Nikah mut’ah

Mungkin sebagian kita pernah mendengar ada seorang muslimah yang sangat aktif berdakwah dan berkumpul dalam kelompok-kelompok dakwah mengidap penyakit kemaluan semacam spilis atau lainnya. Itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi, kita tidak mengatakannya karena terjerumus ke dalam lembah hitam pelacuran, karena hal itu sangat jauh untuk di lakukan oleh mereka meskipun tidak mustahil, akan tetapi hal ini terjadi di sebabkan praktek nikah mut’ah atau nikah kontrak yang sesungguhnya telah dilarang dalam syariat Islam, yang mana nikah model ini membuat seorang wanita boleh bergonta ganti pasangan dalam nikah mut’ahnya.Mencermati fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini terutama di dunia kampus yang sudah kerasukan virus pemirikan nikah mut’ah, maka marilah kita berdoa semoga melalui tulisan ini Alloh Subhanallohu wa Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada kita menuju jalan yang lurus.

Pengertian Mut’ah
Mut’ah berasal dari kata tamattu’ yang berarti bersenang-senang atau menikmati. Adapun secara istilah mut’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewariri antara keduanya meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mu’ah itu. (Fathul Bari 9/167, Syarah shahih muslim 3/554, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/169).

Hukum Nikah Mut’ah
Pada awal perjalanan Islam, nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya:

Hadits Abdullah bin Mas’ud: “berkata: Kami berperang bersama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedangkan kami tidak membawa istri istri kami, maka kami berkata bolehkan kami berkebiri? Namun Rasululloh melarangnya tapi kemudian beliau memberikan kami keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu”. (HR. Bukhari 5075, Muslim 1404).

Hadits Jabir bin Salamah: “Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin ‘Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah”. (HR. Bukhari 5117).

Namun hukum ini telah dimansukh dengan larangan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menikah mut’ah sebagaimana beberapa hadits diatas. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat kapan diharamkannya niakh mut’ah tersebut dengan perselisihan yang tajam, namun yang lebih rajih-Wallahu a’lam– bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul Ma’ad 3/495, Al-Hafidl Ibnu Hajar dalam fathul bari 9/170, Syaikh Al-Albani dalam irwaul Ghalil 6/314.

Telah datang dalil yang amat jelas tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya:
Hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu: “Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar” (HR. Bukhari 5115, Muslim 1407).

Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani Radiyallahu ‘anhu: “berkata:Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mut’ah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan” (HR. Muslim 1406, Ahmad 3/404).

Hadits Salamah bin Akhwa Radiyallahu ‘anhu: “berkata:Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keringanan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang authos kemudian melarangnya” (HR. Muslim 1023).

Syubhat dan Jawabannya

Orang-orang yang berusaha untuk meracuni umat islam dengan nikah mut’ah, mereka membawa beberapa syubhat untuk menjadi tameng dalam mempertahankan tindakan keji mereka, tetapi tameng itu terlalu rapuh. Seandainya bukan karena ini telah mengotori fikiran sebagian pemuda ummat Islam maka kita tidak usah bersusah payah untuk membantahnya. Syubhat tersebut adalah

Pemikiran Mereka Yang Menafsirkan bahwa:
Firman Alloh Ta’ala: “Maka apabila kalian menikahi mut’ah diantara mereka (para wanita) maka berikanlah mahar mereka” (QS. An-Nisa: 24).
Juga karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jelas pernah membolehkan nikah mut’ah, padahal beliau tidak mungkin berbicara dengan dasar hawa nafsu akan tetapi berbicara dengan wahyu, dan oleh karena ayat ini adalah satu-satunya ayat yang berhubungan dengan nikah mut’ah maka hal ini menunjukkan akan halalnya nikah mut’ah. (Lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh Al-Amili hal 9).

Jawaban Atas Syubhat ini adalah:
Memang sebagian ulama’ manafsirkan istamta’tum dengan nikah mut’ah, akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini apabila kalian telah menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya sebagaimana sebuah kewajiban atas kalian.

Berkata Imam Ath Thabari setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut: Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan haramnya nikah mut’ah. (Tafsir Ath-Thabati 8/175).

Berkata Imam Al-Qurthubi: Tidak boleh ayat ini digunakan untuk menghalalkan nikah mut’ah karena Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa Sallam telah mengharamkannya. (tafsir Al-Qurthubi 5/132).

Dan kalau kita menerima bahwa makna dari ayat tersebut adalah nikah mut’ah maka hal itu berlaku di awal Islam sebelum diharamkan. (Al-Qurthubi 5/133, Ibnu Katsir 1/474).

Kesalahan Pemikiran Pendukung Nikah Mut’ah  Berikutnya adalah:
Hadits Abdullah bin Mas’ud, Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Akwa’ diatas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal.

Maka Jawaban atas Hal ini adalah:
Semua hadits yang menunjukkan halalnya nikah mut’ah telah di mansukh. Hal ini sangat jelas sekali dengan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dahulu saya telah mengizinkan kalian mut’ah dengan wanita. Sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat”

Berkata Imam Bukhari (5117) setelah meriwayatkan hadits Jabir dan Salamah: Ali telah menjelaskan dari Rasululloh bahwa hadits tersebut dimansukh.

Syubhat Berikutnya adalah:
Sebagian para sahabat masih melakukan nikah mut’ah sepeninggal Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai umar melarangnya, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, diantaranya:
Dari jabir bin Abdullah berkata: Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam juga Abu Bakar sampai umar melarangnya.(Muslim 1023).

Jawaban bagi Seorang Muslim yang Taat Kepada Alloh Ta’ala:
Riwayat Jabir ini menunjukkan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan mut’ah. Berkata Imam Nawawi: Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang masih melakukan nikah mut’ah pada Abu bakar da Umar belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut. (Syarah Shahih Muslim 3/555, lihat pula fathul bari, zadul Ma’ad 3/462).

Perkataan yang salah dari salah seorang tokoh Nikah Mut’ah kontermporer:
Tidak senua orang mampu untuk menikah untuk selamanya terutama para pemuda karena berbagai sebab, padahal mereka sedang mengalami masa puber dalam hal seksualnya, maka banyaknya godaan pada saat ini sangat memungkinkan mereka untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, oleh karena itu nikah mut’ah adalah solusi agar terhindar dari perbuatan keji itu. (lihat Al-Mut’ah fil Islam oleh husan Yusuf Al-Amili hal 12-14).

Jawaban atas Syubhat ini adalah:
Ucapan ini salah dari pangkal ujungnya, cukup bagi kita untuk mengatakan tiga hal ini :
Pertama: bahwa mut’ah telah jelas keharamannya, dan sesuatu yang haram tidak pernah di jadikan oleh Allah sebagai obat dan solusi.
Kedua: ucapan ini Cuma melihat solusi dari sisi laki-laki yang sedang menggejolak nafsunya dan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun kepada wanita yang dijadikannya sebagai tempat pelampiasan nafsu syahwatnya, lalu apa bedanya antara mut’ah ini dengan pelacuran komersil????
Ketiga: islam telah memberikan solusi tanpa efek samping pada siapapun yaitu pernikahan yang bersifat abadi dan kalau belum mampu maka dengan puasa yang bisa menahan nafsunya, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka hendaklah menikah, karena itu lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena itu bisa menjadi tameng baginya”. (HR. Bukhari 5066, Muslim 1400). Wallahu a’lam.

Sumber : http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/nikah-mutah-zina-berkedok/

7 thoughts on “Nikah mut’ah

  1. QS 4:24 bukan membicarakan nikah mut’ah, nikah mut’ah tidak pernah ada, coba pikir pake logika, apakah anda mau anak anda berpacaran, kemudian nikah mut’ah sama pacarnya, kemudian bunting, dan melahirkan bayi tanpa ada hubungan apa2 lagi antara bayi tersebut dan bapaknya, bagaimana mungkin Allah menghalalkan hal seperti ini?

    004,024 : wa lmuhshanaatu mina nnisaa-i illaa maa malakat aymaanukum kitaaba llahi ‘alaykum wa uhilla lakum mmaa waraa-a dzaalikum an tabtaghuu bi amwaalikum muhshiniina ghayra musaafihiina fa maa stamta’tum bihi min hunna fa –aatuu hunna ujuura hunna fariidhatan wa laa junaaha ‘alaykum fii maa taraadhaytum bihi min ba’di lfariidhati inna llaha kaana ‘aliiman hakiiman

    Dan yang dibentengi dari wanita, kecuali apa yang dimiliki (dari) aymaan kamu (untuk melindungi mereka) sebagai tulisan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu apa yang dibelakang (tulisan). Demikian kamu untuk mencari dengan harta kamu benteng (nikah) selain (fitnah) yang melemahkan. Maka apa yang kamu senangi dengan nya(pernikahan) dari mereka, maka berikanlah mereka mahar mereka sebagai kewajiban, dan tiada pelanggaran atas kamu di dalam apa kamu saling ridha dengan nya(mahar) dari setelah kewajiban, sungguh Allah adalah maha mengetahui lagi maha bijaksana (an nisaa- 004,024).

    ayat ini berbicara tentang kewajiban menunaikan membayar mahar pada istri yang sah, bagi mereka yang belum mampu menunaikannya ketika menikahi istrinya

    tentang poligami pun sebenarnya tidak pernah ada, kecuali memberikan perlindungan dan menghindari fitnah, QS 4:3 juga bukan membicarakan tentang menikahi wanita lain dan menelantarkan wanita yatim

    004,003 : wa in khiftum allaa tuqsithuu fii lyataamaa fa nkihuu maa thaaba lakum mmina nnisaa-i matsnaa wa tsulaatsa wa rubaa’a fa in khiftum allaa ta’diluu fa waahidatan aw maa malakat aymaanukum dzaalika adnaa allaa ta’uuluu

    Dan jika khawatir kalian tidak ramah (ketika terjadi perang) terhadap yatim, maka nikahilah apa yang dipilih bagi kamu dari wanita (yatim), yang ke : dua dan tiga dan empat (lihat QS 4:127). Maka jika khawatir kalian tidak berlaku ‘adil maka (jangan mengambil istri tambahan, cukup) satu (lihat QS 4:129), atau (jika belum memiliki istri, cukup nikahi satu) apa yang dimiliki (dari) aymaan kamu (lihat QS 4:24), itu paling sedikit, tiada hitungan (ke dua, dan ke tiga, dan ke empat). (an nisaa- 004,003)

    @aburedza, tukeran link yuk

    mampir ya ke rumahku

    • Saudara Qarobin,

      Assalamualaikum,
      Terima kasih respon anda.

      Apa kata ulama Syiah tentang Mutah [1];
      1.Abu Abdillah : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.
      2.Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja’far : ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya. Al Kafi jilid 5 hal 460.
      3.Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 : Nikah mut’ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini. Minhajushalihin. Jilid 3 Hal. 80
      4.Laki-laki yang nikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut’ah atau akad lain yang mengikat. Minhajus shalihin. Jilid 3 hal 80.

      Empat ajaran Syiah diatas tentu Syiah sukai. Logik akal saudara Syiah kita akan sukai jika mereka adalah lelaki , tapi jika perempuan belum tentu. Anak lelaki Syiah, atau adek lelaki Syiah juga akan sukai! Tetapi logik akal adakah anak perempuan orang Syiah akan mereka benarkan untuk bermutah dengan seribu lelaki! Akal yang sakit sahaja yang akan bersetuju!

      Baca kisah Khomaini kahwin mutah dengan kanak-kanak di Nikah Mut’ah : Pengalaman Bersama Imam Khomeini Apakah orang Syiah benarkan anak kecil mereka juga bermutah?

      Ali malah dengan tegas meriwayatkan sabda Nabi tentang haramnya nikah mut’ah [2]. Riwayat ini tercantum dalam kitab Tahdzibul Ahkam karya At Thusi pada jilid 7 halaman 251, dengan sanadnya dari :

      Muhammad bin Yahya, dari Abu Ja’far dari Abul Jauza’ dari Husein bin Alwan dari Amr bin Khalid dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari kakeknya dari Ali [Alaihissalam] bersabda: Rasulullah mengharamkan pada perang Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut’ah.

      Bagaimana perawinya? Kita lihat bersama dari literatur syiah sendiri:
      Muhammad bin Yahya : dia adalah tsiqah, An Najasyi mengatakan dalam kitabnya [no 946] : guru mazhab kami di jamannya, dia adalah tsiqah [terpercaya]

      Abu Ja’far , Tsiqah [terpercaya] lihat Al Mufid min Mu’jam Rijalil Hadits

      Abul Jauza’, namanya adalah Munabbih bin Abdullah At Taimi , haditsnya Shahih lihat Al Mufid min Mu’jam Rijalil Hadits

      Husein bin Alwan, Tsiqah [terpercaya], lihat Faiqul Maqal, Khatimatul Mustadrak, dan Al Mufid min Mu’jam Rijalul Hadits.
      Amr bin Khalid Al Wasithi: Tsiqah, lihat Mu’jam Rijalil Hadits, Mustadrakat Ilmi Rijalil Hadits.

      Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, salah satu ahlul bait Nabi, jelas tsiqah.

      Di sini Ali mendengar sendiri sabda Nabi dan menyampaikannya pada umat.

      Apakah Orang Syiah tidak percaya kata-kata Imam Ali ra? Atau Ali ber taqiyah. ?

      Terima kasih saudara Qarrobin, jumpa lagi.

      Catitan [1] dan[2] – Petikan drp Hakikat.com

      • Nikah Mut’ah : Pengalaman Bersama Imam Khomeini

        udah saya baca tadi pagi disini, Terima Kasih

        wassalam, jumpa lagi

        link aburedza udah saya pasang di blogroll saya

    • Saudara Novar,
      Mengapa kalau Hakikat Com?
      Patutnya saudara tengok faktanya , tidak kisah siapa pun sumbernya.

      Terima kasih.

  2. @Aburedza,

    Spt. sdr Novar, sayapun punya pengalaman dg Hakekat.com. Apakah disengaja atau tdk mereka mengutip suatu sumber selalu tidak utuh shg pengertiannya menjadi lain.

    Bicara fakta apa sdr sudah melihat secara langsung faktanya atau informasi yg anda kutip dari Hakekat.com itu anda sebut fakta ?

  3. FATAWA: NIKAH MUT’AH TELAH DIMANSUKH (DIHAPUS) DARI SYARI’AT ISLAM

    Pertanyaan: Apa pendapat anda tentang orang yang berhujjah atas bolehnya nikah mut’ah dengan firman Allah: “Maka apa yang telah kamu nikmati dari mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna).” (QS. An-Nisa:24) dan ia menyangka bahwa nikah mut’ah tidak dimansukh dalam syari’at islam?

    Jawab: nikah mut’ah adalah seorang laki-laki menikahi seorang wanita dalam batas waktu tertentu dengan memberikan maharnya, seperti seminggu, sebulan, lebih atau kurang dari itu. Pernikahan model ini pernah diperbolehkan dalam syari’at islam kemudian hukumnya dimansukh untuk selama-lamanya, ini pendapat keumuman Ahlul Ilmi dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sebagian Syi’ah Ja’fariyah, pendapat mereka ini bathil tidak ada hujjahnya. Bahkan yang ternukilkan dari imam mereka adalah haramnya pernikahan mut’ah.
    Adapun ayat yang kamu sebutkan pada pertanyaan tadi yaitu firman Allah “Maka apa yang telah kamu nikmati dari mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna).” (QS. An-Nisa:24) Maka sama sekali tidak ada dalil padanya atas bolehnya mut’ah karena yang dimaukan ayat ini adalah Zawajud Daim al-ma’ruf (pernikahan yang dikenal selama ini), yang menunjukkan hal ini adalah ayat sebelumnya

    ( وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا ) سورة النساء الآية 24

    “Dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa:24)
    Ayat ini datang setelah penyebutan jenis pernikahan yang diharamkan, baru kemudian disebutkan “dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu)” untuk menjelaskan bolehnya pernikahan selain yang disebutkan. Maka apabila seseorang menikahi wanita yang boleh untuk dinikahi kemudian mencampurinya maka wajib memberikan maharnya secara sempurna. Maka ayat ini berbicara tentang wajibnya memberikan mahar kepada wanita yang telah dinikahi dan tidak ada hubungannya dengan nikah mut’ah, tidak dari jauh atau dekat.
    Imam Qurthubi berkata, “Ibnu Khuwaiz Mandad berkata, ‘tidak boleh menjadikan ayat ini sebagai dalil atas bolehnya mut’ah karena rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang pernikahan mut’ah dan mengharamkannya dan karena Allah berfirman, ‘maka nikahilah mereka dengan ijin wali-wali mereka.’ Dan telah maklum bahwa nikah yang mendapatkan ijin wali dari pihak wanita adalah nikah yang syar’i yaitu dengan wali dan dua orang saksi sedangkan nikah mut’ah tidak seperti itu.’.” (Tafsir Qurythubi 5/129-130)

    (Fatawa Yas’alunaka 7/ 190)

    sumber : http://haulasyiah.wordpress.com/2009/04/11/fatawa-nikah-mut%E2%80%99ah-telah-dimansukh-dihapus-dari-syari%E2%80%99at-islam/

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s