Perbahasan Bacaan al Fatihah Oleh Makmum Dalam Sembahyang Jahar

Tulisan ini didipetik dari tafsir al Fatihah oleh Almarhum Dr HAMKA  .

Segala sembahyang tidak sah, kalau tidak membaca al-Fatihah. Tersebut dalam Hadis-hadis:

Dan hendaklah dibaca pada tiap·tiap rakaat, karena Hadis:

1. Daripada Ubadah bin as·Shamit, bahwasanya Nabi s.a.w. berkata:

“Tidaklah ada sembahyang (tidak sah sembahyang) bagi siapa yang tidak membaca Fatihatil-Kitab. (Dirawikan oleh al-Jamaah).

2. Dan pada lafaz yang lain: Tidaklah memadai sembahycmg bagi siapa yang tidak membaca Fatihatil·Kitab.” (Dirawikan oleh adDawquthni. dan beliau berkata bahwa isnad Hadis ini shahih).

3. Tidaklah diterima sembahyang kalau tidak dibaca padanya Ummul Quran.   (Dirawikan oleh Im0m Ahmad).

Dengan Hadis-hadis ini dan beberapa Hadis lain sama bunyinya, se­pendapatlah sebagian besar Ulama Fiqh bahwa tidak sah sembahyang selain daripada membaca al·Fatihah, walaupun Surat yang mana yang kiita baca. Demikianlah Mazhab Imam Malik. Imam Syafi’i dan jumhur Ulama, sejak dari sahabat·sahabat Rasulullah, sampai kepada tabi’in dan yang sesudahnya. Oleh sebab itu baik Imam atau ma’mum. wajiblah sernuanya membaca al·Fatihah di dalam sembahyang.

4. Dari Abu Qatadah, bahwasanya Nabi s.a.w. adalah beliau tiap·tiap rakaat membaca Fatihatil-Kitab.” (Dirawikan oleh Bukhari)

Selain dari itu sunnah pula sesudah membaca al-F atihah itu diiringkan pula dengan Surat-surat yang mudah dibaca dan hafal oleh yang bersangkutan; karena ada Hadis:

5. Dia menyuruh kita supaya membaca al-Fatihah dan mana-mana yang

mudah.”             (Dirawikan oleh Abu Daud danpada Abu Said al·Khudri).

Berkata Ibnu Sayidin Nas: “Isnad Hadis ini shahih dan rijalnya semua dapat dipercaya. ”

Kalau Imam sedang membaca dengan jahar hendaklah ma’mum berdiam diri dan rnendengarkan dengan baik. Yang boleh dibaca ma’mum sedang Imam membaca, hanyalah al-Fatihah saja, supaya bacaan Imam jangan terganggu.

6. “Daripada Ubadah, berkata dia bahwa satu ketika Rasullullah s.a.w. sembahyang Subuh, maka memberati kepadanya bacaan. Maka takala sembahyang telah selesai, berkatalah beliau: Saya perhatikan kamu membaca. Berkata Ubadah: Kami jawab: Ya Rasulullah, memang kami mem­baca. Lalu berkatalah beliau: Jangan kamu lakukan itu, kecuali dengan Ummul-Quran. Karena sesungguhnya tidaklah sah sembahyang bagi barangsiapa yang tidak membacanya.” (Hadis ini dirawikan oleh Abu Daud dan T ermidzi).

7. Dari Ubadah bahwasanya Rasulullah s.a.w. pernah berkata: “Sekali-kali jangan seorangpun di antara kamu membaca sesuatu dari al-Quran, apabila aku menjahar, kecuali dengan Ummul Quran.” (Dirawikan oleh ad-Daruquthni)

Dan ada lagi beberapa Hadis yang lain yang bersamaan maknanya yaitu kalau Imam menjahar, yang boleh dibaca oleh ma’mum di belakang Imam yang menjahar itu hanyalah al-Fatihah saja, tetapi tidak boleh dengan suara keras, supaya jangan terganggu Imam yang sedang membaca.

Sungguhpun demikian ada juga perselisihan ijtihad di antara Ulama-ulama Fiqh tentang membaca di belakang Imam yang sedang menjahar itu. Kata setengah ahli ijtihad, kalau Imam membaca jahar, hendaklah ma’mum berdiam diri mendengarkan, sehingga al·Fatihah pun cukuplah bacaan Imam itu saja didengarkan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadis:

8. “Dan Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. berkata: Sesung­guhnya Imam itu lain tidak telah dijadikan menjadi ikutan kamu. Maka apabila dia telah takbir, hendaklah kamu takbir pula dan apabila dia membaca, maka hendaklah kamu berdiam diri.” (Dirawikan oleh yang berlima, kecuali T ermidzi. Dan berkata Muslim: “Hadis ini shahih”).

Dan mereka kuatkan pula dengan ayat 204 daripada Surat 7 (Surat al­A’raf).

Dan apabila dibaca orang al-Quran, maka dengarkanlah olehmu akan dia dan berdiam dirilah, supaya kamu diberi rahmat.”            (al-A’raf: 204)

Maka buah ijtihad dari golongan yang kedua ini, meskipun dihormati juga golongan yang pertama, tetapi tidaklah dapat menggoyahkan pendirian mereka bahwa walaupun Imam membaca jahar, namun ma’mum masih wajib membaca al·Fatihah di belakang Imam. Sebab – kata mereka – baik Hadis yang dirawikan Abu Hurairah tersebut, ataupun ayat dari akhir Surat al-A’raf itu ialah perintah yang am,sedang Hadis Ubadah dan Hadis-hadis yang lain itu ialah khas. Maka menurut  ilmu Ushul dalam hal yang seperti ini ada undang­-undangnya, yaitu:

“Membinakan yang am atas yang khas adalah wajib.”

Jadi kalau kita nyatakan seeara lebih mudah difahami ialah: Isi ayat Surat al­A’raf ialah memerintahkan kita mendengar dan berdiam diri ketika al-Quran dibaca orang. Itu aam atau umum di mana saja, kecuali seketika menjadi ma’mum di belakang Imam yang menjahar. Maka pada waktu itu perintah mendengar dan berdiam diri itu tidak berlaku lagi, sebab Nabi telah mengatakan bahwa tidak sah sembahyang barangsiapa yang tidak membaca al-Fatihah. Maka kalau dia mendengarkan bacaan Imam saja dan berdiam diri, padahal dia disuruh membaca sendiri di saat itu tidaklah sah sembahyangnya.

Hadis Abu Hurairah pun umum menyuruh takbir apabila Imam telah takbir dan berdiam diri, apabila Imam telah membaca. Inipun umum. Maka dikecuali­kanlah dia oleh Hadis Ubadah tadi, yang menegaskan larangan Rasulullah membaca apa-apa juapun, kecuali al·F atihah.

Dan datang pula sebuah Hadis Anas bin Malik, dirawikan oleh Ibnu Hibban, demikian bunyinya:

9. “Berkata Rasulullah s.a.w.: Apakah kamu membaca di dalam sem­bahyang yang kamu di belakang Imam, padahal Imam sedang membaca? Jangan berbuat begitu. T etapi hendaklah membaca tiap seorang kamu akan Fatihatul-Kitab di dalam dirinya. (Artinya; baca dengan tidak keras-keras.)”

Oleh sebab itu maka golongan pertama tadi menjalankanlah kedua maksud ini, yaitu mereka menetapkan membaca al-Fatihah, di belakang Imam yang menjahar, tetapi tidak boleh keras, supaya jangan terganggu Imam yang sedang membaca. Dan apabila telah selesai membaea al·F atihah, merekapun men­jalankan maksud Hadis, yaitu berdiam diri mendengarkan segala bacaan Imam yang lain.

Masalah ini adalah masalah ijtihadiyah, yang kalau ada orang yang berhenti samasekali membaea al-Fatihah karena berpegang pada Hadis Abu Hurairah dan ayat 104 Surat al-A’raf tadi, pegangannya ialah semata-mata ijtihad hendak­lah dihormati. Adapun penulis tafsir ini, kalau orang bertanya, manakah di antara kedua faham itu yang penulis merasa puas hati memegangnya, maka penulis menjawab: “Aku memegang faham yang pertama, yaitu walaupun Imam menjaharkan bacaannya, namun sebagai ma’mum penulis tetap membaca al­Fatihah untuk diri sendiri. Karena payah penulis hendak mengenyampingkan Hadis yang terang tadi, yaitu tidak sah sembahyang barangsiapa yang tidak membaca al-Fatihah.”

Adapun waktu membacanya itu, apakah seketika Imam berdiam diri sejenak, atau seketika dia membaca? Maka Ulama-ulama dalam MazhabSyafi’i, berpendapat boleh didengarkan Imam itu terlebih dahulu membaca al-F atihah dan dianjurkan supaya Imam berhenti sejenak memberi kesempatan kepada ma’mum supaya mereka membaca al-F atihah pula. T etapi kalau Imam itu tidak berhenti sejenak, melainkan terus saja membaca ayat at au Surat-surat yang mudah sehabis membaca al-Fatihah, maka sehabis Imam itu membaca al­Fatihah, terus pulalah si ma’mum membaca al-Fatihah, sedang Imam itu membaca Surat. Dan sehabis membaca al-Fatihah itu hendaklah si ma’mum berdiam diri mendengarkan apa yang dibaca Imam sampai selesai.

Advertisements

Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib ra Imam ke 4 Syiah ( Wafat 93 H )

Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra binti Rasulillah, terkadang ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan nama panggilannya adalah Zainal abidin dan As-Sajad, karena kebanyakan melakukan shalat dimalam hari dan di siang hari.

 Perjalanan hidupnya.

Diriwayatkan bahwa Ia menerima beberapa orang tamu dari Irak, lalu membicarakan Abu Bakar, Umar dan Utsman tentang sesuatu yang buruk terhadapnya, dan ketika mereka selesai bicara, maka ia berkata,”Apakah kalian termasuk kaum muhajirin yang didalam Alquran surat al-Hasyr: 8 yang menegaskanMereka yang diusir dari kampung halaman dan dipaksa meninggalkan harta benda mereka, hanya karena mereka ingin memperoleh karunia Allah dan keridhaan-Nya?”’ Mereka menjawab, ”Bukan…!”

”Apakah kalian termasuk kaum Anshar yang dinyatakan dalam Alquran surat al-Hasyr 97: ‘Mereka yang tinggal di Madinah dan telah beriman kepada Allah sebelum kedatangan kaum Muhajirin. Mereka itu mencintai dan bersikap kasih sayang kepada orang-orang yang datang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak mempunyai pamrih apa pun dalam memberikan bantuan kepada kaum Muhajirin. Bahkan mereka lebih mengutamakan orang-orang yang hijrah daripada diri mereka sendiri, kendatipun mereka berada dalam kesusahan?”’ ”Bukan…!”

Kalau begitu berati kalian menolak untuk tidak termasuk ke dalam salah satu dari kedua golongan tersebut. Selanjutnya ia berkata” Aku bersaksi bahwa kalian bukanlah orang yang dimaksud dalam firman allah, “”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Hasyr:10). Maka keluarlah kalian dari rumahku, niscaya Allah murka kepada kalian”.

Ali bin al Husein Zainal ‘Abidin dianggap sebagai ulama yang paling masyur di Madinah dan pemimpin ulama tabi’in di sana. Hal ini keterangan yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, dan yang diriwayatkan Ibnu Abbas.

Kurang lebih 30 tahun Zainal Abidin bergiat mengajar berbagai cabang ilmu agama Islam di Masjid Nabawi di Madinah. Sikap tidak berpihak pada kelompok mana pun tersebut mengundang simpati dari semua kelompok yang bertikai. Zainal Abidin disegani oleh segenap kaum Muslimin baik kawan maupun lawan.

Pada zamannya, Zainal Abidin diakui masyarakat Muslimin sebagai ulama puncak dan kharismatik. Ia sangat dihormati, disegani, dan diindahkan nasihat-nasihatnya. Kenyataan itu tidak hanya karena kedalaman ilmu pengetahuan agamanya, tidak pula karena satu-satunya pria keturunan Rasulullah, tetapi juga karena kemuliaan akhlak dan ketinggian budi pekertinya.

Salah seorang Putera ‘Amar bin Yasir meriwayatkan bahwa: pada suatu hari Ali bin Husein kedatangan suatu kaum, lalu beliau menyuruh pembantunya untuk membuatkan daging panggang, Kemudian pembantu itu dengan terburu buru sehingga besi untuk membakar daging terjatuh mengenai kepala anak Alin bin usein yang masih kecil sehingga anak tersebut meninggal. Maka Ali berkata kepada pembantunya,’ kamu kepanasan, sehingga besi itu jatuh’. Setelah itu beliau sendiri mempersiapkan untuk memakamkan anaknya.”. Menunjukan kesabaran dan kepasrahan beliau, dimana seorang pembantu telah menyebabkan kematian anaknya. sehingga ia membalas kejelekan dengan suatu kebaikan.

Sebuah keterangan yang diriwayatkan oleh Hisyam bin Abdul Malik ketika ia sedang menunaikan ibadah haji sebelum diangkat menjadi Khalifah, ia berusaha untuk mencium hajar aswad tetapi ia tidak mampu melakukannya, kemudian datang Ali bin Husein hendak mencium hajar aswad juga sehingga orang orang disekitarnya menyingkir dan berhenti lalu beliau menciumnya. Kemudian orang orang bertanya kepada Hisyam siapa orang itu?, dia menjawab aku tidak mengenalnya. Maka seseorang berkata” Aku mengenalnya, dia adalah Ali bin al Husein.

Para ulama sepakat bahwa Ali bin al Husein ini anak paling kecil dari Husein yang selamat, sedangkan kakak kakaknya dan kedua orang tuanya terbunuh sebagai syuhada. Zainal Abidin kecil selamat dari pembunuhan keluarga Rasulullah, ketika itu ia sedang terlentang diatas tempat tidur karena sakit, sehingga keadaanya luput dari pembunuhan, saat itu usianya 23 tahun. Allah melindungi dan menyelamatkannya.

Ia wafat pada tahun 74 H di Madinah dalam usia 58 tahun dan dimakamkan di Baqi. Riwayat lain dikatakan ia wafat pada tahun 93 H dalam usia 57 tahun.

Diringkas dari Biografi Ali bin Husein dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit Daar al Kutub as Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di Madinah al Nabawiyah.

 http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/01/ali-bin-al-husain-zainal-abidin-wafat-93-h-2/

Catitan hujung :

Dialog Imam as dengan tamu dari Iraq ibu boleh dirujuk pada  Kitab “Kasyful Ghummah”; juz 2; hal. 78; edisi Iran. Kita dapati dari dialog tersebut Imam Ali bin Hussin Bin Ali as  sangat membenci orang yang membenci Khalifah Abu Bakar, Umar ra dan Usman ra. Bagaimanapun Syiah menganggap sebaliknya. Kerana itu saya gemar mengatakan ulama Syiah telah memalsukan fakta sehinnga Syiah tertipu oleh sejarah.

Majlis Masjid-masjid Malaysia Akan Ditubuhkan

KANGAR, 24 Mei (Bernama) — Majlis Masjid-masjid Malaysia akan diwujudkan akhir tahun ini, yang antara lain bertujuan menyemarakkan penggunaan masjid sebagai institusi agama dan masyarakat.

Menteri di Jabatan Perdana Menteri Datuk Jamil Khir Baharom berkata pada masa ini seminar-seminar sedang berlangsung secara berperingkat di seluruh negara ke arah penubuhan majlis itu.

Bercakap dalam sidang media selepas majlis penutup seminar ke arah penubuhan Majlis Masjid-masjid Malaysia di Kuala Perlis hari ini, Jamil Khir berkata kerajaan berharap melalui majlis itu kelak, idea para imam seluruh negara dapat digabungkan untuk kebaikan umat Islam.

Katanya masjid adalah institusi masyarakat yang penting dan ia perlu berkonsepkan “mesra remaja” bagi memikat golongan remaja mendekati masjid.

Beliau berkata kerajaan juga sedang menimbang kemungkinan untuk menjadikan masjid di seluruh negara sebagai salah satu tempat bagi melahirkan askar wataniah.

Sebelum itu, Raja Muda Perlis Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail semasa menutup seminar itu menyarankan setiap masjid melahirkan empat askar wataniah setiap tahun.

Selain itu, masjid-masjid juga boleh dijadikan lokasi latihan askar wataniah.

Jamil Khir berkata idea yang dicetuskan oleh Raja Muda Perlis selaku Yang Dipertua Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis (MAIPs) sememangnya boleh membentuk masyarakat yang berdisplin.

Ketika berucap sebelum itu, Jamil Khir berkata kerajaan memperuntukkan hampir RM75 juta sebagai imbuhan kepada 14,195 imam mukim dan kariah di seluruh negara tahun ini.

Selain itu sebanyak RM11.4 juta diperuntukkan sebagai elaun mengajar 3,313 orang guru takmir seluruh negara.

– BERNAMA

Majlis Masjid-Masjid Seluruh Malaysia

Latar Belakang Penubuhan Majlis Masjid-Masjid Seluruh Malaysia (0255-09-WKL)

i. Majlis Masjid-Masjid Seluruh Malaysia (MMSM) telah didaftarkan sebagai pertubuhan yang sah pada 11.02.2009.

ii. Ibu Pejabat d/a Masjid Saidina Abu Bakar As-Siddiq, Jalan Ara, Bangsar, 59100 Kuala Lumpur.

Tel: 03-22833707; Fax: 03-22821222

iii.  Penubuhannya terhasil dari Seminar Pengurusan Masjid Anjuran JAKIM di Klang pada Disember 2007.

iv. Dalam Seminar tersebut para peserta telah didedahkan dengan berbagai-bagai bentuk ancaman terhadap Islam dan juga tentang kelemahan-kelemahan umat Islam di Malaysia khasnya dalam bidang ekonomi.

v. Di hujung seminar tersebut satu resolusi telah dicapai bagi mencari jalan untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan mewujudkan satu mekanisma yang berkesan  untuk membela Ummah.

vi. Beberapa sessi perbincangan telah diadakan antara JAKIM dan AJK Penaja bagi menggubal Perlembagaan sebelum dihantar kepada pihak Pendaftar Pertubuhan. JAKIM telah memainkan peranan penting bagi merealisasikan pertubuhan ini.

vii. Akhirnya wujudlah MMSM untuk mencari jalan yang efektif bagi menjamin kesejahteraan Ummah.

Fee Masuk dan Yuran Tahunan adalah seperti berikut :­1. Wang Fee Masuk

(i) Ahli Biasa -RM 50.00

(ii) Ahli Bersekutu – RM 50.00

Yuran Tahunan

(i) Ahli Biasa Masjid Negara = RM500.00
    Masjid negeri = RM300.00
    Masjid daerah = RM200.00
    Masjid bandar = RM200.00
    Masjid pinggir bandar = RM100.00
    Masjid-masjid lain = RM50.00
    Surau-surau = RM50.00

Harapan :

i. Semua masjid dan surau adalah diharapkan supaya menjadi Ahli MMSM.

ii. Di Malaysia telah wujud rnasjid / surau telah berabad­ abad lamanya tetapi tidak pernah terfikir kepada kita untuk menggabungkannya pada rnasa yang lalu.

iii. Oleh yang dernikian adalah agak tidak terlewat gabungan ini diadakan oleh jenarasi hari ini. Kita sudah tidak ada rnasa lagi untuk bertangguh.

iv. Perkara yang boleh rnernbawa kebaikan hendaklah didokong oleh kita semua. InsyaAliah berjaya ..

v. Adalah diharapkan supaya sarna-sarna kita rnernberi sokongan dan kerjasama sepenuhnya kepada peran­. cangan ini.

Pertanyaan : Hubungi Tel: 03-22833707; Fax: 03-22821222

________________

Maklumat daripada Seminar Penubuhan Majlis Masjid-masjid Seluruh Malaysia di Kuala Perlis pada 24 Mei 2009, anjuran bersama, JAKIM dan JAIPs

Sariqah : Apa sudah jadi HARUMANIS dikebas orang

Seorang sahabat mengeluh, harumanis di kebunnya di kebas orang. Bukan dia seorang yang terlibat. Banyak lagi yang terima nasib macam dia. Malah harumanis Jabatan Pertanian Juga dicuri. Itu Jabatan Kerajaan yang ada jaga. Berita ini ada dalam akhbar sebelum ini. Seorang sahabat yang lain pula terpaksa meronda di kebunya beberapa kali bagi setiap malam bagi memastikan harumaninya tidak dicuri orang. Malah penulis sendiri yang  ada beberapa pokok untuk makan keluarga telah dua musim dikebas orang. Mengapa ini terjadi ? Kerana harumanis mahal ! Sebiji harumanis boleh bernilai RM3.00 atau lebih !

Apa sudah jadi masyarakat kita ?

Dulu getah mahal – getah sekerap dicuri. Besi mahal – habis besi buruk dicuri. Lambat lepa, besi penutup longkang masjid pun dicuri, malah segala-galanya bahan besi terpakai dan sedang dipakai juga dicuri. Apa sudah jadi ?

Mengapa begitu rosak masyarakat kita?  Saya kira jawapannya ada di bawah ini.

Allah berfirman , maksudnya :

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Al Maidah  38 )

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

( An Nissa 13-14)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. memotong tangan pencuri dalam (pencurian) sebanyak seperempat dinar ke atas. (Shahih Muslim No.3189)

 

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada zaman Rasulullah saw. tangan seorang pencuri tidak dipotong pada (pencurian) yang kurang dari harga sebuah perisai kulit atau besi (seperempat dinar) yang keduanya berharga. (Shahih Muslim No.3193)

 

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pernah memotong tangan seorang yang mencuri sebuah perisai yang berharga tiga dirham. (Shahih Muslim No.3194)

 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Allah melaknat seorang pencuri yang mencuri sebuah topi baja lalu dipotong tangannya dan yang mencuri seutas tali lalu dipotong tangannya. (Shahih Muslim No.3195)

 

Allah berfirman , maksudnya :

Kemudian Kami jadikan kamu (wahai Muhammad )menjalankan satu  syariat (peraturan)yang cukup lengkap dari hukum-hukum agama) , maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui . ( al Jasiyah 18 )

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. ( Al Baqarah 229 )

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong  ( agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. ( Muhammad 7 )

Penulis yakin kita telah tidak di tolong oleh Allah swt kerana hukum Allah telah diabaikan…

Ya Allah kepadamu kami memohon ampun.

* Sariqah = mencuri

Anda boleh lawati laman ini  http://alkhatab.tripod.com/bah1bab2hududfasal4sariqahper6568/  untuk  mengetahui hukum mengenai sariqah. Atau anda boleh merujuk  Kitab Qanun Jinayah Syariah Dan Sistem Kehakiman Dalam Perundangan Islam Berdasarkan Quran Dan Hadis

Anwar Ridhwan : PPSMI – Martabat Bahasa Melayu di Negara Sendiri ?

Martabat Bahasa Melayu di Negara Sendiri*

Seperkara lagi yang amat penting kita teliti dan pantau, khususnya oleh penulis muda penyambung generasi, ialah status bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi dan Bahasa Kebangsaan di negara ini. Hal ini penting kerana bahasa amat erat kaitannya dengan sastera, dan jati diri bangsa.
Kita sedang menyaksikan akhbar-akhbar bukan berbahasa Melayu sedang mendominasi edaran harian. Kita sedang menyaksikan program-program bahasa Inggeris menjadi kuasa majoriti media elektronik. Kita sedang menyaksikan bahasa Melayu mula dipinggirkan sebagai bahasa ilmu tinggi. Suatu hari kelak (mungkin tempohnya sudah begitu hampir, berada di sudut blok kehidupan kita), mungkinkah sastera Melayu juga akan tergeser daripada pentas kehidupan yang utama – diganti oleh bangsa dan masyarakat kita dengan sastera bahasa lain?
Sehubungan itu, cabaran yang menanti di hadapan kita ialah untuk memulihkan status bahasa Melayu di negara sendiri, dan memperkasakannya dalam setiap ranah kehidupan. Mengapa isu kedudukan dan masa depan bahasa Melayu di negara sendiri terus dipersoalkan? Sejak kira-kira sedekad yang lalu, isu bahasa Melayu ini merupakan salah satu ujian besar bangsa Melayu sendiri. Segalanya bermula dan berpangkal pada ada atau tidaknya rasa bangga terhadap bahasa Melayu – terutamanya oleh pemimpin Melayu dan oleh orang Melayu sendiri.
Apabila disebut ‘pemimpin’, secara spontan kebanyakan kita akan mengindentifikasikannya dengan pemimpin politik, terutama elit pemerintah. Sungguhpun takrifannya tidak semestinya menjurus ke situ sahaja, tetapi begitulah persepsi masyarakat Malaysia. Sejak sekian lama politik dan orang politik mencitrakan diri sebagai panglima dan ‘juru selamat’ untuk apa-apa sahaja isu di bawah matahari Malaysia ini. Bukan tidak sering, pendapat pakar tentang sesuatu isu telah disisihkan oleh orang politik; dan mereka – secara demokratik atau pun sebaliknya – mengketengahkan beberapa idea sendiri yang mesti diterima dan dilaksanakan.
Dalam soal rasa bangga terhadap bahasa Melayu, orang Melayu terutamanya akan terlebih dahulu melihat sikap serta peranan pemimpin politik Melayu mereka. Masyarakat selalu bertanya, sejauh mana pemimpin politik Melayu yang berkuasa meneguhkan dan menterjemahkan rasa bangga bahasa Melayu dalam kapasiti mereka? Sejauh mana mereka memperkasakan bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi dan Bahasa Kebangsaan negara ini? Sejauh mana mereka memperteguhkan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu moden? Sejauh mana mereka memanfaatkan bahasa Melayu yang sejak sekian lama menjadi lingua franca rantau ini untuk terus menjadi bahasa perpaduan di Semenanjung, Sabah dan Sarawak?
Sejak sedekad yang lalu, masyarakat Melayu pada umumnya meragui adanya rasa bangga bahasa Melayu di kalangan ahli politik Melayu yang berkuasa. Berucap dalam bahasa Inggeris dalam majlis rasmi atau majlis separa rasmi yang dihadiri oleh rakyat Malaysia, melonggarkan penggunaan Bahasa Kebangsaan ketika pihak swasta berurusan secara rasmi dengan kerajaan, menggunakan bahasa Inggeris dalam pengajaran sains dan matematik – yang akan merebak kepada ilmu-ilmu yang lain, menukar nama bahasa Melayu menjadi bahasa Malaysia, dan tiadanya usaha bersungguh-sungguh untuk membenihkan jati diri kolektif sejak di sekolah rendah bagi semua kaum melalui bahasa pengantar Melayu yang tunggal – sebagaimana Indonesia dan Thailand membangga-bahasakan bahasa rasmi mereka, adalah antara bukti bahawa pemimpin politik Melayu yang berkuasa kurang atau tidak memiliki sikap rasa bangga bahasa Melayu dalam diri mereka. Mereka mempunyai pertimbangan lain, termasuk politik, yang dilihat lebih besar dan wahid berbanding bahasa bangsanya.
Adalah suatu ironi dan tragedi apabila bangsa yang sedang berkuasa di sesebuah negara, tidak menggariskan wawasan yang besar dan realistik tentang masa depan bahasanya, sebaliknya meminggirkan bahasanya ke sudut pentas kehidupan utama bangsa dan negara.
Orang Melayu, termasuk pencinta dan pejuang bahasa Melayu tentu mengharapkan ahli politik Melayu yang sedang berkuasa berbuat sesuatu untuk memperkasakan bahasa Melayu dalam pelbagai lapangan kehidupan. Bahasa Melayu telah berakar, tumbuh dan berkembang di Alam Melayu selama ribuan tahun, menjadi bahasa pengucapan seni dan pemikiran tinggi termasuk dalam bidang agama, ilmu pengetahuan dan falsafah. Sehubungan itu bahasa Melayu wajar disemarakkan sebagai bahasa rasmi, bahasa ilmu moden (sebagaimana UKM telah membuktikannya pada dekad 1980-an dan awal 1990-an), serta bahasa komunikasi dan perpaduan rakyat negara ini.
Antagonis pemerkasaan bahasa Melayu yang kebanyakannya berselindung di balik nama samaran, khususunya yang melibatkan isu PPSMI, menggunakan alasan pentingnya bahasa Inggeris dalam kehidupan hari ini dan masa depan. Yang lebih ekstrim dan sinikal, menuduh pejuang bahasa Melayu sebagai anti-bahasa Inggeris dan tidak dapat melihat kepentingan bahasa Inggeris di dunia global hari ini.
Jawapan tegas daripada pejuang dan pencinta bahasa Melayu, yang sering didengar, dan tidak pernah mencairkan semangatnya serta terasa kebenarannya ialah, mereka tidak sekali-kali anti bahasa Inggeris. Hanya mereka mempersoalkan, mengapa dalam upaya mengukuhkan penguasaan bahasa Inggeris yang dijadikan mangsa serta korban ialah bahasa Melayu. Mereka berhujah lagi bahawa dengan meminggirkan bahasa Melayu dalam P&P sains dan matematik – yang akan merebak ke subjek-subjek sains yang lain – taraf bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu moden telah dinafikan oleh suatu dasar ciptaan ahli politik Melayu sendiri!
Pejuang dan pencinta bahasa Melayu meneruskan hujah yang selalu didengar, bahawa subjek sains dan matematik bukanlah wadah yang sesuai bagi P&P bahasa Inggeris. Mengapa tidak P&P subjek bahasa Inggeris itu sahaja yang dimantapkan, termasuk mewujudkan sesi-sesi yang sistematik bagi menguasai bahasa Inggeris sebagai bahasa komunikasi dan sebagainya.
Apabila bahasa Inggeris dijadikan dasar sebagai bahasa pengantar dalam subjek sains dan matematik di seluruh negara, maka dasar itu secara automatik melibatkan para pelajar di bandar, luar bandar, ceruk dan pedalaman. Bagi segelintir pelajar dan ibu bapa di kawasan bandar, mereka menyambut baik dasar ini kerana mereka dan anak mereka boleh menguasai bahasa Inggeris. Tetapi sesuatu dasar dicipta untuk semua, bukan untuk kepentingan serta faedah segelintir pelajar. Bagaimana dengan nasib pelajar-pelajar luar bandar, ceruk dan pedalaman – yang jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah segelintir pelajar bandar?
Jika sesuatu dasar, seperti dasar PPSMI ini hanya memberi faedah kepada segelintir pelajar, tetapi dalam masa yang sama mengecewakan begitu banyak pelajar luar bandar, ceruk dan pedalaman, maka dasar itu boleh dianggap gagal. Para pelajar di luar bandar, ceruk dan pedalaman bukan sahaja tidak dapat mempertingkatkan penguasaan bahasa Inggeris mereka melalui P&P sains dan matematik, malah lebih malang lagi tidak dapat menguasai ilmu sains dan matematik yang disampaikan bukan melalui bahasa ibunda mereka. Jika kegagalan itu berterusan, dan dianggap remeh pula oleh kementerian yang berkenaan, maka satu generasi pelajar luar bandar, ceruk dan pedalaman (kebanyakannya Melayu) menjadi mangsa kepada dasar yang tidak adil ini. Akibat kegagalan itu, mereka akan terlepas peluang pekerjaan yang lebih baik.
Terdengar cakap-cakap yang kurang menyenangkan bahawa kementerian yang berkenaan sedaya mungkin mempertahankan dasar tersebut, dengan memanipulasi keputusan peperiksaan. Khabarnya, tahap markah lulus telah direndahkan, supaya dapat menunjukkan bahawa PPSMI telah melihatkan hasil yang membanggakan, dan dengan itu wajar diteruskan. Jika cakap-cakap dan khabar ini benar, malang sekali generasi pelajar Malaysia, kerana statistik lulus peperiksaan tidak menceritakan situasi yang sebenar.
Pendidikan harus kembali kepada fitrah manusia dan bahasa ibundanya. Fitrah ini lebih bermakna kepada para pelajar sekolah rendah dan sekolah menengah. Dengan ayat yang lain, pelajar sekolah rendah (terutamanya) lebih mudah memahami dan menguasai sesuatu ilmu yang disampaikan melalui bahasa ibundanya. Sebagai ilustrasi, jika kita (baca : ibu bapa Melayu) mempunyai sepasang anak kembar berusia tujuh tahun, seorang belajar sains dan matematik dalam bahasa Melayu, dan seorang lagi belajar melalui bahasa asing, tentulah anak yang belajar melalui bahasa Melayu itu lebih mudah memahami dan menguasai kedua-dua subjek tersebut berbanding kembarnya yang seorang lagi.
Sebab itulah sekolah-sekolah jenis kebangsaan Cina berkeras mahu mengajar sains dan matematik dalam bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin lebih merupakan ‘bahasa ibunda’ kepada para pelajar Cina. Memang terdapat juga pelajar Melayu dan India di sekolah Cina, tetapi mereka belajar bahasa Mandarin dalam kelas bahasa Mandarin, bukan belajar Mandarin melalui sains dan matematik.
Belajar menguasai ilmu dan belajar bahasa asing adalah dua isu yang berbeza. Segala ilmu pada hakikatnya lebih mudah dipelajari melalui bahasa ibunda. Akan tetapi dalam masa yang sama para pelajar kita wajar digalakkan mempelajari dan menguasai beberapa bahasa asing – melalui kelas-kelas bahasa, bukan melalui subjek lain.
Sehubungan itu memang wajarlah jika terdapat desakan rasional agar dasar PPSMI dimansuhkan, dan kedua-dua subjek tersebut kembali diajar dalam bahasa Melayu. Dalam masa yang sama, pelajar-pelajar mesti didedahkan kepada P&P bahasa-bahasa asing (Inggeris, Mandarin, Arab, Perancis, Itali, Sepanyol dll) , di dalam kelas-kelas bahasa yang sistematik, menarik dan berkesan.
Jika pelajar-pelajar kita mula menguasai bahasa asing seperti Inggeris, Mandarin, Arab dan sebagainya dengan baik, mereka bukan sahaja boleh berkomunikasi melalui bahasa ini, malah boleh melanjutkan pelajaran dalam apa jua bidang ilmu yang memerlukan penguasaan bahasa asing tersebut.
Dalam konteks Malaysia, penguasaan bahasa asing (bagi pelajar Melayu khususnya) terutamanya penguasaan bahasa Inggeris dan Mandarin, memanglah penting. Oleh kerana kepentingan itu, subjek dua bahasa ini wajar diajar secara sistematik, menarik dan berkesan dalam kelas-kelas bahasa, bukan memparasit subjek sains dan matematik. Jangan sampai ‘yang dikendong berciciran, yang dikejar tiada dapat’, atau seperti ungkapan pilu yang diubah suai ‘Balik Pulau Bayan Lepas, ilmu terpelau bahasa terlepas.’
Berbeza daripada dekad 1950-an hingga 1980-an yang menyaksikan ‘kerajaan’ merupakan majikan terbesar bagi orang Melayu berkelulusan, kini pihak ‘swasta’lah yang merupakan majikan terbesar. Senario ini menuntut orang Melayu berkelulusan untuk menguasai bahasa lingkaran bisnes tersebut – Inggeris, Mandarin dan sebagainya.
Dengan ilmu yang dikuasai melalui bahasa ibunda (bahasa Melayu umpamanya), dan bahasa asing yang dipelajari secara sistematik di dalam kelas bahasa, gabungan ilmu dan bahasa ini boleh menjadi modal insan yang mengketegahkan ‘towering personality’. Kembalikan ilmu ke lidah bahasa ibunda generasi muda kita. Kembalikan P&P bahasa asing ke dalam kelas-kelas bahasa yang sistematik, menarik dan berkesan, bukan membiarkannya memparasit subjek-subjek yang lain.

________________

*Cabutan dari pembentangan  dalam ‘Perhimpunan Penulis Muda 2009’ anjuran PENA dengan Kerjasama DBP, dan Majlis Bandaraya Melaka Bersejarah,
22-24 Mei 2009, di Puteri Resort, Ayer Keroh, Melaka.

Nasihat Sufyan Ats-Tsauri Kepada Ali bin AI-Hasan

Sufyan Ats-Tsauri * berkata kepada Ali bin AI-Hasan dalam nasihatnya,

“Saudaraku, hendaklah engkau makan dari penghasilan yang baik dan apa yang dihasilkan tanganmu. Jangan memakan dan memakai kotoran manusia (zakat), karena perumpamaan orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti ruang atas yang tidak mempunyai ruang bawahnya. la selalu takut jatuh ke bawah dan ruang atasnya rusak.

Orang yang memakan kotoran manusia (zakat) itu selalu berbicara dengan hawa nafsu dan merendah kepada manusia karena takut mereka menghindar daripadanya.

Saudaraku, jika Anda memakan sesuatu dari manusia, maka Anda memotong lidah Anda, menghormati sebagian manusia, dan menghina sebagian yang lain. Ini belum termasuk apa yang menimpa Anda pada Hari Kiamat kelak. Sesungguhnya yang diberikan kepadamu adalah kotorannya dan yang dimaksud dengan kotoran ini bahwa orang tersebut mencuci amal perbuatannya dari dosa-dosa.

Jika Anda memakan sesuatu dari manusia; jika Anda diajak kepada kemungkaran. Anda pasti menurutinya, karena orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti orang yang bersekutu dengan orang lain dalam satu kepentingan dan ia harus berbagi hasil dengannya.

Saudaraku, lapar dan sedikit ibadah itu lebih baik daripada Anda kenyang dengan kotoran manusia (zakat) dan banyak ibadah.

Aku mendapat khabar bahwa Rasulullah saw  bersabda,

‘Jika salah seorang dari kalian mengambil tali, kemudian mengambil kayu bakar hingga membelakangi (memenuhi) punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia berdiri di depan saudaranya; ia mengemis kepadanya, dan berharap kepadanya.’

Aku juga mendapat khabar, bahwa Umar bin Khaththab ra  berkata,

‘Barangsiapa di antara kalian kerja, kami memujinya. Dan barangsiapa di antara kalian tidak kerja, kami mencurigainya.’

Umar bin Khaththab ra  juga berkata,

‘Hai para qari’, angkatlah kepala kalian, dan kalian jangan menambah kekhusyukan melebihi kekhusyukan yang ada di dalam hati. Berlomba-­lombalah kalian dalam kebaikan, dan jangan menjadi tanggungan orang lain, karena jalan ini telah terlihat dengan jelasl’

Ali bin Abu Thalib ra berkata,

‘Sesungguhnya orang yang makan dari tangan manusia adalah seperti orang yang menanam pohon di tanah milik orang lain.’

Jadi bertakwalah kepada Allah, karena seseorang tidak mendapatkan sesuatu dari manusia melainkan ia menjadi orang hina dan kerdil di mata manusia, padahal kaum Mukminin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.

Anda jangan sekali-kali mencari uang dari pekerjaan kotor kemudian Anda menginfakkanya dalam ketaatan kepada Allah, karena meninggalkan pekerjaan kotor adalah kewajiban yang diwajibkan Allah, dan sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.

Tidakkah Anda pernah melihat orang yang pakaiannya terkena air kencing, kemudian ia ingin membersihkannya dan mencucinya dengan air kencing yang lain? Tidakkah Anda lihat ia membersihkannya dengan air kencing yang lain? Ya, sesungguhnya kotoran itu tidak bisa dibersihkan kecuali dengan sesuatu yang bersih.

Demikian pula kesalahan, ia tidak bisa dihapus kecuali dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali hal-hal yang baik­-baik, serta sesungguhnya hal-hal yang haram itu tidak diterima dalam amal perbuatan apa pun.

Ataukah Anda pernah melihat seseorang melakukan dosa kemudian ia menghapusnya dengan dosa yang lain’?”

(Diriwayatkan Abu Nu’aim).

____________

*Sufyan Ats-Tsauri – nama aslinya Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al Kufi, ia seorang Al-hafidh adl Dlabith (Penghapal yang cermat). Ia lahir di Kufah pada tahun 97 H dan wafat  191 H. Ayahnya Sa’id salah seorang ulama Kufah, Ia cermat dalam periwayatan hadist sehingga Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Ma’in menjulukinya “Amirul Mu’minin fi al-Hadits”, gelar yang sama disandang oleh Malik bin Anas.

Khutbah Utbah bin Ghazwan

Khalid bin Umar Al-Adawi berkata, bahwa Utbah bin Ghazwan* pernah berkhutbah kepada kami. la mulai khutbahnya dengan memuji Allah, dan menyanjung-Nya. Setelah itu, ia berkata,

Amma ba’du.

Sesungguhnya dunia telah mengumumkan diri akan segera pergi. Dia akan pergi dengan cepat, dan tidak ada yang tersisa di dalamnya kecuali sisa seperti sisa air minuman yang diminum seseorang. Setelah itu, kalian pindah ke negeri yang abadi. Oleh karena itu, pindahlah kalian dengan amal perbuatan kalian yang paling baik, karena telah disebutkan kepada kami, bahwa batu dilemparkan dari atas tepi Jahannam kemudian batu tersebut jatuh di dalamnya selama tujuh puluh tahun, namun belum sampai di dasarnya.

Demi Allah, neraka Jahannam tersebut pasti penuh. Apakah kalian heran? Sungguh juga telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara daun pintu di surga adalah seperti perjalanan selama empat puluh tahun, dan pasti daun pintu tersebut didatangi pada suatu hari, sedang ia dalam keadaan penuh sesak.

Sungguh, aku adalah orang ketujuh bersama Rasulullah saw  dan kami tidak mempunyai makanan selain daun-daun pohon, hingga mulut kami terluka. Kemudian aku mengambil kain burdah, lalu menyobeknya menjadi dua; satu untuk aku pakai, dan satunya untuk Sa’ad bin Malik ra ( Saad bin abi Waqas ra ). Dan sekarang, setiap dari kami menjadi salah seorang gubernur di salah satu kota.

Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari menjadi besar dalam diriku, sedang di sisi Allah bernilai kecil.

Sesungguhnya kenabian itu telah terputus hingga yang tersisa adalah kerajaan, kalian akan mengetahui perbuatan penguasa sepeninggal kami kelak (Diriwayatkan Muslim).

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­____________________

* Utbah bin Ghazwan adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw, dan sahabat generasi pertama yang masuk Islam. la ikut perang Badar dan perang-perang lainnya bersama Rasulullah saw. la termasuk salah satu komandan perang kaum Muslimin. Dialah sahabat yang membangun dan mendirikan kota Basrah.

Imam An Nawawi (631-675 H )

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Al Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Hussain bin Jumu’ah bin Hizam Al Hizamy An Nawawi Asy Syafi’i.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa daerah Hauran termasuk wilayah Damaskus Syiria.

Sifat – sifatnya

Beliau adalah tauladan dalam kezuhudan, wara’, dan memerintah pada yang ma’ruf dan melarang pada yang mungkar.

Pertumbuhannya

Ayahandanya mendidik, mengajarnya, dan menumbuhkan kecintaan kepada ilmu sejak usia dini. Beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebelum baligh. Ketika Nawa tempat kelahirannya tidak mencukupi kebutuhannya akan ilmu, maka ayahandanya membawanya ke Damaskus untuk menuntut ilmu, waktu itu beliau berusia 19 tahun. Dalam waktu empat setengah bulan beliau hafal Tanbih oleh Syairazi, dan dalam waktu kurang dari setahun hafal Rubu’ Ibadat dari kitab muhadzdzab.

Setiap hari beliau menelaah 12 pelajaran, yaitu dua pelajaran dalam Al Wasith, satu pelajaran dalam Muhadzdzab, satu pelajaran dalam Jamu’ baina shahihain, satu pelajaran dalam Shahih Muslim, satu pelajaran dalam Luma’ oleh Ibnu Jinny, satu pelajaran dalam Ishlahul Manthiq, satu pelajaran dalam tashrif, satu pelajaran dalam Ushul Fiqh, satu pelajaran dalam Asma’ Rijal, dan satu pelajaran dalam Ushuluddin.

Guru – guru

Di antara guru – gurunya dalam ilmu fiqh dan ushulnya adalah Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al Maghriby, Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad Al Maqdisy, Sallar bin Hasan Al Irbily, Umar bin Indar At Taflisy, Abdurrahman bin Ibrahim Al Fazary.

Adapun guru – gurunya dalam bidang hadits adalah Abdurrahman bin Salim Al Anbary, Abdul Aziz bin Muhammad Al Anshory, Khalid bin Yusuf An Nabilisy, Ibrahim bin Isa Al Murady, Ismail bin Ishaq At Tanukhy, dan Abdurrahman bin Umar Al Maqdisy.

Adapun guru – gurunya dalam bidang Nahwu dan Lughah adalah Ahmad bin Salim Al Mishry dan Izzuddin Al Maliky.

Murid – muridnya

Di antara murid muridnya adalah Sulaiman bin Hilal Al Ja’fary, Ahmad bin Farrah Al Isybily, Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah, Ali bin Ibrahim Ibnul Aththar, Syamsuddin bin Naqib, Syamsuddin bin Ja’wan dan yang lainnya.

Pujian para ulama kepadanya

Ibnul Aththar berkata,

“Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara’, muraqabah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang – bidangnya, rijalnya, dan ma’rifat shahih dan dha’ifnya, beliau juga seorang imam dalam madzhab fiqh.”

Quthbuddin Al Yuniny berkata,

“Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, wara’, ibadah, dan zuhud.”

Syamsuddin bin Fakhruddin Al Hanbaly,

“Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat wara’ dan zuhud.”

Aqidahnya

Al Imam An Nawawi terpengaruh dengan pikiran Asy ‘ariyyah sebagaimana nampak dalam Syarh Shahih Muslim dalam mentakwil hadits – hadits tentang sifat – sifat Allah. Hal ini memiliki sebab – sebab yang banyak di antaranya ;

  1. Terpengaruh dengan pensyarah Shahih Muslim yang sebelumnya seperti Qadhi Iyadh, Maziry, dan yang lainnya, karena beliau banyak menukil dari mereka ketika mensyarah Shahih Muslim.
  2. Beliau belum sempat secara penuh mengoreksi dan mentahqiq tulisan – tulisannya, tetapi beliau tidak mengikuti semua pemikiran Asy’ariyyah bahkan menyelisihi mereka dalam banyak masalah.
  3. Beliau tidak banyak mendalami masalah Asma’ wa Sifat, sehingga banyak terpengaruh dengan pemikiran Aay’ariyyah yang berkembang pesat di zamannya.

Di antara keadaan – keadaannya

Ibnul Aththar berkata,

“Guru kami An Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia – nyiakan waktu , tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan manghafal.”

Rasyid bin Mu’aliim berkata,

“Syaikh Muhyiddin An Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah – buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur.”

Kitab-kitabnya

Di antara tulisan – tulisannya dalam bidang hadits adalah Syarah Shahih Muslim, Al Adzkar, Arba’in, Syarah Shahih Bukhary, Syarah Sunan Abu Dawud, dan Riyadhus Shalihin.

Diantara tulisan – tulisannya dalam bidang ilmu Al Qur’an adalah At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an.

Wafat

Al Imam An Nawawi wafat di Nawa pada 24 Rajab tahun 676 H dalam usia 45 tahun dan dikuburkan di Nawa. semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.

Sumber: Tadzkiratul Huffadzoleh Adz Dzahaby 4 / 1470 – 1473 dan Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/230 – 231.

Hidup laksana pengembara

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata :

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “

(Riwayat Bukhori)

Pelajaran : Imam Nawawi  menulis ,

  1. Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu bila datang ajalnya.
  2. Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
  3. Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.
  4. Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
  5. Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
  6. Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
  7. Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
  8. Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.