Bilakah KeIslaman Muawiyah bin Abi Sufian.


Muawiyah Bin Abi Sufian r.a di lahirkan   pada 20 Sebelum H (603M) dan Wafar 60H ( 680M). Beliau adalah pengasas Kekhalifahan Bani Umaiyah (661M-750M)

Riwayat hidupnya penuh dengan kontroversi, berpunca daripada perbedzaan pendapat dengan Khalifah  Ali r.a., mengenai perlaksanaan hukum keatas pembunuhan Khalifah Usman r.a. Kerana itu rekod baiknya ditutupi dengan pelbagai keburukan. Antaranya beliau digambarkan sebagai sahabat yang lewat masuk Islam. Ada riwayat menyebut beliau masuk Islam ketika atau era pembukaan Makah pada tahun  8 Hijrah.

Prof. Dr.Ibrahim Ali Sya’wat, seorang Profesor Sejarah Islam Universiti al Azhar di dalam bukunya,  Kesalahan-kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Di Betulkan Semula, menulis mengenai Bilakah KeIslaman Muawiyah Bin Abi Sufian, seperti berikut:

Dari sudut tuduhan beliau lewat masuk Islam sehinggalah pada hari berlakunya pembukaan Mekah, kita dapati al-Allamah Ibn Asakir telah menjawab tuduhan ini. Beliau meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Muawiyah yang berkata:

“Saya sebenarnya telah masuk Islam terlebih dahulu dari itu (dari hari pembukaan kota Mekah) tetapi saya menyembunyikan Islam saya… Demi Allah ketika Rasulullah meninggalkan bumi Hudaibiyah, pada ketika itulah saya beriman dengan baginda”.[1]

Berdasarkan laporan ini jelas sekali Muawiyah sebenarnya telah memeluk Islam pada hari Hudaibiyah lagi iaitu pada tahun ke enam hijrah dan beliau membersihkan diri beliau dari termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibebaskan oleh nabi pada hari pembukaan kota Mekah. Inilah kemungkinan menjadi faktor yang membuatkan nabi memilihnya menjadi penulis wahyu baginda.

 

 


[1] Rujuk Tarikh Dimasyq, jil. 19, him.. 344.

Kitab Syiah: Bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah?

Muawiyah di mata Imam Ali

Bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah? Bandingkan dengan pertanyaan: Apakah Nabi Isa pernah mengklaim dirinya sebagai tuhan?
Sepertinya Muawiyah telah menjadi simbol kesesatan dan kekafiran, juga kemunafikan, hanya karena memerangi Ali dan merampas khilafah dari Ali. Padahal Muawiyah tidak pernah menjadi khalifah semasa Ali hidup. Tapi ada sisi lain yang jarang diungkap, yaitu pandangan Imam Syi’ah sendiri tentang Muawiyah. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali dan Hasan tentang Muawiyah? Bagaimana Imam Ali memandang konflik yang meletus dengan Muawiyah?

Kita malah jarang mendapat data primer dari imam syi’ah sendiri, yang sering kita dapatkan adalah data-data sekunder yang sudah tidak murni lagi, karena terbukti jauh berbeda [baca: berlawanan] dengan data primer dari ucapan imam Syi’ah yang maksum, yang suci dari dosa.

Kita sering mendengar pernyataan yang menyebut Muawiyah sebagai kafir, tapi kita jarang membaca keterangan dari imam Ali, lalu bagaimana pendapat Imam Ali sebenarnya?

Dari Ibnu Tharif dan Ibnu Alwan dari Ja’far dari ayahnya, bahwa Ali mengatakan pada pasukannya :
Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kamilah yang benar, mereka pun demikian
Biharul Anwar jilid 32 hal 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mukminin Ali.
Riwayat ini diriwayatkan juga oleh Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal 45.

Jadi Ali sendiri tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai kafir, seperti anggapan orang sekarang.

Lebih jelas lagi, dalam Nahjul Balaghah:
Pada awalnya, kami bertempur dengan penduduk Syam, dan nampak bahwa tuhan kita sama, begitu juga Nabi kita sama, begitu juga kami dan mereka sama-sama mengajak kepada Islam, tingkat keimanan kami pada Allah dan kepercayaan kami pada Rasul adalah sama, begitu juga mereka tidak melebihi kami dalam iman pada Allah dan percaya para Rasul, seluruhnya satu, kecuali perbedaan yang ada tentang darah Utsman, dan kami tidak ikut serta membunuhnya.
Nahjul Balaghah, wa min kitabin lahu katabahu ila ahlil amshar yaqushshu fiihi ma jara bainahu wa baina ahli shiffin, hal 448.

Perlu diketahui, kitab Nahjul Balaghah memiliki banyak cetakan, janganlah kami disalahkan jika cetakan yang ada pada kami berbeda dengan yang ada pada pembaca.

Kita baca di atas, Ali tidak menuduh Muawiyah sebagai kafir.
Dari Abdullah bin Ja’far Al Himyari dalam kitab Qurbul Isnad dari Harun bin Muslim dari Mas’adah bin Ziyad, dari Ja’far, dari ayahnya, bahwa Ali tidak pernah memvonis orang yang memeranginya sebagai musyrik maupun munafik, tetapi Ali hanya mengatakan: mereka adalah saudara kami yang membangkang. Qurbul Isnad, dari Wasa’ilu As Syi’ah jilid 15 hal 69 – 87.

Ali memang tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai munafik, tapi hanya pengikutnya saja yang berpandangan keliru dan Muawiyah sebagai kafir dan munafik. Alih-alih menganggap kafir, Ali malah menganggap Muawiyah sebagai saudaranya.

Seperti kenyataan dari kitab Bible yang katanya firman Yesus, tidak pernah ada keterangan menyatakan Nabi Isa atau Yesus adalah tuhan, tapi dari kaum Nasrani saja yang menyatakan hal itu.

Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash

Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash

Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/09/majmu-fatawa-kedudukan-muawiyah-dan-amr-bin-ash/

Muawiyah dan Amr Bin Ash termasuk orang-orang beriman. Tidak ada satupun salaf yang menuduh mereka sebagai orang munafik. Bahkan telah Tsabit dalam kitab sohih bahwasanya Amr bin Ash ketika membaiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ia berkata :”Agar Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu”. Maka Rasulullah bersabda: “ tidakkah engkau tahu bahwasanya Islam akan Memusnahkan apa yang telah lalu?”[1].

Dan diketahui bahwa yang Islam yang memusnahkan (dosa,red) merupakan Islamnya orang-orang beriman, bukan Islamnya Orang-orang Munafik.

Amr Bin Ash juga termasuk orang yang berhijrah setelah Hudaibiyah secara sukarela bukan paksaan. Sedangkan orang-orang Muhajirin bukanlah orang Munafik, tetapi yang munafik adalah sebagian orang yang telah ada didalam kaum Anshar yang merupakan Penduduk Madinah. Ketika para pemuka dan kebanyakan penduduknya Masuk Islam, sebagian orang-orang Munafik tersebut berpura-pura sebagai pemeluk Islam. Berbeda dengan  Penduduk Mekkah yang Para pemuka dan kebanyakan Penduduknya adalah kafir, tidak ada yang menunjukkan Keimanannya kecuali orang-orang yang sungguh-sungguh beriman baik lahir maupun batin.

Diantara mereka ada yang disiksa dan diboikot, berbeda dengan orang Munafik yang berpura-pura Muanfik demi kepentingan dunianya.

Adapun yang yang menunjukkan keislamannya di Mekkah akan diganggu kepentingan dunianya. Kemudian sebagian besar orang-orang beriman ikut serta Hijrah Ke Madinah Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Hijrah kesana.

Sebagian dari mereka dihalang-halangi, seperti contohnya sekelompok laki-laki dari Bani Makhzum, semisal Walid bin Mughirah Saudaranya kholid dan Saudara abu Jahal dari Ibunya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berqunut untuk mereka dan bertutur dalam qunutnya : ‘Ya Allah, selamatkanlah Al Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam, dan orang-orang yang lemah dari kaum mukminin. Ya Allah, keraskanlah tindakan-Mu atas suku Mudhar, dan timpakan atas mereka tahun-tahun seperti tahun-tahun Yusuf (paceklik, red).[2]

Kaum Muhajirin dari awal hingga Akhir  tak satupun yang dituduh nifak. Bahkan semuanya termasuk orang-orang beriman yang disaksikan keimanan mereka, sedangkan melaknat Mukmin sama dengan membunuhnya.[3]

Adapun Muawiyah bi Abu Sofyan dan yang semisalnya dari kalangan ath-Thulaqaa` -yang masuk Islam setelah era Fath Makkah-, Seperti Ikrimah bin abu Jahal, Harits bi Hisyam, suhail bin Amr, Sofwan bin Umayyah, dan Abu Sufyan bin Harist bin Abdul Mutthalib. Merek termasuk yang baik Islamnya dengan kesepakatan Kaum Muslimin. Tidak seorangpun menuduh mereka setelah Hijrah sebagai Munafik. Adapun Muawiyah, Rasulullah telah memintanya untuk menjadi penulis Rasulullah dan beliau bersanda “Ya Allah ajarkanlah Ia Kitab dan Hisab, dan peliharalah dia dari Adzab[4]

Saudaranya Yang bernama Yazid bin Abi Sufyan lebih baik dan lebih utama darinya, dia adalah salah seorang amir yang diutus oleh Abu Bakar Siddiq Rodiyallahu anhu ketika penaklukkan Syam. Abu Bakar memberinya Wasiyat yang terkenal. Abu Bakar berjalan kaki sedang ia berkendaraan. Maka ia berkata kepada Abu Bakar: “Wahai khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun, sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah. Amr bin Ash adalah amir yang selanjutnya, dan amir yang ketiga adalah Syarajil bin Hasanah, dan keempat adalah kholid Bin walid. Mereka adalah Amir secara  Mutlak. Kemudian diganti oleh Umar, kemudian Ia menyerahkan Pimpinan kepada Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah ditetapkan dalam As Sohih sebagai orang kepercayaan Ummat ini[5]

Penaklukkan Syam adalah dibawah pimpinan Abu Ubaidah dan penaklukkan Iraq dibawah Pimpinan Saad Bin Abi Waqqash.

Kemudian ketika Yazid bin Abu Sufyan Wafat Pada saat kekhilafahan Umar, digantikan oleh Saudaranya Muawiyah.

Umar termasuk orang yang paling agung firasatnya, lelaki paling berpengetahuan, pemimpin kebenaran, Paling bertanggung jawab dalam kebenaran, dan paling tahu tentang kebenaran tersebut.

Hingga Ali bin Abu Thalib berkata Radiyallahu anhu berkata: “kami menganggap ketenangan itu disampaikan lewat lisan Umar.

Bersabda nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: “ Sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan lewat lisan umar dan hatinya”[6].

Beliau juga bersabda:”kalaulah aku tidak diutus kepada kalian, niscaya akan diutus Umar kepada Kalian”[7],

Ibnu Umar berkata:” aku tidak pernah mendengar umar berkata sesungguhnya aku telah meyakini sesuatu, kecuali hal itu terjadi sesuai dengan apa yang ia Yakini.”.

Sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda kepadanya: “ tidaklah setan berpapasan denganmu pada satu jalan niscaya ia pasti memilih jalan lain dari jalan yang engkau lalui.”[8]

Umar dan Abu Bakar tidak pernah sekalipun mengangkat pimpinan munafik untuk kaum Muslimin, keduanya juga tidak mengangkat kerabat mereka, dan tidak terpengaruh dengan celaan orang-orang yang mencela. Bahkan ketika keduanya memerangi orang-orang murtad dan mengembalikan mereka kedalam Islam, keduanya melarang mereka mengendarai kuda dan membawa pedang sampai terlihat jelas taubat mereka.

Umar pernah Berkata kepada Saad Bin Abi Waqqash-amir iraq ketika itu-: “ jangan angkat satupun dari mereka dan jangan bermusyawarah dengan mereka dalam peperangan. Sesungguhnya mereka pernah menjadi pemimpin besar. Seperti Tholihah As Asadi, Aqra bin habis, Uyainah bin Hison, dan Asy’ats bi Qaisy al Kindi dan yang semisal mereka. Ketika Umar dan Abu Bakar Takut ada unsur kenifakan dalam diri mereka, keduanya tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin kaum Muslimin.

Kalaulah Amr bin Ash dan Muawiyah bin Abu sufyan dan yang semisal keduanya termasuk orang yang ditakuti kenifakannya, niscaya mereka tidak akan diangkat memimpin kaum Muslimin. Bahkan Amr bin Ash telah diperintahkan Oleh Rasulullah pada perang Dzatussalaasil, dan Nabi tidak mengangkat orang munafik sebagai pemimpin kaum Muslimin.

Sungguh Rasulullah telah mengangkat Abu Sufyan bin harb ayahnya Muawiyah sebagai Gubernur di Najran. Rasulullah wafat sedangkan Abu Sufyan masih menjadi wakilnya di Najran.

Sungguh kaum Muslimin telah sepakat bahwa keislaman Muawiyah lebih baik dari keislaman ayahnya Abu Sufyan, Bagaimana Mungkin mereka dianggap munafik sedangkan nabi shallallahu Alaihi Wasallam mengamanahkan urusan kaum Muslimin kepada mereka pada masalah ilmu dan amal?!

Sungguh telah diketahui bahwasanya pernah terjadi fitnah yang melibatkan Muawiyah dan Amr Bin Ash, dan selain keduanya. Tidak satupun penolong dan yang memerangi dan yang tidak memerangi mereka menuduh mereka berdusta Kepada Nabi Shallallahu alihi Wasallam, Bahkan seluruh ulama dan Sahabat setelah mereka telah bersepakat bahwa mereka berkata jujur kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan dipercaya riwayatnya, sedangkan orang munafik tidak dipercaya oleh nabi Shallallahu alaihi Wasallam, Bahkan berdusta kepada Nabi dan didustakan oleh nabi.

Semoga Bermanfaat


[1]Hadits Riwayat Muslim dalam Kitab Iman dari Abu Syumasah Al Mahri

[2] Hadits Riwayat Bukhari dalam Kitab Adzan dan Muslim dalam Kitab Masajid

[3] Hadits Riwayat Bukhari dalam Kitab Iman dan Nadzar dari Tsabit bin Ad Dhohak.

[4] Hadit Riwayat Ahmad  4/127 dari Irbad bin Sariyyah As Sulami, Al Haitsami berkata dikitab Al Majma 9/359 : (didalamnya ada Harits bin Ziyad dan tidak aku dapati ada yang mentsiqahkannya… rijal-rijal lainnya tsiqah dan sebagian ada yang diperselisihkan

[5] Hadits Riwayat Bukhari, Bab Fadhoilus Sahabah 3744 dari Anas

[6] Hadits Riwayat Turmudzi daam Kitab Manaqib no.3682 dan ia berkata : hasan gharib, dan riwayat Ibnu majah dalam  Muqaddimah

[7] Hadits Riwayat Turmudzi daam Kitab Manaqib no.3686 dan ia berkata : hasan gharib

[8] Hadits Riwayat Bukhari bab Fadhailus Sahabah no.3683, Dan riwayat Muslim bab Fadhoilus Sahabah (22/4396)

MAJMU FATAWA Jilid 35

Dosa Menyelewengkan Hakikat Sejarah Dan Fakta

Oleh Dr Mohd Asri Bin Zainul Abidin

SUMBER : Disiarkan pada Oct 28, 2007 dalam   http://drmaza.com/

Dalam sejarah manusia, ramai yang teraniaya hanya disebabkan oleh berita palsu yang direka terhadap seseorang. Penderitaan atau kezaliman cerita bohong atau penyelewengan fakta terhadap seseorang, bukan sahaja dirasai kesannya oleh individu berkenaan, sebaliknya juga orang ramai.

Lihat sahaja apabila diselewengkan hakikat Nabi Isa a.s. daripada seorang insan yang diutuskan menjadi rasul telah diselewengkan kepada anak Tuhan. Hasilnya, satu umat merubah menjadi syirik dan tersasar jauh dari agama yang sebenar. Adapun Nabi Isa a.s, baginda tetap mulia di sisi Allah. Namun yang menjadi mangsa ialah golongan jahil yang menelan penyelewengan fakta yang dibuat oleh sesetengah pihak. Demikian Saidina Ali r.a., hakikat dirinya telah diselewengkan, sehingga lahirnya aliran Syiah telah memuja-mujanya melebihi yang sepatutnya melebihi kedudukan seorang nabi lalu tersasarlah satu mazhab di kalangan umat ini.
Sebab itu dosa para penyeleweng fakta dan hakikat sejarah bukan sedikit. Mereka akan turut menanggung dosa kesesatan mereka yang terseleweng disebabkan fakta yang direka atau hakikat yang diubah. Firman Allah: (maksudnya) Kecelakaan besar bagi orang-orang yang menulis Kitab (Taurat) dengan tangan mereka (mengubah perkataan Allah dengan rekaan-rekaan mereka), kemudian mereka berkata: “Ini datang dari sisi Allah”, supaya mereka dapat membelinya dengan harga yang murah (keuntungan dunia yang sedikit). Maka kecelakaan besar bagi mereka disebabkan apa yang ditulis oleh tangan mereka, dan kecelakaan besar bagi mereka dari apa Yang mereka usahakan itu. (Surah al-Baqarah: 79).

Dosa penyelewengan akan terus ditanggung selama mana pembohongan beredar di kalangan manusia. Justeru itu, kita sentiasa disuruh berhati-hati dalam menerima berita buruk mengenai orang lain. Firman Allah dalam Surah al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum (dengan perkara yang tidak diingini) dengan sebab kejahilan kamu, sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan”. Bukan sedikit dalam sejarah manusia yang menjadi mangsa hasil dari penyelewengan fakta. Bermula daripada para nabi, para sahabah Nabi s.a.w., tokoh-tokoh ilmu, para pemerintah sehingga kepada insan biasa. Semua kerana berita golongan yang hasad, atau menyimpan dendam kebencian, atau orang yang hobinya membuat cerita. Atas apa pun alasan, mereka yang terlibat menyelewengkan fakta memakai pingat kurniaan bergelar ‘fasiq’ atau secara mudahnya ‘orang jahat’ atau ‘ahli dosa’.

Umpamanya, entah berapa banyak kisah dusta yang direka oleh golongan syiah untuk memburuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sahabah Nabi s.a.w hanya kerana dendam politik. Seorang tokoh sejarah , Munir al-Ghadban menyebut: “Aku tidak berpendapat bahawa adanya suatu peribadi –di dalam sejarah Islam- yang terdiri daripada kalangan para sahabah yang awal, yang ditarbiah dengan tangan Rasulullah s.a.w. dan mereka yang hidup dengan wahyu langit, lalu diperburukkan, dibohongi mengenainya dan didustakan kepadanya seperti yang terkena pada Mu`awiyah bin Abi Sufyan r.a. Sesungguhnya kebanyakan maklumat yang terlekat di pemikiran orang ramai telah diterima sebagai sesuatu yang tidak diragui lagi dan tidak boleh untuk dipertikaikan. Maklumat itu tidak bersesuaian sama sekali dengan darjat yang sepatutnya bagi seorang sahabah Nabi. Gambaran Mu`awiyah pada pemikiran orang ramai ialah seorang yang menuntut kuasa, ahli politik yang cekap, seorang yang mencari kesempatan, dia tidak pernah menghiraukan apa pun dalam usahanya untuk sampai kepada kekuasaan dan seorang yang bertarung kerana inginkan kuasa serta bertindak membunuh berpuluh-puluh ribu orang lain semata-mata untuk menjadi khalifah. Inilah gambarannya yang bertentangan dengan perasaan dan fitrah setiap muslim, namun tiada ganti baginya kerana buku-buku sejarah menyebut demikian. (Munir al-Ghadban, Mu`awiyah bin Abi Sufyan, m.s. 5 Syria, Dar al-Qalam).

Demikian riwayat-riwayat bohong yang telah menggambarkan Khlaifah Harun al-Rasyid sebagai seorang yang suka berfoya-foya. Bahkan masyhur di kalangan sesetengah masyarakat bahawa dia sering ditipu oleh seorang ‘kaki belit’ yang bernama Abu Nawas. Ramai yang membaca kisah bohong Nawas dan tersengeh melihat bagaimana dia berjaya mempersendakan Khalifah Harun al-Rasyid. Sedangkan kata Ibn Khaldun (meninggal 808H): “Adapun apa yang dipalsukan oleh hikayat mengenai Harun al-Rasyid yang selalu meminum arak dan mabuk seperti mabuknya seorang kaki arak, Allah memelihara daripada itu semua!. Kita tidak pernah tahu dia seorang yang berbuat jahat. Mana mungkin ini semua dengan keadaannya yang melaksanakan tanggungjawab agama dan keadilan bagi kedudukannya sebagai khalifah. Seorang yang mendampingi ulama dan auliya. Selalu berbincang dengan al-Fudail bin `Iyad, Ibn al-Sammak dan al-`Umari. Selalu berutusan surat dengan Sufyan al-Thauri, menangis mendengar nasihat mereka, berdo`a di Mekah ketika tawaf, kuat beribadah, menjaga waktu solat dan hadir solat subuh pada awal waktunya” (Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, m.s. 17, Beirut: Dar al-Fikr).

Kadangkala kebencian dan dendam membawa sesetengah pihak menghalalkan diri mereka mencipta kisah dusta memfitnah orang lain. Kemudian orang ramai pula menelankan tanpa menyedari bahawa jika itu satu fitnah pembohongan, mereka akan dihukum oleh Allah pada hari kiamat kelak kerana menyebarkan fitnah terhadap muslim yang lain. Apatah lagi jika muslim itu sahabah Nabi s.a.w, atau orang soleh atau tokoh ilmuwan Islam. Sekalipun jika individu itu bukan terkenal sebagai orang soleh dan baragama, kita tidak boleh menzaliminya dengan membuat cerita bohong terhadapnya. Lihatlah apa yang dilakukan oleh penyelewengan sejarah terhadap Yazid bin Muawiyah dengan menuduh dia membunuh cucu Nabi s.a.w. Saidina Husain bin Ali. Sehingga dia dilaknat dan ditohmah dengan berbagai tohmahan. Padahal tiada bukti pun yang menunjukkan demikian.Kata Ibn Taimiyyah (meninggal 728H): “Yazid bin Mu`awiyah lahir pada zaman khalifah `Uthman bin `Affan r.a. Beliau tidak bertemu dengan Nabi S.A.W. dan tidak termasuk dalam kalangan sahabah dengan sepakat ulama. Dia juga tidak termasuk di kalangan yang terkenal dengan agama dan kesolehan. Dia adalah salah seorang pemuda kaum muslimin. Dia tidak kafir atau zindik. Memegang jawatan selepas ayahnya dengan kebencian sebahagian kaum muslimin dan redha sebahagian yang lain. Dia adalah seorang yang berani dan bermurah hati. Dia bukan seorang yang menzahirkan perkara-perkara keji (maksiat) seperti yang dituduh oleh musuh-musuhnya” (Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, 2/253, Riyad: Maktab al-`Abikan)

Adapun peristiwa pembunuhan cucu Nabi s.a.w. Husain bin `Ali r.ahuma tidak ada bukti dia menyuruhnya atau terlibat dengannya. Bahkan ahli sejarah yang adil telah meriwayatkan bahawa beliau telah menangis atas kematian Husain dan melaknat pembunuhnya. Penduduk Syam yang hadir turut menangis bersamanya. Bahkan hubungan baik Yazid dan anak Saiyyidina Husain iaitu `Ali bin Husain berterusan selepas itu. Mereka sering mengutus surat menyurat antara mereka. Bahkan `Ali bin Husain menganggap yang membunuh ayahnya adalah Syi`ah di Kufah yang menjemput ayahnya datang dan menipunya. Cumanya Yazid dipertikaikan kerana tidak membunuh balas terhadap pembunuh Husain. Kata Ibn al-Salah (meninggal 643H): “Tidak sahih di sisi kami bahawa Yazid memerintahkan agar dibunuh Husain r.a. Riwayat mereka yang dipercayai menyetakan perintah membunuh al-Husain datang dari orang yang mengepalai pembunuhannya iaitu `Ubaid Allah bin Ziyad, gabenor Iraq ketika itu” (Ibn Tulun, Qaid al-Syarid min Akhbar Yazid m.s. 57, Kaherah: Dar al-Sahwah).

Maka, kita tidak dapat menerima sesetengah pihak yang memudah-mudahkan menerima kisah buruk hanya kerana yang dikaitkan itu seorang artis atau orang politik atau seorang yang tidak dipandang tinggi dalam agama. Dosa tetap dosa. Setiap insan ada haknya yang akan dibela di sisi Allah. Para wartawan hendaklah sedar hakikat ini. Jangan dalam keghairahan mengejar berita sensasi, mereka melanggar hak-hak insan yang dipelihara oleh agama. Sabda Nabi s.a.w. ketika haji terakhir baginda: “Sesungguhnya darah kamu, harta kamu, maruah kamu adalah haram antara kamu (untuk dicemari), seperti haramnya (mencemari) hari ini (hari korban), bulan ini (bulan haram) dan negeri ini (Mekah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Para ulama juga bukan sedikit yang menjadi mangsa penyelewengan fakta. Cumanya fitnah terhadap tokoh-tokoh ilmuwan agama ini kebanyakannya lahir dari sentimen ketaksuban sesama golongan agama itu sendiri. Apabila adanya kelompok agama yang terlalu taksub terhadap sesuatu aliran atau tokoh, maka mereka akan memfitnah tokoh-tokoh yang dianggap tidak sealiran dengan aliran taksub mereka. Hal ini telah mengenai berbagai tokoh termasuk al-Imam al-Syafi’I, al-Bukhari, Ibn Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan ramai yang lain. Contohnya, di sana ada kitab yang dusta mengenai al-Rihlah ila al-Rasyid (Kembara Menuju Harun al-Rasyid) yang disandarkan secara palsu kepada al-Imam al-Syafi’i r.h. Dalam kitab tersebut banyak riwayat-riwayat yang bohong dan karut. Antara ianya mencerita bahawa Al-Imam al-Syafi’i bertemu dengan al-Qadi Abu Yusuf (w 182H), tokoh utama mazhab Abi Hanifah di Baghdad, sedangkan al-Qadi Abu Yusuf telah meninggal sebelum al-Imam al-Syafi’`I masuk ke Baghdad. Lebih buruk lagi ia menceritakan tokoh terkenal ulama Islam al-Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani (w 189H) dan juga al-Qadi Abu Yusuf merancang agar al-Imam al-Syafi’i dibunuh dengan membuat dakwaan terhadapnya di hadapan khalifah. Ini adalah fitnah yang besar terhadap kedua imam yang agung tersebut. Kedudukan kedua-dua imam yang agung itu memustahilkan mereka melakukan perkara yang seperti itu. Kisah ini semata-mata untuk memperlihatkan ketaksuban kepada imam al-Syafi’i. Semuanya datang daripada ‘Abd Allah bin Muhammad al-Balawi, seorang pendusta. Malangnya beberapa tokoh telah memetik apa yang diriwayatkannya tanpa menjelaskan pembohongan isi kandungannya. Sedangkan menurut kajian al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H) al-Imam al-Syafi’i datang ke Bahgdad pada tahun 184H. Beliau telah berdialog dengan al-Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani di hadapan khalifah Harun al-Rasyid. Muhammad bin al-Hasan memuji al-Imam al-Syafi’i disebabkan kebijaksanaannya. Sehingga beliau memuliakan al-Imam al-Syafi’i dan mengambilnya sebagai tetamu. Adapun Al-Qadi Abu Yusuf telah meninggal setahun, atau dua tahun sebelum itu. (Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 10/263, cetakan Dar al-Kutub al-‘ilmiyyah, Beirut.).

Demikian fitnah yang dikenakan kepada Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah r.h. Hanya kerana hasad dan taksub. Di Malaysia ini pun ada ‘tukang penyebar fitnah terhadap Ibn Taimiyyah’. Tujuannya agar cubaan membawa Islam dengan lebih terbuka dan ilmiah dapat dihalang, kerana Ibn Taimiyyah tokoh pembaharuan yang menjadi sumber inspirasi banyak pihak. Maka seperti biasa Ibn Taimiyyah dituduh sebagai wahhabi, padahal dia meninggal pada tahun 728H dan al-Imam Muhammad Abdul Wahhab lahir pada 1115H, iaitu hampir empat ratus sebelum kelahiran Muhammad bin Abdul Wahhab. Ilmu Ibn Taimiyyah r.h juga jauh mengatasi keilmuwan Muhammad bin Abdul Wahhab. Ibn Taimiyyah r.h telah membayar harga yang mahal untuk perjuangan pembaharuan yang dilakukan pada zamannya. Setiap kali gerakan perbaharuan berlaku, sejarah akan mengenangnya. Musuh-musuh pembaharuan pula akan membangkitkan semula fitnah terhadapnya. Pada zamannya musuh-musuh beliau dari kalangan ahli-ahli khurafat, syi`ah dan tarikat yang melampau telah menabur fitnah yang begitu dahsyat terhadap beliau. Dengan harapan, jatuhnya Ibn Taimiyyah, dapatlah mereka bermaharajalela. Tokoh dakwah terkenal Maulana Abu al-Hasan `Ali al-Nadwi, dalam bukunya “Al-Hafiz Ahmad bin Taimiyyah” telah menceritakan bagaimana golongan yang sesat berusaha agar Ibn Taimiyyah dipenjarakan. Apabila beliau dipenjarakan, maka mereka kembali berani untuk menyebarkan kesesatan mereka. Maka, para ulama pada zaman tersebut mulai sedar betapa besar dan pentingnya peranan Ibn Taimiyyah. Mereka mula menulis surat, merayu dan membelanya di hadapan pemerintah, sehingga al-Nadwi menyebut: “Ahli bid`ah dan hawa nafsu yang cuba untuk menonjolkan diri sebagai bermazhab Ahli sunnah, untuk menipu para pemerintah dan hakim (agar menangkap Ibn Taimiyah). Sebaik sahaja berjaya penipuan mereka, maka orang ramai pun nampaklah kejahatan mereka, dan golongan tersebut mulalah menonjol dan tidak bersembunyi lagi”.( Abu Hasan `Ali al-Nadwi, Al-Hafiz Ahmad bin Taimiyyah, m.s. 93-94, Kuwait: Dar al-Qalam) Jika kita perhatikan tokoh-tokoh umat pada zaman lalu dan kini, mereka banyak mengambil manfaat daripada khazanah Ibn Taimiyyah. Lihat al-Nadwi yang saya sebutkan di atas. Demikian juga al-Syeikh Yusuf al-Qaradawi pernah menyebut “Al-Imam Ibn Taimiyyah ialah daripada kalangan ulama umat yang aku sayangi, bahkan barangkali dialah yang paling hatiku sayangi di kalangan mereka dan paling dekat kepada pemikiranku” (Al-Qaradawi, Kaif Nata‘amul ma‘a al-Sunnah, m.s. 170, Mesir: Dar al-Wafa).

Justeru, kita hendaklah berhati-hati dengan fitnah dan khabar buruk yang disebarkan oleh manusia yang bermusuhan atau berkepentingan. Orang yang difitnah sebenarnya tidak rugi di sisi Allah selagi dia ikhlas dan lurus dengan Allah. Bahkan dia akan diberi pahala yang besar. Namun yang menfitnah dan menyebarkan fitnah, akan menanggung bebanan dosa itu di dunia dan akan dibicarakan pada hari kiamat kelak. Janganlah kita jadi seperti masyarakat lalat hijau yang gemarkan bahan busuk, dan akan mati jika disiram air wangi. Cumanya, deria lalat selalu benar dan tidak menipu, maka ia benar-benar akan singgap pada yang busuk. Malangnya deria kita banyak yang tidak benar, lalu kita membusukkan yang tidak busuk. Lantas kita menanggung dosa sehingga kiamat. Dengari firman Allah (maksudnya): Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita dusta itu segolongan dari kalangan kamu; janganlah kamu menyangka (berita yang dusta) itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang di antara mereka akan mendapat hukuman sepadan yengan kesalahan yang dilakukannya itu, dan orang yang mengambil bahagian besar dalam menyiarkannya antara mereka, akan beroleh seksa yang besar (di dunia dan di Akhirat). Sepatutnya semasa kamu mendengar tuduhan itu, orang-orang yang beriman – lelaki dan perempuan, menaruh baik sangka kepada diri mereka sendiri (sesama mukmin). dan berkata: “Ini ialah tuduhan dusta yang nyata”. (Surah al-Nur 11-12).

Peristiwa Tahkim

Peristiwa Tahkim

Oleh Muhammad Malullah

www.darulkautsar.net

Prakata: Peristiwa Tahkim mengikut sejarah yang kita pelajari ialah berlaku perebutan kuasa antara Ali dan Mu`awiyah yang membawa mereka ke meja perundingan. Perundingan antara mereka berdua telah diwakili oleh Abu Musa al-`Asyari bagi pihak Ali dan `Amr bin al-`Ash bagi pihak Mua`wiyah. Kedua-dua perunding telah bersetuju untuk memecat Ali dan Mua`wiyah. Menurut sejarah lagi, `Amr bin al-`Ash dengan kelicikannya berjaya memperdayakan Abu Musa yang digambarkan sebagai seorang yang lalai dan mudah tertipu.. Akibatnya, Ali terlepas dari jawatan khalifah.  Tulisan Shaikh Muhammad Malullah ini akan mendedahkan kebatilan riwayat Tahkim.

Oleh kerana peristiwa Tahkim sangat penting dalam sejarah politik negara Islam, adalah perlu untuk kita menyingkap hakikat sebenar babak-babaknya di mana peristiwa ini telah disalahtanggapi dan telah disalahtafsirkan.  Akibatnya timbul kesan buruk iaitu menjatuhkan kedudukan dan martabat para sahabat. Peristiwa Tahkim yang tersebar itu telah menjadikan sebahagian sahabat sebagai penipu dan orang yang mudah terpedaya dan sebahagian yang lain dituduh sebagai perakus kuasa.

Dengan meletakkan riwayat Tahkim di atas neraca kajian dan penilaian, dua perkara dapat diamati, pertama kelemahan pada sanad dan kedua, kegoncangan pada matan atau teks. Dari sudut sanad terdapat dua perawi yang ditohmah keadilannya iaitu Abu Mikhnaf Lut bin Yahya dan Abu Janab al-Kalbi. Abu Mikhnaf seorang yang dhai`if dan tidak thiqah sementara al-Kalbi, menurut Ibn Sa`ad, dia seorang yang dha`if. Al-Bukhari dan Abu Hatim berkta: Yahya bin al-Qattan mendha`ifkannya. Uthman al-Darimi dan al-Nasa’i mengatakan dia dha`if.

Ada tiga perkara yang dikesani pada matannya. Pertama, berkaitan dengan perselisihan antara Ali dan Mu`awiyah yang menjadi punca kepada peperangan antara mereka berdua. Kedua, persoalan jawatan Ali dan Mu`awiyah. Ketiga, keperibadian Abu Musa al-`Asy`ari dan `Amr bin al-`Ash.

Perselisihan antara Ali dan Mu`awiyah

Adalah diakui dan disepakati oleh semua ahli sejarah bahawa sebab pertelingkahan antara Ali dan Mu`awiyah ialah tentang tindakan qisas terhadap pembunuh-pembunuh Uthman. Pada anggapan Mu`awiyah, Ali telah mencuaikan tanggungjawabnya melaksanakan hukuman qisas ke atas pembunuh-pembunuh Uthman. Dengan itu, beliau enggan untuk membai`ah Ali dan taat kepadanya kerana beliau berpendapat hukum qisas perlu ditegakkan sebelum khalifah dibai`ahkan. Pada masa yang sama beliau merupakan wali darah kerana kekeluargaannya dengan Uthman.

Sikap keengganan Mu`awiyah untuk membai`ah Ali kerana menunggu qisas dijalankan dan kegagalan beliau melaksanakan urusannya di Syam telah menjadikan Mu`awiyah dan para pengikutnya dari kalangan penduduk Syam pada pandangan Ali seperti sikap orang-orang yang menentang khalifah. Ali berpendapat bahawa bai`ahnya telahpun sah dengan persetujuan para sahabat Muhajirin dan Ansar yang telah menghadiri upacara bai`ah. Dengan itu, bai`ah tersebut mengikat orang-orang Islam yang berada di tempat yang lain. Oleh hal yang demikian, Ali menganggap Mu`awiyah dan penduduk Syam bersama beliau sebagai penderhaka yang mahu memberontak sedangkan Ali adalah imam sejak dibai`ahkan sebagai khalifah dan beliau memutuskan untuk menundukkan dan mengembalikan mereka ke dalam jamaah walaupun dengan cara kekerasan.

Memahami pertelingkahan mengikut gambaran ini, iaitu gambarannya yang sebenar akan menjelaskan sejauh mana  kesilapan riwayat yang tersebar tentang peristiwa Tahkim yang menggambarkan pendapat dua orang perunding. Kedua-dua perunding itu dilantik untuk menyelesaikan perselisihan antara Ali dan Mu`awiyah bukan untuk menentukan siapakah yang lebih layak untuk jawatan khalifah. Sebenarnya perbicaraan itu berkenaan dengan menjatuhkan hukuman ke atas pembunuh-pembunuh Uthman, sedikitpun tidak berkait dengan urusan khilafah. Apabila dua orang perunding itu mengabaikan dan meninggalkan persoalan asas ini iaitu maksud diadakan Tahkim dan mereka memutuskan persoalan khalifah sebagaimana yang didakwa oleh riwayat tersebut, bererti mereka berdua tidak memahami tajuk pertelingkahan dan tidak mengetahui persoalan dakwaan dan ini satu perkara yang hampir mustahil.

Jawatan Ali dan Mu`awiyah

Mu`awiyah telah ditugaskan untuk mentadbir Syam sebagai wakil bagi pihak Umar bin al-Khattab dan Syam terus berada di bawah pentadbirannya sehingga Umar meninggal dunia. Kemudian Uthman menjadi khalifah dan beliau mengekalkan jawatan Mu`awiyah. Apabila Uthman dibunuh dan Ali menjadi khalifah, beliau tidak mengekalkan jawatan Mu`awiyah di mana jawatan tersebut terlucut dengan sebab berakhirnya pemerintahan khalifah yang telah melantiknya.

Dengan itu, Mu`awiyah telah kehilangan pusat kekuasannya dan jawatannya sebagai gabenor Syam walaupun sebenarnya beliau masih lagi mempunyai kuasa dengan sebab penduduk Syam menyokong beliau dan mereka berpuas hati dan bersetuju dengan alasan Mu`awiyah yang tidak mahu memberi bai`ah kepada Ali. Sebabnya ialah tuntutan perlaksaan hukum qisas terhadap pembunuh-pembunuh Uthman berdasarkan haknya sebagai penuntut bela kematian Uthman.

Apabila keadaan sebenarnya begitu, keputusan perunding itu menurut riwayat tersebut memberi maksud memecat Ali dan Mu`awiyah. Pemecatan Mu`awiyah itu berlaku bukan pada tempatnya kerana jika kita mengandaikan dua orang perunding itu mengendalikan pertelingkahan Ali dan Mu`awiyah kemudian memecat Ali dari jawatan khalifah. Persoalannya dari jawatan apa, mereka berdua memecat Mu`awiyah? Adakah mereka berdua boleh memecat Mu`awiyah dari hubungan kekeluargaan dengan Uthman atau menghalangnya dari menuntut bela kematian Uthman? Adakah pernah terjadi di dalam sejarah seorang pemberontak dilucutkan dari kepimpinannya dengan sebab resolusi yang diputuskan oleh dua orang hakim? Tidak diragukan lagi ini merupakan satu faktor lain yang menyokong tentang karutnya riwayat Tahkim yang tersebar umum itu.

Keperibadian Abu Musa dan `Amar bin al-`Ash

Tanggapan tentang Abu Musa menjadi mangsa tipu daya `Amr bin al-`Ash dalam peristiwa Tahkim menafikan fakta-fakta sejarah mengenai keutamaan, kepintaran, kefaqihan dan kepercayaannya, lebih-lebih lagi menafikan perlantikannya sebagai hakim dan qadhi di dalam Negara Islam sejak zaman Rasulullah s.a.w. Baginda telah melantik beliau sebagai gabenor Zabid dan `Adn. Umar pula melantiknya sebagai gabenor Basrah sehinggalah beliau mati syahid. Seterusnya Uthman mengekalkannya sebagai gabenor Basrah, kemudian menjadi gabenor Kufah sehinggalah beliau mati syahid dan Ali mengekalkan jawatannya itu. Adakah dapat dibayangkan Rasulullah s.a.w. dan para khalifah sesudah baginda mempercayai seorang sahabat yang mudah diperdayakan dengan tipu helah seperti yang diriwayatkan oleh cerita Tahkim itu?

Sedangkan para sahabat dan ramai dari kalangan ulama Tabi`in mengakui kemantapan beliau di dalam ilmu, kemampuan dalam kehakiman, kepintaran dan kecerdasan dalam pengadilan. Bagaimana mungkin digambarkan kecuaian dan kelalaiannya sampai ke tahap ini? Seolah-olah beliau tidak memahami hakikat sebenar pertelingkah yang beliau menjadi perundingnya lalu mengeluarkan keputusan yang tidak munasabah dengan keperibadiannya. Iaitu keputusan melucutkan jawatan khalifah tanpa alasan yang mengikut syara`dan keputusan pemecatan Mu`awiyah yang didakwa sebagai khalifah itu serta peristiwa maki hamun dan caci mencaci yang berlakukan antara Abu Musa dan `Amr bin al-`Ash. Ini adalah suatu perkara yang sama sekali bertentangan akhlak mulia dan adab bertutur para sahabat yang diketahui secara mutawatir.

Apabila ilmu dan pengalaman Abu Musa dalam kehakiman dapat menghalangnya dari tersilap membuat keputusan dalam kes yang diserahkan kepadanya begitu juga keadaan `Amar bin al-`Ash yang diakui sebagai salah seorang cerdik pandai Arab. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan beliau supaya menghakimi perbalahan dua orang lelaki di hadapan baginda. Rasulullah s.a.w. memberi berita gembira kepada beliau ketika beliau bertanya: Wahai Rasulullah adakah saya mengadili sedangkan engkau ada. Baginda bersabda: Apabila seseorang hakim itu mengadili kes dengan berijtihad maka dia akan mendapat dua pahala jika benar dan apabila dia menghukum dengan berijtihad lalu tersilap maka dia akan mendapat satu pahala.

Menerima riwayat Tahkim bererti menghukumkan `Amar bin al-`Ash sebagai seorang yang tunduk pada hawa nafsu dalam menjalankan tugas-tugasnya dan ini adalah satu serangan bukan sahaja terhadap kepintaran dan kemahirannya tetapi terhadapan kewarakan dan ketakwaannya. Sedangkan beliau merupakan sahabat yang termulia dan paling utama serta kelebihannya sangat banyak. Di dalam fatwanya, Ibn Taymiyyah menyebutkan tidak ada seorangpun dari kalangan salaf yang mengkritik `Amr bin al-`Ash dengan nifaq atau tipu helah. Dengan ini, berdasarkan kepada necara kritikan objektif terhadap teks-teks sejarah, jelaslah apa yang dikemukakan dalam tulisan ini tentang pembohongan dalam riwayat peristiwa Tahkim yang tersebar umum itu.

Terjemahan oleh Ustaz Muhammad Hanief bin Awang Yahya untuk www.darulkautsar.net

Surat kepada Abu Hasan : Muawiyah r.a – 1

rantingAbu Hassan seorang Syiah menulis e mail kepada saya mengenai Muawiyah r.a , saya titipkan tulisannya di sini :

Muawiyah penulis wahyu

Kalau Ibnu Ishak yang banyak meriwayat kisah sejarah dituduh mengada adakan cerita untuk kebaikan Shiah, Wallahuaklam, tapi cerita Muawiyah sebagai penulis wahyu pun saya tidak dapat terima bulat-bulat. Setahu saya, Muawiyah tetap tinggal di Mekah walaupun selepas pembukaan Mekah pada tahun 8 hijrah. Kemungkinan terjadi perjumpaan nya dengan Rasulallah hanya semasa penaklukan Mekah dan haji Wada’ saja. Waktu itu siapalah Muawiyah hingga Rasulallah nak bagi perhatian kepadanya. Beribu –ribu tokoh Islam dari berbagai puak dan sanak saudara beliau turut mahu berjumpa Rasulallah juga. Saudara percayakah bahawa  Abu Sofian yang terpaksa memeluk Islam akan bawa anaknya Muawiyah untuk menjadi penulis wahyu seolah olah nilai wahyu bagitu besar dan benar disisinya. Abu Sofian ni, kalau ia beriman dengan al Quran , dah lama ia masuk Islam.

 Kalau benar pun Muawiyah menjadi penulis wahyu atau penulis rasulallah, ayat apa yang ditulisnya. Surat kepada siapa yang ia tulis. Saudara harus faham bahawa sangat sadikit ayat yang turun semasa pembukaan Mekah dan Haji Wida’, jadi  apa pentingnya penulisan Muawiyah ini jika dibandingkan dengan lebih 6000 ayat al Quran.  Menjadi penulis tak ada apa kelebihan pun , ramai yang menjadi penulis wahyu , Siapa yang pandai menulis boleh menulis ayat al Quran yang didengarinya termasuk juga Muawiyah.  Saudara tahu kenapa rasulallah memilih beberapa orang sebagai penulis wahyunya? Jawapannya mudah dan saudara mampu fikir sendiri. Keadaan ini tidak sesuai dengan Muawiyah yang tinggal di Mekah.

 Lagi keanihan pandangan Ulama AS dalam masalah ini. Dalam Blok saudara yang saya telah baca, seorang penulis dalam mengkritik syiah, lantas berhujah bahawa orang shiah memusuhi Muawiyah sebenarnya  antara lain bermaksud untuk menolak kesahihan al Quran kerana Muawiyah adalah seorang penulis Wahju Rasulallah.

 Saya tidak mempunyai kata kata yang sesuai terhadap penulis yang ….. ini. Apakah dia ingat jika Muawiyah tidak menulis, al Quran tidak dapat ditulis oleh orang lain kah? Apa dia tak mengajikah sejarah al quran diturunkan dan bagaimana pemeliharaan terhadapnya dilakukan? Inilah yang saya katakan bahawa kebanyakan hujah AS tidak mampu bertahan apabila berhadapan dengan Akal (logic).

 

 Saudara Abu Hasan,

Mengikut catitan Tarikh Dimasyq, Ibn Asakir megatakan Muawiyah memeluk Islam sejak sebelum pembukaan Makah lagi dan Prof . Dr Ibrahim Ali Syawat menyebut sejak peristiwa Hudaibiyah lagi iaitu pada tahun 6 Hijrah tetapi ia sembunyikan keIslamannya dari musyrikin Mekah , sama seperti saudara yang tidak mengistiharkan Syiah saudara bagi kawan-kawan di Perlis.

Saya tidak mempersoalkan berapa ayat yang di tulis Muawiyah. Satu ayat kah atau puluhan ayat, kerana beliau seorang sahabat sebutir debu dalam hidungnya lebih mulia berbanding apalah kita …. Kalau saudara tak percaya beliau sebagai penulis wahyu juga tidak ada apa-apa kesan ….

Muawiyah ra. meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak seratus enam puluh tiga hadits. Beberapa sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits darinya antara lain: Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Darda’, Jarir aI-Bajali, Nu’man bin Basyir dan yang lain. Sedangkan dari kalangan tabiin antara lain: Sa’id bin al-­Musayyib, Hamid bin Abdur Rahman dan lain-lain.

Telah meriwayatkan Imam Muslim didalam Sohihnya dari hadits Ikrimah bin Ammar, dari Abi Zamil Sammak bin Walid dari Ibnu Abbas bahwasanya Abu sofyan Berkata : Wahai Rasulullah berikanlah tiga perkara kepadaku? Rasulullah menjawab: “ya”. Beliau berkata: perintahkanlah aku supaya memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu aku memerangi orang-orang Islam., Rasulullah menjawab: “ya”, Beliau berkata lagi: dan Muawiyah engkau jadikan sebagai penulis disisimu? Rasulullah menjawab: “ya”.

Dr. Subhi Salleh didalam Buku  Kajian al Quran  pada mukasurat 78 – 79 terjemahan DBP menulis :

Apabila turun wahyu kepada Nabi Muhammad (s.a.w.) maka Baginda memanggil beberapa orang penulis untuk mencatitkan segala butir-butir wahyu itu. Di antara mereka ialah: Khulafa Rasyidin yang empat, Abu Bakar, Umar, Osman dan Ali, Muawiah,  Zaid bin Sabit, Ubai bin Kaab, Khalid bin AI-Walid dan Sabit bin Qais. Nabi memerintah mereka supaya menulis setiap ayat AI-Quran yang diturun­kan kepadanya supaya ianya sarna dan selaras dengan apa yang dihafaz di dada.

Dr Subhi Salleh menyebut sumber tulisan di atas dari :

Orientalis Blachere telah berjaya mengumpulkan bilangan penulis wahyu hingga sampai 40 orang: (Blachere, lntr. Cor. p. 12). laitu dengan cara membandingkan antara tulisan-tulisan Schwally, Buhl dan Casanova. Casanova dalam tulisannya berdasarkan kepada nas-nas dari kitab Tabaqat lbnu Saad, tulisan-tulisan AI-Tabari, AI-Nawawi, Sahibussirah Al-Halabiah dan lain-lain lagi. Sila lihat (Casanova. Mohammed et fa fin du monde 96).

Perhatikan Dr. Subhi Salleh mengambil dari sumber orientalis. Ini menunjukkan orientalis lebih percaya Muawiyah sebagai penulis wahyu berbanding orang Syiah.

Saya tidak ingat penglibatan Muawiyah didalam peperangan bersama Nabi saw tetapi sekurang-kurangnya beliau terlibat dengan perang Hunain – Haekal dalam Sejarah Hidup Muhamad menulis :

Kemudian rampasan perang itu dibagi lima dan yang seperlima diberikan kepada mereka yang paling sengit memusuhinya. Seratus ekor unta diberikan masing-masing kepada Abu Sufyan dan Mu’awiya anaknya, Harith bin’l-Harith b. Kalada, Harith b. Hasyim, Suhail b. ‘Amr, Huwaitib b. ‘Abd’l-’Uzza, kepada bangsawan-bangsawan dan kepada beberapa pemuka kabilah yang telah mulai lunak hatinya setelah pembebasan Mekah. Kepada mereka yang kekuasaan dan kedudukannya kurang dari yang tadi, diberi lima puluh ekor unta. Jumlah yang mendapat bagian itu mencapai puluhan orang. Ketika itu Muhammad menunjukkan sikap sangat ramah dan murah hati, yang membuat orang yang tadinya sangat memusuhinya, lidah mereka telah berbalik jadi memujinya. Tiada seorang dari mereka yang perlu diambil hatinya itu yang tidak dikabulkan segala keperluannya.

Bagi saya, ikut berperang dengan Rasullah saw  adalah sangat mulia orangnya walaupun saudara mengejinya !

Daripada pelbagai pendapat ulama mengenai difinasi Sahabat Rasullah saw , saya mengambil kesimpulan bahawa Muawiyah adalah seorang sahabat. Seorang sahabat bukan maksum. Jika bersalah semuga Allah ampunkan. Merujuk kepada Bukhari dan Muslim pula beliau adalah periwayat hadis, oleh itu saya mengambil pendirian, saya bersangka baik kepada semua sahabat. Walaupun saya tahu taraf ketakwaan mereka berbedza. Itu urusan Allah swt – buka urusan saya. Mempersoalkan keburukan mereka adalah juga mempertikaikan syariat nabi saw , yang sampai kepada kita melalui mereka. Saya mengambil sikap periwataan sejarah ada yang dusta apabila saya membandingkan dengan firman Allah dan hadis sahih – kecuali saya menolak sanjungan Allah melalui al Quran dan sabda nabi melalui hadisnya.

Baca tulisan mengenai Syiah di sini : http://aburedza.wordpress.com/category/syiah/

Berikut ini tulisan sahabat di fikrah net   http://al-fikrah.net/index.php  untuk menjawab beberapa persoalan mengenai Muawiyah r.a. :

Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullâhu pernah berkata

:إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ اَصْحَابِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدْيِقُ!

!!’Jika engkau melihat ada orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq!!!..” [Al-Kifâyah karya al-Imâm al-Khâthib al-Baghdâdî (hal. 97); Lihat pula al-Anwârul Kâsyifah karya Syaikh Alî Hasan al-Halabî, Darul Ashâlah, cet. I, 1411 H/1991 M, halaman 11.]

Banyak sekali tuduhan yang dilontarkan kepada para Sahabat Nabi yang mulia, terdepan di antara mereka yang sering dicela dan dihujat adalah Mu’âwiyah bin Abî Sufyân radhiyallâhu ‘anhu. Syî’ah, Khowârij, Mu’tazilah hingga beberapa pergerakan (harokah) modern turut mengambil bagian di dalam mencemarkan hak sahabat Mu’âwiyah.

Kita ambil misalnya, Sayyid Quthb ghofarollôhu lahu wa lanâ, beliau tidak hanya mencela Mu’âwiyah, namun juga ‘Utsmân bin ‘Affân, bahkan lebih dari itu, beliau juga mencela para Nabi seperti Nabi Musa ‘alaihis Salam. Pembesar Jahmî zaman ini, Hasan ‘Alî as-Saqqof, juga turut mengambil bagian dalam celaan dan cercaan terhadap sahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata :

“Mu’awiyah membunuh sekelompok kaum yang shalih dari kalangan sahabat dan selain sahabat hanya untuk mencapai kekayaan duniawi.” [Ta’lîq as-Saqqof terhadap kitab Daf’u Syubahit Tasybîh hal. 237.]

Diantara pencela sahabat Mu’âwiyah dari kalangan kontemporer lainnya adalah, Syaikh Taqîyuddîn an-Nabhânî rahimahullâhu, pendiri harokah (pergerakan) internasional, Hizbut Tahrîr (Partai Pembebasan/Liberation Party). Beliau bahkan meragukan status sahabat Mu’âwiyah, agar sifat ‘adâlah (kredibilitas) Mu’âwiyah dapat dilunturkan dengan mudah sehingga mudah untuk dicela.Syaikh Taqîyuddîn an-Nabhânî ghofarollahu lahu wa lanâ berkata

:معاوية بن أبي سفيان رأى الرسول واجتمع به, وكل من رأى الرسول واجتمع به فهو صحابي, فالنتيجة أن معاوية بن أبي سفيان صحابي, وهذه النتيجة خطأ, فليس كل من رأى الرسول واجتمع به صحابي, وإلا لكان أبو لهب صحابياً“
Mu’âwiyah bin Abî Sufyân berjumpa dan berkumpul dengan Nabî, sedangkan setiap orang yang berjumpa dan berkumpul bersama nabî adalah sahabat, sehingga konklusinya Mu’âwiyah bin Abî Sufyân adalah seorang sahabat. Konklusi ini salah, karena tidak setiap orang yang melihat dan berkumpul dengan Nabî otomatis adalah seorang sahabat. Jika demikian keadaannya maka tentulah Abū Lahab bisa dikatakan sebagai Sahabat.” [asy-Syakhshiyah al-Islâmîyah Juz I hal. 43].

Pendapat Syaikh an-Nabhânî ini ditegaskan kembali oleh pengikut Hizbut Tahrir, sebagaimana dikatakan oleh penulis kitab “al-Mulif al-Fikrî” (hal. 148)

:الصحابي وكل من تتحقق فيه معنى الصحبة, وفُسِّر بأنه إذا صحب النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ سنة أو سنتين, وغزا معه غزوة أو غزوتين, ومعاوية أسلم وعمره 13 سنة, ولم يرد أنه ذهب إلى المدينة وسكن فيها في حياة الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ وصاحَبَه, والرسول مكث في مكة مدة قصيرة لا تتحقق فيها معنى الصحبة, وعليه فمعاوية ليس صحابياً“

Sahabat dan setiap orang yang terpenuhi padanya definisi sahabat, telah dijelaskan (bahwa ia disebut sebagai sahabat) apabila ia menyertai Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam selama setahun atau dua tahun dan turut serta di dalam satu atau dua peperangan. Sedangkan Mu’âwiyah, ia masuk Islâm dan usianya masih 13 tahun. Tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa ia pergi dan tinggal di Madinah pada masa Rasul Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam masih hidup dan menyertai beliau. Rasulullah tinggal di Makkah selama beberapa waktu yang singkat yang tidak memenuhi lamanya Mu’âwiyah masuk dalam definisi sahabat, karena itulah Mu’âwiyah bukanlah seorang sahabat.”

Akhirnya, dengan mencopot status sahabat Mu’âwiyah, maka sah-sah saja mencela (jarh) dan menghujat (tho’n) Mu’âwiyah, serta menuduhnya dengan berbagai tuduhan keji. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Muhammad asy-Syuwaikî, mantan anggota Hizbut Tahrir di dalam buku beliau, “ash-Showâ`iq al-Hâwiyah” (hal. 37), beliau berkata

:ثم إن نفيهم ـ أي حزب التحرير ـ لصحبة معاوية جعلهم يتطاولون عليه ويجرحونه, فقد جاء في كتاب “نظام الحكم في الإسلام” وهو من منشورات حزب التحرير الطبعة الثانية 1374هـ ـ 1953م والثالثة 1410هـ ـ 1990م والطبعة الرابعة 1417هـ ـ 1996م والطبعة السادسة وأظنها الخامسة لكنهم أخطأوا ربما في الطباعة وهي مؤرخة 1422هـ ـ 2002م وكل هذه الطبعات ذكرت معاوية وتهجمت عليه منذ خمسين عاماً, وذلك في باب (ولاية العهد من الكتاب المذكور), فقالوا عنه: إنه ابتدع منكراً, وإنه يحتال على النصوص الشرعية, وإنه يتعمد مخالفة الإسلام, وإنه لا يتقيد بالإسلام, وإن طريقة اجتهاده على أساس المنفعة لا على أساس الإسلام.“

Sesungguhnya penafian Hizbut Tahrir terhadap status sahabat Mu’âwiyah, menyebabkan mereka dapat mendiskreditkan dan mencela Mu’âwiyah. Di dalam buku “Nizhâmul Hukmi fîl Islâm” yang termasuk publikasi Hizbut Tahrir pada cetakan ke-2 (th. 1374/1953), ke-3 (th. 1410/1990), ke-4 (th. 1417/1996) dan cetakan ke-6 yang saya kira sebenarnya adalah cetakan ke-5 (th. 1422/2002), mungkin salah cetak. Seluruh cetakan buku ini menyebut Mu’âwiyah dan mendiskreditkan beliau semenjak 50 tahun lalu. Hal ini terdapat di dalam Bab “Wilâyatul Ahdi minal Kitâbil Madzkūr”, dimana mereka mengatakan bahwa Mu’âwiyah telah mengada-adakan suatu kemungkaran dan melakukan penipuan terhadap nash-nash syariat. Beliau bersandar kepada sesuatu yang menyelisihi Islâm dan tidak mengikat diri dengan Islâm, serta metode ijtihadnya berdiri di atas landasan keuntungan semata bukan di atas landasan Islâm.”

Demikian pula di dalam buku “al-Kurôsah” atau “Izâlatul Utrubah”, karya para pemuda (Syabâb) Hizbut Tahrir, mereka menuduh Mu’âwiyah bahwa beliau telah melakukan kelicikan dan pengkhianatan, serta mencuri kekuasaan. Hal ini terdapat di dalam bab “Mughtashob as-Sulthah.”Dengan mengeluarkan status Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai sahabat, mereka dapat dengan mudah menjarh dan mencela Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, bersamaan dengan itu mereka berkilah : “Kami tidak pernah mencela Sahabat karena seluruh sahabat adalah adil (kredibel), sedangkan Mu’awiyah bukanlah seorang sahabat.”

Sebagai pembelaan terhadap sahabat nabi dan sebagai bentuk nasihat dan amar ma’rūf nahî munkar, maka saya turunkan tanggapan dan jawaban atas pendapat Hizbut Tahrir di atas. Sesungguhnya apa yang saya paparkan di sini adalah sebagai nasehat bagi saudara-saudaraku Hizbut Tahrir agar mereka mau rujuk kembali kepada al-Haq, dan meninggalkan pendapat yang lemah lagi tertolak. Saya menurunkan artikel ini bukan untuk menghujat ataupun mencela, namun murni sebagai nasehat kepada sesama muslim. Maka apabila nasehatku ini benar, terimalah. Dan apabila nasehatku ini salah, buanglah jauh-jauh.

Untuk itu, dengan bertawassul kepada Allôh dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang mulia, saya katakan :

Pertama : Definisi Sahabat Yang Tepat

Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhânî rahimahullâhu memiliki pendapat tentang definisi sahabat yang tidak mu’tamad (dapat dijadikan sandaran) lagi mu’tabar (diakui). Pendapat beliau ini menyelisihi apa yang diperpegangi oleh jumhur ulama ahlus sunnah.

Imâm an-Nawawî rahimahullâhu berkata :فأما الصحابي فكل مسلم رأى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولو لحظة. هذا هو الصحيح في حده وهو مذهب أحمد بن حنبل وأبي عبد الله البخاري في صحيحه والمحدثين كافة“Sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam walaupun hanya sekilas. Pendapat inilah yang benar mengenai batasan (seseorang dikatakan sebagai) sahabat dan inilah madzhab yang dipegang oleh Ahmad bin Hanbal dan Abū ‘Abdillâh al-Bukhârî di dalam Shahîh-nya serta seluruh ulama ahli hadits.” (Syarhul Muslim 1/35)

Beliau rahimahullâhu juga berkata :إن الصحيح الذي عليه الجمهور, أن كل مسلم رأى النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولو ساعة فهو من أصحابه“Sesungguhnya yang benar adalah pendapat jumhur, yaitu seluruh muslim yang melihat Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam walaupun hanya sesaat, maka ia termasuk sahabat beliau.” (ibid : 16:85)

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullâhu berkata :الصحابي: من رأى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ في حال إسلام الرائي, وإن لم تطل صحبته له, وإن لم يروِ عنه شيئاً. هذا قول جمهور العلماء, خلفاً وسلفاً“

Sahabat adalah orang yang melihat Rasulullah Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dalam keadaan Islâm ketika melihatnya, walaupun tidak lama dan tidak meriwayatkan satu haditspun dari beliau. Dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama, baik kholaf (kontemporer) maupun salaf (terdahulu). (al-Bâ’its al-Hatsîts : II/491).

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Aqsolânî rahimahullâhu berkata :أصح ما وقفت عليه من ذلك أن الصحابي من لقي النبي ـ صلى الله عليه وآله وسلم ـ مؤمناً به ومات على الإسلام, فيدخل فيمن لقيه من طالت مجالسته أو قصرت, ومن روى عنه أو لم يروِ, ومن غزا معه أو لم يغزُ, ومن رآه رؤية ولو لم يجالسه, ومن لم يره لعارض كالعمى,….ثم قال: وهذا التعريف مبني على الأصح المختار عند المحققين, كالبخاري, وشيخه أحمد بن حنبل, ومن تبعهما, ووراء ذلك أقوال أخرى شاذة“

Yang paling benar sejauh penelitian saya tentang hal ini adalah, sahabat adalah orang yang menjumpai Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dalam keadaan mengimani beliau dan wafat dalam keadaan Islâm. Termasuk sahabat adalah orang yang menjumpai beliau, baik dalam waktu yang lama maupun singkat, baik meriwayatkan (hadits) dari beliau maupun tidak meriwayatkan, baik yang turut berperang beserta beliau maupun yang tidak, orang yang melihat beliau walaupun belum pernah menemani beliau, dan orang yang tidak melihat beliau disebabkan sesuatu hal seperti buta…” Kemudian al-Hâfizh melanjutkan perkataannya : “Definisi ini dibangun di atas pendapat yang paling benar dan terpilih menurut para ulama peneliti (muhaqqiqîn), semisal al-Bukhârî dan guru beliau, Ahmad bin Hanbal, dan yang meneladani mereka berdua. Adapun pendapat selain ini merupakan pendapat yang ganjil (syâdzah).”

Ibnu Katsîr rahimahullâhu berkata :وتعرف صحبة الصحابة تارة بالتواتر, وتارة بأخبار مستفيضة, وتارةً بشهادة غيره من الصحابة له, وتارةً بروايته عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ سماعاً أو مشاهدةً مع المعاصرة“

Status sahabat dapat diketahui acap kali dengan (berita) yang mutawatir, atau berita yang mustafîdhah (banyak namun di bawah derajat mutawatir), atau dengan kesaksian sahabat yang lain, atau bisa juga dengan meriwayatkan hadits Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, baik secara simâ’ (mendengar) ataupun menyaksikan, selama satu zaman (dengan Nabi).” (al-Ba’îts al-Hatsîts II/491).

Dari definisi di atas, dapat kita ketahui dengan jelas bahwa Mu’awiyah adalah termasuk sahabat Nabi. Sebab, bukan hanya berjumpa dan melihat Rasulullah, beliau juga meriwayatkan hadits dari Nabi saw dan sebagian sahabat meriwayatkan dari beliau ra.

Kedua : Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu adalah Sahabat

Setelah kita menyimak tentang batasan yang tepat dan terpilih tentang definisi sahabat. Mari kita menelaah bersama, apakah Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat atau bukan.Sebagai hujjah utama dan pertama, saya turunkan kesaksian Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri dalam dua haditsnya yang mulia.

Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :” اللهم اجعله هادياً مهدياً واهده واهد به . يعني معاوية “. أخرجه أحمد والترمذي وصححه الألباني في (السلسلة الصحيحة/1969)

“Ya Alloh, jadikanlah Mu’awiyah sebagai pembawa petunjuk yang memberikan petunjuk. Berikanlah petunjuk padanya dan petunjuk (bagi umat) dengan keberadaannya.” (HR Ahmad dan Turmudzi. Dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah : 1969)

Apakah mungkin Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan tidak kepada sahabatnya? Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :” اللهم علم معاوية الكتاب والحساب وقه العذاب “. أخرجه أحمد وصححه الألباني في (السلسلة الصحيحة/ 3227)

“Ya Alloh, anugerahkanlah kepada Mu’awiyah ilmu al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hisab (ilmu hitung) serta jauhkanlah beliau dari adzab.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah : 3227).

Kepada siapakah Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan jika tidak kepada sahabatnya? Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang senada dan semakna. Dari dua hadits di atas, dapat kita tarik kesimpulan dengan tegas dan terang bahwa Mu’awiyah bin Sufyan Radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi. Sebab, tatkala Nabi saw berkata demikian, hal ini menunjukkan bahwa Mu’awiyah hidup di zaman Rasulullah, bertemu dengan beliau dan mengimani beliau. Lantas, tidakkah ini menunjukkan bahwa Mu’awiyah ra adalah seorang sahabat Nabi yang mulia?!

Ketiga : Kesaksian Siapakah Yang Lebih Diterima?

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rhm beserta murid dan simpatisannya beranggapan bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan bukanlah seorang sahabat. Sedangkan para Imam Ahlis Sunnah, seperti Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab, Ibnul Atsir dalam Usudul Ghabah fi Ma’rifatish Shahabah, ad-Dzahabi dalam Siyaru ‘Alamin Nubala’ , Ibnu Sa’d dalam ath-Thobaqotul Kubra, al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikhul Baghdad, Abu Nu’aim dalam Ma’rifati ash-Shahabah dan selain mereka, seperti al-Bukhari, ath-Thabari, Ibnu Qutaibah, Ibnul Jauzi, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Hibban, Syaikhul Islam, Ibnu Katsir, Ibnul ‘Imad, as-Suyuthi dan selain mereka, semuanya mengakui bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra adalah salah seorang sahabat nabi yang mulia.

Al-Hafizh al-‘Alla`i rhm berkata dalam kitabnya Tahqiqu Munif ar-Rutbah (hal. 105) :“وكذلك روى أيضاً عن معاوية جريرُ بن عبد الله البجلي، وأبو سعيد الخدري, وعبد الله بن عمرو بن العاص، وعبد الله بن الزبير، ومعاوية بن خَديج، والسائب بن يزيد، وجماعة غيرهم من الصحابة ـ رضي الله تعالى عنهم ـ

.“Demikian pula, para sahabat juga meriwayatkan dari Mu’awiyah seperti : Mu’awiyah Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali, Abu Sa’id al-Khudri, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dan sejumlah sahabat lainnya –semoga Alloh meridhai mereka semuanya-…”

Kesaksian al-‘Alla`i di atas menjelaskan bahwa para sahabat sendiri meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lantas bagaimana bisa beliau dikatakan bukan sebagai seorang sahabat Nabi saw.

Karena itulah Imam Muhammad bin Sirin rhm berkata :كان معاوية رضي الله عنه لا يتهم في الحديث عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ“Mu’awiyah ra tidaklah tertuduh di dalam haditsnya dari Nabi saw.”Sa’id bin Ya’qub ath-Tholiqoni berkata : Saya mendengar ‘Abdullah bin Mubarak berkata :تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز.“Debu di dalam hidung Mu’awiyah, lebih mulia dibandingkan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz.”سئل المعافى بن عمران: أيهما أفضل معاوية أو عمر بن عبد العزيز؟ فغضب, وقال للسائل: أتجعل رجلاً من الصحابة مثل رجل من التابعين؛ معاوية صاحبه وصهره وكاتبه وأمينه على وحي اللهAl-Mu’afi bin ‘Imran ditanya : “Manakah yang lebih mulia, Mu’awiyah ataukah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz?” Lantas al-Mu’afi pun marah dan berkata kepada sang penanya, “Apakah engkau hendak menjadikan salah seorang sahabat nabi sama seperti tabi’in. Mu’awiyah adalah sahabat, ipar, penulis wahyu dan kepercayaan Nabi saw.” [Lihat al-Bidayah wan Nihayah VIII/140]

Demikianlah kesaksian para imam dan ulama ahlus sunnah, lantas kesaksian siapakah yang lebih utama untuk diterima dan diambil?!!Keempat :

Menjawab Tuduhan dan Syubuhat Hizbut Tahrir –semoga Alloh memberikan hidayah-Nya kepada mereka, kita dan seluruh kaum muslimin-, berdalih dengan atsar Ibnul Musayyib rhm yang berpendapat bahwa status sahabat diperoleh jika ia mengikuti minimal satu atau dua peperangan bersama nabi dan hidup bersama nabi minimal satu atau dua tahun. Sedangkan Mu’âwiyah, ia masuk Islâm dan usianya masih 13 tahun. Tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa ia pergi dan tinggal di Madinah pada masa Rasul Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam masih hidup dan menyertai beliau. Rasulullah tinggal di Makkah selama beberapa waktu yang singkat yang tidak memenuhi lamanya Mu’âwiyah masuk dalam definisi sahabat, karena itulah Mu’âwiyah bukanlah seorang sahabat. Demikian pernyataan penulis al-Mulif al-Fikri hal. 148.
 
Saya jawab :-

Persyaratan definisi sahabat telah terhimpun pada Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Sebagaimana telah saya turunkan penjelasannya di atas. Bahwa beliau bertemu dengan Nabi saw dan beriman kepadanya, serta wafat dalam keadaan Islam. Dan inilah pendapat terpilih tentang definisi sahabat. Bahkan Rasulullah saw sendiri memuji dan mendoakan kebaikan untuk beliau, dan para sahabat mengambil riwayat beliau serta para ulama ahlus sunnah terdahulu menyaksikan keutamaan dan status sahabat beliau.- Taruhlah riwayat Ibnul Musayyib rhm yang dibawakan oleh HT adalah shahih dan maqbul. Hal ini tidak menafikan status sahabat Mu’awiyah, bahkan menegaskan akan status sahabat beliau ra.

Nabi saw melakukan peperangan sekurang-kurangnya tiga kali pasca Fathu Makkah, yaitu : perang Hunain, Tha`if dan Tabuk. Ketika itu Mu’awiyah telah masuk Islam dan tentu saja beliau mengikuti ketiga peperangan ini. Nabi juga hidup setelah Fathu Makkah lebih dari dua tahun, dan telah dimaklumi pula bahwa Mu’awiyah telah masuk Islam saat itu, sehingga beliau telah menemani Nabi lebih dari dua tahun, apalagi beliau merupakan salah seorang kepercayaan Nabi dan penulis wahyu beliau saw.- Realitinya, atsar dari Ibnul Musayyib itu tidak shahih baik secara sanad dan matan.

Berikut ini penjelasan para imam ahli hadits tentangnya.Imam Nawawi rhm berkata dalam at-Taqrib :وعن سعيد بن المسيب أنه لا يعد صحابياً إلا من أقام مع رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ سنة أو سنتين, أو غزا معه غزوة أو غزوتين, فإن صحَّ عنه فضعيفٌ, فإن مقتضاه أن لا يُعَدَّ جرير البجليُّ وشِبهُه صحابياً, ولا خلاف أنهم صحابة“

Riwayat dari Sa’id bin al-Musayyib bahwa beliau tidak menganggap seseorang sebagai sahabat kecuali hidup bersama nabi saw satu atau dua tahun atau turut berperang beserta beliau dalam satu atau dua peperangan, sekiranya riwayat ini shahih darinya, maka riwayat ini dha’if (lemah matannya). Karena konsekuensi pendapat beliau ini akan menyebabkan Jarir al-Bajali dan yang serupa dengannya bukan sebagai seorang sahabat, padahal tidak ada khilaf bahwa beliau adalah sahabat.”

As-Suyuthi juga berpendapat senada ketika men-syarh ucapan Imam Nawawi di atas, dan menyatakan bahwa yang serupa dengan Jarir al-Bajali adalah Wa`il bin Hujr yang telah disepakati atas status sahabatnya, namun tidak terpenuhi dengan syarat riwayat dari Ibnul Musayyib di atas.

Imam al-‘Iraqi mengkritik riwayat ini, dan mengatakan : ولا يصح هذا عن ابن المسيب, ففي الإسناد إليه محمد بن عمر الواقدي ضعيف في الحديث

“Tidak shahih riwayat dari Ibnul Musayyib ini, karena di dalam sanadnya ada Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, dia adalah dha’if di dalam hadits.” [Tadribu ar-Rawi hal. 376].

Imam Muslim menyatakan bahwa al-Waqidi adalah Matrukul Hadits (haditsnya ditinggalkan). Imam Syafi’i menyatakan : “Buku-buku al-Waqidi penuh dengan dusta.” Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Al-Waqidi adalah Kadzdzab (pendusta besar.” [lihat lebih lengkap jarh (celaan) para imam dalam as-Siyar karya Imam Dzahabi IX:454-462].

Sungguh amatlah aneh jika kita berpegang pada pendapat yang lemah dan syadz dan meninggalkan pendapat yang kuat dan masyhur. Beberapa Keutamaan Mu’awiyah ra- Beliau adalah Paman Kaum Muslimin. Hal ini oleh sebab saudari beliau, Ummu Habibah, adalah isteri Rasulullah saw.- Beliau adalah salah seorang sahabat yang diisyaratkan Nabi akan berperang di tengah lautan dan akan masuk surga.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw :عن أم حرام قالت: قال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ : ” أول جيش من أمتي يغزون البحر قد أوجبوا”

Dari Umu Haram ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda : “Pasukan pertama dari ummatku yang perang di lautan maka wajib baginya (surga).” [HR Bukhari : 2924]

Ibnu Hajar mengatakan : “Al-Muhallab berkata : “hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’awiyah karena beliaulah orang pertama yang berperang di lautan.” Adapun lafazh “qod aujabu” (maka wajib atasnya) maksudnya adalah : melakukan perbuatan yang wajib atasnya surga.” [al-Fath VI : 120].-

Beliau adalah penulis wahyu dan kepercayaan Rasulullah saw.- Beliau didoakan memperoleh hidayah dan memberikan hidayah.- Beliau didoakan menguasai ilmu fiqh dan ilmu hitung.- Beliau adalah orang yang faqih. (Majalah Adz-Dzakhiirah)