Imam Syiah: Wanita Syi’ah tidak mendapatkan warisan

Imam Syiah: Wanita Syi’ah tidak mendapatkan warisan

Entah apa yang ada dipikiran orang-orang syi’ah, satu sisi mereka menyebutkan bahwa tanah Fadak adalah warisan Rasulullah untuk Sayyidah Fathimah. Disisi lain mereka menyebutkan bahwa wanita tidak boleh mendapatkan warisan.

Sebenarnya masalah ini terdapat dalam rujukan utama mereka. Al Kulaini pengarang kitab Al-kaafii, sebuah kitab yang sangat diagungkan kaum syi’ah, kedudukannya setara dengan shahih Al Bukhari dan Muslim bagi kaum muslimin, memuat satu bab khusus dengan judul:

“Sesungguhnya para wanita tidak mendapatkan warisan perabot rumah sedikitpun”

Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat dari imam-imam mereka, di antara adalah:

1.  Ia meriwayatkan dari Abu Ja’far: “Para wanita tidak mendapatkan warisan tanah dan perabot rumah sedikitpun.”

2.  Ath Thusi meriwayatkan dalam kitabnya At Tahdzib dan Al Majlisi dalam Biharul Anwar dari Muyassar, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah ‘alaihissalam tentang wanita, bagian warisan apa yang mereka dapatkan? Ia menjawab, ‘untuk mereka hanya senilai batu bata, bangunan, pasir, dan bambu. Adapun tanah dan perabot rumah maka mereka tidak mendapatkannya sedikitpun.

3.  Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far ‘alaihissalam: “Para wanita tidak mendapatkan warisan tanah dan perabot rumah sedikitpun.”

4.  Dan dari Abdul Malik bin A’yun dari salah seorang dari keduanya ‘alaihimassalam: “Tidak ada bagi para wanita (bagian) dari rumah atau perabotnya sedikitpun.

Bagaimana tanggapan anda semua wahai kaum syiah???? Bukankah menurut imam anda sekelian wanita juga tidak mendapatkan harta warisan?? Lalu mengapa anda hanya mencela Abu Bakar dan diam terhadap imam kalian?!!

–      Dipetik dari Fadak Kisah Yang Tak Kunjung Berakhir – Haulasyiah

Perbedzaan Aqidah Ahlussunnah Waljamaah Dengan Ugama Syiah

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a) Syahadatain b) As-Sholah c) As-Shoum d) Az-Zakah e) Al-Haj

Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) As-Sholah b) As-Shoum c) Az-Zakah d) Al-Haj e) Al wilayah

2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :

 a) Iman kepada Allah b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya c) Iman kepada Kitab-kitab Nya d) Iman kepada Rasul Nya e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)

a) At-Tauhid b) An Nubuwwah c) Al Imamah d) Al Adlu e) Al Ma’ad

3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat

Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5.      Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a)      Abu Bakar  b)      Umar  c)      Utsman  d)      Ali Radhiallahu anhum

Syiah   : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka). 

6.  Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah   : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

 7.   Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8.   Ahlussunnah         :  Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9.   Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :

a)      Bukhari    b)      Muslim   c)      Abu Daud  d)      Turmudzi  e)      Ibnu Majah  f)       An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah    : Kitab-kitab Syiah ada empat :

a)      Al Kaafi  b)      Al Istibshor  c)      Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih  d)      Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah). 

10.  Ahlussunnah         : Al-Qur’an tetap asli

Syiah                     : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak asli. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11.  Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12.  Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah : a) Abu Bakar b) Umar c) Utsman d) Ali Radhiallahu anhum

Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

13.  Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14.  Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.

Syiah     : Khamer/ arak suci.

15.  Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah   : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16.  Ahlussunnah         :  Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah       : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17.  Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah      : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18.  Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

Syiah          : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

 19.  Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah    : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

Rujukan : Albayyinat.net

Ali r.a. Enggan Menerima Baiah Selepas Wafat Uthman r.a.

Oleh : Aburedza

Ramai ahli sejarah  Syiah menulis , Ali r.a sangat menginginkan jawatan Khalifah selepas Rasullah saw wafat atau selepas Abu Bakar r.a  , Umar r.a. dan Uthman r.a wafat. Tulisan saya sebelum ini dengan rujukan kepada kitab Syiah sendiri iaitu Surat Ali kepada Muawiyah  , surat ke 6 ( baca di sini : https://aburedza.wordpress.com/2009/06/15/surat-khalifah-ali-ra-kepada-muawiiah-bin-abi-sufian-ra/ ) dan khotbah no 91 Ali r.a (baca di sini : https://aburedza.wordpress.com/2009/07/06/nahjul-balaghah-khutbah-92/ ) telah mengambarkan sebaliknya.  Ali r.a  sebenarnya adalah tidak dalam bentuk seorang yang begitu haus sekali kepada jawatan khalifah.

Ramai ahli sejarah memetik banyak ucapan Ali yang membayangkan kononnya beliau cukup marah dengan apa yang berlaku ke atas dirinya setelah jawatan khalifah terlepas dari tangannya semenjak dari zaman Abu Bakar dan Umar lagi.

Sebaliknya jika kita membaca tulisan Prof. Dr. Ibrahim Ali Sya’wat[1] beliau menulis dengan memetik dari al Kamil, jld 3 hlm  98, at Tabari jld 4 hlm 427 cet dar al Maarif mengatakan :

Ibn al-Athir menulis apabila Uthman dibunuh, para sahabat Rasulullah SAW dari kalangan Muhajirin dan Ansar berkumpul bagi membincangkan urusan pelantikan khalifah baru. Di kalangan mereka termasuklah Talhah dan juga al-Zubir. Mereka menemui Ali, lalu berkata: “Orang ramai memerlukan seorang pemimpin”. Jawab Ali: “Saya tidak mempunyai sebarang keperluan di dalam urusan anda itu. Siapa sahaja yang anda pilih, saya akan menyetujuinya”. Ujar mereka: “Kami tidak akan memilih seseorang yang lain selain dari anda sendiri”. Mereka berulang-alik membujuk Ali supaya menerima jawatan tersebut. Akhir sekali mereka menyatakan kepada Ali RA: “Kami tidak mengetahui seorang yang paling layak untuk memegang jawatan khalifah selain dari anda. Tidak ada lagi orang yang paling terdahulu masuk Islam dan paling dekat dengan Rasulullah SAW selain anda”. Jawab Ali: “Jangan anda semua melantik saya menjadi khalifah. Lebih baik saya menjadi seorang menteri dari menjadi seorang pemimpin”.

Kemudian Prof. Dr. Ibrahim Ali Sya’wat  menyambung dengan merujuk komentar al-Sayyid Muhib aI-Din aI-Khatib ke atas Kitab al- Awasim Mina al­Qawasim, hIm. 142. dan hlm. 143, catatan tepi no: 1. :  

Uthman dibunuh, orang ramai menemui Ali, tetapi Ali mengelakkan dari bertemu dengan mereka. Beliau menyembunyikan diri di kebun-kebun di Madinah. Apabila mereka menemuinya, beliau bukan saja menjauhkan diri dari mereka, malah beliau berkali-kali menyatakan tidak ingin masuk campur dalarn urusan mereka dan tidak ingin mendengar ucapan-ucapan yang diucapkan oleh mereka.

Al-Tabari juga melaporkan, orang ramai pernah menemui Ali yang secara kebetulan berada di pasar Madinah dan berkata kepadanya: “Hulurkanlah tangan anda, supaya kami dapat membaiah anda sebagai khalifah Islam”. Jawab Ali:

“Jangan anda sekelian tergesa-gesa berbuat demikian. Sebelum saya, Umar yang merupakan seorang yang sentiasa diberkati oleh Allah mewasiatkan semasa hayatnya supaya dibentuk majlis syura untuk memilih calon khalifah. Tunggulah sehingga orang ramai berkumpul dan bermesyuarat terlebih dahulu”. Setelah itu barulah mereka tidak lagi mendesak Ali supaya menerima jawatan tersebut.

Seterusnya al-Tabari melaporkan apabila penduduk Madinah telah berkumpul, delegasi dari Mesir menyatakan kepada mereka: “And a semua adalah ahli syura dan anda juga pernah melantik khalifah sebelum ini. Pilihlah seorang lelaki yang boleh memegang jawatan khalifah dan kami hanya mengikut sahaja keputusan anda itu”.

Majoriti orang ramai yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan: “Kami reda Ali bin Abu Talib menjadi khalifah”. Jawab Ali: “Ketepikanlah dahulu saya dan carilah orang lain yang lebih layak dari saya”. Jawab mereka: Tidakkah tuan melihat fitnah yang sedang berlaku sekarang. Tidakkah tuan takut kepada Allah”? J awab Ali: “Sekiranya saya menerima pemilihan anda itu, saya akan mentadbir mengikut yang saya tahu dan jika anda sekelian membiarkan saya, saya sebenarnya hanyalah salah seorang dari anda sahaja. Cuma bezanya saya adalah orang yang paling patuh dan paling taat kepada sesiapa sahaja orang yang anda lantik menjadi khalifah”. Setelah itu mereka semua berpisah dengan keputusan memilih Ali sebagai khalifah orang-orang Islam.

 


[1] Prof. Sejarah Islam Universiti al Azhar dalam tulisannya Kesalahan-kesalahan Terhadap Fakta-fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula.

Tulisan ini boleh juga di baca di http://www.tranungkite.net/v9/modules.php?name=News&file=article&sid=2079

Nahjul Balaghah : Khutbah Ali r.a – Khutbah 91

Oleh : Aburedza

Sahabat saya Abu Hassan , seorang Syiah , dalam emailnya terus mengatakan  kekhalifahan selepas Rasullah saw adalah hak Ali as .  Abu Bakar ra, Umar ra dan Usman ra adalah perampas.  Tuduhan itu tidak betul jika di nilai dari kata-kata Imam Ali as sendiri.  Sila rujuk Kitab Nahjul Balaghah , khutbah ke 92 . Kitab Nahjul Balaghah adalah termasuk kitab Syiah yang utama. Saya salin seperti terjemahan Indonesia. Sila baca juga catitan kaki oleh penyusun Sayid Radhi :

KHOTBAH 91

Ketika orang-orang memutuskan untuk membaiat Amirul Mukminin setelah pembunuhan ‘Utsman,[1] ia berkata:

Tinggalkan saya dan carilah orang lain. Kita sedang menghadapi suatu hal yang mempunyai (beberapa) wajah dan warna, yang tak dapat ditahan hati dan tak dapat diterima akal. Awan sedang menggelantung di langit, dan wajah-wajah tak dapat dibedakan. Anda seharusnya tahu bahwa apabila saya menyambut Anda, saya akan memimpin Anda sebagaimana saya ketahui, dan tidak akan memusingkan apa pun yang mungkin dikatakan atau dicercakan orang. Apabila Anda meninggalkan saya maka saya sama dengan Anda. Mungkin saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat ketimbang seorang kepala. •


[1] Setelah pembunuhan ‘Utsman, kursi kekhalifahan tertinggal kosong, dan kaum Muslim mulai melihat kepada Ali a.s. yang berperangai damai, kukuh pada prinsip, dan perilakunya telah banyak mereka saksikan selama masa panjang itu. Akibatnya, mereka berduyun-duyun menyerbunya untuk menyampaikan baiat kepadanya seperti musafir tersesat melihat tujuannya. Mereka menyerbu ke arah-nya, sebagaimana dicatat sejarawan Thabari,

“Orang maju berdesakan-desakan kepada Ali seraya mengatakan, ‘Kami hendak membaiat kepada Anda dan Anda melihat kekacauan apa yang menimpa Islam dan kita sedang dicoba tentang kerabat Nabi.'” (Tārīkh, I, h. 3066, 3067, 3076)

Tetapi Amirul Mukminin menolak permohonan mereka. Karenanya rakyat berteriak-teriak dengan kacau dan berseru dengan nyaring, “Hai Abu Hasan, apakah Anda tidak menyaksikan kehancuran Islam atau melihat datangnya banjir kerusuhan dan bencana? Apakah Anda tidak takut kepada Allah?” Namun demikian Amirul Mukminin tidak menunjukkan kesediaan untuk menyetujuinya, karena ia melihat bahwa eiek dari suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi telah menguasai hati dan pikiran rakyat; keakuan dan hawa nafsu untuk kekuasaan telah berakar di hati mereka, pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme, dan mereka telah terbiasa memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk mendapatkan maksud mereka. Sekarang mereka hendak mematerialkan dan mempermainkan kekhalifahan Ilahi pula. Dalam keadaan itu mustahil mengubah mentalitas atau mengalihkan arah temperamen mereka. Selain dari itu, ia pun melihat bahwa rakyat harus mendapatkan waktu lebih panjang untuk berpikir agar kelak mereka tidak mengatakan bahwa baiat mereka telah diberikan di bawah kebutuhan temporer dan pemikiran sewaktu dan tanpa pemikiran matang, tepat sebagaimana gagasan ‘Umar tentang kekhalifahan pertama, yang muncul dalam pernyataannya,

“Kekhalifahan Abu Bakar terjadi tanpa dipikirkan, tetapi Allah menyelamat-kan kita dari bencananya. Apabila seseorang mengulangi hal semacam itu, ia harus dibunuh. (al-Bukhari ash-Shahih, VIII, h. 210-211; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 55; Thabarf, I, h. 1822; Ibn Atsir, II, h. 327; Ibn Hisyam, IV, h. 308-309; Ibn Katsir, V, h. 246)

Singkatnya, ketika desakan mereka meningkat melampaui batas, Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini, di mana ia menjelaskan bahwa “Apabila Anda menghendaki saya demi tujuan-tujuan duniawi Anda, maka saya tidak siap melayani sebagai alat Anda. Tinggalkan saya dan pilihlah seseorang lain yang mungkin memenuhi tujuan Anda. Anda telah melihat kehidupan masa lalu saya bahwa saya tidak bersedia mengikuti apa pun selain Al-Qur’an dan Sunah, dan tidak akan melepaskan prinsip ini untuk mendapatkan kekuasaan. Apabila Anda memilih seseorang lain, saya akan menghormati hukum negara dan konstitusi sebagaimana warga yang suka damai. Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Malah, justru demi memelihara kebaikan bersama, sampai saat ini saya memberikan nasihat yang benar, saya tak akan enggan untuk berbuat sama seperti itu. Apabila Anda biarkan saya dalam kedudukan yang sama, hal itu adalah lebih baik bagi tujuan duniawi Anda, karena dalam hal itu saya tidak memegang kekuasaan untuk menghalangi urusan duniawi Anda dan menciptakan rintangan terhadap keinginan hati Anda. Tetapi, jika Anda telah bertekad untuk membaiat kepada saya, ingatlah bahwa apabila Anda menger-nyitkan dahi atau berbicara menentang saya maka saya akan memaksa Anda me-langkah pada jalan yang benar, dan dalam hal kebenaran saya tidak akan peduli terhadap siapa pun. Apabila Anda hendak membaiat walaupun dengan ketentuan ini, Anda boleh memuaskan kehendak Anda.”

Kesan yang telah dibentuk oleh Amirul Mukminin tentang orang-orang ini sesuai sepenuhnya dengan kejadian-kejadian di kemudian hari. Ketika orang-orang yang telah membaiat dengan motif-motif duniawi tidak berhasil dalam tujuannya, mereka kemudian membelot dan bangkit melawan pemerintahannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.

 

Catitan hujung :

Perhatikan kata-kata Imam Ali as : saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat berbanding seorang ketua.

Perhatikan juga ulasan penyusun pada nota kaki :  Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Jadi bagaimana mungkin di katakan Imam Ali as  membantah kekahalifahan Abu Bakar ra , Umar ra dan Usman ra ?

Jika jawatan khalifah adalah  hak atau arahan Allah , maka Ali as tidak akan menolaknya. Menolaknya adalah derhaka dan berdosa.

Saudara pembaca mengapa Syiah mendustai Imam mereka sendiri ? Saudara boleh membaca tulisan saya sebelum ini di https://aburedza.wordpress.com/2009/06/15/surat-khalifah-ali-ra-kepada-muawiiah-bin-abi-sufian-ra/  mengenai   Surat Khalifah Ali ra Kepada Muawiah Bin Abi Sufian ra

 

Kenali Syiah : Bila Syiah Muncul

Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi`ah sendiri.

Al Qummi berkata dalam bukunya Al Maqaalaat wal Firaq3.1 : Ia mengakui keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj`iyah Ali3.2, dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya Firaqus Syi`ah3.3. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan Rijaalul Kissyi3.4. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar Rafidhah.

Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebiahn lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.

Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah3.5 dan akidah raj`iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya syi`ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.

Begitulah syiah membuat bid`ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj`iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan3.6, karena mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.

 

Penamaan ini disebutkan oleh syeikh mereka Al Majlisi dalam bukunya Al Bihaar dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka3.7.

Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!, lalu beliau menjawab : Mereka berdua (Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka. Mereka berkata : Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai`at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah3.8.

Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar3.9.

Dan dikatakan mereka dimanakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama3.10.

Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?

Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma`arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi`ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang terkenal itu3.11.

Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad3.12, sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuhpuluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi`ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.

Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh3.13.

As Syahrastaani berkata : Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah3.14.

Al Baghdadi berkata : Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.3.15

Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.

Apakah dimaksud dengan akidah Al Badaa` yang diimani oleh Rafidhah?

Al Badaa` yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa` sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa`.

Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : Saya telah mendengar Al Ridha berkata : Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa`3.16. Dan dari Abi Abdillah ia berkata : Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa`3.17. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.

Lihatlah wahai saudarku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta`ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :

Artinya : Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah.

Dan di sisi lain Rafidhah (syi`ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.

Apakah ini keyakinan Islam (akidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad – Shallallahu ‘alaihi wa sallam – ??????


3.1Lihat Al Maqaalaat wal Firaq oleh Al Qummi, hal : 10-21.
3.2Keyakinan bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiyamat.
3.3Lihat Firaqus Syi`ah oleh An Nubakhti, hal : 19-20.
3.4Lihat : apa yang dicantumkan oleh Al Kissyi dalam beberapa riwayat dari Ibnu Saba dan akidah- akidahnya, lihat no : 170, 171, 172, 173, 174, dari hal : 106-108.
3.5Keyakinan menghilangnya imam Askari yang mereka tunggu-tunggu.
3.6Ushul `Itiqad Ahli Sunnah Wal Jama`ah, Al Lalikaai, 1/22-23.
3.7Lihat buku : Al Bihaar, oleh Al Majlisi, hal : 68-96-97. (Dia ini merupakan salah seorang tempat bertanya orang-orang rafidhah (syi`ah) untuk zaman-zaman terakhir).
3.8At Ta`liiqaatu `Ala Matni Lum`atil `Itiqaad, oleh : Syeikh Alaamah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, – semoga Allah menjaganya-, hal : 108.
3.9Lihat : catatan kaki buku Maqaalaat Al Islamiyiin, oleh Muhyiddin Abdul Hamid, (1/89).
3.10Lihat : di buku Maqaalaat Al Islamiyiin, (1/89).
3.11Daairatul Ma`arif, (4/67).
3.12Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi`ah.
3.13Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).
3.14Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147.
3.15Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41.
3.16Ushulul Kafi, hal :40
3.17Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133.

Dipetik dari tulisan  Akidah Syiah  oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Penerjemah : Muhammad Elvi Syam, Lc  ( SalafiDB )