Nubuwat al-Qur’an tentang kebinasaan Bangsa Yahudi

Allah berfirman, maksudnya :

Dan Kami menyatakan kepada Bani Israil dalam Kitab itu:

Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) dua kali, dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau.

Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah dan amat ganas serangannya lalu mereka menjelajah di segala ceruk rantau (membunuh dan membinasakan kamu); dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlaku.

Kemudian (setelah kamu bertaubat), Kami kembalikan kepada kamu kekuasaan untuk mengalahkan mereka, dan Kami beri kepada kamu dengan banyaknya harta kekayaan dan anak pinak, serta Kami jadikan kamu kaum yang lebih ramai pasukannya.

Jika kamu berbuat kebaikan, (maka faedah) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu; dan jika kamu berbuat kejahatan, maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada diri kamu juga. Oleh itu, apabila sampai masa janji (membalas perbuatan derhaka kamu) kali kedua, (Kami datangkan musuh-musuh kamu) untuk memuramkan muka kamu (dengan penghinaan dan keganasannya); dan untuk memasuki masjid (BaitulMaqdis) sebagaimana mereka telah memasukinya pada kali yang pertama; dan untuk menghancurkan apa sahaja yang mereka telah kuasai, dengan sehancur-hancurnya.

Mudah-mudahan Tuhan kamu akan mengasihani kamu (kalau kamu bertaubat); dan jika kamu kembali (menderhaka), maka Kami pula akan kembali (menyeksa kamu di dunia); dan kami telah jadikan neraka: penjara bagi orang-orang kafir (pada hari akhirat).

– (QS al-Israa’ : 4-8)

4 thoughts on “Nubuwat al-Qur’an tentang kebinasaan Bangsa Yahudi

  1. Meramal Kehancuran Israel

    oleh: Taufiq Munir

    http://religiusta.multiply.com/journal/item/195

    Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. Al-Isra [17]: 4).

    AYAT INI terdapat pada surah al-Isra, 111 ayat, yang diturunkan di Makkah. Dinamakan surah ‘Al-Isra’ karena pada ayat pertamanya menyinggung tentang perjalanan Isra-Mi’raj nabi Muhammad saw yang belum pernah dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya, bahkan oleh makhluk Allah yang manapapun setelah itu.

    Topik utama surah al-Isra tak terlepas dari masalah akidah seperti galibnya surah-surah ‘Makiyah’ lain. Surah ini juga menyinggung beberapa hal penting seputar syariat ibadah, perbaikan akhlak, etika, nilai-nilai spiritual, isyarat kosmis dan beberapa catatan sejarah. Di kesempatan ini Penulis berfokus pada masalah ayat keempat yang meramalkan kehancuran bangsa Bani Israil di muka bumi ini.

    Pendapat ahli tafsir

    1. Al-Maraghi menulis: yang dimaksud dengan membuat ‘kerusakan dua kali’ ialah pertama menentang hukum Taurat, membunuh nabi Yusya’ dan memenjarakan Armia. Kedua yaitu membunuh nabi Zakaria dan bermaksud untuk membunuh nabi Isa a.s. Akibat perbuatan tersebut, Yerusalem dihancurkan.

    2. Dalam “Fi Zhilal al-Quran”, syekh Sayyid Quthb menjelaskan ayat tersebut: “ketetapan (yang di maksud) ialah penghabaran dari Allah mengenai sesuatu yang akan terjadi pada mereka dari sudut pandang Allah Yang Mahatahu akan sepak terjang mereka. Bukan ketetapan mandat (pemaksaan) yang timbul dari perbuatan mereka sebab Allah swt tak mungkin memberi ketetapan untuk menghancurkan seseorang dengan membinasakannya (Innallaaha laa ya’muru bil fahsyaa…. [sesungguhnya Allah tidak memerintahkan keburukan]). Allah Mahatahu apa yang akan terjadi ‘dari sesuatu yang ada’, sebab ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ‘akan adanya sesuatu’ yang bakal terjadi. Kalau dikaitkan pada pengetahuan manusia, tentu sesuatu itu belum terjadi dan tidak menyingkapkan tabir. Allah swt memutuskan kepada Bani Israil melalui kitab yang diturunkan kepada nabi Musa as bahwa: mereka akan dirusak DUA KALI selama mereka di muka bumi ini. Mereka akan mengejawantahkan kesombongannya serta menguasai tanah suci. Ketika mereka sedang pongahnya merusak bumi ini, Allah mengutus salah seorang hamba pilihan-Nya untuk mensucikan kehormatan mereka dengan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya!

    3. Penulis buku Shofwat al-Bayan li Ma’ani al-Quran mengatakan: Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil artinya Kami wahyukan kepada Bani Israil dalam arti Kami ajari dan Kami beritahukan di dalam Taurat tentang dua kali kerusakan yang akan terjadi pada mereka, tepatnya di negeri Syam. Menurut mufasir ini, kerusakan yang dimaksud ada dua hal: Pertama, merubah Taurat dan tidak mau mengamalkannya, menahan dan melukai Armia ketika mengabarkan tentang nabi Muhammad SAW. Kedua membunuh nabi Zakariya as dan Yahya as.

    Bebebapa Indikasi Nubuat dalam Al-Quran:

    Wa Qadhaina – Dan Telah Kami tetapkan

    Qadha dalam bahasa Arab artinya menghukum, memerintahkan atau memberitahu tentang sesuatu ketetapan dan memutuskannya. Maksudnya ialah memutuskan sesuatu baik secara perkataan maupun dengan perbuatan. Kadang qadha juga bermakna mencipta, memperkirakan, berkreasi dan merampungkan segala urusan. Qadha lebih khusus daripada qadar karena qadha adalah keputusan dari taqdir. Dengan kata lain qadar ialah takdir sedangkan qadha ialah memutuskan dan memastikan apa yang sudah ditakdirkan, sedangkan qadar ialah sesuatu yang belum qadha (diputuskan) maka masih bisa diharapkan lagi pembelaan dari Allah. Namun apabila sudah qadha (diputuskan) tidak akan ada lagi pembelaan dan menghindarinya.

    Kata kerja qadhaina pada ayat di atas bermakna ikhbar (informasi), bukan ijbar (memaksa). Tentu ini berkaitan dengan ilmu Allah swt, suatu ilmu yang syumuli (mahaluas) dan meliputi segala segalanya: baik yang lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang. Semua itu milik-Nya, dan karenanya segala bentuk waktu tadi di mata Allah selalu “sedang terjadi” sebab sang waktu adalah ciptaan-Nya sendiri. Sang Khaliq meliputi semua makhluk-Nya. Sedangkan semua ciptaan-Nya, termasuk manusia yang lemah tiada berdaya, tak akan mampu memberi batasan sang Khaliq. Masa depan dalam sudut pandang (ilmu) manusia ialah sesuatu yang belum pernah terjadi, sedangkan menurut ilmu Allah ia “ada” dan memang “nyata”. Karena ia ada dan nyata, maka tak heran jika Allah mengetahui pasti bahwa Bani Israil akan binasa di muka bumi… bahkan dua kali! Mereka mengimplementasikan segala kesombongannya itu pada bangsa-bangsa lain di muka bumi ini, wabilkhusus “tanah suci” Palestina. Ketika mereka sudah benar-benar mencapai puncak keserakahan, Allah swt akan “mengutus” seorang hamba pilihan-Nya yang akan menaklukkan, menghancurkan dan menghinakan mereka selamanya.

    …”Kepada Bani Israil”

    Israil adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Tiga rentetan nama ini semuanya nabi-nabi Allah yang diutus ke muka bumi. Arti nama Israil ialah ‘hamba Allah’, namun tidak diketahui pasti sejarahnya selain fakta yang menunjukkan bahwa ia dilahirkan di masa kakeknya masih hidup, yaitu Ibrahim alaihissalam. Beliau (Israil alias nabi Ya’qub) meninggal dunia di Mesir di samping anaknya yaitu Yusuf as. Beliau disebut Abul Asbath ‘Bapak Sabath’, dan dari sinilah kemudian anak-cucunya disebut Banu atau Bani Israil. Israil, nama lain dari Ya’qub, menetap di negara Mesir selama 24 tahun. Sebelum meninggal, ia sempat berwasiat kepada anaknya, Yusuf as, agar ia dikebumikan di samping ayahnya, Ishaq as. Yusuf memenuhi amanat tersebut: beberapa saat setelah Ya’qub wafat, ia langsung memboyong orang tuanya di dalam peti ke tanah Palestina, di samping pusara kakeknya.

    Beberapa kalangan menyebut bahwa Yahudi sekarang merupakan keturunan nabi Ya’qub. Padahal Yahudi -sama seperti agama-agama sebelumnya- terdiri dari para pemeluk yang berasal dari ras, suku, etnis, budaya dan bangsa-bangsa lain yang ada di jagat ini. Ada pula yang mengklaim kemurnian darah Yahudi dari percampuran darah lain, klaim dusta dan isapan jempol belaka. Tuduhan-tuduhan tersebut dapat disangkal dengan mudah oleh ilmu genetika. Kehadiran keturuan-keturunan Yahudi dari berbagai suku, bangsa dan ras pada saat ini adalah bukti tentang keragaman usal-usul Yahudi yang heterogen.

    Terbukti bahwa Yahudi Khazar (Yahudi Rusia dan Eropa Timur) sudah mencapai 92% Yahudi dunia. Khazar ialah bangsa pagan kuno yang akar sejarahnya dimulai dari Turki, Mongol, dan Tatar yang hidup di wilayah antara lembah Folga dan lembah Danob, laut hitam dan laut Qazwin, dan tak ada kaitannya dengan bangsa Arab ataupun asal-usul semitis. Bangsa ini hidup di dua abad, yaitu abad ke-2 dan abad ke-10 M di kerajaan pagan sekitar laut Qazwin yang dikenal dengan nama kerajaan Khazar. Jalannya memecah Eropa Timur melalui serangkaian perang yang berlangsung berabad-abad.

    Pada pertengahan abad 8 M (tepatnya tahun 740 M) para pendeta Yahudi datang ke kerajaan Khazar menawarkan sesuatu. Mereka meminta kepada raja Khazar yang kala itu bernama raja Bulan untuk menerima Yahudi sebagai agamanya. Tak lama akhirnya Bulan masuk agama Yahudi. Seiring dengan masuknya sang raja ke dalam agama Yahudi, kerajaan itu memaksa seluruh penduduknya untuk beragama Yahudi pula. Sejak saat itu agama Yahudi resmi sebagai agama kerajaan.

    Di abad-10 M imperium Rusia tetap bertahan dari invasi kerajaan Khazar yang terus memborbardir negara itu. Namun sebagian besar penduduknya berevakuasi ke negara-negara Eropa Timur. Sebagian diantaranya pergi ke Eropa Barat, Amerika dan Amerika Latin. Memang masih ada yang bertahan di sana, namun mereka hanyalah representasi Yahudi imperium kaisar Rusia. Mereka inilah yang kemudian disebut dengan nama Eskanazim (Saknag) alias “Yahudi Eropa Timur”. (Detail sejarah tersebut bisa dibaca pada literatur berikut: [1]. Dunlop, DM 1954; The History of Jewish Khazars, Princeton University Press. [2]. Koestler, Arthur; The Khazars: The Thirteenth Tribe, Its Heritage and Its Empire).

    Sedangkan Yahudi non-Khazar kurang dari 8% dari populasi Yahudi dunia saat ini. Mereka adalah Yahudi Asia-Afrika dan negara-negara Andalusia yang dikenal dengan sebutan Esaradim (Sparadim). Ini bukti lain dari sanggahan terhadap satu klaim bahwa Yahudi terhindar dari percampuran darah dengan ras-ras lain di luar darah aslinya. Juga, bukti yang memperkuat kegagalan suatu teori bahwa Yahudi berkaitan langsung dengan nabi yang mulia, Ya’qub alaihissalam. Satu tuduhan yang tentu saja ditentang ilmu genetika, terlebih lagi ilmu sejarah.

    Paparan ini bisa menjelaskan lebih jauh bahwa ungkapan Bani Israil (anak-anak Israil) dalam al-Quran bukanlah ungkapan rasis, karena al-Quran hanya menegaskan kesatuan bangsa manusia dan merefer satu unifikasi umat manusia itu pada satu ayah. Di sini kitab suci hanya menyebut satu komunitas yang memiliki tingkat keegoan tinggi yang dengan lancang selalu menyebut keyakinan yang salah bahwa hanya mereka bangsa yang terpilih, anak-anak dan kekasih-Nya sedangkan makhluk-makhluk di luar komuntiasnya laksana binatang berkepala manusia sehingga mereka layak menjadi pelayan mereka. Tuhan, kata mereka, adalah Tuhannya Israel dan bangsa Israel saja. Sedangkan di luar mereka, tidak memiliki Tuhan sama sekali. Dengan dalih itulah mereka menghalalkan apa saja: darah, kehormatan, harta dan tanah milik orang lain. Mereka halalkan apa saja, sebab itu merupakan bentuk taqarub mereka kepada tuhan. Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

    Berangkat dari perspektif rasial, Yahudi menjadi komunitas yang paling fanatikis dan intoleran terhadap orang lain di luar bangsanya. Al-Quran sendiri menyebut rentetan kepribadian, spesifikasi, ataupun unsur-unsur kejiwaan mereka yang semuanya membentuk frame pribadi yang despotis, arogan, pongah, angkuh, berkepala batu, merasa paling ‘super’ dibanding yang lain, hingga tak ragu bertindak lalim dan barbarian. Jangan lupa, mereka juga paling piawai berkhianat, melanggar janji atau kesepakatan, selalu iri pada pihak lain, dengki terhadap keberhasilan negara lain, dan selalu memaksakan diri berbuat onar di muka bumi. Track record kaum Yahudi juga tercatat abadi sebagai kaum penyebar kemungkaran, penghancur nilai-nilai moral dan norma masyarakat. Contoh kongkritnya adalah wujudnya serangkaian pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi, atau sesama mereka sendiri. Watak asli Yahudi tak pernah berhenti hingga kini: mereka tak pernah sungkan melakukan fitnah dan makar yang akhirnya menyulut api perang di dunia ini. Yahudi yang berdarah-darah di sepanjang sejarah tak pernah menyurutkan niat untuk mencapai perubahan. Mereka akan tetap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk memberangus umat manusia, sebab -menurut mereka- “kami adalah bangsa pilihan Tuhan, anak-anak Tuhan, kekasih Tuhan.” Kesombongan yang luar biasa. Karena itu Allah berfirman: Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

    Kamu akan Membuat Kerusakan di Muka Bumi ini Dua Kali!

    Pendapat yang paling otentik menyebut bahwa dua kali kerusakan yang dimaksud tentunya perlakuan yang terkotor dan yang terkejam diantara kejahatan-kejahatan lain yang pernah mereka lakukan sepanjang sejarah. Pendapat ini beralasan bahwa berbuat onar merupakan bagian yang terpisahkan dari mainframe psikologis mereka. Karena itu pada ayat selanjutnya al-Quran menyebut: “dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-Isra [17]: 8).

    Awal pengrusakan yang paling fatal dilakukan kaum Bani Israil –menurut kalangan ahli tafsir–, ialah saat mereka berada di Madinah. Ketika itu mereka kembali menghadap Rasul dan menolak dakwahnya. Mereka sempat melobi Rasulullah, lalu kemudian membatalkan secara sepihak seluruh kesepakatan yang dibuat bersama. Sejalan dengan pengkhianatan tersebut, mereka bekerjasama dengan kaum pagan untuk mengagitasi Rasulullah saw. Tak hanya itu, mereka bahkan berusaha meracuni dan membunuh Rasulullah saw, namun berkat pertolongan-Nya usaha mereka tidak berhasil. Kendatipun demikian, pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan Yahudi Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Yahudi Khaibar tetap berlangsung. Lalu Rasulullah memerintahkan agar mereka disingkirkan secara total dari jazirah Arabia. Sejak saat itulah jazirah Arab steril dari Yahudi-Yahudi pembangkang.

    Pengrusakan besar-besaran yang kedua yang dilakukan Yahudi dimulai di bumi Palestina, tepatnya di tahun 1649. Saat itu mereka mendirikan gerakan Zionis di Inggeris yang menyerukan para penganut Yahudi untuk berpulang ke tanah Palestina setelah dikucilkan selama 1600 tahun. Oleh karena itu mereka mulai menghimpun action-plan berupa menghancurkan negara khilafah islamiyah yang saat itu tengah berjaya. Rencana tersebut terlaksana, khilafah Islam itu dipecah melalui serangkaian perang yang berkecamuk tanpa henti. Negara-negara yang semula bersistem khilafah itu dipenggal menjadi 75 negara dan negara-negara kecil. Lalu di tangan Barat negara-negara itu dikapling dan dijajah satu persatu. Di tahun 1799 mereka menyerukan imigrasi ke Palestina dan bermukim di tanah milik Palestina tahun 1854 melalui tekanan negara-negara Barat. Kemudian mereka mendirikan Persatuan Israel Dunia di Perancis tahun 1860. Di tengah-tengah cengkeraman penjajah di tanah Arab, mulailah eksodus besar-besaran kaum Yahudi ke tanah Palestina.

    Lalu di tahun 1895 seorang Yahudi berkelahiran Austria, Hertzel menerbitkan sebuah buku “Jews State” dan menggelar Konferensi Zionis pertama di tahun 1897. Konferensi selanjutnya masih terus digelar hingga kini. Melalui konferensi tersebut, Yahudi berhasil menyulut Perang Dunia I dan II sehingga Inggeris mendeklarasikan Perjanjian Balfoure di tahun 1917 dan menggagas Revolusi Komunis di Rusia pada tahun yang sama.

    Melalui mandat Inggeris, rencana pendudukan Yahudi dunia di tanah suci Palestina berjalan mulus. Kesemuanya merupakan konspirasi global Yahudi di seluruh dunia baik tersembunyi atau terang-terangan. Lalu di tahun 1924 negara khilafah islamiyah benar-benar berakhir. Seiring dengan keruntuhan itu, empat tahun kemudian kaum Yahudi mendirikan negara Zionis dengan pongahnya. Empat kali perang berkecamuk sengit dengan korban sipil tak berdosa melalui pembantaian yang tak berperikemanusiaan. Perang tersebut menimbulkan kerusakan besar di wilayah itu sehingga keadaannya menjadi lebih kacau daripada berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

    Tekanan internasional terhadap bumi Palestina terus berlangsung, dan fakta seakan menerima adanya spesies zionis asing di jantung wilayah Arab tersebut. Makhluk-makhluk berdarah zionis tersebut terus tumbuh secara militer hingga menjadi sel kanker yang mengancam kehancuran seluruh tubuh wilayah itu. Apa yang terjadi di bumi Palestina sepanjang abad, dan realisasi operasi militer di akhir Juli 2006 berupa penyerangan membabi buta terhadap negara berdaulat Libanon tanpa mengindahkan kecaman dunia internasional, merupakan bukti keserakahan, kesombongan, kepongahan dan sikap arogan yang sangat terlalu. Sekali lagi nubuat (ramalam) al-Quran yang terekam 1400 tahun terbukti lagi:

    Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Isra [17]: 4-8).

    Ayat ini turun lebih dari 14 abad yang lalu, akan tetapi kepongahan, keangkuhan dan tindakan babarian Israel di jantung wilayah Arab hari ini dan seterusnya akan mereka lakukan tanpa akhir. Kekurangajaran militer Israel dan perasaan tinggi hati dengan serangkaian penghancuran masal terhadap infrastruktur di beberapa tempat di Palestina dan Libanon merupakan saksi paling akurat akan keberanan al-Quran. Dengan demikian, janji Allah sudah benar-benar dekat: dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya (QS. Yusuf [12]: 21). Wallahu a’lam. (religiusta.multiply.com)

  2. TERJEMAH TAFSIR JALALAIN
    JALALUDDIN AS-SUYUTHI DAN
    JALALUDDIN MUHAMMAD IBNU AHMAD AL-MAHALLY

    PUSTAKA AL-HIDAYAH

    QS. Al Isra ayat 4-9 :

    004. (Dan telah Kami tetapkan) telah Kami wahyukan (terhadap Bani Israel dalam kitab itu) yaitu kitab Taurat (“Sesungguhnya kalian akan membuat kerusakan di muka bumi ini) di negeri Syam dengan perbuatan-perbuatan maksiat (dua kali dan pasti kalian akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar) kalian akan menimbulkan kelaliman yang besar.

    005. (Maka apabila datang saat hukuman bagi yang pertama dari keduanya) kejahatan yang pertama dari kedua kejahatan itu (Kami datangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar) orang-orang yang kuat dalam berperang dan memiliki kekuatan yang luar biasa (lalu mereka merajalela) mereka mengejar-ngejar kalian (di kampung-kampung) di perkampungan kalian untuk membunuh kalian dan menawan kalian (dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana) dan memang mereka benar membunuh Nabi Zakaria. Maka Allah mengirimkan Jalut dan tentara-tentaranya untuk menghukum mereka; akhirnya Jalut dapat membunuh mereka dan menawan anak-anak mereka serta memporak-porandakan Baitulmakdis.

    006. (Kemudian Kami berikan kepada kalian giliran) kesempatan dan kemenangan (untuk mengalahkan mereka kembali) sesudah selang seratus tahun yang terakhir dengan terbunuhnya Jalut (dan Kami membantu kalian dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar) keluarga yang besar.

    007. Kemudian Kami katakan (Jika kalian berbuat baik) dengan mengerjakan ketaatan (berarti kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri) karena sesungguhnya pahala kebaikan itu untuk diri kalian sendiri (dan jika kalian berbuat jahat) dengan menimbulkan kerusakan (maka kejahatan itu bagi diri kalian sendiri) sebagai pembalasan atas kejahatan kalian. (Dan apabila datang saat hukuman) bagi kejahatan yang (kedua) maka Kami kembali mengutus mereka (untuk menyuramkan muka-muka kalian) untuk membuat kalian sedih karena terbunuh dan tertawan hingga pengaruh kesedihan itu dapat terbaca dari roman muka kalian (dan mereka masuk ke dalam mesjid) yakni Baitulmakdis untuk menghancurkannya (sebagaimana musuh-musuh kalian memasukinya) dan menghancurkannya (pada kali pertama dan untuk menghancurkan) untuk mengadakan pembinasaan (terhadap apa saja yang mereka kuasai) yang dapat mereka kalahkan (dengan penghancuran habis-habisan) dengan pembinasaan yang sehabis-habisnya. Ternyata mereka melakukan kerusakan untuk kedua kalinya, yaitu dengan membunuh Nabi Yahya. Maka Allah mengirimkan untuk membinasakan mereka Raja Bukhtanashar. Raja Bukhtanashar akhirnya membunuh ribuan orang dari kalangan mereka dan menahan anak cucu mereka serta memporak-porandakan Baitulmakdis.

    008. Dan Kami katakan di dalam kitab (Mudah-mudahan Rabb kalian akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian) sesudah kali yang kedua ini jika kalian bertobat (dan sekiranya kalian kembali) melakukan kejahatan (niscaya Kami kembali) mengazab kalian. Dan memang mereka kembali melakukan kejahatan lagi, yaitu mendustakan Nabi saw., maka Allah swt. membinasakan mereka dengan terbunuhnya orang-orang Bani Quraizhah dan Bani Nadhir serta mereka dikenakan membayar jizyah. (Dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang kafir”) sebagai tempat tahanan dan penjara bagi mereka.

    009. (Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada) jalan (yang lebih lurus) lebih adil dan lebih besar (dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.)

  3. Kemusnahan Yahudi bukan sekadar teori

    Usaha jatuhkan Israel seperti disebut dalam al-Quran akan dicapai jika dunia Islam bersatu

    BOLEHKAH diterangkan mengenai kewujudan Haikal Sulaiman yang berada di bawah tapak Masjid Al-Aqsa dan berita mengenai kemusnahan kaum Yahudi dan kerajaan Israel pada 2022. Sejauh mana kebenaran dakwaan itu. Harap dapat penjelasan.

    (azriamin@yahoo.com)

    HAIKAL adalah sebuah tempat ibadat yang dibina oleh Nabi Sulaiman AS untuk bermunajat kepada Allah SWT di samping istananya yang hebat pada ketika itu. Buku sejarah Lubnan menyebut mengenai pembinaan itu dengan bantuan masyarakat kaum Kan’an (penduduk Baitulmaqdis ketika itu).

    Ada yang mengatakan bahawa ia hanya sebuah mihrab (tempat munajat) yang mempunyai kedalaman sepuluh hasta dan lebar di kiri dan kanan hanya lima hasta. Sejarah tidak dapat memastikan tempat dan bentuk yang tepat bagi haikal itu.

    Seorang paderi Kristian (Bost Gorge) di dalam kitabnya menyebut bahawa ia terletak di pintu masuk Bandar Khalil (Baitulmaqdis) yang disebut dengan nama ‘Mihrab Daud’. Apa yang jelas ialah tempat yang menjadi tapak haikal itu, bukan di bawah binaan Masjid Al-Aqsa sekarang seperti dakwaan orang Yahudi.

    Dakwaan orang Yahudi adalah palsu berdasarkan fakta di bawah:

    * Sebenarnya tiada satu kesan walaupun sebuah binaan kecil yang menunjukkan bahawa Nabi Sulaiman pernah membina haikal di tapak Masjid Al-Aqsa. Semuanya musnah selepas serangan Raja Babylon (Bokhtansar) pada tahun 589 sebelum kelahiran Nabi Isa AS iaitu 300 tahun selepas kewafatan Nabi Sulaiman AS.
    * Peristiwa Israk dan Mikraj adalah janji Allah SWT yang menunjukkan bahawa Islam sudah sampai ke sana dan al-Quran sendiri menyebut masjid bukannya haikal. (Masjidul Aqsa).
    * Nabi Ibrahim juga beragama Islam seperti yang jelaskan oleh Allah SWT di dalam surah Al-Imran ayat 67 bermaksud: “Tidaklah Ibrahim itu Yahudi atau Nasrani, tetapi adalah seorang Islam”.
    * Al-Quran mula dikumpulkan pada tahun 12 Hijrah ketika pemerintahan Saidina Abu Bakar RA dan Kitab Taurat orang Yahudi hanya ditulis selepas 800 tahun kewafatan Nabi Musa AS. Ini menunjukkan bahawa Taurat amat terdedah kepada penyelewengan dan penipuan.

    Kesimpulannya, orang Yahudi tidak boleh mendakwa bahawa bumi Palestin dan Baitulmaqdis sebagai milik mereka kerana Nabi Ibrahim AS sudah datang ke sana sejak 1805 sebelum kelahiran Nabi Isa AS.

    Tujuan dakwaan berkenaan hanya untuk menghalalkan pencerobohan mereka terhadap tempat suci umat Islam itu.

    Mengenai kemusnahan Yahudi dan kerajaan Israel pada tahun 2022, tidak dapat dipastikan. Semuanya mengikut pendapat sesetengah pihak yang meneliti dan merumuskan bahawa tertegaknya kerajaan Israel adalah permulaan kepada kemusnahan mereka.

    al-Quran menerangkan mengenai berlakunya kemusnahan mereka. Firman Allah SWT bermaksud: “Dan kami tetapkan terhadap Bani Israel di dalam kitab bahawa mereka akan melakukan kerosakan di atas bumi ini sebanyak dua kali dan menunjukkan sifat sombong. Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan pertama, kami datangkan hamba-hamba yang perkasa, lalu mereka bermaharajalela di kampung-kampung.

    “Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, maka kami akan membantumu dengan harta dan anak-anak dalam sekala yang besar. Jika kamu berbuat baik, maka ia untuk dirimu sendiri. Begitu juga dengan kejahatan. Apabila datang saat hukuman yang kedua, maka kami bangkitkan musuhmu untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam Masjid Aqsa sebagaimana ketika masuk kali pertama dulu dan membinasakan apa saja yang mereka kuasai.’ (Surah Al-Isra’ ayat 4 – 7).

    Hukuman yang pertama sudah berlaku sebelum turunnya al-Quran berdasarkan ayat ke 5 bahawa mereka sudah dihancurkan oleh Babylon (Bokhtansar). (‘Itu adalah ketetapan yang pasti terlaksana’). Hukuman kedua adalah bermula tertegaknya kerajaan Israel pada 1948 kerana al-Quran menyatakan selepas kedatangan mereka secara beramai-ramai.

    Firman Allah SWT: “Dan setelah itu kami berfirman kepada Bani Israel. Tinggallah di negeri ini, tetapi apabila datang masa yang ditentukan, kamu akan dilumpuhkan secara beramai-ramai”. (Al-Isra’ 104).

    Ini jelas apabila mereka semakin ramai berkumpul di sekitar kota Baitulmaqdis ketika hampir masa kemusnahan mereka. Ayat menyebut mereka akan dimusnahkan oleh tentera yang kuat. Namun demikian bilakah kemusnahan itu, tidak dapat diteka.

    Teori seorang pendeta Yahudi mengatakan bahawa kerajaan Yahudi Israel akan kekal selama 74 tahun juga tidak boleh dipandang remeh kerana sejak penubuhan negara haram Israel – 1948 sehingga 2022 adalah jangka hayat selama 74 tahun.

    Pimpinan Israel juga menganggap bahawa selepas peperangan terhadap Lubnan pada 1982 adalah tahun nikmat bagi mereka sehingga 40 tahun seperti yang dinaskan di dalam Kitab Taurat ciptaan mereka. Ini bermakna penamatnya ialah pada 2022 (1982 + 40 = 2022). (Muhammad Ibrahim Mustafa-Penganalisis mengenai masa depan kerajaan Israel).

    Ada juga teori kebetulan yang disebut mengenai bilangan jumlah huruf dari ayat 2 surah Isra’ hingga ayat 104 berjumlah 1443. Jika dikaitkan dengan 1443 hijrah, maka ia bersamaan 2022 masehi. Namun demikian, ia adalah teori yang tidak akan dapat dicapai sekiranya umat Islam dan dunia Arab masih lagi bercakaran antara satu sama lain dan mementingkan kedudukan dunia.

    Bagi umat Islam, mereka mestilah yakin dengan ayat-ayat Allah SWT dan terus berusaha melaksanakan syariat Allah seterusnya melemahkan musuh Allah yang utama di atas bumi ini. Firman Allah SWT: “Kamu akan dapati mereka yang paling benci kepada orang beriman ialah Yahudi dan mereka yang syirik dengan Allah SWT”. (Surah Al-Maidah 82).

    Penulis ialah Eksekutif di Unit Agama NSTP dan boleh dihubungi melalui emel zaman@nstp.com.my

  4. Nubuat AlQur’an Tentang Kebinasaan Bangsa Yahudi

    Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan Alloh…
    Berbesar hatilah, karena Alloh Azza wa Jalla berfirman:
    �Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.� (QS al-Israa� : 4-8)

    Berkata Syaikhuna Salim bin �Ied al-Hilaly Hafizhahullahu wa Nafa�allahu bihi mengenai ayat ini :

    Pertama : Ayat ini menegaskan terjadinya dua kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil. Sekiranya dua kerusakan yang dimaksud sudah terjadi pada masa lampau, maka sejarah telah mencatat bahwa Bani Israil telah berbuat kerusakan berkali-kali, bukan hanya dua kali saja. Akan tetapi yang dimaksudkan di dalam Al-Qur�an ini merupakan puncak kerusakan yang mereka lakukan. Oleh karena itulah Alloh mengirim kepada mereka hamba-hamba-Nya yang akan menimpakan azab yang sangat pedih kepada mereka.

    Kedua : Dalam sejarah tidak disebutkan kemenangan kembali Bani Israil atas orang-orang yang menguasai mereka terdahulu. Sedangkan ayat di atas menjelaskan bahwa Bani Israil akan mendapatkan giliran mengalahkan musuh-musuh yang telah menimpakan azab saat mereka berbuat kerusakan yang pertama.

    Alloh mengatakan : �Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali.�

    Ketiga : Sekiranya yang dimaksudkan dengan dua kerusakan itu adalah sesuatu yang telah terjadi, tentulah tidak akan diberitakan dengan lafazh idza, sebab lafazh tersebut mengandung makna zharfiyah (keterangan waktu) dan syarthiyah (syarat) untuk masa mendatang, bukan masa yang telah lalu. Sekiranya kedua kerusakan itu terjadi di masa lampau, tentulah lafazh yang digunakan adalah lamma bukan idza. Juga kata latufsidunna (Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan), huruf laam dan nuun berfungsi sebagai ta�kid (penegasan) pada masa mendatang.

    Keempat : Demikian pula firman Alloh : �dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana� menunjukkan sesuatu yang terjadi pada masa mendatang. Sebab tidaklah disebut janji kecuali untuk sesuatu yang belum terlaksana.

    Kelima : Para penguasa dan bangsa-bangsa yang menaklukan Bani Israil dahulu adalah orang-orang kafir dan penyembah berhala. Namun bukankah Alloh Subhanahu wa Ta�ala telah mengatakan dalam ayat di atas : �kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar�. Sifat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang musyrik atau penyembah berhala. Pernyertaan kata �kami� dalam kalimat di atas sebagai bentuk tasyrif (penghormatan). Sementara kehormatan dan kemuliaan itu hanyalah milik orang-orang yang beriman.

    Keenam : Dalam aksi pengerusakan kedua yang dilakukan oleh Bani Israil terdapat aksi penghancuran bangunan-bangunan yang menjulang tinggi (gedung pencakar langit). Sejarah tidak menyebutkan bahwa pada zaman dahulu Bani Israil memiliki bangunan-bangunan tersebut.

    Kesimpulan : Hakikat dan analisa ayat-ayat di atas menegaskan bahwa dua aksi pengerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil akan terjadi setelah turunnya surat al-Israa� di atas.

    Realita : Sekarang ini bangsa Yahudi memiliki daulah di Baitul Maqdis. Mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuhi kaum wanita, orang tua, anak-anak yang tidak mampu apa-apa dan tidak dapat melarikan diri. Mereka membakar tempat isra� Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Salam dan merobek-robek kitabullah. Mereka melakukan kejahatan di mana-mana hingga mencapai puncaknya. Mereka menyebarkan kenistaan, kemaksiatan, kehinaan, pertumpahan darah, pelecehan kehormatan kaum muslimin, penyiksaan dan pelanggaran perjanjian.

    Jadi, aksi pengerusakan yang kedua sedang berlangsung sekarang dan telah mencapai titik klimaks dan telah mencapai puncaknya. Sebab tidak ada lagi aksi pengerusakan yang lebih keji daripada yang berlangsung sekarang.

    Adakah aksi yang lebih keji daripada membakar rumah Alloh?

    Adakah aksi pengerusakan yang lebih jahat daripada merobek-robek kitabullah dan menginjak-injaknya?

    Adakah aksi pengerusakan yang lebih sadis daripada membunuhi anak-anak, orang tua dan kaum wanita serta mematahkan tulang mereka dengan bebatuan?

    Adakah aksi pengerusakan yang lebih besar daripada pernyataan perang secara terang-terangan siang dan malam melawan Islam dan para juru dakwahnya?

    Sungguh demi Alloh, itu semua merupakan aksi pengerusakan yang tiada tara!!!

    Lalu Alloh Azza wa Jalla melanjutkan firman-Nya : �dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai�.

    Artinya, hamba-hamba Alloh kelak akan meruntuhkan apa saja yang dibangun dan dikuasai oleh bangsa Yahudi. Mereka akan menggoyang benteng Yahudi dan meluluhlantakkan serta meratakannya dengan tanah. Sebelumnya, tidak pernah disaksikan bangunan-bangunan menjulang tinggi di tanah Palestina kecuali pada masa kekuasaan Zionis sekarang ini. Gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah pemukiman dibangun di setiap jengkal tanah Palestina yang diberkahi.

    Kami katakan kepada mereka : Dirikanlah terus wahai anak keturunan Zionis, tinggikan bangunan sesukamu! Sesungguhnya kehancuran kalian di situ dengan izin Alloh. Dan tak lama lagi kalian akan luluh lantah dan tertimpa bangunan kalian itu! Dan Alloh takkan memungkiri janjinya : �dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana�.

    Penguasaan Masjidil Aqsha tidak disebutkan pada kali yang pertama dan disebutkan pada kali yang kedua. Sebab penguasaan Masjidil Aqsha oleh kaum muslimin akan berakhir. Kalaulah belum berakhir berarti penguasaan yang kedua merupakan lanjutan dari yang pertama. Akan tetapi berhubung penguasaan Masjidil Aqsha yang pertama akan berakhir, maka penguasaan untuk yang kedua kalinya merupakan peristiwa baru. Dan itulah realita yang terjadi! Penguasaan pertama telah berakhir sesudah bangsa Yahudi menguasai al-Quds serta beberapa wilayah tanah Palestina lainnya dalam satu serangan yang sangat sporadis pada tahun 1967, orang-orang menyebutnya tahun kekalahan. Sebelumnya pada tahun 1948 mereka sebut dengan tahun kemalangan.

    Penguasaan yang pertama berakhir disebutkan karena adanya faktor penghalang yang menghalangi kaum muslimin untuk menguasainya. Penghalang itu merupakan musuh bagi Islam dan kaum muslimin. Dan cukuplah Yahudi sebagai musuh bebuyutan yang sangat menentang Islam, kaum muslimin dan para pembela Islam.

    Maka kita harus membebaskan tanah kita yang dirampas dan membuat perhitungan dengan mereka serta menyalakan api kebencian terhadap mereka!!! Sudah tergambar pada wajah mereka tanda-tanda kemalangan dan kehinaan. Kaum muslimin akan kembali menguasai Masjidil Aqsha �insya Alloh- sebagaimana kaum salafus shalih menguasainya pertama kali. Sebab kehancuran kedua yang telah dijanjikan oleh Alloh dalam firman-Nya : �dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama�.

    Kita sedang menanti peristiwa itu sebagai kebenaran janji Alloh dan kebenaran berita-berita Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Salam. Pada hari itu kaum muslimin bergembira dengan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla.[Disarikan dari �Jama�ah-Jama�ah Islamiyah Ditimbang Menurut Al-Qur�an dan As-Sunnah� (terj. Al-Jama�at al-Islamiyyah fi Dhou�il Kitaabi was Sunnah), karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly, pent. Ust. Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Imam Bukhari, Jilid I, cet. I, Juni 2003, hal. 90-108.]

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s