Persediaan Bertemu Allah : 10 Perintah Jangan

USTAZ DR. MOHD.  NASIR BIN ABD. HAMID USTAZ DR. MOHD. NASIR BIN ABD. HAMID 

Masjid as Syakirin : 22 Julai 2009

Intisari Kuliah Magrib Bulanan : Ustaz Dr. Mohd. Nasir Abd. Hamid (Pensyarah UiTM Arau )

Dalam memperkatakan Israk dan Mikraj penceramah membacakan ayat pertama surah al Israa’ atau di panggil juga surah Bani Israil :

[Ayat : 1]

Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkati sekelilingnya, untuk diperlihatkan kepadanya tanda kekuasaan Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

 

Menghuraikan peristiwa Israk Mikraj penceramah membaca dan menghuraikan hadis nabi berkaitan dengan pembedahan dada Rasullah untuk mensucikannya dan di masukkan hikmah kedalamnya serta hadis mengenai hidangan susu dan arak dan Rasullah memilih susu dan Jibrail as mengatakan Rasullah telah memilih hikmah. Sila baca maksud hadis tersebut dengan klik pada alamat http://masjidassyakirin.wordpress.com/2009/07/23/hadis-isra-mikraj/

Mengenai pembedahan dada Rasullah Ustaz Dr Mohd Nasir telah kaitkan dengan tokoh saintis terkenal iaitu Az Zahrawi  seorang Pelopor Pembedahan Moden. Saudara pembaca boleh membaca lebih lanjut dengan klik di sini 

http://masjidassyakirin.wordpress.com/2009/07/23/abu-al-qasim-al-zahrawi-pakar-bedah-terulung/

Jika Rasullah saw sebelum diangkat menemui Allah di bersihkan hatinya dan jiwanya dengan pembedahan oleh Jibril as di tepi telaga zam-zam dan dimasukan pula hikmah bagi kali ke dua, selepas kali pertama Baginda Rasullah juga di bersihkan denagn pembedahan sebelum menjadi Rasul, maka kita juga perlu membuat persediaan JIKA INGIN berisrak atau berjumpa Rab kita – demikian kata penceramah.

Penceramah mengutip 10 perintah JANGAN daripada Surah ke 17 Surah al Israa’. Saya catit 10 perintah tersebut dengan sedikit huraian:

SATU:

 [Ayat : 22]

Janganlah engkau adakan tuhan yang lain bersama Allah, kerana akibatnya engkau akan tinggal dalam keadaan tercela dan hina.

 Allah SWT melarang manusia, mengada-adakan tuhan yang lain selain Allah, seperti menyembah patung dan arwah nenek moyang dengan maksud supaya dapat mendekatkan diri kepada Nya. Termasuk yang dilarang itu ialah meyakini adanya tuhan selain Allah mengakui adanya kekuatan-kekuatan yang lain selain Allah yang dapat mempengaruhi dirinya, atau melakukan perbuatan nyata, seperti memuja benda-benda alam, ataupun kekuatan gaib yang lain, yang mereka anggap sebagai Tuhan, atau mereka angan-angankan. Larangan ini ditujukan kepada seluruh manusia, agar mereka tidak tersesat dan tidak menyesatkan karena melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan terhadap Penciptanya Pada hal mereka seharusnya mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, tidak mengada-adakan tuhan yang lain, yang sebenarnya tidak berkuasa sedikitpun untuk memberikan pertolongan kepada mereka, dan tidak berdaya pula untuk memberikan mudarat

KEDUA :

[Ayat : 23]

Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada kedua ibu bapa. Jika salah seorang dari keduanya, atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada keduanya sekalipun perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau menengking mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

 Dua pekara di perintahkan dalam ayat ini :

Pertama:
Sekali lagi di ulangani agar mereka tidak menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Dia. Termasuk pada pengertian menyembah Tuhan selain Allah, ialah mempercayai adanya kekuatan lain yang dapat mempengaruhi jiwa dan raga, selain kekuatan yang datang dari Allah. Semua benda yang ada, yang kelihatan ataupun yang tidak, adalah makhluk Allah.
Oleh sebab itu yang berhak mendapat penghormatan tertinggi, hanyalah yang menciptakan alam dan semua isinya. Dia lah yang memberikan kehidupan dan kenikmatan pada seluruh makhluk Nya. Maka apabila ada manusia yang memuja-muja benda-benda alam ataupun kekuatan gaib yang lain, berarti ia telah sesat, karena kesemua benda-benda itu adalah makhluk Allah, yang tak berkuasa memberikan manfaat dan tak berdaya untuk menolak kemudaratan, serta tak berhak disembah.
Kedua:
Agar mereka berbuat baik kepada kedua ibu-bapak mereka, dengan sikap yang sebaik-baiknya Allah SWT memerintahkan kepada manusia, agar berbuat baik kepada ibu bapak, sesudah memerintahkan kepada mereka beribadah hanya kepada-Nya, dengan maksud agar manusia memahami betapa pentingnya berbuat baik terhadap ibu-bapak itu dan agar mereka mensyukuri kebaikan mereka, seperti betapa beratnya penderitaan yang telah mereka rasakan pada saat melahirkan, betapa pula banyaknya kesulitan dalam mencari nafkah dan di dalam mengasuh serta mendidik putra-putra mereka dengan penuh kasih sayang. Maka pantaslah apabila berbuat baik kepada kedua ibu-bapak itu, dijadikan sebagai kewajiban yang paling penting di antara kewajiban-kewajiban yang lain, dan diletakkan Allah dalam urutan kedua sesudah kewajiban manusia beribadah hanya kepada Allan Yang Maha Kuasa.

 KETIGA :

 [Ayat : 26]

Dan berikanlah kepada kerabatmu, orang miskin dan orang musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah kamu berbelanja dengan sangat boros.

Di akhir ayat Allah SWT melarang kaum muslimin membelanjakan harta bendanya secara boros. Larangan ini bertujuan agar kaum muslimin mengatur perbelanjaannya dengan perhitungan yang secermat-cermatnya, agar apa yang dibelanjakannya sesuai dan tepat dengan keperluannya; tidak boleh membelanjakan harta kepada orang-orang yang tidak berhak menerimanya, atau memberikan harta melebihi dari yang seharusnya.

Mengenai boros Allah berfirman maksudnya :
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al Furqan: 67) .

Dan Allah menyambung :

Ayat : 27]

Sesungguhnya orang yang boros itu adalah saudara Syaitan, sedang Syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya. (Surah al Israk 27)

KEEMPAT:

[Ayat : 29]

Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu, dan janganlah pula engkau menghulurkan dengan sehabis-habisnya, akibatnya akan tinggallah engkau dengan keadaan yang tercela dan menyesal.

Kemudian Allah SWT menjelaskan cara-cara yang baik dalam membelanjakan harta, yaitu Allah SWT melarang orang menjadikan tangannya terbelenggu pada leher. Ungkapan ini adalah lazim dipergunakan oleh orang-orang Arab, yang berarti larangan berlaku bakhil. Allah melarang orang-orang yang bakhil, sehingga enggan memberikan harta kepada orang lain, walaupun sedikit. Sebaliknya Allah juga melarang orang yang terlalu mengulurkan tangan, ungkapan serupa ini berarti melarang orang yang berlaku boros membelanjakan harta, sehingga belanja yang dihamburkannya melebihi kemampuan yang dimilikinya. Akibat orang yang semacam itu akan menjadi tercela, dan dicemoohkan oleh handai-tolan serta kerabatnya dan menjadi orang yang menyesal karena kebiasaannya itu akan mengakibatkan dia tidak mempunyai apa-apa.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa cara yang baik dalam membelanjakan harta ialah membelanjakannya dengan cara yang layak dan wajar, tidak terlalu bakhil dan tidak terlalu boros

KELIMA :

[Ayat : 31]

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana takutkan kepapaan; Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kamu. Sesungguhnya perbuatan membunuh mereka adalah satu kesalahan yang besar.

Kemudian Allah SWT melarang kaum Muslimin membunuh anak-anak mereka, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa suku dari suku-suku bangsa Arab Jahiliah. Mereka ini menguburkan anak-anak perempuan mereka hidup-hidup, karena anak-anak perempuan itu tidak mampu untuk berusaha mencari rezeki. Menurut anggapan mereka anak-anak perempuan itu hanyalah akan menjadi beban hidup saja. Mereka takut mengalami kepapaan dan kemiskinan karena mempunyai anak perempuan itu. Berbeda dengan anak laki-laki. Mereka menganggap bahwa anak laki-laki mempunyai kemampuan untuk mencari harta dengan jalan menyamun, merampas dan merampok.

Maka Allah SWT melarang kaum muslimin meniru kebiasaan Jahiliah itu, dengan memberikan alasan, bahwa rezeki itu berada dalam kekuasaan Allah. Allah yang memberikan rezekinya kepada mereka. Maka apabila Allah memberikan rezeki kepada anak laki-laki, Dia berkuasa pula untuk memberikan rezeki kepada anak perempuan mereka.

 

KEENAM :

[Ayat : 32]

Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat.

 Kemudian Allah SWT melarang para hamba Nya mendekati perbuatan zina. Yang dimaksud mendekati perbuatan zina ialah melakukan zina itu. Larangan melakukan zina diungkapkan dengan mendekati zina, tetapi termasuk pula semua tindakan yang merangsang seseorang melakukan zina itu. Ungkapan semacam ini untuk memberikan kesan yang tandas bagi seseorang, bahwa jika mendekati perbuatan zina itu saja sudah terlarang, apa lagi melakukannya. Dengan pengungkapan seperti ini, seseorang akan dapat memahami bahwa larangan melakukan zina adalah larangan yang keras, oleh karenanya zina itu benar-benar harus dijauhi.

 KETUJUH :

[Ayat : 33]

Dan janganlah kamu membunuh seseorang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Dan sesiapa yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan warisnya berkuasa menuntut balas. Tetapi janganlah ia melampaui batas kerana sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat sepenuh-penuh pertolongan.

 

Sesudah itu Allah SWT melarang hamba Nya membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya. Maksud “membunuh jiwa” ialah menghilangkan jiwa manusia. Sedang yang dimaksud dengan “yang diharamkan Allah membunuhnya” ialah tidak dengan alasan yang sah.

KELAPAN :

[Ayat : 34]

Dan janganlah kamu menghampiri anak yatim melainkan secara yang baik, sehingga ia baligh; dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan ditanya.

 Kemudian Allah SWT melarang para hamba-Nya mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik. Yang dimaksud dengan “mendekati harta anak yatim” ialah mempergunakan harta anak-anak yatim tidak pada tempatnya. Larangan mempergunakan harta anak yatim dalam ayat ini mengandung arti bahwa tidak memberikan perlindungan kepada harta anak yatim itu, supaya jangan habis sia-sia. Allah SWT memberikan perlindungan pada harta itu, karena harta itu sangat diperlukan oleh manusia, dan manusia yang paling memerlukannya ialah anak yatim, karena keadaannya yang belum dapat mengurusi hartanya, dun belum dapat mencari nafkah sendiri.
Dalam pada itu Allah SWT memberikan pengecualian dari larangannya, yaitu apabila untuk pemeliharaan harta itu diperlukan biaya, atau dengan maksud untuk memperkembangkan harta anak yatim itu, maka dalam hal ini tidaklah termasuk larangan apabila mengambil sebagian harta anak yatim itu untuk kepentingan tersebut atau diperkembangkan sebagai modal dengan maksud agar harta itu bertambah.

KESEMBILAN :

[Ayat : 36]

Dan janganlah kamu mengikut apa yang kamu tidak ketahui; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya apa yang dilakukan.

Allah SWT melarang kaum Muslimin mengikuti perkataan ataupun perbuatan yang mereka tidak mengetahui kebenarannya. Larangan ini mencakup seluruh kegiatan manusia itu sendiri dari perkataan dan perbuatan.

 

KESEPULUH :

[Ayat : 37]

Jangan kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembusi bumi, dan tidak akan sampai setinggi gunung.

 Sesudah itu Allah SWT melarang kaum muslimin berjalan di muka bumi dengan sombong. Orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi bukanlah bersikap wajar, karena bagaimanapun juga kerasnya derap kaki yang ia hentakkan di atas bumi, tidak akan menembus permukaannya dan bagaimanapun juga tingginya ia mengangkat kepalanya, tidaklah ia dapat melampaui tinggi gunung. Bahkan kalau ditinjau dari segi ilmu jiwa, orang yang biasa berjalan dengan penuh kesombongan, di dalam jiwanya terdapat kelemahan. Ia merasa rendah, maka sebagai imbangannya, ia berjalan dengan sombong dan berlagak, dengan maksud menarik perhatian orang lain agar memperhatikannya.
Maka apabila Allah SWT menegaskan bahwa mereka sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung, bertujuan agar kaum Muslimin menyadari terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada diri mereka, dan supaya ia bersikap rendah hati, jangan bersikap takabur, karena sebagai manusia tidak akan sanggup mencapai sesuatu yang di luar kemampuan yang dimilikinya.

 Demikian 10 perintah JANGAN dan diikuti penjelasan 2 ayat berikutnya dari surah al Israa’ :

 [Ayat : 38]

Tiap-tiap satu perintah itu, menyalahinya adalah kejahatan yang dibenci di sisi Tuhanmu.

 [Ayat : 39]

Perintah yang demikian itu adalah sebahagian dari hikmat yang telah diwahikan kepadamu oleh Tuhanmu. Dan janganlah engkau jadikan bersama Allah sesuatu yang lain yang disembah, akibatnya engkau akan dicampak ke dalam Neraka Jahanam dengan keadaan tercela dan tersingkir.

Mut’ah

muh sawMut’ah atau Zuwaaj Muaggot itu yang dimaksud adalah kawin kontrak. Waktunya terserah perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak. Boleh satu tahun, boleh satu bulan, boleh satu hari, boleh satu jam dan boleh sekali main. Sedang batas wanita yang di Mut’ah terserah si laki-laki, boleh berapa saja, terserah kekuatan dan minat si laki-laki. Mereka tidak saling mewarisi bila salah satu pelakunya mati, meskipun masih dalam waktu yang disepakati. Juga tidak wajib memberi nafkah (belanja) dan tidak wajib memberi tempat tinggal.

Mut’ah dilakukan tanpa wali dan tanpa saksi, begitu pula tanpa talaq, tetapi habis begitu saja pada akhir waktu yang disepakati. Pelakunya boleh perjaka atau duda, bahkan yang sudah punya istri. Sedang si wanita boleh masih perawan atau sudah janda, bahkan menurut fatwa khumaini seseorang boleh melakukan Mut’ah sekalipun dengan WTS. Adapun tempatnya boleh dimana saja, baik di dalam rumah sendiri maupun di luar rumah.

 Apa hukumnya MUT’AH ?

Ahlus Sunnah Waljamaah sepakat bahwa Mut’ah hukumnya haram. Dan diantara perawi haramnya Mut’ah adalah Al-Imam Ali kw.

Oleh karena itu di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Khalifah-khalifah sebelumnya dan sesudahnya Mut’ah hukumnya haram.

Memang di Zaman Rasulullah SAW, diwaktu peperangan yang memakan waktu yang lama, dengan maksud menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Mut’ah pernah diperbolehkan, tetapi kemudian diharamkan

oleh Rasulullah SAW, setelah mendapat perintah dari Allah SWT.

Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda yg artinya :

“Wahai manusia sesungguhnya aku pernah membolehkan bagi kalian bersenang-senang dengan wanita (Mut’ah), maka ketahuilah bahwa Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Barang siapa masih memilikinya, hendaknya dilepaskan dan jangan kalian ambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan.”

Itulah sebabnya umat Islam tidak ada yang melakukan Mut’ah, sebab hukumnya sama dengan berzina.

Dalam hal ini Imam Ja’far Ash-Shadiq mengatakan :

  المتعة هي عين الزنى  ( البيهقى ) 

Mut’ah itu sama dengan zina.”

(Al-Baihaqi) 

Sebenarnya hampir semua aliran Syiah juga mengharamkan Mut’ah, terkecuali aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah saja yang memperbolehkan Mut’ah. Jadi golongan Syiah sendiri tidak sepakat dalam menghalalkan Mut’ah dan hanya satu aliran saja yang memperbolehkan Mut’ah, yaitu Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah atau Syiahnya Khumaini.

Sebagai contoh, Syi’ah zaidiyah mengharamkan Mut’ah, demikian juga Syi’ah Ismailiyah, mereka juga mengharamkan Mut’ah dan hanya Syi’ah Khomaini saja yang menghalalkan Mut’ah. Memang Syi’ah Imamiyah Itsnaasyariyah itu paling sesat diantara aliran-aliran Syi’ah yang lain.

Menurut ulama-ulama Syi’ah, bahwa yang mengharamkan Mut’ah adalah Kholifah Umar, benarkah?

Itulah orang-orang  Syi’ah, mereka memang ahli dalam membuat hadist-hadist palsu dan ahli dalam membuat cerita-cerita guna menunjang dan menguatkan ajaran-ajaran mereka. Tetapi mereka tidak memikiran akibat dari cerita-cerita palsu mereka. Karena cerita-cerita semacam itu akan mempunyai resiko dan konsekwensi yang sangat besar.

Rasulullah saw pernah bersabda :

من حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر 

 “Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”

Dengan demikian berarti Khalifah Umar telah kafir, karena dia telah mengharamkan Mut’ah yang halal (Khasya). Itulah tujuan ulama-ulama Syi’ah, mereka selalu membuat cerita-cerita palsu guna mendiskriditkan Kholifah Umar.

Tidakkah orang-orang Syi’ah itu tahu bahwa cerita-cerita semacam itu mempunyai resiko dan konsekwensi yang sangat besar dan berbahaya. Sebab bila Khalifah Umar merubah hukum Allah sampai membuatnya kafir, lalu dimanakah Imam Ali pada saat itu, padahal beliau dikenal sebagai penasehat Kholifah Umar, mengapa beliau berdiam diri dan tidak mengambil tindakan, bahkan setuju dan mengikuti serta melaksanakan hukum tersebut. Tidakkah ulama-ulama Syi’ah itu tahu bahwa : “ARRIDHO BILKUFRI KUFRON “.

Kemudian bila Kholifah Umar itu kafir, mengapa beliau diambil menjadi menantu Imam Ali, sampai mempunyai dua anak. Apakah ulama-ulama tersebut juga termasuk ulama-ulama Syi’ah yang berkata, bahwa yang di nikahi Kholifah Umar itu bukan Ummu Kulsum putri Imam Ali, tapi jin yang menyerupai Ummu Kulsum ?

Kemudian apabila Kholifah Umar itu kafir, bagaimana Imam Ali kok diam dan menyetujui Kholifah Umar dimakamkan di sebelah atau seruangan bersama Rasulullah saw.

Selanjutnya, disamping Imam Ali, para sahabat juga menjadi korban dari cerita-cerita tersebut dan mereka juga  akan terkena sangsi. Sebab mereka juga menyetujui tindakan Kholifah Umar yang telah mengharamkan Mut’ah tersebut dan para sahabat itu tetap sholat (Mak’mum) di belakang Kholifah Umar.

Memang itulah diantara tujuan orang-orang Syi’ah, mereka benar-benar benci kepada para sahabat. Oleh karena itu mereka mengatakan bahwa para sahabat setelah Rasulullah saw wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja (Al-Kaafi).

Mana yang lebih besar dosanya, berzina apa melakukan Mut’ah?

Berzina adalah suatu perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Karenanya orang yang telah melakukan Zina, dia akan merasa bersalah dan kemudian bertaubat, sebab dia merasa telah melanggar larangan Allah. Adapun orang yang melakukan Mut’ah, pertama dia mendapat dosa seperti dosanya orang yang melakukan perbuatan Zina. Kemudian jika dia menganggap Mut’ah itu halal, padahal Allah melalui RasulNya sudah mengharamkan Mut’ah, maka disamping dia mendapat dosanya orang yang berzina, dia juga mendapat dosa yang sangat besar, yaitu dosanya orang yang merubah hukum Allah, sesuatu yang haram dia halalkan.

Mengenai orang yang suka menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, Rasulullah saw pernah bersabda :

 من حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر

 “Barang siapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”

 Dengan demikian jelas sekali bahwa melakukan Mut’ah dosanya lebih besar daripada berzina.

Tidak cukup menghalalkan Mut’ah, ulama-ulama Syi’ah Imammiyah Itsnaasyariyyah itu bahkan memberi kedudukan tinggi sederajat dengan Rasululllah saw, bagi orang-orang yang melakukan Mut’ah.

Dibawah ini kami bawakan satu hadist palsu, yang ada dalam kitab syi’ah “ Minhayus Shodiqin” halaman 356, sekaligus sebagai bukti penghinaan orang-orang Syi’ah kepada Rasulullah saw dan Ahlul Bait :

“Barang siapa melakukan Mut’ah sekali, maka derajatnya sama dengan derajat Husin, barang siapa melakukkan Mut’ah dua kali, maka derajatnya sama dengan derajat Hasan, barang siapa yang melakukkan Mut’ah tiga kali, maka derajatnya sama dengan derajat Ali dan barang siapa melakukkan Mut’ah empat kali, maka derajatnya sama dengan derajatku”.

Demikian kekurangajaran ulama-ulama Syi’ah, mereka mengukur derajad Rasulullah saw dan Ahlul Bait dengan perbuatan Mut’ah. Sungguh satu kebiadaban yang tidak ada taranya.

Sumber : http://www.albayyinat.net/ind1.html