Galakan Untuk Kahwin Mutah Dan Sanggahannya

Dalam urusan nikah mut’ah Syi’ah memiliki banyak keburukan, kekejian, hal-hal yang menjijikkan dan kebodohan terhadap Islam. Mereka mengangkat nilai setiap keburukan dan meninggikan setiap yang kotor. Mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah (berupa zina) atas nama agama dan dusta terhadap para Imam. Mereka membolehkan semua yang mereka mau, mereka membiarkan nafsu tenggelam dalam kelezatan yang menipu dan kemungkaran-kemungkaran. Mut’ah adalah sebaik-baik saksi dan bukti, mereka telah menghiasi mut’ah dengan segala kesucian, keagungan dan keanggunan, hingga mereka menjadikan balasan pelakunya adalah surga -Naudzubillah-, mereka memperbanyak keutamaan-keutamaan mut’ah dan keistimewaannya, seraya menyesatkan -sebagaimana lazimnya- orang-orang yang mereka jadikan sebagai tawanan bagi ucapan-ucapan mereka yang dusta. Di antaranya ialah:

Al-Kasyani dalam tafsirnya, berbohong atas Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda, Telah datang kepadaku Jibril darl sisi Tuhanku, membawa sebuah hadiah. Kepadaku hadiah itu adalah menikmati wanita-wanita mukminah (dengan kawin kontrak). Allah belum pernah memberikan hadiah kepada para nabipun sebelumku, Ketahuilah mut’ah adalah keistimewaan yang dikhususkan oleh Allah untukku, karena keutamaanku melebihi semua para nabi terdahulu. Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dalam umurnya, la menjadi ahli surga. Jika laki-laki dan wanita yang melakukan mut’ah berter di suatu tempat, maka satu malaikat turun kepadanya untuk menjaga hingga mereka berpisah. Apabila mereka bercengkerama maka obrolan mereka adalah berdzikir dan tasbih. Apabila yang satu memegang tangan pasangannya maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bercucuran keluar dari jemari keduanya. Apabila yang satu mencium yang lain maka ditulis pahala mereka setiap ciuman seperti pahala haji dan umrah. Dan ditulis dalam jima’ (persetubuhan) mereka, setiap syahwat dan kelezatan satu kebajikan bagaikan gunung-gunung yang menjulang ke langit. Jika mereka berdua asyik dengan mandi dan air berjatuhan, maka Allah menciptakan dengan setiap tetesan itu satu malaikat yang bertasbih dan menyucikan Allah, sedang pahala tasbih dan taqdisnya ditulis untuk keduanya hingga hari Kiamat.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani)

Mereka juga berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka telah bersabda: “Mut’ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut’ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut’ah adalah kafir murtad.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356)

Mereka juga berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda: “’Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dimerdekakan sepertiganya dari api neraka, yang mut’ah dua kali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan yang melakukan mut’ah tiga kali dimerdekakan dirinya dari neraka.”

Mereka menambah tingkat kejahatan dn kesesatan merea dengan meriwayatkan atas nama Rasulullah Shallallhu‘alihi wasallam: “Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita Mukminah, maka seoloh-olah dia telah berziarah ke Ka’bah (berhaji sebanyak 70 kali).(‘Ujalah Hasanah Tarjamah Risalah Al Mut’ah oleh Al-Majlisi Hal.16).

Mut’ah, Rukun, Syarat dan Hukumnya

Fathullah Al-Kasyani menukil di dalam tafsirnya sebagai berikut, “Supaya diketahui bahwa rukun akad mut’ah itu ada lima: Suami, istri, mahar, pembatasan waktu (Taukit) dan shighat ijab qabul.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.357)

Dia menjelaskan, “Bilangan pasangan mut’ah itu tidak terbatas, dan pasangan laki-laki tidak berkewajiban memberi nama, tempat tinggal, dan sandang serta tidak saling mewarisi antara suami-istri dan dua pasangan mut’ah ini. Semua ini hanya ada dalam akad nikah yang langgeng,” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.352)

 

Syarat-syarat Mut’ah

  1. Perkawinan ini cukup dengan akad (teransaksi) antara dua orang yang ingin bersenang-senang (mut’ah) tanpa ada para saksi!
  2. Laki-laki terbebas dari beban nafkah!
  3. Boleh bersenang-senang (tamattu’) dengan para wanita tanpa bilangan tertentu, sekalipun dengan seribu wanita!
  4. Istri atau pasangan wanita tidak memiliki hak waris!
  5. Tidak disyaratkan adanya ijin bapak atau wali perempuan!
  6. Lamanya kontrak kawin mut’ah bisa beberapa detik saja atau lebih dari itu!
  7. Wanita yang dinikmati (dimut’ah) statusnya sama dengan wanita sewaan atau budak!

Abu Ja’far Ath-Thusi menukil bahwa Abu Abdillah Alaihis-Salam (Imam mereka yang di anggap suci) ditanya tentang mut’ah apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Tidak, juga tidak hanya tujuh puluh.”

Sebagaimana dia juga pernah ditanya apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Kawinlah (secara mut’ah) dengan seribu orang dari mereka karena mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada waris dia hanya wanita sewaan.”(At-Tahdzif oleh Abu Ja’far Aht-Thusi, Juz III/188)

Mereka menisbatkan kepada imam keenam. yang ma’shum dia bersabda, “Tidak mengapa mengawini gadis jika dia rela tanpa ijin bapaknya.” (At-Tahdzif Al-Ahkam juz VII/256)

Mereka menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq, dia ditanya, “Apa yang harus, saya katakan jika saya telah berduaan dengannya?” Dia berkata, engkau cukup mengatakan ,aku mengawinimu secara mut’ah (untuk bersenang-senang saja) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, tidak ada yang mewarisi dan tidak ada yang diwarisi, selama sekian! hari.Jika kamu mau, sekian tahun, Dan kamu sebutkan upahnya, sesuatu yang kalian sepakati sedikit atau banyak.(Al-Furu’ Min Al Kafi Juz V/455)

Demikianlah kawin mut’ah dalam agama Syi’ah yang dengannya mereka menipu orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang yang awam, seraya menyihir mata mereka dengan berbagai macam atraksi sulap dan sihir serta, mengada-ada ucapan dusta, atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Bantahan terhadap Kebolehan Mut’ah

Sesungguhnya nikah mut’ah pernah dibolehkan pada awal Islam untuk kebutuhan dan darurat waktu itu kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengharamkannya untuk selama-lamanya hingga hari Kiamat. Beliau malah mengharamkan dua kali, pertama pada waktu Perang Khaibar tahun 7 H, dan yang kedua pada Fathu Makkah, tahun 8 H.

Mereka [Syi’ah sendiri] meriwayatkan bahwa Ali berkata, “Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengharamkan pada Perang Khaibar daging himar jinak dan nikah mut’ah.” (At-Tahdzif Juz II/186) Riwayat inipun terdapat dalam sahih Bukhari. Maka semakin jelas tentang agama mereka yang dibangun atas dasar rekayasa, ucapan mereka bertentangan satu sama lain. Maka kami membantah kalian wahai Syi’ah !!, dengan kitab-kitab kalian sendiri.

Ini adalah salah satu sebab yang membuat mereka berakidah taqiyah (berbohong). Padahal perlu diketahui bahwa dalam agama Syi’ah tidak boleh melakukan taqiyah dalam mut’ah, la taqiyyata fi al-mut’ah (tidak ada taqiyah dalam mut’ah).

Ali, Umar dan Ibnu Abbas Berlepas Diri

Kemudian, Umar tidak pernah mengatakan, “Mut’ah halal pada zaman Nabi dan saya melarangnya!” Tetapi mut’ah dulu halal dan kini Umar menegaskan dan menegakkan hukum keharamannya. Yang demikian itu karena masih ada orang yang melakukannya. Adapun dia mengisyaratkan bahwa dulu memang pernah halal, ya, akan tetapi beberapa waktu setelah itu diharamkan. Di antara yang menguatkan lagi adalah pelarangan ‘Ali ketika menjadi khalifah.

Syi’ah tidak memiliki bukti dari Salaf Shalih kecuali dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, akan tetapi Ibnu abbas sendiri telah rujuk dan mencabut kembali kebolehannya kembali kepada pengharamannya, ketika di mengetahui larangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia (Ibnu Abbas) telah berkata : “Sesungguhnya hal ini perlu saya jelaskan agar sebagian Syi’ah Rafidhoh tidak berhasil mengelabui sebagian kaum Muslimin.” (Sunan Al-Baihaqi 318 100 ; muhammad Al-Ahdal, hal. 251-252)

Sebagaimana kitab Syi’ah sendiri menyebutkan keharamannya, dan Imam Syi’ah ke-enam [yang diangap suci dari kesalahan] telah berkata kepada sebagian sahabatnya : “Telah aku haramkan mut’ah atas kalian berdua” (Al-Furu’ min Al-Kafi 2 48).

Adapun dalil mereka dengan sebagian hadits-hadits yang ada pada kitab Shahih Ahlussunnah maka hadits-hadits tersebut telah dinasakh [dihapus hukumnya]. Hal ini menjadi jelas dari hadits-hadits yang datang mengharamkan setelahnya. Di antara yang menunjukkan mut’ah bukan nikah adalah mereka [syi’ah] memandang bahwa mut’ah boleh dengan berapa saja sekalipun seribu wanita. Ini adalah menyalahi Syari’at yang hanya membolehkan [paling banyak] empat wanita.

Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi * –  “Asy-Syi’ah minhum ‘alaihim”

____________________________________

* SYAIKH MAMDUH BIN FARHAN AL-BUHAIRINama lengkap:
Abu Maria Mamduh ibn Muhammad ibn Ali Farhan al-Buhairi
Tempat tanggal lahir:
Makkah al-Mukarramah, 10/8/1387 H
Nasab:
Bersambung ke suku Khazraj al-Anshariyyah
Status:
Berkeluarga, baru dikarunia 2 anak putri

Pendidikan formal:
Seluruh jenjang pendidikannya ditempuh di Makkah hingga tamat dari Ma’had al-Haram al-Makki as-Syarif

Pendidikan non formal:
Mulazamah pada Syaikh Ibn Bazz dan Syaikh Ibn Utsaimin saat beliau berdua berada di Makkah al-Mukarramah
Belajar pada para ulama di Masjidil Haram
Aktifitas:

  1. Direktur perhimpunan Muslim Muallaf dunia
  2. Anggota di banyak lembaga islam
  3. Bekerja di bidang dakwah di banyak Negara Islam
  4. Penulis kitab-kitab Islamiyyah terutama bidang dakwah
  5. Komisaris majalah Qiblati
  6. Konsultan dalam masalah keluarga di majalah Qiblati

Karya tulis dalam bentuk kitab:

  1. Asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim (telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul GEN Syi’ah, Sejarah konspirasi Yahudi dan Penyimpangan Aqidah Syi’ah, Dar al-Falah, Jakarta, 2002)
  2. Imathathul-Litsam wa Kabhul-Awham (terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Kuburan agung, Darul Haq, jakarta, 2005
  3. Khushumul Qur`an atau ar-Rass ala Syubuhatil Qur`an (telah diterjemahkan dan belum diterjemahkan. Beberapa bagiannya telah dimuat di rubrik Koreksi dalam majalah Qiblati)
  4. Al-Hadharah al-Islamiyyah
  5. Haqiqatul Kitab al-Muqaddas
  6. dll.

Agama Syiah : Mut’ah

Mut’ah atau Zuwaaj Muaggot itu yang dimaksud adalah kawin kontrak. Waktunya terserah perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak. Boleh satu tahun, boleh satu bulan, boleh satu hari, boleh satu jam dan boleh sekali main. Sedang batas wanita yang di Mut’ah terserah si laki-laki, boleh berapa saja, terserah kekuatan dan minat si laki-laki. Mereka tidak saling mewarisi bila salah satu pelakunya mati, meskipun masih dalam waktu yang disepakati. Juga tidak wajib memberi nafkah (belanja) dan tidak wajib memberi tempat tinggal.

Mut’ah dilakukan tanpa wali dan tanpa saksi, begitu pula tanpa talaq, tetapi habis begitu saja pada akhir waktu yang disepakati. Pelakunya boleh perjaka atau duda, bahkan yang sudah punya istri. Sedang si wanita boleh masih perawan atau sudah janda, bahkan menurut fatwa khumaini seseorang boleh melakukan Mut’ah sekalipun dengan WTS. Adapun tempatnya boleh dimana saja, baik di dalam rumah sendiri maupun di luar rumah.

Apa hukumnya MUT’AH ?

Ahlus Sunnah Waljamaah sepakat bahwa Mut’ah hukumnya haram. Dan diantara perawi haramnya Mut’ah adalah Al-Imam Ali kw.

Oleh karena itu di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Khalifah-khalifah sebelumnya dan sesudahnya Mut’ah hukumnya haram.

Memang di Zaman Rasulullah SAW, diwaktu peperangan yang memakan waktu yang lama, dengan maksud menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Mut’ah pernah diperbolehkan, tetapi kemudian diharamkan

oleh Rasulullah SAW, setelah mendapat perintah dari Allah SWT.

Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda yg artinya :

“Wahai manusia sesungguhnya aku pernah membolehkan bagi kalian bersenang-senang dengan wanita (Mut’ah), maka ketahuilah bahwa Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Barang siapa masih memilikinya, hendaknya dilepaskan dan jangan kalian ambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan.”

Itulah sebabnya umat Islam tidak ada yang melakukan Mut’ah, sebab hukumnya sama dengan berzina.

Dalam hal ini Imam Ja’far Ash-Shadiq mengatakan :

Mut’ah itu sama dengan zina.”

(Al-Baihaqi)

Sebenarnya hampir semua aliran Syiah juga mengharamkan Mut’ah, terkecuali aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah saja yang memperbolehkan Mut’ah. Jadi golongan Syiah sendiri tidak sepakat dalam menghalalkan Mut’ah dan hanya satu aliran saja yang memperbolehkan Mut’ah, yaitu Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah atau Syiahnya Khumaini.

Sebagai contoh, Syi’ah zaidiyah mengharamkan Mut’ah, demikian juga Syi’ah Ismailiyah, mereka juga mengharamkan Mut’ah dan hanya Syi’ah Khomaini saja yang menghalalkan Mut’ah. Memang Syi’ah Imamiyah Itsnaasyariyah itu paling sesat diantara aliran-aliran Syi’ah yang lain.

Menurut ulama-ulama Syi’ah, bahwa yang mengharamkan Mut’ah adalah Kholifah Umar, benarkah?

Itulah orang-orang  Syi’ah, mereka memang ahli dalam membuat hadist-hadist palsu dan ahli dalam membuat cerita-cerita guna menunjang dan menguatkan ajaran-ajaran mereka. Tetapi mereka tidak memikiran akibat dari cerita-cerita palsu mereka. Karena cerita-cerita semacam itu akan mempunyai resiko dan konsekwensi yang sangat besar.

Rasulullah saw pernah bersabda :

“Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”

Dengan demikian berarti Khalifah Umar telah kafir, karena dia telah mengharamkan Mut’ah yang halal (Khasya). Itulah tujuan ulama-ulama Syi’ah, mereka selalu membuat cerita-cerita palsu guna mendiskriditkan Kholifah Umar.

Tidakkah orang-orang Syi’ah itu tahu bahwa cerita-cerita semacam itu mempunyai resiko dan konsekwensi yang sangat besar dan berbahaya. Sebab bila Khalifah Umar merubah hukum Allah sampai membuatnya kafir, lalu dimanakah Imam Ali pada saat itu, padahal beliau dikenal sebagai penasehat Kholifah Umar, mengapa beliau berdiam diri dan tidak mengambil tindakan, bahkan setuju dan mengikuti serta melaksanakan hukum tersebut. Tidakkah ulama-ulama Syi’ah itu tahu bahwa : “ARRIDHO BILKUFRI KUFRON “.

Kemudian bila Kholifah Umar itu kafir, mengapa beliau diambil menjadi menantu Imam Ali, sampai mempunyai dua anak. Apakah ulama-ulama tersebut juga termasuk ulama-ulama Syi’ah yang berkata, bahwa yang di nikahi Kholifah Umar itu bukan Ummu Kulsum putri Imam Ali, tapi jin yang menyerupai Ummu Kulsum ?

Kemudian apabila Kholifah Umar itu kafir, bagaimana Imam Ali kok diam dan menyetujui Kholifah Umar dimakamkan di sebelah atau seruangan bersama Rasulullah saw.

Selanjutnya, disamping Imam Ali, para sahabat juga menjadi korban dari cerita-cerita tersebut dan mereka juga  akan terkena sangsi. Sebab mereka juga menyetujui tindakan Kholifah Umar yang telah mengharamkan Mut’ah tersebut dan para sahabat itu tetap sholat (Mak’mum) di belakang Kholifah Umar.

Memang itulah diantara tujuan orang-orang Syi’ah, mereka benar-benar benci kepada para sahabat. Oleh karena itu mereka mengatakan bahwa para sahabat setelah Rasulullah saw wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja (Al-Kaafi).

Mana yang lebih besar dosanya, berzina apa melakukan Mut’ah?

Berzina adalah suatu perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Karenanya orang yang telah melakukan Zina, dia akan merasa bersalah dan kemudian bertaubat, sebab dia merasa telah melanggar larangan Allah. Adapun orang yang melakukan Mut’ah, pertama dia mendapat dosa seperti dosanya orang yang melakukan perbuatan Zina. Kemudian jika dia menganggap Mut’ah itu halal, padahal Allah melalui RasulNya sudah mengharamkan Mut’ah, maka disamping dia mendapat dosanya orang yang berzina, dia juga mendapat dosa yang sangat besar, yaitu dosanya orang yang merubah hukum Allah, sesuatu yang haram dia halalkan.

Mengenai orang yang suka menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, Rasulullah saw pernah bersabda :

Barang siapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”

Dengan demikian jelas sekali bahwa melakukan Mut’ah dosanya lebih besar daripada berzina.

Tidak cukup menghalalkan Mut’ah, ulama-ulama Syi’ah Imammiyah Itsnaasyariyyah itu bahkan memberi kedudukan tinggi sederajat dengan Rasululllah saw, bagi orang-orang yang melakukan Mut’ah.

Dibawah ini kami bawakan satu hadist palsu, yang ada dalam kitab syi’ah “ Minhayus Shodiqin” halaman 356, sekaligus sebagai bukti penghinaan orang-orang Syi’ah kepada Rasulullah saw dan Ahlul Bait :

“Barang siapa melakukan Mut’ah sekali, maka derajatnya sama dengan derajat Husin, barang siapa melakukkan Mut’ah dua kali, maka derajatnya sama dengan derajat Hasan, barang siapa yang melakukkan Mut’ah tiga kali, maka derajatnya sama dengan derajat Ali dan barang siapa melakukkan Mut’ah empat kali, maka derajatnya sama dengan derajatku”.

Demikian kekurangajaran ulama-ulama Syi’ah, mereka mengukur derajad Rasulullah saw dan Ahlul Bait dengan perbuatan Mut’ah. Sungguh satu kebiadaban yang tidak ada taranya.

Sumber : http://www.albayyinat.net/

Syiah : Kahwin Mut’ah

Jika kaum muslimin memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka. Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha kalau nikah mut’ah disejajarkan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam. Kenyataan-lah yang akan membuktikan hakekat nikah mut’ah ala Syi’ah Rafidhah.

 

DEFINISI NIKAH MUT’AH
Nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan)

HUKUM NIKAH MUT’AH
Pada awal tegaknya agama Islam, nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah ? di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah ? dan Salamah bin Al- Akwa’ ?:
“Bahwa Rasulullah ? pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)
Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)
Dan beliau ? bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ? telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)
Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr ? dan Umar ?, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1405 karya An- Nawawi)

GAMBARAN NIKAH MUT’AH DI JAMAN RASULULLAH ?
Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi ?, jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat ?.
Gambaran tersebut dapat dirinci sebagai berikut :

1. Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat (HR. Muslim hadits no. 1404)

2. Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tesebut (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404)

3. Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405)

4. Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya (HR. Muslim no. 1406)

NIKAH MUT’AH MENURUT TINJAUAN SYI’AH RAFIDHAH
Dua kesalahan besar telah dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah ketika memberikan tinjauan tentang nikah mut’ah. Dua kesalahan tersebut adalah:

A. Penghalalan Nikah Mut’ah yang Telah Diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya
Bentuk penghalalan mereka nampak dari kedudukan nikah mut’ah itu sendiri di kalangan mereka. Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih dari Ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya nikah mut’ah itu adalah agamaku dan agama pendahuluku. Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah mengamalkan agama kami. Sedangkan barangsiapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan meyakini selain agama kami.”

Di dalam halaman yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah pernah ditanya: “Apakah nikah mut’ah itu memiliki pahala ?” Maka beliau menjawab: “Bila dia mengharapkan wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia membicarakan keutamaan nikah tersebut kecuali Allah tulis baginya satu kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka Allah ampuni dosanya. Apabila dia telah mandi (dari berjima’ ketika nikah mut’ah, pen) maka Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada rambutnya”.

Bahkan As-Sayyid Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 melecehkan kedudukan para imam mereka sendiri ketika berdusta atas nama Nabi ?, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka derajatnya seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka derajatnya seperti Ali ?, dan barangsiapa melakukannya sebanyak empat kali maka derajatnya seperti aku.”

B. Betapa Keji dan Kotor Gambaran Nikah Mut’ah Ala Syi’ah Rafidhah

1. Akad nikah
Di dalam Al Furu’ Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang: “Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi, pen) bila aku telah berduaan dengannya?” Maka beliau menjawab: “Engkau katakan: Aku menikahimu secara mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan demikian.” Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit maupun banyak.” Apabila wanita tersebut mengatakan: “Ya” berarti dia telah ridha dan halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah Wa Atsaruha Fil-Ishlahil Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)

2. Tanpa disertai wali si wanita
Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)

3. Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)

4. Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan?
Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan:
– wanita Majusi. (Tahdzibul Ahkam 7/254)
– wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i’il Islam hal. 184)
– wanita pelacur. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
– wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)
– wanita sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)
– wanita yang telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
– istrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)
– wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)
– sesama pria yang dikenal dengan homoseks. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 54)

5. Batas usia wanita yang dimut’ah
Diperbolehkan bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan seorang wanita walaupun masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255 dan Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 37)

6. Jumlah wanita yang dimut’ah
Kaum Rafidhah mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau membolehkan seorang pria menikahi walaupun dengan seribu wanita karena wanita-wanita tersebut adalah wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147)

7. Nilai upah
Adapun nilai upah ketika melakukan nikah mut’ah telah diriwayatkan dari Abu Ja’far dan putranya, Ja’far yaitu sebesar satu dirham atau lebih, gandum, makanan pokok, tepung, tepung gandum, atau kurma sebanyak satu telapak tangan. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/457 dan Tahdzibul Ahkam 7/260)

8. Berapa kali seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?
Diijinkan bagi seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berapa kali dia kehendaki. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)

9. Bolehkah seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang lain?
Kaum Syi’ah Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua model:

A. Bila seorang suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri atau budak wanitanya kepada tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia pilih. Dia membolehkan istri atau budak wanitanya tersebut diperlakukan sekehendaknya selama suami tadi bepergian. Alasannya agar istri atau budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di perjalanan!!!

B. Bila seseorang kedatangan tamu maka orang tersebut bisa meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada tamu tersebut untuk diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua dalam rangka memuliakan tamu!!!
(Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 47)

10. Nikah mut’ah hanya berlaku bagi wanita-wanita awam. Adapun wanita-wanita milik para pemimpin (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh dinikahi secara mut’ah. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 37-38)

11. Diperbolehkan seorang pria menikahi seorang wanita bersama ibunya, saudara kandungnya, atau bibinya dalam keadaan pria tadi tidak mengetahui adanya hubungan kekerabatan di antara wanita tadi. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 44)

12. Sebagaimana mereka membolehkan digaulinya seorang wanita oleh sekian orang pria secara bergiliran. Bahkan, dimasa Al-‘Allamah Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang dipersiapkan padanya para wanita dengan didampingi para penjaganya (germo). (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239)

ALI BIN ABI THALIB ? MENENTANG NIKAH MUT’AH
Para pembaca, bila kita renungkan secara seksama hakikat nikah mut’ah ini, maka tidaklah berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ? -yang diklaim oleh kaum Syi’ah Rafidhah sebagai imam mereka- bahwa beliau menentang nikah mut’ah. Beliau ? mengatakan: “Sesungguhnya Nabi ? telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali ?) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadits no. 5119.
Wallahu A’lam Bish Showab.

Sumber : www.assalafy.org

Kahwin Mut’ah Dalam Ajaran Syiah

Muqaddimah

Sebelum kita membincangkan tentang mut’ah yang merupakan salah satu ajaran Syiah, terlebih dahulu kita perlu menyedari bahawa ajaran Syiah itu pada keseluruhannya berpunca daripada tiga sumber iaitu Yahudi, Kristian dan Majusi.

Sebenarnya Syiah merupakan saluran kepada tiga agama tersebut yang tidak mempunyai daya lagi untuk menghadapi Islam secara bersemuka. Kerana itu mereka mengambil satu jalan untuk memesongkan Islam sebagai mana mereka telah memesongkan ajaran Nabi Musa dan Nabi Isa a.s sebelumnya.

Jika Nabi Isa umpamanya mengajarkan bahawa Tuhan hanya satu dan dia sendiri bersama ibunya adalah hamba Tuhan, maka pengkhianat-pengkhiant dari golongan yang mendakwa sebagai pengikut-pengikut Nabi Isa sendiri telah menyelewengkan ajarannya dengan mengatakan bahawa “Isa adalah anak Tuhan dan ia salah satu dari tiga Tuhan”. Maka demikianlah juga jika Rasulullah s.a.w. mengharamkan sesuatu dan melarang umatnya daripada melakukannya maka ada pula pengkhianat-pengkhianat dari umat-nya yang memesongkan ajaran Baginda s.a.w. Dengan mengatakan halal apa yang dikatakan haram oleh Rasulullah saw. Dan membenarkan apa yang dilarang oleh Baginda s.a.w.

Apa  yang berlaku ini telahpun diisyaratkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam satu hadisnya yang bermaksud  :

“Pasti kamu akan mengikuti jalan-jalan orang yang sebelummu  sejengkal demi  sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga   jika mereka memasuki lubang biawak sekalipun pasti kamu  akan menurutinya juga”.  Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksudkan dengan orang sebelum kamu itu, adakah Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah saw. Menjawab,  “Siapa lagi jika tidak mereka”. -hadis riwayat Bukhari.

Bagaimanapun mut’ah dalam Syiah lebih banyak berpunca dari ajaran Majusi yang mengajarkan fahaman “Free Sex”. di kalangan penganut-penganutnya.

Perbicangan yang lebih terperinci akan menyusul kemudian, Insyaallah.

Semua manusia yang masih memiliki fitrah yang suci di dalam jiwanya akan menolak konsep mut’ah ini kerana ia menyentuh soal kemanusiaan namun umat yang paling terhina di kalangan manusia dengan konsep ini ialah umat Islam kerana ajaran ini dikaitkan dengan Islam yang selama ini diketahui dan diakui oleh seluruh manusia di dunia sebagai umat yang memberi penghormatan yang begitu tinggi kepada wanita. Umat inilah juga yang memiliki ajaran yang penuh bertanggungjawab dalam persoalan rumahtangga dan kehidupan berkeluarga.

Dari kalangan manusia maka jenis perempuanlah yang akan lebih tersinggung dengan konsep mut’ah ini kerana ia menjadikan mereka sebagai matabenda yang boleh dilonggok-longgokkan dan disewakan, juga mereka dilayani sebagai hamba sahaya di dalam segala hukum hakamnya.

Syeikhul Azhar, Al Marhum Syeikh Mahmud Syaltut pernah berkata, “Bahawa syariat  yang mengharuskan perempuan berkahwin dalam satu tahun dengan 11 orang lelaki dan mengharuskan pula lelaki berkahwin setiap hari dengan beberapa ramai perempuan tanpa membebankannya dengan bebanan dan tanggungjawab perkahwinan tidak mungkin datangnya dari Allah swt, Tuhan sekelian alam dan tidak juga ia syariat yang memelihara kesucian dan kehormatan manusia.” (Syeikh Mahmud Syaltut, Al Fatana, hal 272-275)

Sementara bekas Mufti Besar Pakistan, Mufti Wali Hasan dalam satu tulisannya pernah menyatakan ; “Syiahlah satu-satunya ajaran di atas muka bumi ini yang menganggap jenayah berbohong dan berzina sebagai sesuatu yang mendatangkan pahala dan menaikkan darjat seseorang.  Sesuatu aliran fahaman biar bagaimana hina  sekalipun seperti Atheisme tetap menganggap bohong dan zina sebagai tingkahlaku yang salah dan tidak berakhlak tetapi Syiah menganggapnya sebagai sebahagian daripada tuntutan Iman dengan menukar nama bohong kepada ‘Taqiyyah’ dan zina kepada “mut’ah”.(Khomeini Aur Syi’iyyat Kia He, hal 5)

Islam mengadakan institusi perkahwinan untuk menjaga keturunan manusia dan kemurnian hidup berkeluarga dalam satu ikatan tanggungjawab tetapi Syiah sebaliknya mahu menghidupkan amalan jahiliyah atas nama Islam dengan mengemukakan syariat mut’ah. Kedudukan mut’ah ini begitu penting dalam ajaran Syiah kerana tidak dikira seseorang itu sebagai Syiah selagi ia tidak menganggap halal amalan mut’ah.

Di sini kita akan mengemukakan riwayat-riwayat dan ajaran-ajaran Syiah berhubung dengan mut’ah dari sumber-sumber rujukannya sendiri.

 

Kedudukan Muta’ah Dalam Ajaran Syiah:

  1. Al Kulaini meriwayatkan dari Jaafar bin Muhammad Al Baqir bahawa beliau berkata, “ Bukan dari kalangan kami orang yang tidak mempercayai raj’ah (kebangkitan semula para Imam sebelum qiamat untuk menghukum orang-orang yang menentang dan memusuhi Ahlul Bait) dan tidak menganggap halal mut’ah kita” (Man Laa Yahdhruhul Faqih jilid  3 hal. 458, Syeikh Abbas Al Qummi-Muntaha Al Amal jilid  2 hal. 34 )
  2. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Sinan dari Jaafar As Shadiq katanya, “Sesungguhnya Allah Tabarakawataala telah mengharamkan bentuk minuman yang memabukkan ke atas Syiah kita dan menggantikannya dengan mut’ah.” (Ibn Bahwaih Al Qummi- Man Laa Yahdhuruhul Faqih j . 3 hal. 467, Al Muurru Almili-Wasaailu As Syiah j. 14 hal. 438 )

 

Keutamaan Dan Fadilat Mut’ah Menurut Syiah:

Untuk menggalakkan amalan mut’ah ini mereka mengadakan sekian banyak hadis-hadis palsu atas nama para Imam mereka yang Duabelas dan atas nama Nabi s.a.w.

  1. Mereka meriwatkan dari Nabi s.a.w. bahawa Baginda saw bersabda, “  Sesiapa yang keluar dari dunia (mati ) dalam keadaan tidak pernah melakukan mut’ah ia akan datang pada hari qiamat dalam keadaan rompong . “ Mulla Fathullah Ka-Syaani – Tafsir Manhaj As Shadiqin  j 2 hal. 489
  2. Ketika Nabi s.a.w. mikraj  ke langit Baginda s.a.w. telah ditemui oleh Jibrail lalu berkata, “ Wahai Muhammad, Allah Tabarakawaataala berkata : Sesungguhnya Aku telah mengampunkan orang yang telah melakukan mut’ah dengan perempuan dari kalangan umatmu . “ (Man Laa Yahdhuruhul Faqih  j . 3 hal. 463. Wasaailu As Syiah j . 14 hal. 442. Biharu Al Anwar  j 100 hal 306.
  3. Bakr bin Muhammad meriwayatkan bahawa beliau pernah bertanya Jaafar as Shadiq tentang mut’ah. Beliau ( Jaafar As Shadiq ) menjawab , “ Sesungguhnya aku benar-benar tidak suka seseorang Muslim itu keluar dari dunia ( mati ) dalam keadaan masih belum dilakukannya sesuatu perbuatan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.  “ ( Man Laa Yahdhuduruhul Faqih j . 3 hal. 463,  Wassailu As Syiah j. 14 hal 442, Qurbul Isnad hal. 21 )
  4. Diriwayatkan dari Soleh bin Uqbah dari ayahnya dari Muhammad Al Baqir katanya , “ Aku berkata kepada Muhammad Al Baqir ; Adakah orang yang melakukan mut’ah itu mendapat pahala? “ Muhammad Al Baqir berkata , “ Ya. Kalau ia melakukan mut’ah dengan niat kerana Allah dan sebagai bantahan terhadap orang yang tidak menerimanya, maka tiada sepatah perkataan pun yang diucapkannya kepada perempuan yang dilakukan mut’ah dengannya melainkan Allah Tabarakawataala menuliskan untuknya satu kebajikan dan tiada dihulurkannya tangannya kepada perempuan itu melainkan ditulis Allah satu kebajikan untuknya. Apabila ia menghampiri perempuan itu  nescaya Allah ampunkan satu dosanya. Apabila ia mandi Allah mengampunkan dosa-dosanya sebanyak bilangan bulu yang dilalui air di atas tubuhnya. “ Maka aku pun berkata (kata ayah Soleh) Sebanyak bulu di tubuh ? “ Muhammad Al Baqir berkata, “ Ya. Sebanyak bilangan bulu di tubuh orang itu.” ( Man Laa Yah dhuruhul Faqih J . 3 hal. 463, Wasaailu As Syiah j . 14, hal. 442, Biharu  Al Anwar j. 100 hal. 306)

 

Bagaimana Mut’ah Boleh Terjadi :

Mut’ah boleh terjadi;

  1. Tanpa wali , saksi dan perisytiharan. ( At Thusi- Tahzibu Al Ahkam jil. 7 hal. 248,   249 , 254 , An Nihayah hal. 489 )
  2. Di mana-mana sahaja di antara seorang lelaki dan seorang perempuan.
  3. Dengan perempuan  Yahudi , Nasrani dan perempuan pelacur sekalipun. (Khomeini-Tahriru Al Wasilah jil. 2 hal. 292 )
  4. Walaupun tidak mengetahui  sama ada perempuan itu bersuami atau tidak. (Tahzibu Al Ahkam jil. 7 hal. 253, An Nihayah hal. 489 )
  5. Dengan perempuan dalam lingkungan umur yang tidak tertipu iaitu 10 tahun.  (Al Istibshar j. 3 hal. 461, Al Furu’ Min Al Kafi jil . 5 hal. 463)
  6. Dengan bayaran mas kahwin yang tidak terlalu besar, hanya memadai dengan segenggam gandum atau segenggam makanan atau buah tamar atau satu dirham bahkan kurang lagi dari satu dirham. ( Al Furu’ Min Al Kafi  jil. 5 hal 457 , Tahzibu Al Ahkam jil. 7 hal. 260 )
  7. Dengan perempuan  tanpa had. Ia tidak terbatas kepada empat orang sahaja tetapi mengikut apa yang mereka riwayatkan dari Jaafar As Shadiq bahawa beliau ada berkata , “ Berkahwinlah dengan mereka secara mut’ah walaupun sampai 1000 orang kerana mereka itu termasuk di antara perempuan sewaan” . ( Al Istibshar j. 3 hal. 461, Tahzibu Al Ahkam j. 7 hal. 259, Wasaailu As Syiah jil, 14 hal, 446, Al Furu ‘ Min Al .Kafi jil. 5 hal. 452 )
  8. Untuk jangkamasa tertentu seperti 2 tahun, 2 bulan, sebulan, seminggu atau  sehari. Sekurang-kurang tempoh bagi  mut’ah itu boleh dilakukan mengikut sebagaimana yang tersebut di dalam riwayat ( Syiah ) dari Ali bin Muhammad Al Jawad ( Imam yang ke -10 di sisi Syiah ) bahawa beliau  pernah ditanya, “ Berapa lamakah sekurang-kurangnya tempoh bagi mut’ah itu boleh dilakukan ?, Adakah harus seseorang melakukan mut’ah dengan syarat sekali persetubuhan ?, “ Ya, tidak mengapa. Tetapi bila selesai (daripada persetubuhan itu) hendaklah ia memalingkan mukanya dan tidak memandang lagi kepada perempuan itu. ( Al Furu’ Min Al Kafi j. 5 hal 460. Tahzibu Al Ahkam jil. 7 hal. 267 )
  9. Dengan seseorang perempuan beberapa kali. Perempuan itu tidak haram kepadaa lelaki yang telah melakukan melakukan mut’ah dengannya walaupun beberapa pada kali yang ke-3 bahkan pada kali yang ke-1000 sekalipun ; Ini tersebut di dalam riwayat Syiah dari Aban bahawa ada orang bertanya Jaafar  As Shadiq tentang bolehkah seseorang melakukan mut’ah dengan sesorang perempuan beberapa  kali ?. Jaafar Al Shadiq menjawab, “ Tidak mengapa, ia boleh melakukan mut’ah dengannya seberapa kerap yang dikehendakinya “. ( Al Furu ‘ Min Al Kafi jil . 5 hal. 460, Wasaailu As Syiah jil. 14 hal. 480 ). Satu lagi riwayat dari Jaafar  As Shadiq bahawa beliau ditanya tentang seorang yang berkahwin dengan seorang perempuan secara mut’ah berapa kalikah ia boleh melakukan mut’ah dengannya ?. Jaafar As Shadiq menjawab. “ Sebanyak yang disukainya.” (Qurbu Isnad hal. 109, Wasaalu As Syiah  jil. 14. hal 480. Al Firu Min Al-Kafi jil .5 hal. 460).
  10. Dengan bayaran maskahwin secara ansuran dan tidak memberi sebahagian daripada maskahwin mengikut keadaan hari atau masa keengganan perempuan bergaul dengan lelaki yang mengadakan aqad mut’ah dengannya. Misalnya mereka mengadakan aqad mut’ah untuk 10 hari dan menentukan maskahwinnya sebanyak RM 100.00 tetapi si laki-laki bimbang perempuan yang ia lakukan mut’ah dengannya itu tidak akan memenuhi tempoh yang dipersetujui itu maka bolehlah ia mengaqad mut’ah dengan bayaran maskahwinnya secara beransur-ansur!.Jadi jika perempuan itu hanya memenuhi kepuasan lelaki tersebut selama 5 hari sahaja, maka lelaki itu perlu membayar RM 50.00 sahaja. Ini berdasarkan riwayat mereka (Syiah) daripada Umar bin Hanzalah katanya,”Aku bertanya Jaafar As Shadiq; Bolehkah aku mengadakan aqad mut’ah dengan seorang perempuan selama sebulan dengan tidak memberikan kepada perempuan itu sebahagian daripada maskahwinya? Jaafar As Shafiq menjawab, ”Ya,boleh.Ambillah daripadanya sekadar masa keengganannya (untuk bergaul denganmu). Jika setengah bulan ambillah separuh, jika sepertiga bulan ambillah satu pertiga.”(Al Furu’ Min Al Kafi j.5 hal.461, Wasaailu As Syiah jil.14 hal.481,Biharu Al Anwar jil.100 hal.310)

 

Siapakah Yang Dibenarkan Mengamalkan Mut’ah

Syiah meriwayatkan bahawa Imam Ar Ridha ( Imam yang ke-8 di sisi Syiah ) berkata, “Mut’ah itu tidak halal kecuali kepada orang yang mengertinya. Ia haram kepada orang yang jahil tentangnya.” ( Man Laa Yahdhuruhul Faqih j . 3. hal.459 )

 

Syarat-Syarat Yang Dimestikan Dalam Aqad Mut’ah:

Terdapat hanya dua syarat sahaja yang mesti disebutkan di dalam aqad, untuk menjadi aqad itu sebagai aqad mut’ah iaitu;

  1. Tempoh atau jangkamasa mut’ah dan
  2. Mas kahwinnya.

Ini berdasarkan kepada jawaban Jaafar As Shadiq kepada orang yang bertanya tentang apa yang mesti disebutkan dalam aqad mut’ah. Kata beliau, “ Maskahwin yang maklum untuk jangkamasa yang maklum.” ( Tahzibu Al Ahkam j, 7 hal. 262, Wasaailu As Syiah j. 14 hal. 465 )

 

Hak Menerima Pesaka Hasil Perkahwinan Secara Mut’ah:

Tidak ada hak menerima pesaka daripada masing-masing lelaki atau perempuan yang mengamalkan mut’ah. Hukum ini adalah berdasarkan riwayat dari Said bin Yasar bahawa ia bertanya Jaafar As Shadiq tentang lelaki yang mengahwini seseorang perempuan secara mut’ah dan ia tidak mensyaratkan hak merima pesaka di antara satu sama lain. Jaafar As Shadiq menjawab, “ Tiada hak menerima pesaka bagi mereka berdua sama ada lelaki itu mensyaratkan atau tidak mensyaratkan ( di dalam aqad ) “.( Tahzibu Al Ahkam jil. 7 hal. 265, Al Furu Min Al Kafi jil. 5 hal 465 ).

 

Sebaik-Baik Perempuan Untuk Dimut’ahkan:

Syiah mengajarkan apabila seseorang mahu melakukan mut’ah dengan seseorang perempuan, maka hendaklah ia mencari seorang perempuan mukminah, terpelihara kesucian dirinya, terhormat, pintar dan beraqidah dengan aqidah yang benar tetapi jika perempuan dengan sifat-sifat ini tidak ditemui, boleh juga dilakukan aqad mut’ah dengan perempuan-perempuan yang lain.  (Syeikh At Thusi- An Nihayah hal. 490, Tahzibu Al Ahkam j.7 hal. 252 )

 

Perbezaan Di Antara  Perkahwinan Menurut Islam Dengan Perkahwinan Cara Mut’ah

Di sini kita senaraikan beberapa perbezaan penting di antara perkahwinan yang sah menurut Islam dengan perkahwinan cara mut’ah yang diharamkan oleh Islam tetapi digalakkan oleh Syiah

 

Perkahwinan Menurut Umat Islam Selain Syiah.

Perkahwinan ini terjadi dengan sighah atau lafaz aqad nikah di hadapan wali dan 2 orang saksi.

  1. Si  suami bertanggungjawab menanggung nafkah isteri termasuk tempat tinggal dan sebagainya.
  2. Seseorang lelaki tidak harus menghimpunkan lebih daripada 4 orang isteri dalam satu masa dengan syarat-syarat yang tertentu.
  3. Perempuan mewarisi suami apabila  suaminya mati.
  4. Persetujuan bapa merupakan satu syarat bagi sahnya perkahwinan anak dara.
  5. Tempoh perkahwinan berterusan selagi suami isteri itu hidup jika tidak berlaku perceraian .

 

Perkahwinan Secara Mut’ah Menurut Syiah

  1. Perkahwinan terjadi dengan aqad mut’ah walaupun tanpa wali dan saksi.
  2. Lelaki bebas dari menanggung sebarang nafkah terhadap isteri.
  3. Seorang lelaki harus menghimpun seramai mana perempuan yang diingininya tanpa syarat.
  4. Isteri tidak berhak mendapat pesaka dari suami.
  5. Persetujuan bapa tidak merupakan syarat dalam semua keadaan.
  6. Tempoh perkahwinan mut’ah mungkin ¼ jam, mungkin sehari, mungkin juga seminggu mengikut apa yang dilafazkan oleh seorang lelaki.

 

Keadaan Thalaq Menurut Islam

  1. Perceraian berlaku apabila lelaki melafazkan thalaq dengan sedar dan pilihan sendiri, bukan dengan terpaksa ( cara paksa ).
  2. Edah thalaq bagi perempuan ialah 3 kali suci atau 3 kali haid .
  3. Wajib atas suami menanggung nafkah isteri semasa edahnya.

 

Keadaan Thalaq Bagi Kahwin Mut’ah

  1. Perceraian berlaku apabila habis tempuh yang disebutkan di dalam aqad.
  2. Edah perceraian ialah seperti edah hamba iaitu ½ daripada edah orang merdeka.
  3. Seseorang bebas daripada sebarang nafkah terhadap isteri semasa edahnya.

 

Penutup:

‘Sebagai mengakhiri rencana ini elok rasanya kita sudahi dengan pandangan cendekiawan Syiah sendiri yang berusaha sedaya upaya untuk memperbetul dan memurnikan ajaran Syiah termasuk nikah mut’ah ini. Beliau ialah Dr. Musa Al Musavi. Di dalam bukunya As Syiah Wa At Tashih beliau menulis, “ Bahawa Islam datang untuk memuliakan manusia sebagai yang tertera di dalam firman Allah yang bermaksud, “ Sesungguhnya Kami telah memuliakan manusia” ( Al Isra’ –ayat 70 ) dan Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, “ Sesungguhnya aku telah diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Adakah Islam menentukan peraturan-peraturan yang mengharuskan kebebasan seks yang menjatuhkan maruah perempuan dengan meletakkannya di satu tempat yang tidak dapat kita temui walaupun di dalam masyarakat yang mengamalkan “Liberinism” di sepanjang sejarah?. Tidak dapat kita jumpai juga di dalam istana Louis ke 14 di Versailles, Perancis ataupun di dalam mahligai-mahligai Sultan-Sultan Turki dan Maharaja-Maharaja Parsi.

Manusia yang disebutkan di dalam ayat Al Quran yang mulia itu merangkumi lelaki dan perempuan dan akhlak yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. itu pula adalah untuk menyempurnakan kedua-dua jenis manusia lelaki dan perempuan.

Bagaimana mungkin seseorang itu dapat menjaga kehormatannya dan terpelihara akhlaknya dengan adanya undang-undang mut’ah ini?. Apa yang dinikmati oleh perempuan dari peraturan dan undang-undang mut’ah itu hanyalah kehinaan dan kehilangan maruahnya apabila ia dianggap sebagai matabenda yang boleh ditimbunkan oleh lelaki tanpa had.

Perempuan yang telah dimuliakan oleh Allah sebagai ibu yang melahirkan lelaki-lelaki dan wanita-wanita agung dengan memberikan darjat yang tidak diberikan kepada orang lain. Justeru ia meletakkan syurga di bawah tapak kakinya sebagaimana sabda Nabi saw. “ Syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu.”\

Layakkah ia menghabiskan waktunya di dalam pangkuan lelaki, seorang demi seorang, di atas nama syariat Muhammad?? ( As Syiah Wa At Tashih hal. 109 dan 111 )

Demikianlah pandangan seorang cendikiawan Syiah tentang mut’ah yang saya kira fitrah kemanusiaanya yang suci belum ternoda lagi. Tetapi apakan daya, usaha-usahanya itu akan hilang dengan sia-sia dan akan menjadi debu yang berhamburan kerana konsep mut’ah itu sudah sebati dan menjadi darah daging ajaran Syiah yang tidak mungkin dipisahkan lagi.

Di hadapan kita sekarang hanya ada satu jalan sahaja yang dapat menyelamatkan kehormatan wanita khususnya dan kemanusiaan secara amnya iaitulah jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Perhatikanlah kepada cirri-ciri manusia yang berjaya dan berbahagia kerana berada di atas jalan yang lurus menurut ajaran Islam yang sebenarnya di dalam firman Allah yang bermaksud:

“ Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman iaitu mereka yang khusyu’ di dalam sembahyangnya dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya ( dengan menunaikan zakat harta itu ) dan mereka yang menjaga kemaluan-kemaluannya kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Kemudian sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian maka merekalah orang-orang yang melampaui batas”    ( Al Mukminun- ayat 1-7 )

 

sumber : darulkautsar

Perkahwinan Mut’ah haram secara ijma’

Perkahwinan Mut’ah haram secara ijma’

Soalan:

Assalamualaikum wh. wb

Tujuan saya menulis bukan hendak mepersoalkan halal/haram mut’ah. Kalau anda berkeyakinan mut’ah itu haram, itu pilihan anda. Tapi yang hendak saya persoalkan mengapakah anda ingin menyamakan mut’ah itu dengan zina yang diterima oleh Mazhab Ahlul Bait (MAB). Sila rujuk Bukhari atau Muslim.

Jawapan:

Pandangan saya terhadap Syi’ah menyamai sikap Prof al-Imam Dr Muhammad Abu Zahrah dan Syaikh Mahmud Syaltut:

Iaitu menghormati Syi’ah’s right of co-existence with Sunni, sebagaimana ujudnya Zaidiah di Yaman, Imamiah di Selatan Lebanon atau kerajaan Ja’afari Imamiah di Iran. Fuqaha’ di atas juga meyakini Syi’ah Rafidhah ini sudah tidak ada lagi dan negara Islam Syi’ah sekarang juga tidak melahirkan permusuhan mereka (yang ketara) terhadap ASWJ. Manakala perbedzaan dalam usyuliah dan juga feqh tidak akan dibangkit oleh ASWJ, Syi’ah boleh mempraktikkan ajaran mereka asalkan mereka tidak mencela ASWJ dan cuba menyibarkannya..

Mempertahankan perkahwinan Mut’ah adalah sesuatu yang menetapi nas dan menafikan Ijma’ ASWJ, ini kerana Syi’ah Imamiah Iraniah  melaksanakannya dan telah menggariskan peraturan yang ketat supaya Mut’ah tidak di abuse dan ia dilaksanakan dalam suasana benar-benar dharurat sahaja. Namun mana-mana syi’ah tidak boleh mempersoalkan bagaimana ASWJ ijma’ mengharamkannya sejak Khalifah Umar al-Khattab ra lagi. Tapi tidak salah untuk kita berbincang atas ruh ingin tahu rasional halal/haram sesuatu hukum yg ketara dalam dua madzhab besar ini.

Dalam Feqh, ASWJ dan MAB berbeda dalam 17 perkara yg besar, salah satunya perkahwinan mut’ah. Dalam pandangan ASWJ: Mut’ah, bersetubuh dgn hamba perempuan, dan poligami tanpa had adalah suatu yg normal di masa silam, malah sebelum Islam lagi kerana status wanita di masa itu ialah mereka adalah benda bukan manusia. ASWJ secara ijma’ telah mengharamkan mut’ah dan menyamakan ia dgn zina.

Nikah Mut’ah menurut Imam Ibn Qayyim al Jauziah dlm Zaad al Ma’ad, Jld 5, ASWJ mengharamkan lima jenis perkahwinan:

1. Nikah Sighar (tanpa mahar, barter marriage)

2. Nikah Mahalil (kahwin talak tiga/cina buta)

3. Nikah Mut’ah (kahwin kontrak/sementara)

4. Nikah sa’at Ihram

5. Nikah wanita penzina (an-Nuur: 03)

Nikah Mut’ah:

1. Nabi saw mengharamkan nikah mut’ah semasa Fathul Mekkah diriwayatkan oleh Ali dan Ibn Abbas raa.

2. Nabi saw tidak mengharamkan nikah mut’ah di Khaibar sebagaimana yg dilapurkan. Ali menjelaskan yg diharamkan di Khaibar ialah pengharaman daging keldai.

3. Dalam kitab hadis tertinggi ASWJ, Syahihain: ada dua versi:

- versi Ibn mas’ud menghalalkan Mut’ah manakala

- versi Ali Abi Talib, adalah hadis larangan.

Ibn Qayyim mengatakan: Mut’ah ialah hukum di mana ia diharamkan setelah diharuskan. Dari sini jelas, Syi’ah telah berpegang dgn hadis Ibn Mas’ud dan meninggalkan Imam pertama Imamiah.

Jika MAB bertanyakan manakah nas Al-Qur’an mengharamkan mut’ah, mengharamkan perhambaan, menegah meniduri hamba perempuan, mencegah poligami tanpa had, sudah tentu tidak ada, kerana deklarasi Hak Asasi Manusia di isytiharkan di Perancis hanyalah pada abad ke 19. (Poligami kemudian dihadkan kepada empat).

Seluruh manusia ketika itu mendokong perhambaan, mendokong poligami tanpa had, boleh menyerang negara lain dan menjadikan wanita dan kanak-kanak sebagai harta rampasan perang dan boleh ditiduri/dirogol sesuka hati.(kerana ia adalah harta rampasan perang).., dunia masa itu adalah dunia tidak bertamaddun dan Eropah dalam gelap gulita.

Islam tidak mengharamkan perhambaan, Islam tidak mengharamkan persetubuhan dgn hamba perempuan, atau mut’ah kerana di masa itu ia adalah aktiviti biasa manusia dan tiada mana-mana negara atau bangsa yg membantahnya. Akhirnya manusia bersepakat ingin menghentikan perhambaan dan mengisytiharkan hak asasi manusia, maka itulah kehendak Islam pada asalnya.

Apa yang di lakukan oleh MAB ialah ingin kekal di atas satu sistem feqah yg kuno, yang tidak boleh direformasi langsung kerana terlalu bergantung kepada Imam-Imam yang maksum, maka MAB ingin terus menghalalkan perhambaan, meniduri hamba perempuan dan bermut’ah, sedangkan feqh jenis ini adalah feqh kuno yg hanya tinggal sejarah sahaja dalam feqah ASWJ.

Manakala seluruh manusia dan tamaddun hari telah bersepakat mengharamkan perhambaan, meniduri hamba perempuan dan mereka telah mengiktiraf hak-hak wanita sebagai manusia dan hak yg sama dgn lelaki.

ASWJ juga sudah shift fokus hukum zakatnya, kalau di zaman dahulu, hukum zakat berputar disekitar unta dan lembu atau kurma dan gandum, sekarang zakat shift pula kepada zakat gaji dan upah serta saham dan bond.

Mut’ah yg dipertahankan oleh MAB akan membawa Islam 1500 tahun kebelakang dan menjadikan Islam dari ASWJ sebagai sasaran serangan manusia seluruhnya. Oleh kerana tak berapa cerdik dan fanatik kaum Syi’ah, ASWJ juga menanggung kepedihannya.

MAB memang suka kepada tradisi silam:

- Dalam politik  mereka ingin mengekalkan sistem Imamiah sebagaimana sistem Maharaja Merak

(kuasa politik secara warisan dan wasiat),

- Sistem Ulama’ kekal sebagaimana agama Majusi, ulama’ adalah bayangan Tuhan di bumi, maksum

dan boleh menjelma semula secara reincarnasi;

- Sistem feqah pula kekal dan tidak berubah sedangkan persekitaran telah jauh berubah…

Rumusan:

Akhir nya wanita Iran akan bangkit melawan enakmen hukum Mut’ah yg kuno itu.

Inilah penjelasan Prof al-Imam Muhammad Qutb (Syubhat hawla Islam), Prof al-Imam Muhammad Abu Zahrah (Tarikh Madzaahib Islami); Syaikh Syak’ah (Islam bila Madzhab….)

Sumber : http://hafizfirdaus.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=97

Perkahwinan Mut’ah haram secara ijma’

Soalan:

Assalamualaikum wh. wb

Tujuan saya menulis bukan hendak mepersoalkan halal/haram mut’ah. Kalau

anda berkeyakinan mut’ah itu haram, itu pilihan anda. Tapi yang hendak saya

persoalkan mengapakah anda ingin menyamakan mut’ah itu dengan zina yang diterima

oleh Mazhab Ahlul Bait (MAB). Sila rujuk Bukhari atau Muslim.

Jawapan:

Pandangan saya terhadap Syi’ah menyamai sikap Prof al-Imam Dr Muhammad Abu Zahrah dan Syaikh Mahmud Syaltut:

Iaitu menghormati Syi’ah’s right of co-existence with Sunni, sebagaimana ujudnya Zaidiah di Yaman, Imamiah di Selatan Lebanon atau kerajaan Ja’afari Imamiah di Iran. Fuqaha’ di atas juga meyakini

Syi’ah Rafidhah ini sudah tidak ada lagi dan negara Islam Syi’ah sekarang juga tidak melahirkan permusuhan mereka (yang ketara) terhadap ASWJ. Manakala perbedzaan dalam usyuliah dan juga feqh tidak akan dibangkit oleh ASWJ, Syi’ah boleh mempraktikkan ajaran mereka asalkan mereka tidak mencela ASWJ dan cuba menyibarkannya..

Mempertahankan perkahwinan Mut’ah adalah sesuatu yang menetapi nas dan menafikan Ijma’ ASWJ, ini kerana Syi’ah Imamiah Iraniah  melaksanakannya dan telah menggariskan peraturan yang ketat supaya Mut’ah tidak di abuse dan ia dilaksanakan dalam suasana benar-benar dharurat sahaja. Namun mana-mana syi’ah tidak boleh mempersoalkan bagaimana ASWJ ijma’ mengharamkannya

sejak Khalifah Umar al-Khattab ra lagi. Tapi tidak salah untuk kita berbincang atas ruh ingin tahu rasional halal/haram sesuatu hukum yg ketara dalam dua madzhab besar ini.

Dalam Feqh, ASWJ dan MAB berbeda dalam 17 perkara yg besar, salah satunya perkahwinan mut’ah. Dalam pandangan ASWJ: Mut’ah, bersetubuh dgn hamba perempuan, dan poligami tanpa had adalah suatu yg normal di masa silam, malah sebelum Islam lagi kerana status wanita di masa itu ialah mereka adalah benda bukan manusia. ASWJ secara ijma’ telah mengharamkan mut’ah dan menyamakan ia dgn zina.

Nikah Mut’ah menurut Imam Ibn Qayyim al Jauziah dlm Zaad al Ma’ad, Jld 5, ASWJ mengharamkan lima jenis perkahwinan:

1. Nikah Sighar (tanpa mahar, barter marriage)

2. Nikah Mahalil (kahwin talak tiga/cina buta)

3. Nikah Mut’ah (kahwin kontrak/sementara)

4. Nikah sa’at Ihram

5. Nikah wanita penzina (an-Nuur: 03)

Nikah Mut’ah:

1. Nabi saw mengharamkan nikah mut’ah semasa Fathul Mekkah diriwayatkan oleh Ali dan Ibn Abbas raa.

2. Nabi saw tidak mengharamkan nikah mut’ah di Khaibar sebagaimana yg dilapurkan. Ali menjelaskan yg diharamkan di Khaibar ialah pengharaman daging keldai.

3. Dalam kitab hadis tertinggi ASWJ, Syahihain: ada dua versi:

- versi Ibn mas’ud menghalalkan Mut’ah manakala

- versi Ali Abi Talib, adalah hadis larangan.

Ibn Qayyim mengatakan: Mut’ah ialah hukum di mana ia diharamkan setelah diharuskan. Dari sini jelas, Syi’ah telah berpegang dgn hadis Ibn Mas’ud dan meninggalkan Imam pertama Imamiah.

Jika MAB bertanyakan manakah nas Al-Qur’an mengharamkan mut’ah, mengharamkan perhambaan,

menegah meniduri hamba perempuan, mencegah poligami tanpa had, sudah tentu tidak ada, kerana deklarasi Hak Asasi Manusia di isytiharkan di Perancis hanyalah pada abad ke 19. (Poligami kemudian dihadkan kepada empat).

Seluruh manusia ketika itu mendokong perhambaan, mendokong poligami tanpa had, boleh menyerang negara lain dan menjadikan wanita dan kanak-kanak sebagai harta rampasan perang

dan boleh ditiduri/dirogol sesuka hati.(kerana ia adalah harta rampasan perang).., dunia masa itu adalah dunia tidak bertamaddun dan Eropah dalam gelap gulita.

Islam tidak mengharamkan perhambaan, Islam tidak mengharamkan persetubuhan dgn hamba

perempuan, atau mut’ah kerana di masa itu ia adalah aktiviti biasa manusia dan tiada mana-mana negara atau bangsa yg membantahnya. Akhirnya manusia bersepakat ingin menghentikan perhambaan dan mengisytiharkan hak asasi manusia, maka itulah kehendak Islam pada asalnya.

Apa yang di lakukan oleh MAB ialah ingin kekal di atas satu sistem feqah yg kuno, yang tidak boleh direformasi langsung kerana terlalu bergantung kepada Imam-Imam yang maksum, maka MAB ingin terus menghalalkan perhambaan, meniduri hamba perempuan dan bermut’ah, sedangkan feqh jenis ini adalah feqh kuno yg hanya tinggal sejarah sahaja dalam feqah ASWJ.

Manakala seluruh manusia dan tamaddun hari telah bersepakat mengharamkan perhambaan, meniduri hamba perempuan dan mereka telah mengiktiraf hak-hak wanita sebagai manusia dan

hak yg sama dgn lelaki.

ASWJ juga sudah shift fokus hukum zakatnya, kalau di zaman dahulu, hukum zakat berputar

disekitar unta dan lembu atau kurma dan gandum, sekarang zakat shift pula kepada zakat gaji dan upah serta saham dan bond.

Mut’ah yg dipertahankan oleh MAB akan membawa Islam 1500 tahun kebelakang dan menjadikan

Islam dari ASWJ sebagai sasaran serangan manusia seluruhnya. Oleh kerana tak berapa cerdik dan fanatik kaum Syi’ah, ASWJ juga menanggung kepedihannya.

MAB memang suka kepada tradisi silam:

- Dalam politik  mereka ingin mengekalkan sistem Imamiah sebagaimana sistem Maharaja Merak

(kuasa politik secara warisan dan wasiat),

- Sistem Ulama’ kekal sebagaimana agama Majusi, ulama’ adalah bayangan Tuhan di bumi, maksum

dan boleh menjelma semula secara reincarnasi;

- Sistem feqah pula kekal dan tidak berubah sedangkan persekitaran telah jauh berubah…

Rumusan:

Akhir nya wanita Iran akan bangkit melawan enakmen hukum Mut’ah yg kuno itu.

Inilah penjelasan Prof al-Imam Muhammad Qutb (Syubhat hawla Islam), Prof al-Imam Muhammad Abu Zahrah (Tarikh Madzaahib Islami); Syaikh Syak’ah (Islam bila Madzhab….)

HafizFirdaus.com

Nikah mut’ah

Mungkin sebagian kita pernah mendengar ada seorang muslimah yang sangat aktif berdakwah dan berkumpul dalam kelompok-kelompok dakwah mengidap penyakit kemaluan semacam spilis atau lainnya. Itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi, kita tidak mengatakannya karena terjerumus ke dalam lembah hitam pelacuran, karena hal itu sangat jauh untuk di lakukan oleh mereka meskipun tidak mustahil, akan tetapi hal ini terjadi di sebabkan praktek nikah mut’ah atau nikah kontrak yang sesungguhnya telah dilarang dalam syariat Islam, yang mana nikah model ini membuat seorang wanita boleh bergonta ganti pasangan dalam nikah mut’ahnya.Mencermati fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini terutama di dunia kampus yang sudah kerasukan virus pemirikan nikah mut’ah, maka marilah kita berdoa semoga melalui tulisan ini Alloh Subhanallohu wa Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada kita menuju jalan yang lurus.

Pengertian Mut’ah
Mut’ah berasal dari kata tamattu’ yang berarti bersenang-senang atau menikmati. Adapun secara istilah mut’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewariri antara keduanya meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mu’ah itu. (Fathul Bari 9/167, Syarah shahih muslim 3/554, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/169).

Hukum Nikah Mut’ah
Pada awal perjalanan Islam, nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya:

Hadits Abdullah bin Mas’ud: “berkata: Kami berperang bersama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedangkan kami tidak membawa istri istri kami, maka kami berkata bolehkan kami berkebiri? Namun Rasululloh melarangnya tapi kemudian beliau memberikan kami keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu”. (HR. Bukhari 5075, Muslim 1404).

Hadits Jabir bin Salamah: “Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin ‘Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah”. (HR. Bukhari 5117).

Namun hukum ini telah dimansukh dengan larangan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menikah mut’ah sebagaimana beberapa hadits diatas. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat kapan diharamkannya niakh mut’ah tersebut dengan perselisihan yang tajam, namun yang lebih rajih-Wallahu a’lam- bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul Ma’ad 3/495, Al-Hafidl Ibnu Hajar dalam fathul bari 9/170, Syaikh Al-Albani dalam irwaul Ghalil 6/314.

Telah datang dalil yang amat jelas tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya:
Hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu: “Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar” (HR. Bukhari 5115, Muslim 1407).

Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani Radiyallahu ‘anhu: “berkata:Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mut’ah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan” (HR. Muslim 1406, Ahmad 3/404).

Hadits Salamah bin Akhwa Radiyallahu ‘anhu: “berkata:Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keringanan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang authos kemudian melarangnya” (HR. Muslim 1023).

Syubhat dan Jawabannya

Orang-orang yang berusaha untuk meracuni umat islam dengan nikah mut’ah, mereka membawa beberapa syubhat untuk menjadi tameng dalam mempertahankan tindakan keji mereka, tetapi tameng itu terlalu rapuh. Seandainya bukan karena ini telah mengotori fikiran sebagian pemuda ummat Islam maka kita tidak usah bersusah payah untuk membantahnya. Syubhat tersebut adalah

Pemikiran Mereka Yang Menafsirkan bahwa:
Firman Alloh Ta’ala: “Maka apabila kalian menikahi mut’ah diantara mereka (para wanita) maka berikanlah mahar mereka” (QS. An-Nisa: 24).
Juga karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jelas pernah membolehkan nikah mut’ah, padahal beliau tidak mungkin berbicara dengan dasar hawa nafsu akan tetapi berbicara dengan wahyu, dan oleh karena ayat ini adalah satu-satunya ayat yang berhubungan dengan nikah mut’ah maka hal ini menunjukkan akan halalnya nikah mut’ah. (Lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh Al-Amili hal 9).

Jawaban Atas Syubhat ini adalah:
Memang sebagian ulama’ manafsirkan istamta’tum dengan nikah mut’ah, akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini apabila kalian telah menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya sebagaimana sebuah kewajiban atas kalian.

Berkata Imam Ath Thabari setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut: Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan haramnya nikah mut’ah. (Tafsir Ath-Thabati 8/175).

Berkata Imam Al-Qurthubi: Tidak boleh ayat ini digunakan untuk menghalalkan nikah mut’ah karena Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa Sallam telah mengharamkannya. (tafsir Al-Qurthubi 5/132).

Dan kalau kita menerima bahwa makna dari ayat tersebut adalah nikah mut’ah maka hal itu berlaku di awal Islam sebelum diharamkan. (Al-Qurthubi 5/133, Ibnu Katsir 1/474).

Kesalahan Pemikiran Pendukung Nikah Mut’ah  Berikutnya adalah:
Hadits Abdullah bin Mas’ud, Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Akwa’ diatas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal.

Maka Jawaban atas Hal ini adalah:
Semua hadits yang menunjukkan halalnya nikah mut’ah telah di mansukh. Hal ini sangat jelas sekali dengan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dahulu saya telah mengizinkan kalian mut’ah dengan wanita. Sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat”

Berkata Imam Bukhari (5117) setelah meriwayatkan hadits Jabir dan Salamah: Ali telah menjelaskan dari Rasululloh bahwa hadits tersebut dimansukh.

Syubhat Berikutnya adalah:
Sebagian para sahabat masih melakukan nikah mut’ah sepeninggal Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai umar melarangnya, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, diantaranya:
Dari jabir bin Abdullah berkata: Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam juga Abu Bakar sampai umar melarangnya.(Muslim 1023).

Jawaban bagi Seorang Muslim yang Taat Kepada Alloh Ta’ala:
Riwayat Jabir ini menunjukkan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan mut’ah. Berkata Imam Nawawi: Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang masih melakukan nikah mut’ah pada Abu bakar da Umar belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut. (Syarah Shahih Muslim 3/555, lihat pula fathul bari, zadul Ma’ad 3/462).

Perkataan yang salah dari salah seorang tokoh Nikah Mut’ah kontermporer:
Tidak senua orang mampu untuk menikah untuk selamanya terutama para pemuda karena berbagai sebab, padahal mereka sedang mengalami masa puber dalam hal seksualnya, maka banyaknya godaan pada saat ini sangat memungkinkan mereka untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, oleh karena itu nikah mut’ah adalah solusi agar terhindar dari perbuatan keji itu. (lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh husan Yusuf Al-Amili hal 12-14).

Jawaban atas Syubhat ini adalah:
Ucapan ini salah dari pangkal ujungnya, cukup bagi kita untuk mengatakan tiga hal ini :
Pertama: bahwa mut’ah telah jelas keharamannya, dan sesuatu yang haram tidak pernah di jadikan oleh Allah sebagai obat dan solusi.
Kedua: ucapan ini Cuma melihat solusi dari sisi laki-laki yang sedang menggejolak nafsunya dan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun kepada wanita yang dijadikannya sebagai tempat pelampiasan nafsu syahwatnya, lalu apa bedanya antara mut’ah ini dengan pelacuran komersil????
Ketiga: islam telah memberikan solusi tanpa efek samping pada siapapun yaitu pernikahan yang bersifat abadi dan kalau belum mampu maka dengan puasa yang bisa menahan nafsunya, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka hendaklah menikah, karena itu lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena itu bisa menjadi tameng baginya”. (HR. Bukhari 5066, Muslim 1400). Wallahu a’lam.

Sumber : http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/nikah-mutah-zina-berkedok/

Nikah Mut’ah : Pengalaman Bersama Imam Khomeini

Nikah Mut’ah  : Pengalaman Bersama Imam Khomeini[1]

Oleh : Al-Syeikh Al-Allamah Dr. Sayid Husain Al-Musawi Al-Husaini[2]

Ketika Imam Al-Khomeini tinggal di Iraq, kami berulang alik menemuinya dan menimba ilmu daripadanya sehingga hubungan kami dengannya menjadi rapat. Pernah sekali aku mendapat peluang musafir bersama beliau setelah beliau mendapat jemputan dari bandar Tal’afir, sebuah bandar yang terletak di barat Mausil2 yang jauh perjalanannya sekitar sejam setengah dengan menaiki kereta. Beliau telah mengajak ku untuk musafir bersamanya, maka aku pun bermusafir bersamanya. Mereka menyambut dan memuliakan kami selama tempoh kami tinggal bersama di salah sebuah keluarga Syiah di sana. Mereka berjanji akan menyampaikan ajaran Syiah di tempat tersebut dan mereka masih menyimpan gambar kenangan bersama kami yang diambil di rumah mereka.

Setelah selesai tempoh musafir, kami pulang. Ketika dalam perjalanan pulang ke Baghdad, Imam Al-Khomeini ingin berehat daripada keletihan musafir, lalu beliau menyuruh kami menuju ke kawasan Al ‘Atifiah yang merupakan tempat tinggal seorang lelaki berasal daripada Iran yang dikenali dengan Sayid Shahib, yang mempunyai hubungan yang rapat dengan beliau. Sayid Shahib sangat gembira dengan kedatangan kami. Kami tiba di tempatnya waktu Zuhur. Beliau menyediakan makan tengah hari yang istimewa kepada kami dan memaklumkan kepada saudara maranya tentang kedatangan kami. Mereka hadir dan memenuhi rumah beliau menyambut kedatangan kami dengan penuh penghormatan.

Sayid Shahib meminta kepada kami supaya bermalam di rumahnya pada malam tersebut. Imam pun bersetuju. Kemudian apabila tiba waktu Isyak kami disediakan dengan makan malam. Para hadirin yang hadir mencium tangan Imam dan bersoal jawab dengannya. Ketika hampir tiba waktu tidur para hadirin bersurai kecuali ahli rumah tersebut. Imam Al-Khomeini melihat kanak-kanak perempuan berumur empat atau lima tahun dan kanak-kanak tersebut sangat cantik. Imam meminta daripada ayahnya Sayid Shahib untuk bermut’ah dengannya dan ayahnya bersetuju dengan perasaan sangat gembira. Imam Al-Khomeini tidur dan kanak-kanak tersebut berada dalam dakapannya. Kami mendengar suara tangisan dan teriakan kanak-kanak tersebut.

Apa yang penting ialah Imam telah melalui malam tersebut. Apabila tiba waktu pagi, kami bersama-sama untuk sarapan pagi. Imam telah melihat kepada ku dan mendapati tanda-tanda tidak puas hati yang lahir secara jelas di wajah ku; Bagaimana pada waktu itu beliau sanggup bermut’ah dengan kanak-kanak perempuan tersebut sedangkan di dalam rumah tersebut terdapat ramai wanita-wanita muda, baligh, berakal yang tidak menjadi halangan kepada beliau untuk bermut’ah dengan salah seorang daripada mereka. Kenapa beliau tidak berbuat demikian?

Beliau berkata kepada ku: Sayid Husain, apa pendapat kamu tentang bermut’ah dengan kanak-kanak perempuan? Aku berkata kepadanya: Kata pemutus adalah kata-kata kamu, perbuatan yang benar adalah perbuatan mu dan kamu Imam Mujtahid. Mana mungkin orang seperti ku berpandangan atau berpendapat melainkan apa yang telah kamu lihat dan katakan , -dan seperti diketahui tidak mungkin aku bertentangan dengan kamu-.

Beliau berkata: Sayid Husain, sesungguhnya bermut’ah dengan kanak-kanak tersebut adalah harus tetapi dengan bercumbu-cumbuan, berciuman dan tafkhiz[3].  Adapun bersetubuh, dia (kanak-kanak) masih belum mampu untuk melakukannya.

Imam Al-Khomeini berpendapat harus bermut’ah walaupun dengan kanak-kanak yang masih menyusu. Beliau berkata: Tidak mengapa bermut’ah dengan kanak-kanak yang masih menyusu dengan memeluk dan tafkhiz – meletakkan zakarnya di antara dua pahanya- dan bercumbuan.

Lihat kitabnya { 2/241 : تحرير الوسيلة masalah nombor 12}


[1]Di petik daripada kitab “Pengakuan Ulama’ Syiah kepada Allah dan sejarah” dan kitab terjemahan bertajuk “Kenapa Aku Tinggalkan Syiah”. Buku ini sebenarnya satu lagi pendedahan secara akademik yang sekali gus membongkar beberapa perkara pokok pegangan Syiah Imamiah. Yang penting bagi setiap pembaca ialah dapat membezakan antara pegangan Imam-imam Dua Belas yang tulen dan penyelewengan yang dilakukan oleh beberapa orang tokoh Syiah khususnya selepas tahun 329 H.

[2] Seorang ulama Najaf. Berdasarkan proses pengajian dan pengalaman beliau mengajar di beberapa al-Hauzah Najaf, maka beliau berpeluang menjalinkan hubungan yang amat rapat dengan ulama-ulama dan tokohtokoh Syiah. Antaranya Kasyif al-Ghito’, Al-Khu’i, Al-Sadr , al-Khomeini, dan Abd Al-Husain Syarafuddin yang selalu berulang-alik ke Najaf. Tambahan pula ayah penulis juga merupakan antara ulama Syiah. Beliau kemudian meninggalkan Syiah

[3] Meletakkan zakar antara dua paha


Surat Kepada Saudara Abu Hassan : Nikah Mutah Syiah

Saudara Abu Hasan,

Saudara sering mendakwa Syiah  adalah mazhab kebenaran, Syiah mengunakan akal, malah kata-kata  akal menjadi hujah saudara di mana-mana saja.  Demikian unggulnya akal!

Jika demikian bacalah risalah berikut dan nilaikan dengan akal. Mut’ah adalah gula-gula dan bonus untuk orang masuk Syiah. Saudara pernah berkata Umar r.a yang mengharamkan, bukan Allah dan Rasulnya !

KAWIN KONTRAK
TRADISI KAUM SYI’AH

Dalam urusan nikah mut’ah Syi’ah memiliki banyak keburukan, kekejian, hal-hal yang menjijikkan dan kebodohan terhadap Islam. Mereka mengangkat nilai setiap keburukan dan meninggikan setiap yang kotor. Mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah (berupa zina) atas nama agama dan dusta terhadap para Imam. Mereka membolehkan semua yang mereka mau, mereka membiarkan nafsu tenggelam dalam kelezatan yang menipu dan kemungkaran-kemungkaran. Mut’ah adalah sebaik-baik saksi dan bukti, mereka telah menghiasi mut’ah dengan segala kesucian, keagungan dan keanggunan, hingga mereka menjadikan balasan pelakunya adalah surga -Naudzubillah-, mereka memperbanyak keutamaan-keutamaan mut’ah dan keistimewaannya, seraya menyesatkan -sebagaimana lazimnya- orang-orang yang mereka jadikan sebagai tawanan bagi ucapan-ucapan mereka yang dusta. Di antaranya ialah:

Al-Kasyani dalam tafsirnya, berbohong atas Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda, Telah datang kepadaku Jibril darl sisi Tuhanku, membawa sebuah hadiah. Kepadaku hadiah itu adalah menikmati wanita-wanita mukminah (dengan kawin kontrak). Allah belum pernah memberikan hadiah kepada para nabipun sebelumku, Ketahuilah mut’ah adalah keistimewaan yang dikhususkan oleh Allah untukku, karena keutamaanku melebihi semua para nabi terdahulu. Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dalam umurnya, la menjadi ahli surga. Jika laki-laki dan wanita yang melakukan mut’ah berter di suatu tempat, maka satu malaikat turun kepadanya untuk menjaga hingga mereka berpisah. Apabila mereka bercengkerama maka obrolan mereka adalah berdzikir dan tasbih. Apabila yang satu memegang tangan pasangannya maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan bercucuran keluar dari jemari keduanya. Apabila yang satu mencium yang lain maka ditulis pahala mereka setiap ciuman seperti pahala haji dan umrah. Dan ditulis dalam jima’ (persetubuhan) mereka, setiap syahwat dan kelezatan satu kebajikan bagaikan gunung-gunung yang menjulang ke langit. Jika mereka berdua asyik dengan mandi dan air berjatuhan, maka Allah menciptakan dengan setiap tetesan itu satu malaikat yang bertasbih dan menyucikan Allah, sedang pahala tasbih dan taqdisnya ditulis untuk keduanya hingga hari Kiamat.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani)

Mereka juga berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, alim yang menjadi lautan ilmu ini! dikatakan oleh mereka telah bersabda: “Mut’ah itu adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Yang mengamalkannya, mengamalkan agama kami dan yang mengingkarinya mengingkari agama kami, bahkan ia memeluk agama selain agama kami. Dan anak dari mut’ah lebih utama dari pada anak istri yang langgeng. Dan yang mengingkari mut’ah adalah kafir murtad.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.356)

Mereka juga berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, mereka mengatakan bahwa beliau bersabda: “’Barangsiapa melakukan mut’ah sekali dimerdekakan sepertiganya dari api neraka, yang mut’ah dua kali dimerdekakan dua pertiganya dari api neraka dan yang melakukan mut’ah tiga kali dimerdekakan dirinya dari neraka.”

Mereka menambah tingkat kejahatan dn kesesatan merea dengan meriwayatkan atas nama Rasulullah Shallallhu‘alihi wasallam: “Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita Mukminah, maka seoloh-olah dia telah berziarah ke Ka’bah (berhaji sebanyak 70 kali).(‘Ujalah Hasanah Tarjamah Risalah Al Mut’ah oleh Al-Majlisi Hal.16).

Mut’ah, Rukun, Syarat dan Hukumnya

Fathullah Al-Kasyani menukil di dalam tafsirnya sebagai berikut, “Supaya diketahui bahwa rukun akad mut’ah itu ada lima: Suami, istri, mahar, pembatasan waktu (Taukit) dan shighat ijab qabul.” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.357)

Dia menjelaskan, “Bilangan pasangan mut’ah itu tidak terbatas, dan pasangan laki-laki tidak berkewajiban memberi nama, tempat tinggal, dan sandang serta tidak saling mewarisi antara suami-istri dan dua pasangan mut’ah ini. Semua ini hanya ada dalam akad nikah yang langgeng,” (Tafsir Manhaj Asshadiqin Fathullah Al-Kasyani hal.352)

 

Syarat-syarat Mut’ah

  1. Perkawinan ini cukup dengan akad (teransaksi) antara dua orang yang ingin bersenang-senang (mut’ah) tanpa ada para saksi!
  2. Laki-laki terbebas dari beban nafkah!
  3. Boleh bersenang-senang (tamattu’) dengan para wanita tanpa bilangan tertentu, sekalipun dengan seribu wanita!
  4. Istri atau pasangan wanita tidak memiliki hak waris!
  5. Tidak disyaratkan adanya ijin bapak atau wali perempuan!
  6. Lamanya kontrak kawin mut’ah bisa beberapa detik saja atau lebih dari itu!
  7. Wanita yang dinikmati (dimut’ah) statusnya sama dengan wanita sewaan atau budak!

Abu Ja’far Ath-Thusi menukil bahwa Abu Abdillah Alaihis-Salam (Imam mereka yang di anggap suci) ditanya tentang mut’ah apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Tidak, juga tidak hanya tujuh puluh.”

Sebagaimana dia juga pernah ditanya apakah hanya dengan empat wanita?

Dia menjawab, “Kawinlah (secara mut’ah) dengan seribu orang dari mereka karena mereka adalah wanita sewaan, tidak ada talak dan tidak ada waris dia hanya wanita sewaan.”(At-Tahdzif oleh Abu Ja’far Aht-Thusi, Juz III/188)

Mereka menisbatkan kepada imam keenam. yang ma’shum dia bersabda, “Tidak mengapa mengawini gadis jika dia rela tanpa ijin bapaknya.” (At-Tahdzif Al-Ahkam juz VII/256)

Mereka menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq, dia ditanya, “Apa yang harus, saya katakan jika saya telah berduaan dengannya?” Dia berkata, engkau cukup mengatakan ,aku mengawinimu secara mut’ah (untuk bersenang-senang saja) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, tidak ada yang mewarisi dan tidak ada yang diwarisi, selama sekian! hari.Jika kamu mau, sekian tahun, Dan kamu sebutkan upahnya, sesuatu yang kalian sepakati sedikit atau banyak.(Al-Furu’ Min Al Kafi Juz V/455)

Demikianlah kawin mut’ah dalam agama Syi’ah yang dengannya mereka menipu orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang yang awam, seraya menyihir mata mereka dengan berbagai macam atraksi sulap dan sihir serta, mengada-ada ucapan dusta, atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Bantahan terhadap Kebolehan Mut’ah

Sesungguhnya nikah mut’ah pernah dibolehkan pada awal Islam untuk kebutuhan dan darurat waktu itu kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengharamkannya untuk selama-lamanya hingga hari Kiamat. Beliau malah mengharamkan dua kali, pertama pada waktu Perang Khaibar tahun 7 H, dan yang kedua pada Fathu Makkah, tahun 8 H.

Mereka [Syi’ah sendiri] meriwayatkan bahwa Ali berkata, “Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengharamkan pada Perang Khaibar daging himar jinak dan nikah mut’ah.” (At-Tahdzif Juz II/186) Riwayat inipun terdapat dalam sahih Bukhari. Maka semakin jelas tentang agama mereka yang dibangun atas dasar rekayasa, ucapan mereka bertentangan satu sama lain. Maka kami membantah kalian wahai Syi’ah !!, dengan kitab-kitab kalian sendiri.

Ini adalah salah satu sebab yang membuat mereka berakidah taqiyah (berbohong). Padahal perlu diketahui bahwa dalam agama Syi’ah tidak boleh melakukan taqiyah dalam mut’ah, la taqiyyata fi al-mut’ah (tidak ada taqiyah dalam mut’ah).

Ali, Umar dan Ibnu Abbas Berlepas Diri

Kemudian, Umar tidak pernah mengatakan, “Mut’ah halal pada zaman Nabi dan saya melarangnya!” Tetapi mut’ah dulu halal dan kini Umar menegaskan dan menegakkan hukum keharamannya. Yang demikian itu karena masih ada orang yang melakukannya. Adapun dia mengisyaratkan bahwa dulu memang pernah halal, ya, akan tetapi beberapa waktu setelah itu diharamkan. Di antara yang menguatkan lagi adalah pelarangan ‘Ali ketika menjadi khalifah.

Syi’ah tidak memiliki bukti dari Salaf Shalih kecuali dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, akan tetapi Ibnu abbas sendiri telah rujuk dan mencabut kembali kebolehannya kembali kepada pengharamannya, ketika di mengetahui larangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia (Ibnu Abbas) telah berkata : “Sesungguhnya hal ini perlu saya jelaskan agar sebagian Syi’ah Rafidhoh tidak berhasil mengelabui sebagian kaum Muslimin.” (Sunan Al-Baihaqi 318 100 ; muhammad Al-Ahdal, hal. 251-252)

Sebagaimana kitab Syi’ah sendiri menyebutkan keharamannya, dan Imam Syi’ah ke-enam [yang diangap suci dari kesalahan] telah berkata kepada sebagian sahabatnya : “Telah aku haramkan mut’ah atas kalian berdua” (Al-Furu’ min Al-Kafi 2 48).

Adapun dalil mereka dengan sebagian hadits-hadits yang ada pada kitab Shahih Ahlussunnah maka hadits-hadits tersebut telah dinasakh [dihapus hukumnya]. Hal ini menjadi jelas dari hadits-hadits yang datang mengharamkan setelahnya. Di antara yang menunjukkan mut’ah bukan nikah adalah mereka [syi’ah] memandang bahwa mut’ah boleh dengan berapa saja sekalipun seribu wanita. Ini adalah menyalahi Syari’at yang hanya membolehkan [paling banyak] empat wanita.

Diterbitkan oleh Majelis Ta’lim 
“ANSHORUSSUNNAH”