Mengembara Ke Sistem Suria Menjengah Kehidupan Di Planet Biru

Sebelum memulakan pengembaran, senarai planet dan jarak purata planet dengan matahari dalam sistem suria adalah seperti berikut :-

57.9 juta kilometer ke Utarid
108.2 juta kilometer ke Zuhrah
149.6 juta kilometer ke Bumi
227.9 juta kilometer ke Marikh
778.3 juta kilometer ke Musytari
1,427.0 juta kilometer ke Zuhal
2,871.0 juta kilometer ke Uranus
4,497.0 juta kilometer ke Neptun
5,913.5 juta kilometer ke Pluto.

Dalam pengembaran menuju matahari …. ketika mendekati tata surya akan menjumpai pemandangan yang sangat menarik. Bayangkan bahwa kita adalah pengembara seperti itu, dan kita sedang menghampiri satu persatu planet menuju matahari—sebuah lingkaran raksasa pada bola langit di mana seluruh planet utama dalam tata surya kita bergerak.

Planet pertama yang dijumpai adalah Pluto.

Planet ini sangat dingin, dengan suhu sekitar -238 °C. Atmosfernya tipis dan akan berbentuk gas jika planet ini berada hanya sedikit lebih dekat ke matahari pada orbitnya yang berbentuk agak elips. Lain saat, atmosfernya menjadi lapisan ais. Pluto, ringkasnya, adalah bola tanpa kehidupan yang diselimuti ais.

Bergerak mendekat matahari, anda akan menjumpai Neptun. Planet ini dingin juga, sekitar -218°C. Atmosfernya terdiri dari hidrogen, helium, dan metan, beracun bagi kehidupan. Angin yang bertiup kencang, mendekati 2,000 km per jam, bergemuruh di seluruh permukaan planet.

Lantas Uranus: planet gas yang pada permukaannya terdapat batuan dan ais. Suhu permukaannya adalah -214°C dan atmosfernya, lagi-lagi, terdiri dari hidrogen, helium, dan metan—tak sesuai bagi kehidupan manusia.

Setelah Uranus, anda mendekati Saturn (Zuhal). Ini adalah planet terbesar kedua dalam tata surya, dan terutama terkenal dengan sistem berbentuk cincin yang mengitarinya. Cincin ini terdiri dari gas, batuan, dan ais. Salah satu dari sekian banyak hal menarik tentang Saturn adalah planet ini seluruhnya terdiri dari gas: 75% hidrogen dan 25% helium, dan kerapatannya kurang daripada kerapatan air. Jika anda ingin “mendaratkan” pesawat di Saturn, anda sebaiknya merancang pesawat anda agar boleh seperti pelampung! Suhu rata-rata lagi-lagi sangat rendah: -178°C.

Berikutnya adalah Yupiter (Musytari): planet terbesar dalam tata surya, 318 kali lebih besar daripada bumi. Seperti Saturn, Yupiter juga planet yang dibentuk oleh gas. Karena sulit membedakan “atmosfer” dan “permukaan” pada planet seperti ini, sulit juga ditentukan berapa uhu “permukaan”nya, namun pada lapisan atas atmosfer, suhu mencapai -143°C. Bentukan alam yang menarik di atmosfernya adalah apa yang disebut “Bintik Merah Raksasa”. Ini pertama kali diketahui 300 tahun yang lalu. Ahli astronomi sekarang mengetahui bahwa ini adalah badai yang luar biasa kuatnya yang telah berkecamuk di atmosfer Jovian selama berabad-abad. Badai ini cukup besar untuk menelan beberapa planet seukuran bumi. Yupiter mungkin planet yang mendebarkan, namun bukan rumah bagi manusia, yang seketika akan tewas karena suhu yang membekukan, angin yang ganas, dan radiasi yang tinggi.

Kemudian muncul Mars (Marikh). Atmosfer planet ini tidak mungkin mendukung kehidupan manusia sebab sebagian besar terdiri dari karbondioksida. Seluruh permukaannya dipenuhi kawah: hasil dari tubrukan meteor yang terus-menerus dan angin kencang yang bertiup di seluruh permukaannya, yang dapat menimbulkan badai pasir berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Suhu agak bervariasi namun turun hingga -53°C. Telah banyak spekulasi bahwa di Mars mungkin terdapat kehidupan, namun seluruh bukti menunjukkan bahwa planet ini tanpa kehidupan juga.

Bergerak dari Mars menuju matahari, kita melihat planet biru yang kita putuskan untuk sementara dilewatkan, dan menjelajah lagi. Pencarian kita membawa kita ke sebuah planet bernama Venus (Zuhrah). Planet ini diselimuti kabut putih cemerlang namun suhu permukaannya 450°C, yang cukup untuk melelehkan timah. Sebagian atmosfernya berupa karbondioksida. Di permukaan planet, tekanan atmosfer setara dengan 90 kali tekanan atmosfer bumi: di bumi, anda harus menyelam satu kilometer ke dalam laut untuk mendapatkan tekanan setinggi ini. Di atmosfernya terdapat berlapis-lapis gas asam belerang sedalam beberapa kilometer. Tidak ada seorang pun atau kehidupan lain yang mampu bertahan sedetik pun di tempat yang keras seperti ini.

Kita bergerak terus dan mencapai Merkuri (Utarid), dunia kecil berbatu, ditempa panas dan radiasi matahari. Rotasinya begitu terhambat oleh kedekatannya dengan matahari, menyebabkan planet ini melakukan hanya tiga rotasi aksial penuh selama dua kali peredaran mengelilingi matahari. Dengan kata lain, di Merkuri, dua “tahun” sama dengan tiga “hari”. Disebabkan perputaran harian yang begitu lama, satu sisi planet menjadi begitu panas sementara sisi lainnya begitu dingin. Perbedaan ssuhu antara sisi siang dan sisi malam dapat mencapai 1,000°C. Tentu saja lingkungan seperti ini tidak mungkin menopang kehidupan.

Ringkasnya, kita telah mengamati lapan planet dan tidak satu pun darinya, termasuk lima puluh tiga satelitnya menyediakan sesuatu yang mungkin menopang kehidupan. Semuanya tak lebih dari bola gas, ais atau batu tanpa kehidupan.

Namun, bagaimana dengan planet biru yang kita lewatkan beberapa saat lalu? Ia berbeda dari yang lain. Dengan atmosfer yang ramah, kondisi permukaan, suhu permukaan, medan magnet, ketersediaan unsur-unsur, serta posisi pada jarak yang tepat dari matahari, tampak seperti telah dirancang secara khusus untuk tempat hidup.

Planet Biru itu lah bumi kita – diciptakan Allah tuhan semesta alam untuk kehidupan insan.

Dan planet Biru tempat kita hidup adalah telah dirancang secara khusus dan “disempurnakan” oleh Allah bagi manusia sebagaimana disebutkan dalam Al Quran (QS. An-Naazi’aat, 79: 30).

“dan bumi sesudah itu dihamparkannya (untuk kemudahan penduduknya)”

Ada ayat lain mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan bumi bagi manusia untuk hidup:

“Allah lah yang manjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupa-mu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Mahaagung Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al Mu’min, 40: 64) !

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berja-lanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibang-kitkan.” (QS. Al Mulk, 67:15) !

–       Dikutip dengan penyesuaian dari Harun Yahya di dalam bukunya Penciptaan Alam Semesta , rujukan Wikipidia dan al Quran

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s