Yasin QS 36:29- Antara Anthokia Dan Pompeii

Peristiwa tsunami  di Jepun minggu sudah, mengingatkan kita kepada beberapa perkhabaran dari al Quran, antaranya firman Allah :

إِن كَانَتۡ إِلَّا صَيۡحَةً۬ وَٲحِدَةً۬ فَإِذَا هُمۡ خَـٰمِدُونَ

Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

-QS Yasin 36:29

Demikian sebahagian Surah Yasin yang sering kita baca. Ayat ini turun di Mekah. Ia adalah rentetan  dari ayat 13. Allah memberi perkhabaran kepada Nabi S.A.W kegigihan utusan Allah berdakwah yang akhirnya tetap ditolak oleh kaumnya. Ayat 29 ini adalah hukuman Allah keatas keengkaran kaum tersebut.

Al-Fadhil Prof. Madya Dr. Zawawi Ahmad didalam bukunya  Tafsir Surah Yaasin Dari Perspektif Sains dan Sejarah menulis:

Menurut kebanyakan ulama mufassirien, kawasan yang disebut Allah sebagai al-Qaryah dalam ayat yang ke-13 surah ini ialah Anthokia, iaitu sebuah kawasan yang terletak di utara negara Syiria. Dahulunya kawasan ini terletak di negara Turki, tetapi selepas tamat Perang Dunia Pertama, perubahan dari segi geografi telah menyebabkan wujudnya beberapa kawasan di Timur Tengah dan Asia Barat. Kebanyakan kawasan di daerah itu telah jatuh ke tangan orang Barat.

Pada zaman dahulu negeri Anthokia diperintah oleh seorang raja musyrik yang kejam. Untuk menyelamatkan rakyatnya daripada kekejaman tersebut, Allah telah mengutuskan dua orang rasul bernama Sama’an dan Yahaya ‘alaihima-assalam (a.s) ke sana untuk meyebarkan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Isa a.s. Menurut ayat ini, kehadiran mereka ke negeri itu telah disanggah oleh penduduknya dengan kasar dan biadab sekali. Mereka telah diugut dengan ancaman siksa dan bunuh. Bagi menguatkan lagi kerja-kerja dakwah mereka, Allah telah mengutuskan seorang lagi rasul. Rasul yang ketiga ini tidak diketahui namanya kerana tidak dinyatakan dalam mana-mana kitab suci. Hakikatnya ketiga-tiga orang rasul ini telah didakwah kepada penduduk negeri tersebut sepertimana yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s.

Walaupun semua penduduk di negeri berkenaan terus mendustakan rasul-rasul tersebut, namun ada juga seorang hamba Allah yang datang untuk mandengar dakwah mereka. Lelaki tersebut bernama Habib al-Najjar. Beliau tinggal di pinggir kota negeri tu. Setelah mendengar seruan para rasul tersebut, Habib al-Najjar pun merayu kaumnya supaya beriman. Walau bagaimanapun seruannya ditolak oleh kaumnya dan akhirnya beliau sendiri dibunuh dengan kejam. Kematian Habib al-Najjar disambut oleh para malaikat di pintu syurga dengan begitu meriah sambil mempersilakan masuk ke syurga dengan penuh sopan.

Maulana Abdullah Yusof Ali  merujuk kepada  Acts, xi. 26 mengatakan:

Ahli tafsir zaman kelasik mengatakan Anthokia  adalah satu kota yang penting di Syria Utara  pada abad pertama  Masihi. Ia sebuah kota Yunani yang di asaskan oleh Seleucus Nicator, seorang pemerintah selepas Iskandar  Agung bagi memperingati ayahnya Antiochus. Hawariyun nabi Isa a.s telah menjalankan seruan dakwah di kota ini. Bagaimanapun seruan itu di tolak penduduknya dan kota itu di musnahkan oleh Allah.

Maulana Abdullah Yusof Ali bagaimanapun berpendapat  , kota yang disebut dalam ayat 29 tidak semestinya Anthokia (Antioch) kerana ayat tersebut hanya menyebut kisah ibarat.

Muhammad Alexander dalam bukunya Alexander Adalah Zulkarnain pula menyebut kota tersebut adalah kota Pompeii di Itali dan gunung berapi Vesuvius telah memusnahkan kota tersebut pada tahun 78 M ( setengah riwayat menyebut pada  Ogos 79M)

Harun Yahya  juga menyatakan kota tersebut adalah kota Pompeii. Beliau menulis :

Pompeii,  sebuah kota kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.


( Pemandangan Kesan Runtuhan Pompeii boleh dilihat di sini: http://www.destination360.com/europe/italy/pompeii/virtual-tour    )

Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.



Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik-distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

Berita Harian 28 Dec 2009 menulis:

Sekitar 23 Ogos tahun 79 Masihi (M),keadaan di Pompeii (kini satu kawasan Itali) kelihatan sibuk sama seperti kota purba yang lain,penduduknya bergerak ke sana sini,berjual beli dalam bangunan atau gedung agam serta bersosial antara satu sama lain.Tiba-tiba lenyap satu kejadian misteri melanda kota sehingga menyebabkan bangunan dan penduduknya lenyap bagaikan tidak perna wujud dalam peta dunia.Kewujudan kota Pompeii yang suatu ketika dulu menjadi antara kota terkemuka dalam Empayar Rom,hilang dalam lipatan sejarah.Tiada siapa yang mengetahui kewujudan kota berkenaan.

Masa berlalu sehinggalah tahun 1594,sekumpulan pekerja diarahkan menggali terowong di kaki gunung berapi Vesuvius bagi projek membekalkan air kepada sebuah kampung berdekatan.Kerja mengorek tanah dijalankan dengan giat tetapi aktiviti tersebut terpaksa dihentikan selepas mereka menemui benda aneh tertanam didalam tanah.


76 tahun kemudian, kerja mengorek kembali dipelopori oleh Putera d’Elboeuf selepas beliau mendengar kewujudan artifak berharga dan harta karun yang tertanam dikawasan berkenaan.Tinggalan artifak yang pernah ‘terkubur’ dibawah tanah ditemui dan misteri kehilangan kota Pompeii selama ribuan tahun akhirnya terbongkar.

Selain artifak berupa barangan tembikar dan purba,turut dijumpai adalah puluhan patung batu berbentuk manusia dalam keadaan yang mengerunkan.Penemuan aneh itu adalah sekumpulan jasad manusia yang seolah-olah bertukar menjadi patung batu ketika sedang menjamu selera.

Lebih menakutkan adalah kejadian misteri yang melenyapkan secara tidak langsung turut menyimpan ‘wajah’ sebenar kota Pompeii apabila turut ditemui puluhan jasad manusia yang sedang mengadakan hubungan seks termasuk seks diluar tabii bertukar menjadi batu.Jelas kelihatan raut muka penduduk yang menunjukkan expresi terkejut dan ketakutan teramat seolah-olah bencana yang datang itu secara tiba-tiba.

Sejarah Kota Pompeii

*Kota Pompeii didirikan sekitar abad ke-6 Sebelum Masihi (M) oleh kaum Osci atau Oscan iaitu satu kelompok masyarakat ditengah Itali.


*Pompeii berkembang pesat dan maju dari segi pembangunan.Akan tetapi, disebalik kemajuan seni bina dan aspek kesenian yang memukau,kota itu sebenarnya membangun sebagai pusat pelacuran serta kegiatan yang melampui batas kemanusiaan.


*Rumah pelacuran dibina dengan jumlah yang tidak terhitung malah alat kelamin lelaki digantung dipintu pusat pelacuran berkenaan.


*Masyarakat Pompeii pada ketika itu juga dikatakan mengamalkan kepercayaan ‘Mithra’ yang menyakini bahawa alat kelamin serta persetubuhan tidak sepatutnya dilakukan secara sembunyi tetapi mesti dilakukan ditempat terbuka.


*Selepas lama aktiviti maksiat tanpa batas itu berlarutan dikota berkenaan,secara tiba-tiba gunung berapi Vesuvius yang sebelum itu ’sepi’ selama dua juta tahun akhirnya meletuskan lava panas sehingga membanjiri kota itu.


*Tiada seorang pun penduduk yang terselamat malah debu tebal bencana itu menenggelam serta menlenyapkan Pompeii dari sejarah beradapan dunia malah menukarkan penduduknya seolah-olah menjadi patung batu.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s