quran dan hadis sebagaimana yang didakwa oleh Khomeini dan ulama-ulama Syiah yang lain tetapi apa yang dilakukan itu adalah menurut Sunnah Rasulullah s.a.w.

VII) DIKATAKAN RASULULLAH S.A.W. TAKUT HENDAK  MENYAMPAIKAN PERINTAH ALLAH

Perkara terakhir yang hendak disebutkan daripada apa yang ditulis oleh Khomeini dalam Kitab “Kasyf al-Asrar” ialah beliau menuduh Rasulullah s.a.w. takut dan gerun kepada umatnya untuk disampalkan perintah Allah mengenal perlantikan Sayyidina Ali. Baginda dituduh takut dan tidak berani hendak menerangkan hukum tersebut hingga turunnya ayat al-Quran memerintahkan supaya Baginda menyampaikan juga suruhan itu menerusi Firmannya: 49

Wahai Rasulullah, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu dan jika engkau tidak melakukannya, maka bermakna engkau tidak sampaikan perutusanNya, dan Allah jualah akan memeliharamu daripada (kejahatan) musuh (Al- Maidah, 67).

Mengikut beliau, setelah turunnya ayat ini barulah Rasulullah berani menyampaikan perintah tersebut, dan perintah itu katanya ialah perintah melantik Ali menjadi khalifah. Beliau berkata:

“Jelas bahawa Muhammad s.a.w. sampai ke waktu itu (waktu turunnya ayat di atas) telah menyampaikan segala hukum yang diisyaratkan Baginda di Ghadir Khum, kerana itu jelaslah perintah (dalam ayat di atas) adalah khusus mengenai perintah perlantikan Imam Ali”.

“Daripada himpunan dalil dan hadith jelas bahawa Nabi memang dan gerun kepada orang ramai bagi (menyampaikan) dakwah perlantikan imam. Sesiapa yang membaca sejarah dan hadith, dia akan tahu bahawa Nabi memang takut hendak menyampaikan (perintah itu), akan tetapi Allah memerintahkan Baginda supaya menyampaikan perintah tersebut dan menjanjikan mahu mengawalnya, dengan itu menyampaikan perintah Allah.” 50

Ulasan:

Pendapat Khomeini di atas tidak boleh diterima, kerana Baginda s.a.w. tidak pemah takut kepada sesiapapun. Tidak terdapat dalam sirah Rasulullah s.a.w., yang menyebut Baginda takut kepada selain daripada Allah. Perintah dalam ayat di atas bukannya perintah perlantikan Ali sebagaimana yang didakwa oleh Khomeini.

Ulama Ahli Sunnah berpendapat bahawa perintah tersebut sebenamya perintah Allah supaya Baginda menyampaikan -segala ajaran Islam yang diturunkan kepadanya -bukan perintah perlantikan Ali. Ibn Kathir semasa mentafsir ayat di atas berkata, “Allah Ta’ala bercakap dengan Nabi Muhammad s.a.w. (mewahyukan kepadanya) sebagai seorang Rasul dan seorang hambanya dengan memerintah kepada Baginda supaya menyampaikan segala ajaran agama yang disampaikan kepadanya, dan Rasulllah mengikut perintah itu serta mentaatinya dengan sempurna”. 51

KESIMPULAN

Daripada pendedahan pendapat Khomeini di dalam dua buah kitabnya bersama ulasan nngkas mengenainya dapatlah dibuat beberapa kesimpulan, antaranya:-

1)    Banyak pendapat Khomeini bercanggah dan berlawanan dengan pandangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah khususnya mengenai aqidah, kedudukan para Sahabat Rasulullah, dan Imamah. Menurut Khomeini: Meminta sesuatu daripada kubur, batu-batu kubur dan qubbahnya tidak syink. Sayyidatina Falimah dikatakan menerima wahyu selepas Baginda wafat dan Nabi Muhammad s.a.w. di katakan takut kepada sahabat.

2)    Kerajaan Islam yang diiktiraf beliau hanya kerajaan di zaman Rasulullah s.a.w., zaman Sayyidina Ali dan di zaman anak cucunya, selepas itu. Kerajaan di zaman Abu Bakar, Umar, Uthman dan kerajaan Umawiyyah juga Abbasiyah tidak diiktirafnya sebagai kerajaan Islam.

3)    Menurut beliau, Nabi telah menentukan Ali menjadi Khalifah di Ghadir Khum, tetapi ditentang oleh ramai sahabat khususnya Abu Bakar, Umar dan Uthman. Sahabat tersebut dituduh sanggup mengubah al-Quran demi untuk kepentingan dunia dan kuasa.

4)    Kalau sekiranya sahabat-sahabat tersebut jahat, gila kuasa, dan lain-lain lagi, maka ini menunjukkan didikan Nabi tidak berjaya. Kalau ini berlaku, maka banyak ayat Quran dan hadith-hadith Nabi tidak boleh diterima, kerana disampaikan oleh sahabat yang tidak adil dan zalim. Sedangkan yang sebenarnya tidak demikian.

5)    Bukan setakat itu sahaja penyelewengan Khomeini, bahkan beliau mengharuskan meroboh masjid jika perlu dan membatalkan hukum-hukum Islam. Dalam majalah “al-Baith al-Islam” yang dicetak di India bilangan 34, keluaran bulan Safar 1401H, ada memetik katak-kata Khomeini, antaranya, “Harus bagi pemerintah menutup masjid ketika perlu dan meruntuhkannya. Juga pemerintah boleh menghapus atau membatalkan mana-mana hukum daripada hukum Islam sama ada hukum-hukum ibadat atau lain-lain apabila hukum tersebut didapati menyalahi kepentingan Islam, juga pemerintah boleh menegah rakyat daripada menunaikan haji yang menjadi hukum Islam yang penting apabila ia boleh mendatangkan kemaslahatan kepada kerajaan Islam”.

CADANGAN

Untuk mengakhiri penulisan ini penulis mencadangkan beberapa perkara. Antaranya:-

1)    Para pem baca sekalian hendak1ah mengam bil berat tentang pandangan Khomeini dan pandangan Syiah seluruhnya, dan jangan terpengaruh tanpa usul periksa betul salahnya.

2)    Pembaca yang berkemampuan diminta membaca buku-buku Arab dan lain-lainnya mengenai Syiah daripada karangan ulama Ahli Sunnah dan lain-lainnya. Dan maklumat yang diperolehi hendaklah disebarkan kepada umum, kerana dikhuatiri akan ramai golongan Ahli Sunnah akan menjadi Syiah atau bermazhab Syiah, terpengaruh dengan dakyah menghalalkan nikah mu’tah, sembahyang Jama’ dan lain-lain.

3)    Setiap dakyah dan propaganda mengagungkan Syiah dan Khomeini yang dilakukan oleh sesiapa sahaja perlu diawasi dan perlu berhati-hati supaya tidak terpengaruh. Pihak-pihak berkenaan dengan hal ehwal keagamaan seperti Majlis Agama Islam, Pusat Islam dan lain-lain, hendaklah peka terhadap perkembangan Syiah di Malaysia sekarang, dan menghadapinya dengan bijaksana dan jika perlu mengharamkan risalah-risalah dan buku-buku Syiah .

NOTA KAKI

  1. Lihat catitan di awal kitab “Al-Hukumah al-Islamiyyah”.
  2. Lihat kulit belakang “Kitab Kasyf al-Asrar”, Arab.
  3. Lihat Syeikh Muhammad Manzur Nu’mani,”al-Thaurah al-Iraniyyah”, hal: 49.
  4. ” Al-Hukumah al-Islamiyyah”, hal: 52.
  5. Ibid.
  6. Ibid.
  7. Ibid, hal: 51.
  8. Ibid, hal: 113.
  9. “Al-Hukumah al-Islamiyyah”, hal: 26.

10.  Ibid, hal: 18.

11.  Ibid, hal: 19.

12.  Ibid, hal: 131-132, Dr. Abdullah Mohd al-Gharib, ” Waja’a Daur al-Majus”, hal: 173.

13.  Ibid, hal: 98.

14.  Lihat Syah Ab. Aziz Waliyyullah al-Dahlawi, “Mukhtasar at- Tuhfah al-Ithna ‘Asyariyyah”, hal: 160.

15.  Ibid, hal: 160-161.

16.  Ibid, hal: 71.

17.   Ibid, hal: 33.

18.  Ibid, hal: 74.

19.  Ibid.

20.  Dr. Abdullah Muhammad al-Gharib, “Al-Khomeini Baina at-Tattarruf Wa al-I’tidal”, ha1: 31.

21.  “Kasyf al-Asrar”, (Arab), hal: 49.

22.  Ibid, hal: 59.

23.  Ibid, hal: 140.

24.  Ibid, hal: 62.

25.  Ibid, hal: 84.

26.  Al-Sayyid Sabiq, “Fiqh al-Sunnah”, juzuk 1, hal: 554.

27.  Ibid, juzuk 1, hal: 548.

28.  Ibid, hal: 549-550.

29.  Ibid, hal: 549.

30.  “Kasyf al-Asrar”, hal: 143.

31.  A-Sayyid Muhibuddin al-Khatib, “Al-Khututal-Aridhah”, hal:9.

32.  Ibid, hal: 126-127.

33.  Ibid.

34.  Ibid, hal: 128.

35.  LihatTermizi,juzuk,5, hal: 311, al-Jami’ al-Saghir,juz: 6.

36.  Kasyf al-Asrar, hal: 129.

37.  Ibid, hal: 130.

38.  Ibid, hal: 131.

39.  “Kasyf al-Asrar”, hal: 131:135.

40.  Ibid, hal: 132.

41.  Ibid, hal: 134.

42.  Ibid, hal: 135-136.

43.  Ibid, hal: 138.

44.  Ibn Taimiyyah, “Minhaj al-Sunnah”, juzuk 2, hal: 158.

45.  Lihat, “Pimpinan al-Rahman”, hal: 977.

46.  Ibid, hal: 747-748.

47.  Al-Sayyid Sabiq, “Fiqh al-Sunnah”, juzuk 1, hal: 389-390.

48.  “Sahih Muslim”, juzuk 2, hal: 1025.

49.   Surah al-Maidah, ayat: 67.

50.  “Kasyf al-Asrar”, hal: 150.

51.  Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-Azim, juzuk, 2, hal: 77.

UGAMA SYIAH : VIDEO

Fail 1/21: Dengan lawan sesuatu , kita mengenal sesuatu , gelap kita kenal kerana ada terang, demikian Syiah – Ajaran sesat yang tertua ialah Syiah – Satu Mazhab dalam Islam atau suatu agama baru – Syiah berpecah kepada 300 bahagian – Syiah Imam 12 mempercayai sahabat nabi

Fail 2/21

Fail 3/21

Fail 4/21

Fail 5/21

Fail 6/21 : Ciri-ciri Syirik

Fail 7/21 : Syiah  dan kavadi – Abdullah bin Saba – Perang Jamal dan Sifin – akidah syirik -

Fail 8/21

Fail 9/21

Fail 10/21

Fail 11/21

Fail 12/21

Fail 13/21: Takyiah – ugama dusta – semua manusia anak zina kecuali syiah

Fail 14/21 : Orang sunah = nasibi = najis – tanah karbala – sembahyang jumaat tidak wajib sehingga datang mahdi – perayaan syiah – karbala -

Fail 15/21 : 10 muharam – Imam Jaafar as Sadik di fitnah Syiah

Fail 16/21 : Imam Jaafar as Sadiq – Mengapa tidak Ismail sebagai Imam -

Fail 17/21 : Soaljawab

Fail 18/21 :Fakta tentang Ali , gagah atau lemah – tongkat ali – kacip fatimah – Nabi saw marah Ali nak kawin dengan anak Abu Jahal.

Fail 19/21 : Aurat bagi Syiah – Ali duduk atas riba aishah – Syiah menghina nabi

Fail 20/21 : akidah benteng yang perlu dijaga – mengawal pengaruh syiah -

Fail 21/21 : usaha mendekatkan suni syiah – adalah kerja sia-sia – dailog suni syiah adalah penipuan syiah -syiah adalah ugama bukan mazhab – PENUTUP

Biodata Khalifah Uthman bin Affan r.a

Biodata Khalifah Uthman bin Affan r.a[1]

Secara khusus latar diri dan biodata khalifah Uthman bin Affan r.a. adalah seperti yang berikut:

1. Orang pertama yang berhijrah ke negeri Habsyah (Eritheria) di atas arahan Rasulullah s.a.w. Iaitu bersama isterinya Ruqayyah bt. Rasulullah s.a.w.[2]

Daripada Anas r.a. berkata: “Orang yang pertama dari kalangan muslimin berhijrah ke Habsyah bersama ahli keluarganya ialah Uthman bin Affan. Maka Nabi s.a.w. bersabda: Kedua-duanya ditemani oleh Allah. Sesungguhnya Uthman bin Affan itu ialah orang yang paling pertama berhijrah ke jalan Allah bersama dengan keluarganya selepas Nabi Allah Lut berbuat demikian.

2. Tokoh yang terlalu banyak menyumbangkan harta miliknya ke jalan Allah, contoh yang paling terkenal, ialah dalam penyediaan tentera Jihad Usrah.[3]

“Berkata Adurrahman bin Habbab: Aku telah menyaksikan bagaimana Rasulullah s.a.w. memberangsangkan bagi persiapan untuk tentera yang menghadapi kepayahan. Maka Uthman bin Affan dapat tahu hal itu, lalu berkata: Ya Rasulullah! Untuk itu hamba sumbangkan 100 ekor unta yang semata-mata ke jalan Allah. Selepas itu pula Nabi s.a.w. mengiklankan keperluan untuk kegunaan para tentera sendiri. Maka Uthman r.a. berkata: Ya Rasulullah! Hamba sumbangkan lagi 300 ekor unta yang lengkap dengan kelengkapan seperlunya, semata-mata ke jalan Allah. Kata Abdurrahman, aku lihat Rasulullah s.a.w. turun dari atas mimbar, lalu berkata: Tidak ada apa-apa tindakan Uthman yang boleh menjejaskannya selepas ini semua! Tidak ada apa-apa tindakan Uthman yang boleh menjejaskannya selepas ini semua!. [4]

Begitu juga dalam Hadith al-Tirmizi: [5]

“Daripada Ab. Rahman bin Samurah, berkata: Uthman telah datang bertemu Nabi s.a.w. membawa seribu dinar ketika menyediakan keperluan zaman susah tentera. Maka lalu dilonggokkan di hadapannya, maka Nabi s.a.w. lalu membelek-belekkannya sambil bersabda: Apa-apa yang Uthman lakukan selepas hari ini, tidak akan menjejaskannya (dua kali).

3. Uthman bin Affan r.a. membeli sebuah perigi dengan wangnya sendiri dan diwakaf untuk kegunaan seluruh Muslimin di Madinah, sedangkan di Madinah waktu itu sukar mendapat sumber air. Keterangannya melalui Hadith riwayat al-Tabarani dan Ibnu Asakir:[6]

Daripada Basyir al-Aslami, berkata: Bila kaum Muhajirin tiba di Madinah, mereka mengalami amat sukar mendapat air. Dan hanya terdapat sebuah perigi milik seorang lelaki daripada Bani Ghifar, perigi itu dikenali dengan perigi Romah. la menjual aimya setimba dengan harta satu mud (kadar wang yang digunakan zaman itu). Lalu Nabi s.a.w. menawarkan untuk membelinya dengan

janji sebuah perigi di dalam syurga kelak. Jawabnya Ya Rasulullah! Tidak ada lagi perigi yang lain milikku dan anak-anakku. Dan aku tidak dapat menerima tawaran itu. Berita itu sampai ke pengetahuan Uthman r.a., lalu segera membelinya dengan harga 35 000 dirham (satu harga yang tidak ada siapa yang mampu membelinya). Kemudian dia datang menghadap Nabi s.a.w. lalu

bertanya: Ya, RasuluIlah! Adakah tuan masih menawarkan untuk saya seperti tuan tawarkan kepada empunya perigi itu untuk mendapatkan sebuah perigi di syurga kalau saya dapat membelinya? Jawab Nabi s.a.w.: Ya! lalu kata saya Uthman r.a. sebenarnya, saya telah pun membelinya dan mewakafkan untuk kegunaan semua Muslimin.

4. Keberanian dan kesanggupan Uthman bin Affan r.a. menempuh maut sematamata kerana arahan RasululIah s.a.w. sebagai wakilnya kepada pihak Musyrikin Quraisy di Makkah iaitu dalam peristiwa Hudaibiyah pada tahun 6H. Pada mulanya Nabi s.a.w. cuba melantik Umar bin al-Khattab r.a., yang terkenal keberaniannya, tetapi di sini ternyata Umar kurang berani. Katanya:[7]

“Wahai Rasulullah! Hamba bimbang keselamatan diri hamba dari Quraisy itu. Kerana di Makkah tidak ada seorang pun keturunan Bani Adi yang boleh melindungi hamba. Sedangkan kaum Quraisy itu benar-benar mengetahui permusuhan hamba dan kekasaran hamba terhadap mereka dulu. Tetapi hamba boleh tunjukkan seorang lelaki yang lebih berkemampuan daripada hamba, iaitu Uthman bin Affan.

Selain sumbangan-sumbangan yang terlalu besar kepada kejayaan Islam, maka dalam keadaan-keadaan tertentu pula nampak Saiyidina Uthman r.a. lebih berani dan lebih bertawakal daripada orang lain. Satu kelebihan yang sukar ditandingi.

5. Uthman bin Affan r.a. satu-satunya manusia yang mendapat penghormatan daripada Allah dan Rasul-Nya. Ini kerana tidak berlaku di dalam dunia ini seorang manusia dapat mengahwini dua orang puteri Nabi, lebih-Iebih lagi puteri kepada Rasul terakhir (Khatam al-Nabiyin). Sebab itu ia digelar, Zu al-Nurain (yang memiliki dua cahaya, yakni dua puteri Nabi) , penjelasan ini terdapat dalam Hadith riwayat al-Baihaqi:[8]

Daripada Abdullah bin Umar bin Aban al-Ju’fi, berkata: Bapa saudaraku Hussain al-Ju’fi bertanya kepadaku: Tahukah kamu, mengapakah Uthman itu digelar pemilik dua cahaya? Kataku: Tidak, lalu katanya: Sejak Allah jadikan Adam hinggalah ke hari kiamat tidak pernah ada orang yang mengumpul (mengahwini) dua orang puteri Nabi, selain Uthman. Maka sebab itu digelar Zu al-Nurain (pemilik dua cahaya). Mula-mula Uthman r.a. mengahwini Ruqayyah bt. Rasul s.a.w. yang meninggal dunia pada malam peperangan Badar, kemudian Rasulullah s.a.w. kahwinkannya pula dengan adiknya Ummu Kalthom.

Rasulullah s.a.w. mengahwinkan puterinya dengan Saiyidina Uthman r.a. bukanlah seperti bapa-bapa biasa yang mengahwinkan anak-anak perempuan mereka dengan seseorang lelaki dengan pilihan dan sebab-sebab tertentu yang dimaklumi umum, berbanding Rasulullah s.a.w. ketika engahwinkan  puterinya dengan Uthman adalah arahan wahyu Allah s.a.w. Kenyataan ini berdasarkan al-Tabarani daripada Hadith Ibn Abbas r.a. daripada Nabi s.a.w.[9]

Nabi s.a.w. bersabda sesungguhnya Allah s.w.t. telah mewahyukan kepadaku supaya aku kahwinkan anakandaku dengan Uthman.

Begitu juga Hadith:[10]

Daripada lbn Abbas r.a., berkata aku dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Aku tidak kahwinkan Uthman dengan Ummi Kalthom, melainkan dengan sebab arahan wahyu dari langit.

Bukan hanya sekadar itu sahaja, bahkan Rasulullah s.a.w. pernah membayangkan penghargaannya lebih daripada itu, sebagaimana Hadith al-Tabarani:[11]

Daripada Ismah bin Malik, telah berkata: Apabila anakanda Rasulullah s.a.w. yang di bawah milik Uthman itu meninggal dunia, Rasulullah s.a.w. bersabda pula: Kahwinkanlah Uthman, kalaulah aku masih mempunyai puteri yang ketiga, nescaya aku kahwinkannya dengan Uthman, kerana aku tidak kahwinkannya dulu, melainkan dengan sebab wahyu daripada Allah.

Aspirasi daripada Hadith-Hadith yang lalu menunjukkan tentang keistimewaan Saiyidina Uthman r.a. itu hingga Allah s.w.t. sendiri mewahyukan kepada Nabi-Nya dalam perkara ini, sudah tentu ada sesuatu rahsia besar yang tidak mampu diketahui oleh manusia. Andainya Uthman r.a. itu seorang yang berperangai buruk atau ada salah pada pendirian dan tingkah lakunya, sama ada yang menyentuh diri sendiri maupun masyarakat dan negara, maka sudah tentu Allah s.w.t. tidak akan menerimanya sebagai menantu kepada Nabi besar. Dari segi yang lain menunjukkan bahawa Nabi s.a.w. begitu akur dengan wahyu Allah, sehinggakan soal perkahwinan anak pun, baginda tidak cuba membincangkan arahan wahyu itu.

6. Dalam zaman pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Siddiq r.a. berlaku kemelesetan di bumi Hijaz akibat kemarau panjang. Tanaman gandum dan buah-buahan rosak dan kering. Khalifah cemas sekali, lalu Saiyidina Uthman r.a. menghadiahkan bahan-bahan makanan dan minuman dari satu kafilah besar milik peribadinya yang baru tiba dari wilayah Syam. Kafilah itu dianggarkan terdiri daripada 1000 ekor unta yang penuh muatan, semuanya dihadiahkan percuma kepada kaum Muslimin.[12]

7. Uthman r.a. merupakan seorang sahabat yang dijamin untuk menghuni Syurga Allah oleh Rasulullah s.a.w. Ini berdasarkan Hadith:[13]

Setiap Nabi itu ada teman karibnya, teman karibku di dalam syurga kelak ialah Uthman.

Begitu juga pengakuan daripada Rasulullah s.a.w. yang di catatkan oleh Ibn Abd. al-Bar:[14]

Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda “Aku telah memohon kepada Tuhanku Yang Maha Agung supaya tidak memasukkan ke dalam neraka sesiapa sahaja yang pernah bermenantukan Aku atau Aku menjadi menantunya.”

8. Uthman bin Affan r.a. berperibadi terlalu mulia, baik dalaman mahupun luaran, sehinggakan para malaikat sendiri pun segan dan malu kepadanya. Perkara ini  dijelas oleh Muslim dalam Hadithnya yang diriwayatkan daripada Aisyah r.a. Bahawa sedang Rasulullah s.a.w. duduk berbaring-baring di katilku, badannya diselimut dengan kain panjangku (dengan terbuka di sana sini). Kemudian datang Abu Bakar dan kemudian datang Umar r.a. memohon izin untuk berbincang sesuatu. Baginda s.a.w. berkeadaan begitu hingga mereka meminta diri untuk pulang. Kemudian Uthman r.a. pula datang, kali ini Rasulullah s.a.w. terus bangun membetulkan kedudukan dan pakaiannya baik-baik. Apabila selesai perbincangan dan Uthman r.a. pulang. Aku bertanya: Ya Rasulullah, mengapa saya lihat kamu tidak cemas atau terburu-buru ketika menerima kedatangan Abu Bakar dan Umar r.a., tidak seperti kedatangan Uthman r.a. ? Lantas jawab Rasulullah s.a.w.:[15]

Apakah tidak wajar aku segan dan malu kepada seseorang yang malaikat sendiri pun segan dar malu kepadanya !

9. Uthman bin Affan r.a. dipilih sebagai salah seorang penulis wahyu pada zaman pemerintahan Rasulullah s.a.w., digandingkan dengan Ali bin Abi Talib r.a.[16] Ketika Abu Bakar al-Siddiq r.a. menjadi khalifah, Saiyidina Uthman r.a. terus dilantik menjadi setiausaha negara.[17] Sebenarnya, masih banyak lagi kelebihan-kelebihan Saiyidina Uthman yang melambangkan satu nilai ketokohan dan ketinggian iman seorang sahabat besar kepada Rasulullah s.a.w., sehingga Nabi s.a.w. sendiri mengakuinya sebagai personaliti yang terbaik, dan bakal menjadi penghuni syurga Allah s.w.t. seperti Abu Bakar, Umar, Ali dan juga yang lain-lain.

Biodata atau latar diri begini perlu diberi perhatian secukupnya terlebih dahulu, sebelum orangorang mutakhir seperti kita ini membuat sesuatu penilaian ke atas pendirian, sikap dan tindakan mana-mana sahabat besar Rasulullah s.a.w. itu. Ini kerana, dengan cara itu sahaja kita terselamat daripada perangkap yang sentiasa dipasang oleh musuh-musuh Islam di sepanjang jalan. Sekiranya kita terperangkap, maka dengan sendirinya kita sudah bertukar menjadi alat musuh untuk memusnahkan Islam. Pada hal kita sepatutnya menjadi pembela Islam, bukan penghancur. Atas sikap dan kesedaran inilah, elok dinilai dan diteliti kembali isu-isu kontroversi yang ditimbulkan dengan begitu hebat pada zaman pemerintahan khalifah Uthman r.a. yang berkesudahan dengan mengorbankan nyawa khalifah sendiri.

 


[1] Dipetik dari Buku ISU-ISU KONTROVERSI DALAM SEJARAH PEMERINTAHAN KHULAFA’ AL-RASYIDIN oleh Prof. Madya Dr. Marzuki Haji Mahmood, Jabatan Pengajian Arab dan Tamadun Islam, Fakulti Pengajian Islam

[2] Rafiq al-Azrn, Asyhar Masyahir al-Islam, hlm. 638. Lihat juga Dr. Hassan Ibrahim Hassan dlm. Tarikh al-Islam. jil. I, hlm. 252.

[3] laitu dalam perang Tabuk tahun 9H. Kebetulan waktu itu adalah zaman susah dan kemelesetan serta kemarau yang sangat kuat. Lihat al-Nadwi, dalam Sirah, hlm. 103,104.

[4] Al-Sayuti, Tarikh al-Khulafa, hlm. 150, 151.

[5] Al-Syaukani, Dar al-Sahabah, hlm. 180.

[6] Ibid, hlm. 191.

[7] Jalal Mazhar, Muhammad Rasulullah, hlm. 282.

[8] Al-Sayuti, Tarikh al-Khulafa, hlm. 149.

[9] Al-Syaukani, Darral-Sahabah, hlm. 181.

[10] Ibid, hlm. 182.

[11] Hadith keluaran al-Tabarani, petikan al-Imam al-Sayuti, dalam, Tarikh al-Khulafa, hlm. 153.

[12] Ibrahim Sabiq Arjun, dalam, Majallah al-Azhar 13, artikel: Hayat Rijal al-Islam: Uthman bin Affan, Safar, 1361 H. hlm. 71.

[13] Al-Tirmizi

[14] Ibn Abd. al-Bar, al-lsti’ab fi Maarifat al-Ashab, jil. III. Lihat Juga Sahih Muslim, jil. VII, hlm. 116, 117.

[15] Abu al-Hassan Muslim, al-Jami al-Sahih Bihamisy al-lmam al-Nawari, jil. VIII cet. I, al-

Halabi, Mesir, 1380H/1960M hlm. 116. 117. Lihat juga al-Syaukani dalarn Dar al-Sahabah, hlm. 179.

[16] 238 Zafir al-Qasimi, Nizam al-Hukm, jil. I, hlm. 48. Lihat juga al-Jasyiari. Kuttab al-Wuzara Wa al-Kuttab, hlm. 12-14.

[17] Dr. Ali Ibrahim Hassan. al-Tarikh al-Islam al-Am, 526.

Lima strategi asas Syi‘ah dalam berhujah dan Jawapan Ahl al-Sunnah ke atasnya : Kelima

Untuk menjawab hujah-hujah Syi‘ah ke atas Ahl al-Sunnah, perkara penting yang perlu diketahui bukanlah semua hujah mereka tetapi strategi asas yang mereka gunakan untuk berhujah. Jika diketahui strategi-strategi asas Syi‘ah, maka adalah mudah untuk menangkap dan menjawab hujah-hujah mereka sama ada yang telah berlalu atau yang akan datang, sama ada yang dibahas di dalam buku ini atau yang tidak dibahas. Ini berdasarkan kata hikmah: Jika kamu memberi saya ikan saya akan memakannya untuk satu hari tetapi jika kamu mengajar saya cara menangkap ikan saya akan memakannya seumur hidup.

Terdapat lima strategi asas yang lazim digunakan oleh Syi‘ah untuk berhujah ke atas Ahl al-Sunnah. Sesiapa yang mengkaji hujah-hujah Syi‘ah akan mendapati mereka tidak lari daripada menggunakan lima strategi asas ini, sama ada secara sebahagian atau keseluruhannya. Berikut dikemukakan setiap satu daripada lima strategi asas ini diikuti dengan jawapan Ahl al-Sunnah bagi membatalkannya.

Strategi Asas Syi‘ah yang Kelima :

Menggunakan pendekatan psikologi untuk menarik keyakinan orang awam.

Penjelasannya:

Dalam melangsungkan usaha dakwah kepada masyarakat Ahl al-Sunnah, Syi‘ah memiliki 2 kategori orang yang masing-masingnya memerlukan strategi yang berlainan:

1. Mereka yang terdiri daripada para tokoh agamawan, intelektual, cendekiawan dan terpelajar. Bagi kategori pertama ini Syi‘ah menggunakan strategi ilmiah seperti penggunaan dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah.

2. Mereka yang terdiri daripada kalangan orang awam yang memiliki minat di dalam agama dan ingin mencari ubat bagi rohaninya. Bagi kategori kedua ini Syi‘ah menggunakan strategi atau pendekatan psikologi.

Antara pendekatan psikologi tersebut ialah:

Pendekatan Pertama:

Mengemukakan skrip dialog antara tokoh Syi‘ah dan tokoh Ahl al-Sunnah yang terkenal, lalu di dalam dialog tersebut tokoh Ahl al-Sunnah tidak mampu menjawab hujah-hujah yang dikemukakan oleh tokoh Syi‘ah. Maka akhirnya tokoh Ahl al-Sunnah itu mengalah, bahkan ada yang keluar dari mazhab Ahl al-Sunnah dan masuk ke mazhab Syi‘ah.

Kesan psikologinya:

Memandangkan tokoh besar Ahl al-Sunnah tidak dapat menjawab hujah Syi‘ah sehingga beralih masuk ke mazhab Syi‘ah, sudah tentu ini menandakan kebenaran mazhab Syi‘ah.

Contoh dialog yang dimaksudkan ialah antara Sultan al-Wa‘izin dari Syiraz, Iran yang mewakili Syi‘ah dan Hafiz Muhammad Rashid serta Syaikh ‘Abd al-Salam dari Kabul, Afghanistan yang mewakili Ahl al-Sunnah. Sesi dialog ini masyhur dikenali sebagai peristiwa Peshawar Nights, didakwa berlangsung di bandar Peshawar yang bermula pada 23 Rejab 1345H dan berlangsung selama 10 malam berturut-turut.

Contoh dialog kedua ialah buku al-Muraja‘at (Dialog Sunnah Syi‘ah) oleh Syarafuddin al-Musawi. al-Musawi mendakwa dia telah berdialog dengan Salim al-Bisyri, seorang Syaikh al-Azhar lalu kemudiannya membukukan segala pertukaran pendapat dan hujah daripada dialog tersebut.

Pendekatan Kedua:

Mencatit “kisah benar” seorang Ahl al-Sunnah yang ingin mendekati agama setelah sekian lama menjauhinya. Lalu dalam usahanya ini dia mendapati ada beberapa aliran di dalam mazhab Ahl al-Sunnah yang saling berlainan sehingga mengelirukannya: Yang manakah yang benar ? Akhirnya dia menemui mazhab Syi‘ah. Dalil-dalil mereka jelas, hujah-hujah mereka kuat dan kesatuan mereka teramat utuh. Ini berbeza dengan mazhab Ahl al-Sunnah yang samar-samar dalilnya lagi lemah hujahnya.

Kesan psikologinya:

Pasti sahaja yang benar ialah Syi‘ah disebabkan oleh kekuatan dalil dan kesatuan mazhab mereka.

Contoh terbaik ialah novel Akhirnya Kutemukan Kebenaran……Kisah Pengembaraan Kerohanian dan Mencari Ilmu karya Muhammad al-Tijani yang sudah diterjemah ke bahasa Melayu pada tahun 1996.

Selain itu terdapat sebuah buku yang merupakan gabungan antara Pendekatan Pertama dan Kedua, iaitu buku Mengapa Aku Memilih Ahl al-Bait. Buku ini didakwa merupakan karangan Muhammad Mar’i al-Amin, kononnya seorang Qadi besar Mazhab al-Syafi‘i di Halab, Syria. Ia diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Lutpi Ibrahim dan boleh dirujuk dalam edisi bercetak atau “e-book” dalam beberapa laman web Syi‘ah.

Pendekatan Ketiga:

Memaparkan kisah sedih bercampur marah akibat perbuatan majoriti sahabat sebaik sahaja kewafatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah dimulai dengan kerakusan para sahabat untuk merebut jawatan khalifah sehingga mengabaikan urusan jenazah Rasulullah, suasana hiruk pikuk dan perpecahan dalam majlis perlantikan Abu Bakar, pengepungan rumah Fathimah diikuti dengan perampasan tanah Fadak daripadanya (Fathimah), sikap ‘Ali yang memberi janji taat setia (bai‘ah) kepada Abu Bakar hanya selepas 6 bulan, perlantikan ‘Umar dan ‘Utsman sehinggalah ke peristiwa pembunuhan ‘Ali, Hasan dan Husain.

Kesan psikologinya:

Majoriti para sahabat telah menderhakai wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perlantikan ‘Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti. Di samping itu mereka telah berlaku zalim ke atas ‘Ali dan ahli keluarganya. Mazhab majoriti sahabat inilah yang kini membentuk mazhab Ahl al-Sunnah. Maka tidak ragu lagi bahawa mazhab Ahl al-Sunnah adalah mazhab yang salah manakala yang benar ialah mazhab Syi‘ah.

Contoh pemaparan Kisah-kisah seperti ini ialah buku Saqifah – Awal Perselisehan Ummat dan Detik-detik Akhir Kehidupan Rasulullah oleh O. Hashem.

Pendekatan Keempat:

Memilih dan menapis maklumat yang terbaik yang menyebelahi Mazhab Syi‘ah daripada sumber-sumber Ahl al-Sunnah seperti al-Qur’an, al-Sunnah dan sejarah. Kemudian menyusunnya dalam format yang dapat mempengaruhi para pembaca. Sumber-sumber ini adalah sesuatu yang sukar dikaji sendiri oleh para pembaca sehingga akhirnya mereka (para pembaca) terpaksa berpuas hati, bahkan menjadi yakin dengannya.

Kesan psikologinya:

Benarlah Mazhab Syi‘ah dengan pelbagai hujah yang mereka nukil daripada sumber rujukan Ahl al-Sunnah sendiri.

Contohnya ialah dalam bab keutamaan dan kemuliaan para sahabat. Syi‘ah hanya memilih dan mengemukakan hadis-hadis tentang keutamaan dan kemuliaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh yang mereka nukil daripada kitab al-Mustadrak susunan al-Hakim rahimahullah, seolah-olah keistimewaan ini hanya terdapat pada ‘Ali dan tidak pada para sahabat yang lain.

Jawapan Ahl al-Sunnah ke atas strategi Syi‘ah yang kelima:

Kejayaan pendekatan secara psikologi tetap bergantung kepada faktor kesahihan fakta dan kebenaran hujah.

Penjelasannya:

Sebaik mana sekalipun pendekatan psikologi yang digunakan, yang tetap menjadi ukuran ialah kesahihan fakta dan kebenaran hujah. Ini kerana pendekatan psikologi hanya bersifat fiktif selagi mana ia tidak dibenarkan oleh fakta dan hujah yang bersifat hakiki.

Siapa sahaja boleh menggubah skrip lakonan, mengarang novel dan mengarah drama, akan tetapi yang menjaminnya benar atau dongeng ialah kesahihan fakta dan kebenaran hujah yang membentuknya.

Pendekatan-pendekatan psikologi yang digunakan oleh Syi‘ah adalah dongeng belaka demi menarik keyakinan orang awam. Dialog Peshawar Nights sebenarnya tidak berlangsung. Ia hanyalah sebuah skrip drama yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syi‘ah.[1] Dialog al-Muraja‘at juga adalah lakonan semata-mata. Buku al-Muraja‘at hanya diterbitkan suku abad selepas kematian Salim al-Bisyri. Tidak seorangpun daripada ahli keluarga Salim al-Bisyri, rakan-rakan pensyarah di Universiti al-Azhar dan anak-anak muridnya yang mengetahui tentang dialog ini. Tidak ada apa-apa bukti sahih bahawa dialog ini benar-benar berlaku kecuali daripada pengakuan al-Musawi sendiri.[2]

Manakala sesiapa yang menganalisa secara cermat buku Mengapa Aku Memilih Ahl al-Bait oleh Muhammad Mar’i al-Amin dengan mudah akan dapat mengecam (mengenali) bahawa ia adalah karangan seorang ahli debat Syi‘ah dan bukan seorang qadi yang lazimnya hanya mengetahui perbahasan hukum hakam agama. Penguasaan ilmu seorang qadi hanyalah pada bab halal dan haram, bukan pada persoalan iktikad, tafsiran al-Qur’an (selain ayat-ayat hukum), takhrij hadis,[3] kisah sejarah dan sebagainya.

Selain itu perlu diingatkan bahawa faktor penyebab kepada beralihnya seseorang daripada Mazbab Ahl al-Sunnah kepada Mazhab Syi‘ah bukan kebenaran Syi‘ah akan tetapi kejahilan orang itu sendiri. Ini seumpama beralihnya seorang Islam kepada agama Kristian, faktor penyebabnya bukanlah kebenaran agama Kristian tetapi kejahilan orang Islam itu sendiri.

Tidak jauh berbeza ialah buku Akhirnya Kutemukan Kebenaran……Kisah Pengembaraan Kerohanian dan Mencari Ilmu[4], Saqifah – Awal Perselisehan Ummat[5] dan Detik-detik Akhir Kehidupan Rasulullah. Isi kandungannya tidak lain adalah kisah-kisah lemah dan dusta yang sengaja dipilih dan disusun indah guna memberi pengaruh kepada para pembacanya.[6]

Adapun hadis-hadis berkenaan keutamaan dan kemuliaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh yang dinukil daripada kitab al-Mustadrak susunan al-Hakim rahimahullah, ia sebenarnya hanya mewakili 5 peratus daripada keseluruhan hadis yang terkandung di dalam kitab tersebut dalam bab keutamaan dan kemuliaan para sahabat. Secara terperinci, di dalam bab ini terdapat 2600 buah hadis[7], dimulai dengan Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan seterusnya. Daripada jumlah ini hadis berkenaan ‘Ali berjumlah 133 buah, mewakili 5 peratus sahaja. Syi‘ah hanya memiliki 133 buah hadis ini dan mendiamkan 2467 yang lain.

Demikian beberapa contoh dongengan yang terkandung di dalam pendekatan psikologi yang digunakan oleh Syi‘ah ke atas Ahl al-Sunnah. Oleh itu sekali lagi diingatkan bahawa yang penting bukanlah kelicikan pendekatan psikologi yang digunakan tetapi kesahihan fakta dan kebenaran hujah yang membentuknya.

Strategi mudah kepada para pembaca:

  • Berwaspada dengan pendekatan psikologi yang digunakan oleh Syi‘ah untuk mempengaruhi orang awam.

Sekian lima strategi asas Syi‘ah dalam berhujah ke atas Ahl al-Sunnah. Para pembaca yang terdiri daripada orang Syi‘ah atau yang pernah didakwah oleh Syi‘ah atau yang bakal didakwah oleh Syi‘ah akan mendapati mereka (Syi‘ah) tidak lari daripada menggunakan lima strategi asas ini, sama ada secara sebahagian atau keseluruhannya. Mengetahui jawapan Ahl al-Sunnah ke atas kelima-lima strategi asas Syi‘ah ini adalah langkah pertama dan yang paling utama untuk menjawab hujah-hujah mereka. Langkah seterusnya ialah mengetahui jawapan Ahl al-Sunnah secara terperinci ke atas hujah-hujah mereka yang terperinci juga. Insya-Allah kita akan mulakan dengan menjawab hujah-hujah Syi‘ah yang dibangunkan daripada ayat-ayat al-Qur’an al-Karim dalam siri berikutnya.


[1] Pendustaan ini telah dibongkar Abu Muhammad al-Afriqi di: http://www.ansar.org/english/beshawer.htm

 

[2] Salah sebuah buku yang menjawab al-Muraja‘at telahpun diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh A. Thaha dan Ilyas Ismail atas judul Sunni yang Sunni (Penerbitan Pustaka, Bandung 1989) daripada tajuk asalnya: al-Bayyinat fi al-Rad ‘ala Abatil al-Muraja‘at. Buku ini boleh dirujuk dalam format e-book dalam laman web penulis: http://www.al-firdaus.com

[3] Iaitu membahas hadis dengan menyebut sumber-sumber rujukannya yang asal disertai dengan darjat kekuatannya sama ada sahih, hasan dan sebagainya.

[4] Telahpun dijawab dan dibongkar pembohongannya di: http://www.ansar.org/english/exposingtaijani.htm

[5] Telah dijawab secara ringkas oleh Saleh A. Nahdi dalam bukunya Saqifah – Penyelamat Persatuan Umat (Arista Brahmatyasa, Jakarta 1992).

[6] Rujuk semula Strategi Asas Syi‘ah yang Ketiga khusus dalam bidang ilmu sejarah.

[7] Ini menurut penomboran Mushthafa ‘Abd al-Qadir ‘Atha’ dalam edisi yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut.

Sumber:

http://www.hafizfirdaus.com/

SAMBUNG BACAAN :

SIRI 1:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/18/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-pertama/

SIRI 2:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/18/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-kedua/

SIRI 3:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/19/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-ketiga/

SIRI 4:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/21/950/

SIRI 5:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/21/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-kelima/

Lima strategi asas Syi‘ah dalam berhujah dan Jawapan Ahl al-Sunnah ke atasnya : Keempat

Untuk menjawab hujah-hujah Syi‘ah ke atas Ahl al-Sunnah, perkara penting yang perlu diketahui bukanlah semua hujah mereka tetapi strategi asas yang mereka gunakan untuk berhujah. Jika diketahui strategi-strategi asas Syi‘ah, maka adalah mudah untuk menangkap dan menjawab hujah-hujah mereka sama ada yang telah berlalu atau yang akan datang, sama ada yang dibahas di dalam buku ini atau yang tidak dibahas. Ini berdasarkan kata hikmah: Jika kamu memberi saya ikan saya akan memakannya untuk satu hari tetapi jika kamu mengajar saya cara menangkap ikan saya akan memakannya seumur hidup.

Terdapat lima strategi asas yang lazim digunakan oleh Syi‘ah untuk berhujah ke atas Ahl al-Sunnah. Sesiapa yang mengkaji hujah-hujah Syi‘ah akan mendapati mereka tidak lari daripada menggunakan lima strategi asas ini, sama ada secara sebahagian atau keseluruhannya. Berikut dikemukakan setiap satu daripada lima strategi asas ini diikuti dengan jawapan Ahl al-Sunnah bagi membatalkannya.

Strategi Asas Syi‘ah yang Keempat :

Adakalanya darjat hadis dinilai sahih dengan merujuk kepada pensahihan al-Hakim didalam kitabnya al-Mustadrak

Penjelasannya:

Di samping menyenaraikan sejumlah rujukan kitab hadis Ahl al-Sunnah sebagai bukti kebenaran hadis, Syi‘ah adakalanya mensahihkan hadis yang mereka kemukakan dengan merujuk kepada kitab al-Mustadrak karangan al-Hakim al-Naisaburi rahimahullah (405H), dengan menukil kata-kata beliau: “Hadis ini sahih mengikut syarat al-Bukhari dan Muslim tetapi tidak dikeluarkan oleh mereka berdua” atau apa-apa lain yang seumpama. Berdasarkan pensahihan al-Hakim ini, apatah lagi pensahihan yang berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim, Syi‘ah mengukuhkan lagi kedudukan hadis yang mereka kemukakan sebagai hujah ke atas Ahl al-Sunnah.

Jawapan Ahl al-Sunnah ke atas Strategi Asas Syi‘ah yang Keempat:

Penilaian hadis oleh al-Hakim hanya dapat diterima jika ia disemak dan dipersetujui oleh ahli hadis yang lain.

Mazhab Ahl al-Sunnah ialah mazhab yang berada di pertengahan dalam semua perkara: ia tidak melencong ke kanan dengan sikap keterlaluan dan tidak melencong ke kiri dengan sikap memperlecehkan. Apabila merujuk kepada seorang tokoh ilmuan, Ahl al-Sunnah juga memiliki jalan yang di pertengahan: mereka memuliakan dia tanpa mempertuhankannya dan bersikap adil dalam menilai kelemahannya – seandainya ada – tanpa menghinanya.

Mazhab Ahl al-Sunnah juga adalah mazhab yang dinamik, ia sentiasa mengkaji semula dan menyemak ulang sumber-sumber dan intipati pengajaran mereka, sama ada dalam bidang al-Qur’an,  hadis, fiqh dan sebagainya. Memang diakui ada segelintir yang menutup pintu-pintu kajian semula dan penyemakan ulang ini, namun tindakan segelintir yang jumud ini tidak boleh digeneralisasikan kepada semua Ahl al-Sunnah.

al-Imam, al-Hafiz, al-Allamah, Muhammad bin ‘Abd Allah al-Dhabiyyi – al-Naisaburi – al-Hakim Abu ‘Abd Allah – juga terkenal dengan gelaran singkat Ibn al-Bayyi’
(ابن البيع), ialah seorang anak murid kepada puluhan ahli hadis termasuk Ibn Hibban (354H) dan al-Daruquthni (385H), kemudiannya menjadi tokoh hadis pada zamannya, beralih kepada guru kepada para ahli hadis sesudahnya dan akhirnya menjadi sumber rujukan bagi para ilmuan sehingga masa kini. Karangan-karangan beliau menjadi sumber rujukan para ahli hadis, bahkan sebahagiannya menjadi dasar kepada standard ilmu hadis sesudahnya.[1]

Di antara sekian banyak kitab yang beliau karang, yang terbesar dan yang terakhir ialah kitab hadis al-Mustadrak ‘ala al-Shahihin. Tujuan al-Hakim menyusun kitab al-Mustadrak ialah menghimpun hadis-hadis yang sahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim, atau salah seorang daripada mereka, yang tidak mereka muatkan dalam kitab sahih masing-masing.[2] Al-Hakim telah menghimpun sebanyak 8803 hadis[3] berdasarkan tujuan di atas dan mensahihkannya mengikut beberapa tingkatan:[4]

1. Hadis yang sahih mengikut syarat al-Bukhari dan Muslim.

2. Hadis yang sahih mengikut syarat al-Bukhari atau mengikut syarat Muslim. Iaitu kesahihannya hanya berdasarkan syarat salah seorang daripada mereka.

3. Hadis yang sahih tanpa disandarkan kepada al-Bukhari atau Muslim. Ini bererti hadis tersebut adalah sahih mengikut syarat al-Hakim sendiri.

4. Hadis yang tidak diberi apa-apa darjat. Kemungkinan bagi yang terakhir ini al-Hakim bermaksud untuk menilainya setelah selesai menyusun kitab al-Mustadrak. Akan tetapi ajal telah mendahuluinya sehingga dia tidak sempat untuk menunaikan maksudnya.

Akan tetapi kajian semula oleh tokoh-tokoh hadis selepas al-Hakim mendapati wujud beberapa percanggahan dalam pensahihan al-Hakim. Mereka dapati hanya sebahagian hadis yang darjatnya menepati pensahihan al-Hakim manakala selainnya tidak. Ada hadis yang dihukum sahih oleh al-Hakim berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim akan tetapi semakan semula mendapati ia tidak menepati syarat al-Bukhari dan Muslim. Demikian juga bagi hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat salah seorang daripada mereka, atau berdasarkan syarat al-Hakim sendiri. Bahkan adakalanya di sebalik pensahihan tersebut, semakan semula mendapati hadis tersebut sebenarnya memiliki darjat dha‘if, sangat dha‘if sehinggalah ke darjat palsu (maudhu’).

Para ahli hadis ini kemudiannya mengusulkan beberapa faktor yang menyebabkan percanggahan ini:

Pertama:

Beliau seorang ahli hadis akan tetapi juga seorang Syi‘ah al-Rafidhah yang jahat.[5] Oleh itu disahihkan hadis-hadis yang tidak sahih bertujuan mencemari asas-asas Ahl al-Sunnah dan pada waktu yang sama membenarkan Mazhab Syi‘ah.

Pendapat ini dianggap lemah[6] malah ditolak oleh Ahl al-Sunnah. Ini kerana Mazhab Ahl al-Sunnah tidak menghukum seseorang melainkan pada amalan zahirnya. Amalan zahir al-Hakim tidak menunjuk atau mengisyaratkan apa-apa tanda bahawa beliau bermazhab Syi‘ah al-Rafidhah.

Kehadiran sejumlah besar hadis tentang keutamaan para Ahl al-Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, khasnya ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhum tidak boleh dijadikan hujah bahawa al-Hakim bermazhab Syi‘ah kerana ketika menyusun bab tentang pengenalan dan keutamaan para sahabat (كتاب معرفة الصحابة), al-Hakim telah mendahulukan hadis-hadis tentang keutamaan Abu Bakar, kemudian ‘Umar bin al-Khaththab, kemudian ‘Utsman ibn Affan, kemudian barulah diikuti dengan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Lebih dari itu hadis-hadis yang menerangkan keutamaan para Ahl al-Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sememangnya banyak jumlahnya.

Paling tinggi yang boleh dikatakan tentang al-Hakim ialah beliau hanya mengutamakan kecintaan kepada para Ahl al-Bait radhiallahu ‘anhum dan ini dikenali sebagai al-Tasyaiyu’ [7] atau al-Mufadhdhilah.

Kedua:

Untuk menghimpun 8803 buah hadis, al-Hakim telah mengambil jangka masa yang lama sehingga ke penghujung hayatnya. Dalam jangka masa yang lama ini, sebagaimana kebiasaan kebanyakan manusia, usia tua telah mendahuluinya sehingga dia tidak mantap dalam menghukum darjat sesebuah hadis, bahkan sering tersilap. Kecerdasan fikiran yang tidak mantap dan kesilapan kerana usia tua menyebabkan al-Hakim banyak membuat kesilapan di dalam al-Mustadrak sehingga ke tahap mensahihkan hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang pernah ditolaknya sendiri dalam kitab yang lain. Oleh kerana kesilapan yang fatal ini sebahagian ahli hadis menganggap lemah pensahihan hadis al-Hakim sehingga tidak boleh berhujah dengannya melainkan disemak semula.

Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) menerangkan:[8]

(al-Hakim adalah) seorang imam yang sangat benar dan jujur akan tetapi dia mensahihkan dalam kitabnya al-Mustadrak hadis-hadis yang digugurkan (yakni ditolak sepenuhnya kerana pelbagai kecacatannya) dan hal seperti ini banyak dilakukan olehnya …… Dan sebesar-besar sebutan baginya adalah dia disebut di kalangan orang-orang yang dha‘if akan tetapi telah diperkatakan tentang keuzurannya kerana dia – semasa menulis kitab al-Mustadrak – berada di penghujung umurnya.[9]

Dan sebahagian mereka (ahli hadis) menyebut bahawa dia tidak mantap dan cuai pada penghujung umurnya dan yang sedemikian ini terbukti kerana dia (al-Hakim) telah menyebut sejumlah para perawi dalam kitab al-Dhu‘afa’nya sendiri dan secara muktamad menerangkan penolakan riwayat hadis daripada mereka (para perawi yang dha‘if tersebut) dan menegah daripada berhujah dengan (hadis yang diriwayatkan) oleh mereka – lalu kemudian dia (al-Hakim) mengeluarkan hadis-hadis daripada sebahagian mereka (yang didha‘ifkannya itu) dalam kitab al-Mustadraknya dan mensahihkannya.

Ketiga:

al-Hakim berpegang kepada manhaj bermudah-mudahan (tasahul) di dalam mensahihkan sesuatu hadis. Ini sebagaimana terang Ibn al-Shalah rahimahullah (643H):[10]

Dan dia (al-Hakim) meluaskan skop pada syarat penetapan hadis sahih dan bermudah-mudahan dalam menghukum dengannya.

al-Zayla‘iy (الزيلعي) rahimahullah (762H) menerangkan maksud “meluaskan skop pada syarat penetapan hadis sahih dan bermudah-mudahan dalam menghukum dengannya”, yang dapat diringkaskan sebagai berikut:[11]

  • al-Bukhari dan/atau Muslim adakalanya mensahihkan hadis daripada seorang perawi yang pada dirinya terdapat perbincangan. Namun pensahihan mereka tidaklah semata-mata berdasarkan perawi itu sahaja tetapi berdasarkan lain-lain penguat dari sudut sanad atau penyokong dari sudut matan.[12] Akan tetapi al-Hakim telah menggunakan perawi yang sama tersebut untuk mensahihkan hadis yang lain tanpa apa-apa penguat dan penyokong yang lain, lalu dia berkata “Hadis ini sahih mengikut syarat al-Bukhari dan/atau Muslim.” Pensahihan sebegini tidak boleh dikatakan “atas syarat al-Bukhari dan/atau Muslim” dan ini merupakan salah satu bentuk “bermudah-mudahan” yang diamalkan oleh al-Hakim.
  • al-Hakim seringkali mensahihkan sebuah hadis “atas syarat al-Bukhari dan Muslim” akan tetapi sebenarnya para perawi dalam sanad hadis tersebut sebahagiannya adalah perawi al-Bukhari dan sebahagiannya adalah perawi Muslim. Ini juga salah satu bentuk “bermudah-mudahan” yang diamalkan oleh al-Hakim.[13]
  • al-Bukhari dan Muslim adakalanya berdasarkan seorang perawi, mensahihkan sebahagian hadisnya dan tidak mensahihkan sebahagian hadisnya yang lain. Ini berlaku sekalipun kepada perawi yang sama kerana ukuran pensahihan hadis bergantung juga daripada siapa dia menerimanya dan kemantapan serta kemasyhuran dirinya sendiri dalam meriwayatkan hadis tersebut. Akan tetapi al-Hakim telah mengambil sikap bermudah-mudahan dengan mengumumkan kekhususan perawi tersebut dan mensahihkan semua hadis-hadis yang diriwayatkan olehnya dan mengistilahkannya sebagai “Hadis ini sahih mengikut syarat al-Bukhari dan/atau Muslim.”
  • al-Hakim juga seringkali mengeluarkan hadis daripada para perawi yang lemah dan tertuduh sebagai pendusta kemudian mensahihkannya sebagai “Hadis ini sahih mengikut syarat al-Bukhari dan/atau Muslim.” Yang terakhir ini adalah bentuk bermudah-mudahan yang paling buruk (تساهل فاحش).

Daripada 3 faktor yang diusulkan di atas, hanya faktor kedua dan ketiga adalah benar sebagai penyebab bagi wujudnya percanggahan di dalam pensahihan al-Hakim. Faktor bermudah-mudahan merupakan manhaj asas al-Hakim sekalipun tujuan beliau dalam menyusun kitab al-Mustadrak ialah menghimpun hadis-hadis yang sahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan/atau Muslim. Beliau terpaksa berpegang kepada manhaj bermudah-mudahan kerana (1) untuk menyusun hadis-hadis yang benar-benar menepati syarat al-Bukhari dan Muslim adalah satu tugas yang amat berat dan (2) jika mampu sekalipun, jumlah hadisnya akan menjadi sangat kecil dan ini akan mensia-siakan tujuan asal beliau untuk menyusun kitab al-Mustadrak.

Walaubagaimanapun mensahihkan hadis-hadis yang sebenarnya dha‘if, sangat dha‘if dan maudhu’ bukanlah merupakan manhaj atau tujuan atau kesengajaan al-Hakim tetapi ia adalah kerana kelanjutan umurnya yang menyebabkan dia sering lupa atau tersilap. Ini adalah lumrah manusiawi (human factor) yang tidak layak dijadikan sumber celaan melainkan dijadikan sumber pembaikan.

Atas dua faktor di atas, terdapat dua pendapat dalam berinteraksi dengan hadis-hadis yang disahihkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadraknya:

Pendapat Pertama:

Ini pendapat yang bersederhana lagi dipertengahan, di mana boleh diterima pensahihan al-Hakim melainkan wujud hukum yang berlainan oleh tokoh hadis yang terkemudian (selepas al-Hakim) atau jika dapat dikesan kecacatan di dalam hadis tersebut yang mengubah hukumnya dari sahih kepada tidak sahih. Pendapat ini diusulkan oleh Ibn al-Shalah rahimahullah:[14]

Dan dia (al-Hakim) meluaskan skop pada syarat penetapan hadis sahih dan bermudah-mudahan dalam menghukum dengannya. Maka yang utama ialah mengambil jalan tengah dalam urusan ini: Maka kita mengatakan dengan apa yang telah dihukumkan dengan kesahihannya (oleh al-Hakim) dan (ini bagi kes di mana) kita tidak menemui urusan tersebut (pensahihan atau pendha‘ifannya) daripada para imam yang selainnya. (Hadis yang disahihkan oleh al-Hakim tersebut) jika tidak termasuk kategori sahih maka ia termasuk dalam kategori hasan, boleh berhujah dengannya dan beramal dengannya.[15] Kecuali jika jelas padanya terdapat kecacatan maka wajib mendha‘ifkannya.

Pendapat kedua:

Ini adalah pendapat yang lebih tegas, di mana tidak boleh diterima pensahihan al-Hakim kerana telah berlaku banyak kesilapan di dalamnya, sebahagiannya kecil dan sebahagiannya besar. al-Zaila‘iy menukil kata-kata Ibn Dihyah rahimahullah:[16]

Berkata Ibn Dihyah di dalam kitabnya al-‘Ilm (bahawa pendapat yang) masyhur adalah: Wajib ke atas para ahli hadis untuk berhati-hati ke atas perkataan (pensahihan) al-Hakim Abi ‘Abd Allah kerana sesungguhnya dia banyak berbuat silap, menzahirkan (membenarkan hadis-hadis) yang gugur (tertolak). Dan sesungguhnya telah cuai kebanyakan orang-orang yang datang selepas beliau dari (kesalahan-kesalahan) yang sedemikian dan (mereka) bertaklid (mengikut terus tanpa menyemak) kepadanya (al-Hakim) pada yang sedemikian (pensahihan al-Hakim).

Pendapat yang dipilih:

Yang dipilih dan yang dikuatkan ialah pendapat kedua, iaitu tidak boleh diterima pensahihan al-Hakim ke atas hadis-hadisnya di dalam al-Mustadrak. Ini kerana:

1. Manhaj bermudah-mudahan al-Hakim sepertimana yang disebut oleh Ibn al-Shalah, sebenarnya adalah lebih berat berbanding apa yang dikenali di kalangan lain-lain ahli hadis yang bermanhaj seumpama seperti Ibn Khuzaimah (311H) dan Ibn Hibban rahimahullah.[17] Malah al-‘Iraqi rahimahullah (806H) pernah mengomentarinya sebagai bermudah-mudahan yang amat serius.[18]

2. Di dalam pensahihan al-Hakim wujud kebenaran dan kesilapan. Di dalam kesilapan tu pula sebahagiannya adalah kecil dan sebahagiannya adalah besar. Oleh itu tidak boleh dianggap bahawa pensahihan al-Hakim paling minimum berdarjat hasan sahaja.

3. Kitab al-Mustadrak al-Hakim, di dalamnya telah bercampur aduk antara hadis yang sahih, hasan, dha‘if, sangat dha‘if dan maudhu’. Untuk membezakan hadis-hadis yang telah bercampur aduk ini memerlukan semakan semula secara keseluruhannya.

4. Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu sumber syari‘at Islam dan kita semua telah diberi amaran tegas oleh baginda untuk tidak menyebarkan hadis-hadis yang tidak berasal daripada baginda. Oleh itu adalah satu kewajipan untuk menyemak hadis-hadis daripada kitab al-Mustadrak sebelum mengemukakannya sekalipun atas tujuan keutamaan beramal, memberi amaran dan menerangkan kemuliaan para sahabat.[19]

Catitan tambahan:

Sifat bermudah-mudahan al-Hakim yang menyebabkan pensahihannya perlu disemak semula merangkumi seluruh kitab al-Mustadrak dan bukan terhad kepada hadis-hadis yang menerangkan keutamaan para Ahl al-Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sahaja, radhiallahu ‘anhum.

Sebahagian tokoh Syi‘ah ada yang berkata bahawa Ahl al-Sunnah hanya menyemak dan menolak hadis-hadis di dalam al-Mustadrak apa yang berkaitan dengan keutamaan Ahl al-Bait sahaja. Ini adalah pendapat yang tidak benar. Semakan semula oleh para ahli hadis Ahl al-Sunnah merangkumi seluruh kitab al-Mustadrak termasuk dalam bab yang menghimpun hadis-hadis tentang keutamaan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhum. Bahkan semakan semula telah menemui beberapa hadis yang berdarjat sangat dha‘if dan maudhu’ berkenaan tiga khalifah yang pertama di atas di dalam kitab al-Mustadrak.

Strategi mudah kepada para pembaca:

  • Pensahihan hadis oleh al-Hakim hanya dapat diterima jika ia disemak dan dipersetujui oleh ahli hadis yang lain.

Asas Kelima


[1] Lebih lanjut sila rujuk:

 

1.       al-Khatib al-Baghdadi – Tarikh Baghdad, jld. 3, ms. 93-94, biografi no: 1096 (Bab yang bernama Muhammad bin ‘Abd Allah).

2.       Ibn al-Jauzi – al-Muntazhom fi Tarikh al-Muluk wa al-Imam, jld. 15, ms. 109-111, biografi no: 3059 (Bab yang meninggal tahun 405H).

3.       al-Dzahabi – Tazkirah al-Huffaz, jld. 3, ms. 162-166, biografi no: 962 (Bab thabaqat ke-13) dan Siyar A’lam al-Nubala, jld. 17, ms. 162-177, biografi no: 100 (Di atas nama al-Hakim).

4.       al-Suyuthi – Thabaqat al-Huffaz, ms. 410-411, biografi no: 927 (Bab thabaqat ke 13).

[2] Ibn al-Shalah – ‘Ulum al-Hadits, ms. 21-22 (Bab pembahagian ke-4 dari jenis hadis-hadis sahih).

[3] Demikian menurut penomboran Musthofa ‘Abd al-Qadir ‘Atha di dalam penelitian beliau (tahqiq) ke atas kitab al-Mustadrak (Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut tp.thn.)

[4] al-Shan‘ani – Tawdhih al-Afkar li ma‘ani Tanqih al-Anzhar, ms. 67 (Masalah: Penjelasan berkenaan hadis sahih yang merupakan tambahan atas apa yang ada dalam al-Bukhari dan Muslim).

[5] Lihat Lisan al-Mizan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani, jld. 6, ms. 250-251, perawi no: 7666 (Bab yang bernama Muhammad, Biografi Muhammad bin ‘Abd Allah al-Dhabiyyi).

[6] Antaranya ialah al-Subki di dalam Thabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, jld. 2, ms. 443-453, biografi no: 329 (Bab thabaqat ke-4, Muhammad bin ‘Abd Allah bin Muhammad).

[7] al-Zahabi – Siyar A’lam al-Nubala, jld. 17, ms. 174.

[8] Nukilan berpisah daripada Lisan al-Mizan, jld. 6, ms. 250-251, perawi no: 7666.

[9] Yakni kedha‘ifan al-Hakim bukanlah kerana apa-apa sifat tercela seperti pendusta atau sebagainya tetapi adalah kerana keuzuran usia tua yang menyelubunginya. Faktor kedha‘ifan ini adalah sesuatu yang dimaafkan.

[10] Ibn al-Shalah – ‘Ulum al-Hadits, ms. 22.

[11] Lihat Nasb al-Rayah Takhrij Ahadits al-Hidayah, jld. 1, ms. 462-463 (Kitab Solat, Bab hadis-hadis berkenaan bacaan Basmalah, Tahqiq ke atas hadis yang dijadikan dalil oleh al-Khatib).

[12] Lebih lanjut lihat:

1.       Abi Zakariyya Muhammad al-Anshari – Fath al-Baqi bi Syarh Alfiyyah al-‘Iraqi, ms. 57 (Pembahagian yang Pertama: Hadis Sahih, Bab Sekuat-kuat kitab hadis, Bab Sebab al-Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadis daripada sesetengah perawi yang dha‘if).

2.       Abu Bakr Kafi – Manhaj al-Imam al-Bukhari fi Tashhih al-Ahadits wa Ta’lilaha (Dar Ibn Hazm, Beirut 2000).

3.       Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan – al-Imam Muslim bin al-Hajjaj wa Minhaj fi al-Shahih wa Atsaruhu fi ‘Ilm al-Hadits (Dar al-Shami‘iy, Riyadh 1996).

[13] Penulis menambah, adakalanya bagi sebuah hadis yang dikeluarkan oleh al-Hakim, hanya sebahagian perawi yang menepati syarat al-Bukhari dan/atau Muslim manakala sebahagian lagi tidak. Namun al-Hakim mensahihkannya “atas syarat al-Bukhari dan/atau Muslim.” Ini juga salah satu bentuk “bermudah-mudahan” yang diamalkan oleh al-Hakim.

[14] Ibn al-Shalah – ‘Ulum al-Hadits, ms. 22.

[15] Yakni jika darjat hadis tersebut tidak sahih, minimum ia adalah hasan. Lebih lanjut di atas pendapat Ibn al-Shalah ini, lihat komentar al-‘Iraqi di dalam Fath al-Mughits bi Syarh Alfiyyah al-Hadits, ms. 17 (Bab kitab sahih yang merupakan tambahan ke atas Sahih al-Bukhari dan Muslim).

[16] Nasb al-Rayah Takhrij Ahadits al-Hidayah, jld. 1, ms. 463.

[17] al-Sakhawi – Fath al-Mughits Syarh Alfiyyah al-Hadits, jld. 1, ms. 51 (Bab: Hadis sahih yang merupakan tambahan kepada dua kitab sahih).

[18] Fath al-Mughits bi Syarh Alfiyyah al-Hadits, ms. 18.

[19] Terdapat beberapa rujukan terkini yang memberikan semakan semula atas pensahihan al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak. Antaranya:

1.       al-Mustadrak ‘ala al-Shahihin yang disunting (tahqiq) oleh Mushthafa ‘Abd al-Qadir ‘Atha’ dengan disertai di bahagian notakakinya semakan semula oleh al-Zahabi dalam kitabnya al-Talkish. Diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut.

2.       al-Mustadrak ‘ala al-Shahihin yang disunting (tahqiq) dan disemak semula oleh ‘Abd al-Salam bin Muhammad dengan rujukan kepada al-Talkish oleh al-Zahabi. Dterbitkan oleh Dar al-Ma’refah, Beirut.

3.      Tanbih al-Wahim ‘ala ma ja-a fi Mustadrak al-Hakim (تنبيه الواهم على ما جاء في) oleh Ramdhan bin Ahmad bin ‘Ali yang merupakan semakan semula secara bebas ke atas al-Mustadrak tanpa terbatas kepada al-Talkish oleh al-Zahabi. Diterbitkan oleh Maktabah al-Taubah, Riyadh.

Sumber :

Sumber :http://www.hafizfirdaus.com/

SAMBUNG BACAAN :

SIRI 1:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/18/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-pertama/

SIRI 2:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/18/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-kedua/

SIRI 3:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/19/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-ketiga/

SIRI 4:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/21/950/

SIRI 5:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/21/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-kelima/

Lima strategi asas Syi‘ah dalam berhujah dan Jawapan Ahl al-Sunnah ke atasnya : Ketiga

Untuk menjawab hujah-hujah Syi‘ah ke atas Ahl al-Sunnah, perkara penting yang perlu diketahui bukanlah semua hujah mereka tetapi strategi asas yang mereka gunakan untuk berhujah. Jika diketahui strategi-strategi asas Syi‘ah, maka adalah mudah untuk menangkap dan menjawab hujah-hujah mereka sama ada yang telah berlalu atau yang akan datang, sama ada yang dibahas di dalam buku ini atau yang tidak dibahas. Ini berdasarkan kata hikmah: Jika kamu memberi saya ikan saya akan memakannya untuk satu hari tetapi jika kamu mengajar saya cara menangkap ikan saya akan memakannya seumur hidup.

Terdapat lima strategi asas yang lazim digunakan oleh Syi‘ah untuk berhujah ke atas Ahl al-Sunnah. Sesiapa yang mengkaji hujah-hujah Syi‘ah akan mendapati mereka tidak lari daripada menggunakan lima strategi asas ini, sama ada secara sebahagian atau keseluruhannya. Berikut dikemukakan setiap satu daripada lima strategi asas ini diikuti dengan jawapan Ahl al-Sunnah bagi membatalkannya.

Strategi Asas Syi‘ah yang Ketiga :

Jumlah rujukan yang banyak menjadi bukti kebenaran hujah.

Penjelasannya:

Setiap kali mengemukakan hujah, Syi‘ah akan menyenaraikan sejumlah sumber rujukan Ahl al-Sunnah yang adakalanya mencapai belasan dan puluhan buah. Penyenaraian ini dijadikan bukti bahawa hujah mereka adalah benar lagi kuat di sisi sekian-sekian tokoh dan ilmuan Ahl al-Sunnah yang menjadi pengarang rujukan tersebut.

Jawapan Ahl al-Sunnah ke atas Strategi Asas Syi‘ah yang Ketiga:

Strategi Syi‘ah yang ketiga ini dijawab oleh Ahl al-Sunnah sebagai:

Kebenaran hujah tidak diukur dengan

jumlah rujukan tetapi hujah yang terkandung

di dalam rujukan itu sendiri.

Penjelasannya:

Terdapat sebuah kata hikmah yang berpesan: Yang penting bukanlah siapa yang berkata tetapi apa yang dikatakan. Demikian jugalah dengan kes ini: Yang penting bukanlah nama rujukan tetapi hujah yang terkandung di dalam rujukan. Sejauh mana kesahihan kenyataan ini boleh dikaji sendiri oleh para pembaca. Perhatikan bahawa sumber-sumber Syi‘ah lazimnya hanya menyenaraikan sumber rujukan tetapi mereka tidak menukil dan menterjemahkan hujah yang terkandung di dalam rujukan tersebut.

Lebih dari itu, jika kita mengkaji sendiri rujukan-rujukan tersebut, akan didapati bahawa hujah Syi‘ah memang wujud di dalamnya. Akan tetapi kewujudan hujah Syi‘ah di sisi pengarang rujukan Ahl al-Sunnah tersebut bukanlah untuk membenarkannya tetapi dalam rangka menerangkan kelemahan dan kebatilannya.

Walaubagaimanapun penulis sedar bahawa tidak semua para pembaca yang dapat mengkaji sendiri rujukan-rujukan tersebut. Untuk menyelesaikan masalah ini penulis menggariskan dua panduan berikut yang dapat dijadikan asas bagi menolak Strategi Asas Syi‘ah yang Ketiga ini:

1. Seandainya rujukan-rujukan tersebut benar-benar mengukuhkan hujah Syi‘ah, pasti mereka (Syi‘ah) akan menukil dan menterjemahkannya secara lengkap. Bukankah kata-kata seorang imam mujtahid atau tokoh ilmuan adalah lebih baik lagi berkesan sebagai pendukong hujah ? Tindakan para penulis Syi‘ah yang tidak menukil dan menterjemahkannya menjadi bukti bahawa rujukan-rujukan tersebut tidak membenar atau mengukuhkan hujah Syi‘ah.

2. Seandainya rujukan-rujukan tersebut benar-benar membicara dan menetapkan kedudukan khalifah kepada ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahl al-Baitnya, radhiallahu ‘anhum, bagaimana mungkin dikatakan bahawa ia adalah sumber rujukan Ahl al-Sunnah ?  Ia sepatutnya dikategorikan sebagai sumber rujukan Syi‘ah. Hakikatnya rujukan-rujukan tersebut sememangnya termasuk dalam kategori Ahl al-Sunnah. Namun sepertimana yang telah diterangkan di atas, kewujudan hujah Syi‘ah di dalam rujukan Ahl al-Sunnah ini bukanlah kerana membenarkannya tetapi dalam rangka menerangkan kelemahan dan kebatilannya.

Berdasarkan dua garis panduan ini, ketahuilah bahawa jumlah rujukan yang lazimnya disenaraikan oleh Syi‘ah hanyalah solekan demi memberi pengaruh yang palsu kepada para pembaca mereka. Para pembaca tak perlu terpengaruh dengannya.

Sebelum beralih kepada Strategi Asas Syi‘ah yang Keempat, penulis ingin mengambil kesempatan ini untuk memberi pengenalan ringkas kepada bidang-bidang ilmu yang diwakili oleh rujukan-rujukan yang lazimnya disenaraikan oleh Syi‘ah.

Ini kerana setiap bidang ilmu memiliki manhaj atau metodologi perbahasan yang berbeza. Apabila kita dapat mengenali dan membezakan antara bidang-bidang ilmu ini, mudah untuk kita mengecam (mengenali) strategi Syi‘ah yang “memperalatkannya” demi mempengaruhi orang-orang awam dari kalangan Ahl al-Sunnah.

Bidang ilmu yang dimaksudkan oleh penulis terbahagi kepada empat:

1.      Tafsir

2.      Hadis

3.      Sejarah

4.     Umum

Berikut diberikan pengenalan ringkas kepada metodologi perbahasan setiap satu daripada bidang ilmu di atas dan kaitannya dengan strategi Syi‘ah menyenaraikannya sebagai sumber hujah.

Pertama: Bidang Tafsir.

Manhaj majoriti pakar tafsir Ahl al-Sunnah ialah menghimpun pelbagai pendapat yang ada berkenaan tafsiran sesebuah ayat. Pendapat ini berasal daripada para sahabat, tabi‘in dan tokoh-tokoh selepas mereka. Kemudian akan dibahas tafsiran manakah yang paling tepat berdasarkan petunjuk ayat-ayat al-Qur’an yang lain, sunnah Rasulullah yang sahih, kaedah bahasa Arab dan sebagainya.

Dalam menghimpunkan pelbagai pendapat ini, pasti sahaja di antaranya adalah pendapat Syi‘ah sendiri. Namun perlu dibezakan bahawa pengemukaan pendapat Syi‘ah di dalam rujukan tafsir Ahl al-Sunnah bukanlah kerana membenarkannya tetapi dalam rangka menerangkan kelemahan dan kebatilannya.

Akan tetapi kewujudan pendapat Syi‘ah dalam rujukan-rujukan tafsir Ahl al-Sunnah dimanfaatkan sepenuhnya oleh para penulis Syi‘ah. Mereka menyenaraikan rujukan-rujukan tafsir Ahl al-Sunnah ini seolah-olah ia membenarkan hujah mereka.

Atas dasar ini penulis menasihatkan para pembaca sekalian agar tidak mengambil berat akan rujukan-rujukan tafsir Ahl al-Sunnah yang disenaraikan oleh para penulis Syi‘ah. Rujukan-rujukan ini tidak sedikitpun membenarkan hujah Syi‘ah, malah sebaliknya ia menerangkan kesalahan dan kelemahan hujah mereka itu.

Bidang Ilmu

Kedua: Bidang Hadis.

Setiap hadis terdiri daripada dua unsur penting yang tidak boleh dipisahkan:

Pertama adalah sanad dan kedua adalah matan.

Ini adalah dasar yang amat penting dalam perbahasan hadis sehingga adalah wajar jika penulis menyarankan kepada para pembaca sekalian untuk menghafalnya.

Sanad adalah rangkaian perawi yang meriwayatkan hadis tersebut sehinggalah ia dibukukan secara formal manakala matan adalah maksud hadis atau petunjuk hukum yang terkandung dalam teks hadis. Di bawah adalah satu contoh hadis yang masyhur daripada kitab Shahih al-Bukhari:

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Bahagian pertama hadis, bermula daripada حدثنا الحميدي (dihadiskan kepada kami oleh al-Humaidi) sehinggalah kepada سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda) mewakili sanad hadis. Bahagian kedua hadis, bermula daripada  …. إنما الأعمال بالنيات (Sesungguhnya setiap amalan berdasarkan niat…) hingga akhir adalah matan hadis.

Berikut diberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang sanad dan matan serta kaitannya dengan strategi penghujahan Syi‘ah terhadapnya.

Sanad Hadis

Apabila menjadikan sesebuah hadis sebagai hujah, Syi‘ah hanya menyenaraikan rujukan-rujukan kitab hadis tanpa memberi perhatian kepada sanadnya, apatah lagi membahas darjat kekuatan sanad tersebut. Ini adalah satu strategi yang tertolak kerana tanpa membahas kedudukan sanad, kita tidak akan dapat mengetahui darjat sesebuah hadis sama ada ia adalah sahih atau tidak untuk dijadikan dalil dan hujah. Perlu diingatkan bahawa persoalan khalifah adalah persoalan iktikad yang tidak boleh diperhujahkan melainkan berdasarkan hadis-hadis yang sahih sahaja.

Yang dimaksudkan sebagai hadis sahih ialah hadis yang:

1. Memiliki sanad yang bersambungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

2. Perawi yang membentuk sanad tersebut terdiri daripada mereka (a) bertaqwa, (b) memelihara maruah dan (c) tidak melakukan kesalahan seperti maksiat dan bid‘ah (‘Adl); kemudiannya (d) berkemampuan untuk memelihara dan menyampaikan hadis yang mereka terima secara benar pada bila-bila sahaja diminta untuk berbuat demikian (Dhabith).

3. Seterusnya hadis tersebut dari sudut sanad dan matan hendaklah terhindar daripada apa-apa kecacatan (‘illah) yang tersembunyi dan

4. Bersih daripada sebarang pertentangan dan/atau keganjilan (syaz) jika dibanding dengan al-Qur’an dan hadis-hadis lain yang sahih.[1]

Para pembaca dapat memerhatikan sendiri dalam sumber-sumber rujukan Syi‘ah bahawa mereka, apabila mengemukakan sesebuah hadis sebagai dalil atau rujukan, tidak membahas kedudukan dan darjat sanadnya.[2] Sikap sebegini menjadikan hadis-hadis tersebut yang dikemukakan sebagai dalil atau hujah oleh Syi‘ah dalam persoalan kekhalifahan tidak memiliki apa-apa nilai langsung. Ini kerana, sepertimana yang telah disebut di atas, persoalan khalifah adalah persoalan iktikad yang tidak boleh diperhujahkan melainkan berdasarkan hadis-hadis jelas terbukti sahih.

Sebagai ganti kepada perbahasan darjat sanad, Syi‘ah menyenaraikan pelbagai sumber rujukan hadis Ahl al-Sunnah sebagai bukti kesahihan hadis. Ini adalah strategi yang tertolak juga kerana barometer pengukur diterima atau tidak sebuah hadis ialah kedudukan sanad dan matan, bukan jumlah rujukan. Diulangi:

Diterima atau tidak sesebuah hadis diukur berdasarkan kedudukan sanad dan matannya, bukan jumlah rujukan

Lebih dari itu, perlu diketahui bahawa setiap tokoh hadis memiliki manhaj tersendiri dalam “mengeluarkan” [3] hadis di dalam kitabnya. Keragaman manhaj ini menyebabkan tidak semua kitab atau sumber rujukan hadis Ahl al-Sunnah dapat digunakan sebagai bukti kesahihan hadis. Merujuk kepada kitab-kitab hadis yang lazim disenaraikan sebagai bukti oleh Syi‘ah, ia secara umum dapat dibahagikan kepada lima manhaj:

Manhaj pertama:

Menggunakan syarat yang ketat dalam menilai sanad sesuatu hadis (tasyaddud). Berdasarkan syarat yang ketat ini mereka hanya mengeluarkan hadis-hadis yang sahih sahaja di dalam kitab mereka.

Manhaj kedua:

Menggunakan syarat yang longgar (tasahul) dalam menilai sanad sesuatu hadis, disebut juga sebagai bermudah-mudahan dalam menilai sanad hadis. Berdasarkan syarat ini mereka mengeluarkan hadis-hadis yang sahih, hasan dan dha‘if di dalam kitab mereka.

Manhaj ketiga:

Menggunakan syarat yang dipertengahan antara ketat dan longgar (tawassuth) dalam menilai sanad hadis. Antara manhaj mereka ialah menggunakan syarat yang ketat terhadap hadis-hadis yang membicarakan akidah dan hukum manakala bagi hadis-hadis selainnya mereka menggunakan syarat yang longgar.

Manhaj keempat:

Mengeluarkan hadis di dalam kitab mereka sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh para ahli hadis terdahulu berdasarkan manhaj 1, 2 dan 3 di atas. Kemudian disemak semula hadis-hadis tersebut dan diterangkan darjatnya yang sebenar berdasarkan penilaian yang lebih luas dan mendalam.

Manhaj kelima:

Mengeluarkan hadis di dalam kitab mereka sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh para ahli hadis berdasarkan manhaj 1, 2 dan 3 di atas. Akan tetapi tidak disemak semula darjat hadis yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis dinukil sebagaimana sedia ada tanpa komentar lanjut tentang darjatnya. Hal in berlaku sama ada kerana tidak memiliki kemampuan atau kesempatan atau manhaj untuk menyemak darjat hadis tersebut.

Sebagai contoh kepada 5 manhaj yang saling berbeza di atas, sebuah hadis yang dijadikan hujah oleh Syi‘ah mungkin diberi sumber rujukan seperti berikut:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabarani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, al-Dailami di dalam Musnad al-Firdaus, al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq al-Tanzil, al-Haitsami di dalam Majma’ al-Zawa‘id, al-Suyuthi di dalam al-Durr al-Mantsur dan al-Jami’ al-Shagheir, Ibn Hajar di dalam al-Shawa‘iq dan al-Hindi di dalam Kanz al-‘Ummal.

Secara zahirnya kelihatan hadis tersebut memiliki kedudukan yang kukuh kerana banyak sumber rujukannya sehingga boleh diterima sebagai sumber penghujahan. Akan tetapi jika diteliti secara mendalam:

  • Kitab al-Muj’am al-Kabir oleh al-Thabarani rahimahullah (360H) ialah sebuah kitab yang mengeluarkan hadis-hadis lengkap dengan sanadnya berdasarkan manhaj ke 2. Di dalamnya terkandung hadis-hadis yang sahih, hasan dan dha‘if.
  • Kitab Musnad al-Firdaus oleh al-Dailami rahimahullah (509H) hanya menukil hadis yang asalnya dikeluarkan oleh al-Thabarani tanpa menyemak darjatnya. Ia adalah kitab yang disusun berdasarkan manhaj ke 5 dengan menghimpun hadis-hadis yang dikeluarkan oleh para ahli hadis sebelumnya lalu disusun mengikut tertib urutan huruf.
  • Kitab al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq al-Tanzil oleh al-Zamakhsyari rahimahullah (538H) sebenarnya ialah kitab tafsir al-Qur’an. Di dalamnya terdapat hadis-hadis yang digunakan untuk penafsiran ayat al-Qur’an. Hadis-hadis dikemukakan berdasarkan manhaj ke 5, iaitu dengan menukil hadis yang asalnya dikeluarkan oleh al-Thabarani tanpa menyemak darjatnya. Ini kerana al-Zamakhsyari bukan seorang ahli hadis. Hadis-hadis yang dinukil oleh al-Zamakhsyari telahpun disemak darjatnya oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) akan tetapi setakat ini penulis belum menemui mana-mana tokoh Syi‘ah yang mahu mengemukakan hasil penilaian tersebut dalam penghujahan mereka.
  • Kitab al-Durr al-Mantsur oleh al-Suyuthi rahimahullah (911H) juga ialah sebuah kitab tafsir al-Qur’an dengan menukil hadis yang asalnya dikeluarkan oleh al-Thabarani. Secara lebih terperinci, manhaj al-Suyuthi menyusun kitab ini ialah menukil semua hadis-hadis daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menafsir dan/atau membicarakan sesebuah ayat. Kebanyakan daripada hadis-hadis ini diterangkan juga darjatnya oleh al-Suyuthi. Beliau juga menukil atsar-atsar sahabat dan tabi‘in yang menafsir dan/atau membicarakan ayat tersebut tanpa menilai darjatnya. Kitab ini merupakan rujukan masyhur di sisi Syi‘ah akan tetapi daripada sekian ribu riwayat, mereka hanya menukil belasan buah yang menyebelahi hujah mereka sambil mendiamkan penilaian darjatnya oleh al-Suyuthi.
  • Kitab al-Jami’ al-Shagheir oleh al-Suyuthi rahimahullah (911H) ialah kitab hadis yang disusun berdasarkan manhaj ke 4 dengan menukil hadis yang asalnya dikeluarkan oleh al-Thabarani. Secara lebih terperinci, manhaj al-Suyuthi menyusun kitab ini ialah menghimpun hadis-hadis yang dikeluarkan oleh para ahli hadis sebelumnya lalu disusun mengikut tertib urutan huruf. Kemudian diterangkan darjat kekuatan bagi setiap hadis tersebut. Setakat ini penulis belum menemui penerangan darjat hadis oleh al-Suyuthi dikemukakan oleh Syi‘ah.
  • Kitab al-Shawa‘iq oleh Ibn Hajar al-Haitami rahimahullah (973H),[4] tajuk lengkapnya ialah al-Shawa‘iq al-Muhriqah ‘ala Ahl al-Rafadh wa al-Dhalal wa al-Zandaqah yang bermaksud Petir-petir yang menyambar ke atas orang-orang (Syi‘ah) al-Rafidhah dan yang sesat dan yang zindik. Ia sebenarnya adalah sebuah kitab yang dikarang khas oleh Ibn Hajar al-Haitami bagi menjawab dan menolak hujah-hujah yang dikemukakan oleh Syi‘ah ke atas Ahl al-Sunnah. Akan tetapi Syi‘ah telah menggunakan kitab ini – tanpa menyalin judulnya yang lengkap – sebagai salah satu strategi menguatkan hadis penghujahan mereka, seolah-olah Ibn Hajar al-Haitami dan kitabnya ini menyebelahi mereka. Padahal yang benar Ibn Hajar al-Haitami hanya menukil hadis yang asalnya dikeluarkan oleh al-Thabarani lalu kemudian membahas darjatnya dan menerangkan maksudnya yang sebenar, jauh daripada maksud yang diselewengkan oleh Syi‘ah.
  • Kitab Kanz al-‘Ummal oleh al-Muttaqi al-Hindi rahimahullah (975H) hanya menukil hadis yang asalnya dikeluarkan oleh al-Thabarani tanpa menyemak darjatnya. Ia adalah kitab yang disusun berdasarkan manhaj ke 5 dengan menghimpun hadis-hadis yang dikeluarkan oleh para ahli hadis sebelumnya lalu disusun mengikut tertib bab perbincangan. Hanya sebahagian kecil daripada hadis-hadis tersebut dinilai darjatnya oleh al-Hindi.

Daripada contoh analisa di atas, dapat dikenal pasti bahawa hadis yang dijadikan hujah pada asalnya hanya bersumber dari 1 rujukan, iaitu al-Muj’am al-Kabir oleh al-Thabarani. Lain-lain rujukan hanya menukil daripada 1 rujukan yang sama ini. Oleh itu banyaknya sumber rujukan bukanlah merupakan hujah kerana semuanya hanya berasal dari satu rujukan.

Dengan itu juga untuk menyemak darjat hadis tersebut, kajian hanya perlu ditumpukan kepada kitab al-Muj’am al-Kabir sahaja. Darjat hadis juga boleh disemak dengan merujuk kepada penilaian al-Haitsami, Ibn Hajar al-‘Asqalani dan al-Suyuthi di dalam kitab mereka masing-masing sebagaimana yang terdapat di dalam senarai rujukan di atas.

Para tokoh Syi‘ah yang membuat kajian hadis sedia mengetahui hakikat ini kerana untuk menyebut setiap rujukan bagi sesebuah hadis, mereka terlebih dahulu perlu memegang dan mengkaji rujukan tersebut dengan sendirinya. Akan tetapi mereka berdiam diri sahaja kerana sememangnya menjadi strategi mereka untuk mempengaruhi para pembaca dengan menyenarai sumber rujukan yang banyak sebagai bukti kesahihan hadis.

Oleh itu penulis menyarankan kepada para pembaca sekalian untuk tidak menerima apa-apa hadis yang dikemukakan sebagai dalil atau hujah oleh Syi‘ah melainkan ia disertai dengan perbahasan yang mendalam tentang darjat kekuatan sanadnya. Jika tidak ada perbahasan sanad yang dikemukakan, para pembaca tak perlu mengendahkan hadis tersebut.

Matan Hadis

Unsur kedua dalam sesebuah hadis ialah matannya. Selain kedudukan sanad, hadis yang sahih juga disyaratkan oleh matan yang bersih daripada sebarang pertentangan, keganjilan dan keanehan apabila dibandingkan dengan al-Qur’an dan lain-lain hadis yang sahih.

Selain itu, matan hadis juga memainkan peranan yang penting kerana ia adalah inti yang darinya diambil sesuatu kefahaman atau hukum. Kepentingan ini menyebabkan para tokoh Ahl al-Sunnah telah mengarang pelbagai kitab syarahan hadis yang berjilid-jilid tebalnya. Peranan kitab-kitab syarahan hadis ini adalah seumpama peranan kitab-kitab tafsir yang menjelaskan maksud ayat-ayat al-Qur’an. Antara kitab syarahan hadis yang masyhur ialah Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani, Syarh Shahih Muslim oleh al-Nawawi (676H), Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmizi oleh al-Mubarakfuri (1353H), Faidh al-Qadir Syarh al-Jami al-Shagheir oleh al-Munawi (1031H) dan lain-lain lagi. Para tokoh yang adil lagi luas ilmunya ini mensyarahkan sesebuah hadis dengan merujuk kepada keseluruhan petunjuk al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, juga kaedah bahasa Arab, penjelasan para sahabat, tabi‘in dan tokoh-tokoh selepas mereka.

Di sini para pembaca sekalian sekali lagi dapat memerhatikan sikap para penulis Syi‘ah yang apabila mengemukakan sesebuah hadis sebagai dalil, mereka tidak akan menukil syarahannya daripada sumber-sumber di atas. Sebaliknya mereka hanya memberi syarahan sendiri yang tidak terlepas daripada pelbagai penyelewengan seperti:

1. Mengkhususkan hadis yang pada asalnya bersifat umum.

2. Menjadikan sebab kelahiran hadis sebagai faktor yang mengkhususkan keumuman hadis.

3. Tidak mensyarahkan hadis berdasarkan petunjuk keseluruhan al-Qur’an dan al-Sunnah.

4. Mengabaikan kaedah-kaedah bahasa Arab dalam mensyarahkan hadis tersebut.

5. Mengabaikan penjelasan para sahabat dan tabi‘in tentang maksud sebenar hadis tersebut.

Poin kelima di atas adalah penting kerana para sahabat adalah generasi yang paling memahami hadis-hadis Rasulullah. Ini kerana mereka hadir sama untuk memerhatikan sebab musabab kelahiran hadis tersebut. Demikian juga para tabi‘in kerana mereka menimba ilmu secara terus daripada para sahabat.

Di sini penulis yakin bahawa para pembaca sekalian telah atau akan menemui strategi Syi‘ah yang mendakwa sekian-sekian hadis yang mereka jadikan dalil kekhalifahan ‘Ali dan Ahl al-Baitnya telah diriwayatkan oleh puluhan sahabat dan ratusan tabi‘in. Jika kenyataan ini adalah benar, kita bertanya: Kenapakah puluhan sahabat dan ratusan tabi‘in yang meriwayatkan hadis tersebut tidak memahaminya sebagai dalil yang menetapkan hak khalifah kepada ‘Ali dan Ahl al-Baitnya sebagaimana yang difahami oleh Syi‘ah ? Adakah mereka hanya meriwayatkannya tanpa memahaminya ?

Jawapannya pasti tidak. Yang benar puluhan sahabat dan ratusan tabi‘in yang meriwayatkan hadis tersebut turut memahami maksudnya, hanya pemahaman mereka berlainan daripada pemahaman Syi‘ah. Di sisi mereka (para sahabat dan tabi‘in), hadis tersebut bukanlah dalil yang membicara urusan kekhalifahan, jauh sekali daripada menetapkan hak kekhalifahan kepada ‘Ali dan Ahl al-Baitnya.

Justeru pemahaman manakah yang harus kita ambil, pemahaman puluhan sahabat dan ratusan tabi‘in atau pemahaman Syi‘ah ? Sudah pasti tanpa ragu yang diambil adalah pemahaman para sahabat dan tabi‘in.

Sebenarnya kita Ahl al-Sunnah mengalu-alukan strategi para penulis Syi‘ah yang, apabila mengemukakan sesebuah hadis sebagai hujah, bekerja keras mencari dan menghitung nama-nama para sahabat dan tabi‘in yang meriwayatkannya. Lebih banyak nama yang ditemui, lebih baik. Ini kerana dengan penemuan nama-nama sahabat dan tabi‘in yang meriwayatkan hadis tersebut, pemahaman mereka menjadi dalil yang membatalkan pemahaman Syi‘ah.

Sebagai kesimpulan kepada perbahasan bidang ilmu hadis ini, penulis menyarankan kepada para pembaca sekalian agar tidak terpengaruh dengan strategi Syi‘ah yang menggunakan jumlah perawi dan rujukan kitab hadis Ahl al-Sunnah sebagai bukti kebenaran hujah. Perhatian hanya perlu diberikan apabila hadis-hadis tersebut memenuhi dua syarat berikut:

1. Dikemukakan bukti bahawa hadis tersebut adalah sahih berdasarkan penilaian ahli hadis yang diiktiraf oleh para tokoh Ahl al-Sunnah.

2. Maksud hadis diterangkan berdasarkan rujukan kepada kitab syarahan hadis Ahl al-Sunnah.

Jika dua syarat ini dipenuhi, tidak akan ditemui sebuah hadis jua yang menetapkan hak khalifah kepada ‘Ali dan Ahl al-Baitnya. Tidak ada hadis yang memiliki sanad yang sahih dengan maksud (matan) yang secara jelas menetapkan hak kekhalifahan kepada ‘Ali dan Ahl al-Baitnya. Ini kerana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menetapkan hak kekhalifahan kepada ‘Ali dan Ahl al-Baitnya. Hakikat ini disedari oleh Syi‘ah, maka kerana itulah kita tidak akan menemui mereka memenuhi dua syarat di atas apabila mengemukakan apa-apa hadis sebagai dalil atau hujah.

Bidang Ilmu

Ketiga: Bidang Sejarah

Disiplin Ahl al-Sunnah dalam bidang sejarah adalah sepertimana dalam bidang hadis di mana apa-apa peristiwa yang melibatkan persoalan hukum, peristiwa fitnah dan peribadi sahabat tidak boleh dijadikan hujah melainkan disemak terlebih dahulu darjat sanadnya dan dikaji konteks kejadiannya. Ditekankan semula:

Tidak boleh menerima peristiwa sejarah yang melibatkan persoalan hukum, peristiwa fitnah dan peribadi sahabat melainkan disemak terlebih dahulu darjat sanadnya dan dikaji konteks kejadiannya

Perkara penting kedua yang perlu diketahui adalah, di kalangan para sejarahwan Ahl al-Sunnah, tidak ada di antara mereka yang hidup di zaman berlakunya peristiwa-peristiwa besar seperti kewafatan Rasulullah, perlantikan Abu Bakar, pembunuhan ‘Utsman, Perang Jamal, Perang Siffin, Pembunuhan ‘Ali dan sebagainya. Mereka tidak hadir untuk mencatit peristiwa-peristiwa di atas. Mereka hanya mengambil riwayat-riwayat yang sedia ada dengan kaedah sanad sepertimana dalam ilmu hadis.

Akan tetapi terdapat dua ciri yang membentuk manhaj para sejarahwan Ahl al-Sunnah yang berbeza dengan manhaj Ahl al-Hadis:

1. Para sejarahwan mengambil dan mengemukakan apa sahaja riwayat yang mereka temui tanpa membezakan antara yang sahih atau tidak.

2. Para sejarahwan mementingkan kesinambungan perjalanan cerita, bukan kesahihan cerita. Maksudnya: Umpamakan sebuah peristiwa yang diawali dan diakhiri dengan sanad yang sahih. Namun bagi ahli sejarah, mereka perlu mencari sesuatu untuk memenuhi cerita yang duduknya di antara yang awal dan akhir supaya secara keseluruhannya ia akan berterusan tanpa terputus-putus. Atas keperluan ini ahli sejarah akan mengambil apa jua riwayat yang mereka terima dan memasukkannya antara yang awal dan akhir.

Kedua-dua manhaj ini akhirnya menyebabkan di dalam kitab-kitab sejarah Ahl al-Sunnah terdapat banyak kisah yang sangat dha‘if, maudhu’, tokok tambah (exaggerate) dan tiada asal-usulnya. Pada waktu yang sama seringkali ditemui riwayat yang berulang-ulang, sebahagiannya bertentangan dengan sebahagian yang lain. Salah ‘Abd al-Fattah al-Khalidi menulis:[5]

Para ahli sejarah Islam telah menulis himpunan riwayat yang banyak dalam penulisan mereka. Mereka mencampurkan antara yang sahih dengan yang palsu lagi dusta. Mereka tidak mengasingkan antara yang sahih dari yang sebaliknya. Mereka juga tidak mengkaji darjat (takhrij) riwayat-riwayat tersebut dan tidak pula menjelaskan kedudukan perawi-perawinya. Namun begitu mereka meriwayatkan riwayat-riwayat tersebut secara bersanad. Mereka menyebut rawi-rawi bagi setiap sanad. Sepertimana mereka juga menyebut bagi sesuatu kejadian itu, pelbagai riwayat yang berulang-ulang, bercanggah dan bertentangan antara satu sama lain. Ini bukan bererti kehendak mereka ingin berpegang, mempercayai dan menerima kandungannya tetapi yang menjadi tujuan mereka ialah menunaikan amanah ilmu. Inilah faktor yang menyebabkan mereka mencatat dan menulis setiap yang sampai kepada mereka sama ada riwayat itu benar atau dusta, betul atau salah.

Lebih dari itu merupakan suatu kebiasaan bagi para periwayat sejarah, penyampainya dan pencatitnya untuk memberi tumpuan kepada peristiwa yang berbentuk negatif daripada yang positif seperti perselisihan, pertelingkahan dan perpecahan. Tumpuan ini menyebabkan di dalam kitab-kitab sejarah terhimpun peristiwa-peristiwa yang berbentuk negatif dalam jumlah yang banyak.

Seandainya peristiwa-peristiwa ini dihimpun semuanya dan dianggap sahih, pasti Islam tidak akan sampai kepada kita hari ini. Bahkan ia telah musnah beberapa dekad selepas kewafatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akibat perselisihan, pertelingkahan dan perpecahan yang amat banyak tersebut. Yang benar peristiwa-peristiwa yang berbentuk negatif tersebut hanyalah khabar yang disampaikan oleh para perawi yang tidak ‘Adl dan Dhabith[6] tetapi oleh mereka yang suka menokok tambah dan berdusta.

Kelemahan-kelemahan kitab sejarah Ahl al-Sunnah ini dimanfaatkan sepenuhnya oleh Syi‘ah di mana mereka akan mencari di dalamnya peristiwa-peristiwa yang berbentuk tipu daya, derhaka, khianat, zalim dan fitnah yang kononnya dilakukan oleh generasi awal Ahl al-Sunnah ke atas ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain dan lain-lain generasi Ahl al-Bait.

Tidak ketinggalan, mereka juga akan mencari apa-apa kisah yang mengkhabarkan perselisihan, pertelingkahan dan perpecahan untuk dijadikan bukti bahawa generasi awal Ahl al-Sunnah sebenarnya berada di dalam keadaan yang hiruk pikuk lagi berpecahan, kecuali segelintir yang taat setia dan bersatu kepada ‘Ali dan kepimpinan Ahl al-Baitnya. Pendek kata apa sahaja peristiwa yang berbentuk negatif daripada generasi awal Ahl al-Sunnah akan mereka kemukakan untuk dijadikan hujah tanpa mengkaji sanadnya mahupun membandingkannya dengan peristiwa-peristiwa lain yang berbentuk positif.

Oleh itu para pembaca sekalian perlu berhati-hati dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang dikemukakan oleh Syi‘ah. Bahkan termasuk peristiwa-peristiwa yang tercatit dalam buku-buku sejarah yang biasa ditemui di pasaran dan buku teks sekolah. Apa-apa peristiwa sejarah yang melibatkan persoalan hukum, peristiwa fitnah dan peribadi sahabat tidak boleh diterima begitu sahaja atau dijadikan hujah melainkan dipenuhi dua syarat berikut:

1.      Disemak darjat sanadnya.

2.      Dikaji konteks kejadiannya.

Bidang Ilmu

Keempat: Umum.

Bentuk rujukan terakhir yang lazim disenaraikan oleh Syi‘ah ialah kitab-kitab yang dikarang khas merujuk kepada perihal Ahl al-Bait. Kitab-kitab ini didakwa oleh Syi‘ah sebagai hasil karangan tokoh-tokoh Ahl al-Sunnah. Akan tetapi pada analisa penulis hanya sebahagian daripadanya yang merupakan karya tokoh Ahl al-Sunnah yang tulen. Mereka menyusun kitab tersebut secara ikhlas dan jujur bagi menerangkan keutamaan serta kemuliaan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan menghimpun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan mereka berempat.

Manakala dalam sebahagian karya yang lain, wujud “cebisan” dan “serpihan” yang mengisyaratkan bahawa pengarangnya adalah seorang Syi‘ah tetapi dia berpura-pura (taqiyyah) sebagai seorang Ahl al-Sunnah.

Penulis tidak akan membahas biografi tokoh-tokoh ini sama ada Ahl al-Sunnah atau Syi‘ah kerana ia akan memerlukan perbahasan yang luas lagi mendalam. Sebaliknya penulis akan memberi perhatian kepada manhaj para tokoh ini dalam menyusun kitab mereka. Ini kerana, sama ada Ahl al-Sunnah atau Syi‘ah, yang penting adalah manhaj mereka dalam mengemukakan hujah.

Manhaj para tokoh ini dalam menyusun kitab-kitab ini boleh dibahagikan kepada dua kategori:

Kategori Pertama:

Mengeluarkan[7] hadis-hadis berkaitan Ahl al-Bait dengan sanad yang lengkap. Akan tetapi sumber-sumber dalam kategori ini yang lazim dijadikan rujukan oleh Syi‘ah memiliki beberapa kekurangan di dalamnya, antaranya:

1.     Pengarangnya menggunakan syarat yang longgar (tasahul) dalam menyemak sanad yang dikeluarkan sehingga terhimpun di dalam kitab mereka hadis-hadis yang sahih, hasan dan dha‘if.

Hal ini mungkin disengajakan kerana sememangnya menjadi manhaj sebahagian besar para tokoh untuk mengenakan syarat yang longgar (tasahul) terhadap hadis-hadis fadha’il (keutamaan). Walaubagaimanapun Syi‘ah telah menggunakan hadis-hadis ini untuk membahas persoalan kekhalifahan. Ini adalah tindakan yang salah kerana persoalan kekhalifahan adalah urusan iktikad yang hanya boleh bersandar kepada hadis yang jelas-jelas sahih sanadnya.

2.     Jalan-jalan periwayatan yang dikeluarkan, kebanyakannya berpangkal kepada jalan yang sama sepertimana yang dikeluarkan oleh para ahli hadis yang lain seperti Ahmad (241H), al-Tirmizi (279H), al-Nasa’i (303H), al-Thabari (360H), al-Hakim (405H), al-Wahidi (468H) dan lain-lain lagi. Oleh itu rujukan kepada kitab-kitab ini tidaklah menghasilkan sesuatu yang baru ataupun sebagai penguat kepada riwayat yang lain. Ingat: Diterima atau tidak sesebuah hadis diukur berdasarkan kedudukan sanad dan matannya, bukan jumlah rujukan.

3.     Selain daripada poin pertama dan kedua di atas, dalam beberapa kes pengarangnya mengeluarkan hadis dengan sanad yang terdiri daripada perawi yang amat berat kecacatannya atau yang dikenali sengaja berdusta. Kemungkinan besar kecacatan atau sifat dusta perawi tersebut tidak sampai kepada pengetahuan pengarang.

4.     Dalam beberapa kes yang lain pula pengarang mengeluarkan hadis dengan sanad yang terdiri daripada para perawi yang tidak ditemui status al-Jarh wa al-Ta’dil mereka.

5.     Lebih memberatkan, pengarangnya sendiri tidak menerangkan darjat kekuatan hadis yang dikeluarkannya sehingga terpaksa ditinggalkan riwayat seumpama poin keempat di atas.

Terdapat 3 buah kitab yang masyhur digunakan oleh Syi‘ah sebagai rujukan dalam Kategori Pertama ini:

1. Manaqib al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib susunan Abu Muhammad ‘Ali bin Muhammad, terkenal dengan gelaran Ibn al-Maghazali (ابن المغازلي). Dalam sebuah riwayat beliau dilaporkan meninggal dunia pada tahun 336H manakala dalam sebuah riwayat yang lain: 356H.

2. Maqtal al-Husain (مقتل الحسين) karya Abu al-Muayyid al-Mawaffiq (أبو المؤيد الموفق) bin Ahmad, terkenal dengan gelaran al-Khawarizmi (الخوارزمي). Meninggal dunia pada tahun 568H. Kitab Maqtal al-Husain yang ditulis oleh al-Khawarizmi terdiri daripada dua bahagian. Bahagian pertama (jld. 1) menghimpun hadis-hadis tentang keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diikuti dengan riwayat-riwayat tentang keutamaan Khadijah isteri Rasulullah, ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhum. Bahagian kedua pula (jld. 2) menghimpun riwayat-riwayat sejarah tentang peristiwa pembunhan Husain bin ‘Ali. Hadis-hadis dan riwayat-riwayat ini sebahagiannya memiliki sanad manakala sebahagian lagi tanpa sanad.

3. Syawahid al-Tanzil li Qaw‘id al-Tafdhil fi al-Ayat al-Nazilah fi Ahl al-Bait Shalawatullahi wa Salamuhu‘alaihi karya al-Hafiz ‘Ubaid Allah bin ‘Abd Allah bin Ahmad bin Muhammad, juga dikenali sebagai al-Hakim al-Haskani rahimahullah. Beliau meninggal dunia sekitar kurun ke 5 hijrah. Dalam kitabnya di atas al-Hakim al-Haskani mengeluarkan hadis-hadis dan atsar para sahabat serta tabi‘in berkenaan ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada Ahl al-Bait radhiallahu ‘anhum.

Kategori Kedua

Menghimpun hadis-hadis berkaitan Ahl al-Bait daripada rujukan-rujukan ahli hadis sebelum mereka seperti Ahmad, al-Bukhari, Muslim, al-Tirmizi dan sebagainya. Hadis-hadis yang dihimpun ini adalah tanpa sanad mahupun perbahasan darjat kekuatannya. Di sini mereka memilih Manhaj Kelima dalam menyusun kitab mereka, iaitu:[8]

Mengeluarkan hadis di dalam kitab mereka sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh para ahli hadis berdasarkan manhaj 1, 2 dan 3 di atas. Akan tetapi tidak disemak semula darjat hadis yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut. Hadis-hadis dinukil sebagaimana sedia ada tanpa komentar lanjut tentang darjatnya. Hal in berlaku sama ada kerana tidak memiliki kemampuan atau kesempatan atau manhaj untuk menyemak darjat hadis tersebut.

Di sini para pembaca sekalian perlu berwaspada dengan strategi Syi‘ah yang menyenaraikan rujukan-rujukan dalam kategori kedua ini sebagai bukti kesahihan hadis atau kebenaran hujah. Padahal yang benar pengarangnya bukanlah seorang ahli hadis. Mereka hanya “menukil” hadis-hadis tanpa sanad, apatah lagi untuk membezakan antara yang sahih atau tidak.

Berikut disalin beberapa rujukan dalam Kategori Kedua yang masyhur disenaraikan sebagai sumber rujukan oleh Syi‘ah:

1. Tazkirah al-Khawwash (الخواص) oleh Syams al-Din Yusuf bin Farghali (654H), cucu kepada Ibn al-Jauzi (597H).

2. Mathalib al-Su’ul fi Manaqib A-li al-Rasul (مطالب السؤول في مناقب آل الرسول) oleh Kamal al-Din Muhammad bin Thalhah bin Muhammad, masyhur dikenali sebagai Ibn Thalhah (652H).

3. al-Riyadh al-Nadhirah fi Manaqib al-‘Asyrah oleh Ahmad bin ‘Abd Allah, masyhur dengan gelaran Muhib al-Din al-Thabari (694H).

4. Zakhair al-Uqba fi Manaqib Zawi al-Qurba juga oleh Muhib al-Din al-Thabari (694H).

5. al-Fushul al-Muhimmah fi Ma’refah Ahwal al-Aimmah ‘alaihi salam oleh Nur al-Din ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad, terkenal dengan gelaran Ibn al-Shabagh (855H).

6. Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qunduzi (1294H).

7. Nur al-Abshar fi Manaqib A-li Bait al-Nabi al-Mukhtar oleh Mu’min bin Hasan bin Mu’min al-Syablanji (الشبلنجي).

8. Fadha’il al-Khamsah min al-Shahhah al-Sittah oleh al-Husaini al-Fairuz Abadi.

9. al-Ithaf bi Hubb al-Asyraf oleh ‘Abd Allah bin Muhammad al-Syabrawi.

Demikianlah pengenalan ringkas kepada bidang-bidang ilmu yang diwakili oleh rujukan-rujukan yang lazimnya disenaraikan oleh Syi‘ah. Ringkasnya setiap bidang ilmu memiliki manhaj penyusunan kitab yang tersendiri. Strategi Syi‘ah menyenaraikan jumlah rujukan Ahl al-Sunnah sebagai bukti kebenaran hujah adalah strategi yang dibatalkan oleh rujukan-rujukan itu sendiri. Yang benar kebenaran hujah tidak diukur dengan jumlah rujukan tetapi hujah yang terkandung di dalam rujukan itu sendiri.

Strategi mudah kepada para pembaca:

  • Kebenaran hujah tidak diukur dengan jumlah rujukan tetapi hujah yang terkandung di dalam rujukan itu sendiri.
  • Seandainya rujukan-rujukan tersebut benar-benar mengukuhkan hujah Syi‘ah, pasti mereka (Syi‘ah) akan menukil dan menterjemahkannya secara lengkap.
  • Seandainya rujukan-rujukan tersebut benar-benar membicara dan menetapkan kedudukan khalifah kepada ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahl al-Baitnya, radhiallahu ‘anhum, bagaimana mungkin dikatakan bahawa ia adalah sumber rujukan Ahl al-Sunnah ?  Ia sepatutnya dikategorikan sebagai sumber rujukan Syi‘ah.

Asas Keempat


[1] Rujuk mana-mana kitab ilmu hadis dalam bab berkenaan definisi Hadis Sahih.

 

[2] Kecuali segelintir dengan merujuk kepada penilaian al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak. Ini akan penulis bahas seterusnya dalam Strategi Asas Syi‘ah yang Keempat.

[3] “Mengeluarkan” ialah terjemahan harfiah dari istilah yang biasa digunakan dalam bidang hadis. Ia bererti mencari dan mengemukakan hadis di dalam kitab dan bukan bermaksud membuang keluar hadis daripada kitab.

[4] Perlu dibezakan antara 3 tokoh yang memiliki nama gelaran yang hampir sama: (1) al-Haitsami (الهيثمي) (807H) = pengarang kitab Majma’ al-Zawa‘id, (2) Ibn Hajar al-‘Asqalani (852H) = pengarang kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari dan lain-lain kitab dalam ilmu hadis dan (3) Ibn Hajar al-Haitami (الهيتمي) (973H) = pengarang kitab al-Shawa‘iq dan beberapa kitab lain dalam bidang fiqh, fatwa dan hadis.

[5] Qabasat Tarikhiyyah, ms. 7 dikemukakan oleh Asri Zainul Abidin di dalam kertas kerjanya: Manhaj Ahl al-Sunnah Dalam Menilai Maklumat Dan Menghukum Individu sebagaimana dalam: Koleksi Kertas Kerja Seminar Ahli Sunnah wal Jamaah Golongan Tauladan, ms. 190.

[6] Maksud sifat ‘Adl dan Dhabith telah diterangkan di dalam Strategi Asas Syi‘ah yang Ketiga, khusus dalam bidang hadis.

[7] “Mengeluarkan” ialah terjemahan harfiah dari istilah yang biasa digunakan dalam bidang hadis. Ia bererti mencari dan mengemukakan hadis di dalam kitab dan bukan bermaksud membuang keluar hadis daripada kitab.

[8] Rujuk semula ms. 113 dalam buku ini. ( Pengenalan Kepada Syiah Rafidhah – Buku 1 )

Sumber :http://www.hafizfirdaus.com/

SAMBUNG BACAAN :

SIRI 1:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/18/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-pertama/

SIRI 2:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/18/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-kedua/

SIRI 3:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/19/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-ketiga/

SIRI 4:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/21/950/

SIRI 5:

http://aburedza.wordpress.com/2009/11/21/lima-strategi-asas-syi%E2%80%98ah-dalam-berhujah-dan-jawapan-ahl-al-sunnah-ke-atasnya-kelima/