Jumaat 12 Rabiul Awal : Hari Pertama di Madinah

12 Rabiul Awal : Mengimbau Hijrah Rasullah s.a.w

Hari ini 12 Rabiul Awal, adalah hari cuti umum kerana dikatakan hari ulang tahun kelahiran nabi s.a.w. Hari ini juga ada dikaitkan dengan kewafatan nabi s.a.w. Hari ini juga di katakan Rasullah s.a.w tiba di Yatrib atau Madinah pada hari Jumaat.

( Baca di:  https://aburedza.wordpress.com/2011/02/09/penilaian-semula-tarikh-kelahiran-dan-kewafatan-nabi/ dan    https://aburedza.wordpress.com/2011/02/02/28-safar-mengimbau-hijrah-nabi-s-a-w/ )

Sebelum memasuki kota Madinah Rasullah singgah empat hari di Quba – dua farsakh jauhnya dari Medinah.  Di Quba masjid Quba dibangunkan.

Hussain Haikal menulis di dalam Sejarah Hidup Muhammad s.a.w :

Unta yang dinaiki Nabi alaihi ssalam berlutut di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail b. Amr. Kemudian tempat itu dibelinya guna dipakai tempat membangun mesjid. Sementara tempat itu dibangun ia tinggal pada keluarga Abu Ayyub Khalid b. Zaid al-Anshari. Dalam membangun mesjid itu Muhammad juga turut bekerja dengan tangannya sendiri. Kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar ikut pula bersama-sama membangun. Selesai mesjid itu dibangun, di sekitarnya dibangun pula tempat-tempat tinggal Rasul. Baik pembangunan mesjid maupun tempat-tempat tinggal itu tidak sampai memaksa seseorang, karena segalanya serba sederhana, disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk Muhammad.

Mesjid itu merupakan sebuah ruangan terbuka yang luas, keempat temboknya dibuat daripada batu bata dan tanah. Atapnya sebagian terdiri dari daun kurma dan yang sebagian lagi dibiarkan terbuka, dengan salah satu bagian lagi digunakan tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak punya tempat-tinggal. Tidak ada penerangan dalam mesjid itu pada malam hari. Hanya pada waktu salat Isya diadakan penerangan dengan membakar jerami. Yang demikian ini berjalan selama sembilan tahun. Sesudah itu kemudian baru mempergunakan lampu-lampu yang dipasang pada batang-batang kurma yang dijadikan penopang atap itu. Sebenarnya tempat-tempat tinggal Nabi sendiri tidak lebih mewah keadaannya daripada mesjid, meskipun memang sudah sepatutnya lebih tertutup.

Selesai Muhammad membangun mesjid dan tempat-tinggal, ia pindah dari rumah Abu Ayyub ke tempat ini. Sekarang terpikir olehnya akan adanya hidup baru yang harus dimulai, yang telah membawanya dan membawa dakwahnya itu harus menginjak langkah baru lebih lebar. Ia melihat adanya suku-suku yang saling bertentangan dalam kota ini, yang oleh Mekah tidak dikenal. Tapi juga ia melihat kabilah-kabilah dan suku-suku itu semuanya merindukan adanya suatu kehidupan damai dan tenteram, jauh dari segala pertentangan dan kebencian, yang pada masa lampau telah memecah-belah mereka. Kota ini akan membawa ketenteraman pada masa yang akan datang, yang diharapkan akan lebih kaya dan lebih terpandang daripada Mekah. Akan tetapi, bukanlah kekayaan dan kehormatan Yathrib itu yang menjadi tujuan Muhammad yang pertama, sekalipun ini ada juga. Segala tujuan dan daya-upaya, yang pertama dan yang terakhir, ialah meneruskan risalah, yang penyampaiannya telah dipercayakan Tuhan kepadanya, dengan mengajak dan memberikan peringatan. Akan tetapi, oleh penduduk Mekah sendiri, dengan cara kekerasan risalah ini dilawan mati-matian, sejak dari awal kerasulannya sampai Rada waktu hijrah. Karena takut akan penganiayaan dan tindakan kekerasan pihak Quraisy, risalah dan iman itu tidak sampai memasuki setiap kalbu. Segala penganiayaan dan tindakan kekerasan ini menjadi perintang antara iman dengan kalbu manusia yang belum lagi menerima iman itu.

Advertisements

Mengimbau Hijrah Nabi s.a.w : Al Quran Memertabat Para Shabat Yang Berhijrah Sedang Syiah Mencela Mereka.

Mengimbau  Hijrah Nabi s.a.w : Al Quran Memertabat Para Shabat Yang Berhijrah Sedang Syiah Mencela  Mereka.

Masih mengimbau empat belas abad yang lalu, hari ini 1 Rabiul Awal Tahun 1 Hijrah , ahli-ahli sejarah mengatakan Nabi s.a.w keluar dari Gua Thur  memulakan hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar r.a…….

Syiah mempercayai bahawa selepas wafat nabi s.a.w  semua sahabat menjadi murtad kecuali Ahlul bait dan beberapa orang sahabat iaitu Abu Dzar, Miqdad bin Aswad, Salman al Farisi dan Amar. Malah mereka menyebut  Abu Bakar r.a, Umar r.a, Usman r.a dan Muawiyah sebagai empat berhala Quraisy dan pengikut-pengikut meraka adalah musuh Allah.  Termasuk juga menjadi sasaran celaan mereka ialah  isteri  Nabi s.a.w  sendiri.

Semua sahabat-sahabat  yang dibenci Syiah ini adalah sahabat-sahabat yang berhijrah  yang di iktiraf dan diangkat martabat mereka oleh Allah melalui  banyak ayat-ayat al Quran.  Semua sahabat yang berhijrah ini adalah manusia, yang terdedah kepada salah silap, lalu mereka bertaubat dan Allah mengampunkan mereka. Allah menjanjikan syurga kepada mereka. Siapakah kita yang mempersoalkan dosa mereka?

Ikuti maksud firman Allah terhadap golongan sahabat muhajirin:

Al Anfal 74-75:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Al Hasyar 8:

(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

An Nahl  41-42 :

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,

(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.

Al  Nahl 110:

Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

At Taubah 20:

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Al Baqarah 218:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

At Taubah 117:

Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,

At taubah 100

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

An Nisa 98-100:

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),

mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ali Imran 195:

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”

At taubah 20-22

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal,

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Demikian maksud firman Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Firman Allah yang jelas dan terang terus kepada maksudnya.

Apakah semua firman Allah ini hanya untuk Ahlul bait dan beberapa orang sahabat iaitu Abu Dzar, Miqdad bin Aswad, Salman al Farisi dan Amar sahaja?  Hujah Syiah  yang demikian itu sungguh gila! Syiah mendakwa Fatimah r.a  wafat dalam keadaan murka kepada Abu Bakar r.a  kerana Fatimah r.a menuntut harta dunia – tanah Fadak! Aduhai begitu rendah anda meletak martabat Fatimah r.a, apakah  Fatimah r.a tidak faham firman Allah di atas? Mustahil Fatimah r.a  akan menukar Firman Allah tersebut dengan sebidang Tanah Fadak!

Hujah Syiah adalah hujah manusia, tidak akan mampu berhadapan hujah Allah s.w.t. Yang Maha Agung.

Allah berfirman , Al Hasyar 10:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa:

“Ya Tuhan kami,

beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami

yang telah beriman lebih dahulu dari kami,

dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami

terhadap orang-orang yang beriman;

Ya Tuhan kami,

sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

28 Safar : Mengimbau Hijrah Nabi S.A.W

28 Safar :  Mengimbau Hijrah Nabi S.A.W Hari ini 58 hari selepas sambutan maal hijrah 1432. Lalu orang pun lupa akan kisah hijrah Junjungan Yang Mulia s.a.w. Maal Hijrah atau 1 Muharam bukan lah tarikh hijrah sebenarnya. Hijrah sebenarnya bermula 57 hari selepas 1 Muharam! Kelmarin bertarikh 27 Safar 1432 dan hari ini 28 Safar mengigatkan saya akan hijrah Rasullah s.a.w  bersama sahabat setia  Abu Bakar r.a ke Madinah. Ada ahli sejarah menyebut  pada 27 Safar pada tahun pertama Hijrah mereka berdua berangkat hijrah  dengan memasuki gua Thur di selatan Makah. Ibnu Ishak menyebut Rasullah s.a.w  keluar dari rumahnya pada waktu malam, bagaimanapun hadis Bukhari yang sahih menyebut Rasullah s.a.w  sampai dirumah Abu Bakar r.a pada waktu tengahari dan keluar dari rumah Abu Bakar r.a  selepas itu.(Baca di SINI). Bagaimanapun  saya memetik  pendapat Syeikh Sofyurrahman al-Mubarakfuri yang agak lengkap, menyatakan bahawa: Rasulullah s.a.w. meninggalkan rumah pada malam 27 Safar tahun ke 14 daripada kenabian. Ia bersamaan 12 atau 13hb September 622M. Kemudian, baginda bersembunyi di dalam gua selama tiga malam, iaitu malam Jumaat, Sabtu dan Ahad. Dan pada malam Isnin, 1 Rabiul Awwal, bersamaan 16 September 622M, baginda berdua beredar meninggalkan gua bersama dengan Abdullah bin Uraiqith, yang memandu jalan. Baginda sampai di Quba’ pada hari Isnin, 8 Rabiul Awwal, tahun pertama Hijrah. Ia bersamaan dengan 23 September 622M. Baginda berada di Quba’ selama empat hari, iaitu hari Isnin, Selasa, Rabu dan Khamis. Pada hari kelima, iaitu hari Jumaat, 12 Rabiul Awwal, baginda sampai ke Madinah. (Ringkasan kitab ar-Rahiqul Makhtum, m/s 154)- (Baca di SINI). Atau saya ringkaskan mengikut jadual berikut dengan tambahan dari sumber lain:   Jadual Perjalanan Hijrah Nabi s.a.w Sejauh 421 Km Ke Madinah

TARIKH HARI CATITAN
27 SAFAR JUMAAT BERMALAM DI GUA THUR
28 SAFAR SABTU MALAM KE 2 DI GUA THUR
29 SAFAR AHAD MALAM KE 3 DI GUA THUR
1 RABIULAWAL ISNIN BERTOLAK KE MADINAH
2 RABIULAWAL SELASA SAMPAI DI LEMBAH QUDAID
3 RABIULAWAL RABU DALAM PERJALANAN
4 RABIULAWAL KHAMIS DALAM PERJALANAN
5 RABIULAWAL JUMAAT DALAM PERJALANAN
6 RABIULAWAL SABTU DALAM PERJALANAN
7 RABIULAWAL AHAD DALAM PERJALANAN
8 RABIULAWAL ISNIN SAMPAI DI QUBA
9 RABIULAWAL SELASA BERMALAM DI QUBA
10 RABIULAWAL RABU BERMALAM DI QUBA
11 RABIULAWAL KHAMIS BERMALAM DI QUBA
12 RABIULAWAL JUMAAT SAMPAI DI MADINAH

Laluan hijrah Rasullah s.a.w  mengikut pandangan  Syikh Sami Abdullah al Maghluts adalah seperti peta di bawah:  

Perjalanan Hijrah Rasulullah s.a.w : Kisah Ummu Ma’bad.

Perjalanan Hijrah Rasulullah s.a.w : Kisah Ummu Ma’bad.


Selepas tiga malam Nabi s.a.w dan Abu Bakar r.a bersembunyi di Guar Thur, pada paginya mereka memulakan perjalanan Hijrah ke Madinah. Pada pagi itu Abdullah bin Ariqat seorang musyrik yang boleh dipercayai, datang membawa dua ekor unta seperti yang diamanahkan oleh Abu Bakar untuk menjaganya, sehingga datang perintah hijrah. Abdullah ditugaskan sebagai penunjuk jalan ke Madinah. Abdullah memilih jalan yang tidak sering digunakan orang, supaya kafir Quraisy tidak dapat mengesannya.

Ibnu Hisham berkata bersumber dari Ibnu Ishak daipada Asma’ Binti Abu Bakar r.a. , rombongan hijrah Rasulullah di sertai oleh Abu Bakar r.a, Amir bin Fuhairah bekas hamba Abu Bakar dan Abdullah bin Ariqat, penunjuk jalan.[1]

Didalam perjalanan tersebut Rasulullah s.a.w  melalui perkampungan Khuza’ah dan menemui Ummu Ma’bad. Ummu Ma’abab atau Atikah binti Kaab al-Khuzaiyah, adalah saudara Khunais bin Khalid al-Khuza’I r.a . yang meriwayatkan kisah ini.

Khunais bin Khalid al-Khuza’I r.a . seorang sahabat Nabi s.a.w berkata[2]:

“Bahawa Rasulullah s.a.w ketika keluar daripada Mekah untuk berhijrah ke Madinah, dia dan Abu Bakar r.a , serta Maula Abu Bakar Amir bin Fuhairah dan penunjuk jalannya Al-Laitsi Abdullah bin Ariqat melalui khemah Ummu Ma’abad Al-Khuza’iyah seorang wanita tua yang baik sedang duduk di perkarangan khemah. Kemudian dia memberi minum dan makan, lalu mereka singgah di khemahnya untuk membeli daging dan tamar. Mereka mendapati kaum itu sudah kehabisan bekalan dan telah masuk musim kemarau dan kekeringan. Tiba-tiba Rasulullah s.a.w melihat seekor kambing di tepi khemah itu, lalu bertanya kepada Ummu Ma’bad, “Adakah kambing itu mempunyai air susu, wahai Ummu Ma’bad?.”

Ummu Ma’bad berterus terang mengatakan bahawa kambing itu sudah tidak mampu mengeluarkan air susu. Rasulullah s.a.w meminta izin untuk memerah susunya. Apabila Ummu Ma’bad membenarkannya, Rasulullah s.a.w, berdoa sambil menyapu puting susunya dengan menyebut nama Allah s.w.t. yang Maha Mulia, sambil meminta bekas yang besarnya cukup untuk diminum oleh semua orang yang ada. Маkа berlakulah mukjizat yang dikurniakan oleh Allah s.w.t. kepadanya. Kambing itu menge­luarkan air susu yang banyak yang memenuhi bekas yang disediakan. Rasulullah s.a.w memberi mereka minum seorang demi seorang dan kemudian baginda meminumnya. Kemudian dia memerahnya lagi. Lalu mereka meninggalkan khemah Ummu Ma’bad untuk meneruskan perjalanan.

Tidak lama kemudian suami Ummu Ma’bad pulang ke rumah membawa kambing ternakannya. Apabila dia melihat air susu di dalam bekas, dia berasa hairan lalu bertanya kepada isterinya, “Daripada manakah kamu dapat air susu ini, sedangkan kambing kita kekeringan susu? Kambingnya tidak beranak, tiada kambing mengeluarkan air susu di khemah.” Ummu Ma’bad pun mencerita- kan ара yang berlaku.” Datang seorang yang sungguh berkat” dia bercakap begini dan begini. Sifat dan keadaannya diceritakan satu persatu oleh Ummu Ma’bad. Suaminya berkata, “Demi Allah s.w.t., aku berpendapat itulah dia orang Quraisy yang heboh diceritakan itu. Aku mesti bersamanya. Aku mesti mencari jalan untuk sampai kepadanya”

 


[1] Sirah Nabawiyah , Ibnu Hisham , Pustaka Dini, Jld 2 Muka surat 155

[2] Biografi Rasullah s.a.w , Penerbit Jasmin, Muka surat  478-479, Dr. Ali Muhamad as Salabi, memetik daripada Al Hijrah an-Nabawiyah al Mubarakah (104-106)

Bilakah Rasulullah S.A.W. Berhijrah Ke Madinah?

Bilakah Rasulullah S.A.W. Berhijrah Ke Madinah?

Disediakan oleh:
Ust Tuan Mohd Sapuan bin Tuan Ismail
Pensyarah KIAS

http://tasekpauh.blogspot.com/2008/12/bilakah-rasulullah-saw-berhijrah-ke.html

Setiap kali menjelangnya awal Muharram, kita semua akan diingatkan dengan peristiwa hijrah Rasul. Ini kerana peristiwa hijrah Rasul merupakan satu perkara yang sangat penting dalam sejarah, bukan sahaja kepada kita kaum muslimin, bahkan juga alam keseluruhannya. Betapa tidak, hijrah telah mengubah corak peradaban dunia. Dan kesannya masih boleh dilihat dan dikecapi sehingga hari ini.

Umat Islam telah menjadikan peristiwa hijrah Rasul sebagai permulaan tahun dalam kalendar Islam. Kerana itu, setiap kali tahun Islam disebut, ia akan dinyatakan dengan hijrah. Sebagai contoh: “tahun 1429H akan meninggalkan kita tidak lama lagi, dan tahun 1430H pula akan menyusul”. Huruf H yang diletakkan di hujung angka tahun itu adalah singkatan kepada hijrah, sebagaimana yang kita semua maklum.

Disebabkan permulaan tahun hijrah adalah pada bulan Muharram, mungkin ramai yang keliru dan menganggap bahawa hijrah Rasul berlaku pada 1hb Muharram. Sebenarnya hijrah Rasul bukanlah berlaku pada bulan Muharram, bahkan ia berlaku pada bulan Rabiul Awwal. Syeikh Sofyurrahman al-Mubarakfuri menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. meninggalkan rumah pada malam 27 Safar tahun ke 14 daripada kenabian. Ia bersamaan 12 atau 13hb September 622M. Kemudian, baginda bersembunyi di dalam gua selama tiga malam, iaitu malam Jumaat, Sabtu dan Ahad. Dan pada malam Isnin, 1 Rabiul Awwal, bersamaan 16 September 622M, baginda berdua beredar meninggalkan gua bersama dengan Abdullah bin Uraiqith, yang memandu jalan. Baginda sampai di Quba’ pada hari Isnin, 8 Rabiul Awwal, tahun pertama Hijrah. Ia bersamaan dengan 23 September 622M. Baginda berada di Quba’ selama empat hari, iaitu hari Isnin, Selasa, Rabu dan Khamis. Pada hari kelima, iaitu hari Jumaat, 12 Rabiul Awwal, baginda sampai ke Madinah. (Ringkasan kitab ar-Rahiqul Makhtum, m/s 154-166).

Persoalannya, kenapakah hijrah dimulakan pada bulan Muharram, sedangkan hijrah Rasul berlaku pada bulan Rabiul Awwal? Sebenarnya, permulaan bilangan tahun hijrah, sekalipun dihitung bermula dengan hijrah Rasul, namun ia hanya bermula pada zaman pemerintahan Saidina Umar r.a. iaitu pada tahun ke 17 Hijrah. Ada juga yang menyatakan pada Rabiul Awwal tahun ke 16 hijrah[1]. Sebelum dari tarikh tersebut, umat Islam sudahpun mempunyai nama-nama bulan, namun mereka tidak menentukan tahunnya.

Terdapat banyak faktor yang mendorong Saidina Umar menentukan tarikh, antaranya ialah kerana kerana Saidina Umar menerima satu surat tentang pengumpulan harta, dan ia bertulis pada bulan Sya’ban. Beliau bertanya: Sya’ban yang mana satu, Sya’ban yang lepas, atau Sya’ban sekarang, atau Sya’ban akan datang? Ada juga yang menyatakan bahawa orang pertama yang menulis tentang tarikh ialah Ya’la bin Umayyah r.a.. Beliau telah menulis surat dari Yaman, kepada Saidina Umar dengan menulis tarikh, dan Saidina Umar menganggap baik perkara tersebut, akhirnya beliau ingin memulakan penentuan tarikh. Antara faktornya juga ialah Abu Musa al-Asy’ari telah menulis satu surat kepada Saidina Umar, menyatakan bahawa telah sampai kepada beliau banyak surat-surat daripada Saidina Umar tanpa tarikh (dan ini boleh menimbulkan kekeliruan). Lalu Saidina Umar mengumpulkan para sahabat untuk membincangkan tentang penentuan tarikh.

Setelah Saidina Umar r.a. mengumpulkan para sahabat untuk menentukan permulaan tarikh, timbul empat cadangan dalam menentukan permulaan tahun Islam. Empat perkara tersebut ialah daripada tarikh kelahiran baginda, atau dari tarikh baginda dibangkitkan menjadi rasul, dari tarikh hijrah atau dari tarikh kewafatan baginda. Lalu akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan hijrah Rasul sebagai asas permulaan tarikh Islam. Mereka tidak menjadikan tarikh kelahiran dan kebangkitan sebagai asas, kerana terdapat khilaf tentang bilakah kedua-dua peristiwa tersebut berlaku. Dan tarikh kewafatan pula, sekalipun jelas waktunya, adalah tidak sesuai dijadikan permulaan tarikh, kerana ia merupakan tarikh yang amat menyedihkan. Jadi tidak sesuai tarikh yang sedar diambil untuk diulang-ulangi sebutannya. Kerana itulah peristiwa hijrah adalah peristiwa yang paling sesuai untuk dijadikan asas permulaan tarikh. Kerana inilah, bila timbulnya pelbagai pendapat tentang bilakah asas yang sesuai untuk dimulakan tarikh, Saidina Umar menyatakan kata-katanya yang masyhur,

الهجرة فرقت بين الحق والباطل، فأرخوا بها

Hijrahlah yang membezakan antara kebenaran dan kebatilan. Maka jadikanlah ia asas permulaan tarikh”.

Berkata al-Imam as-Suhaili, para sahabat sebenarnya mengambil asas tahun hijrah berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah at-Taubah Ayat 108 yang bermaksud:

Sesungguhnya masjid yang diasaskan di atas ketaqwaan (Masjid Quba’) sejak dari hari pertama adalah lebih patut kamu bersolat di dalamnya”. Surah at-Taubah: 108. Terangnya lagi: “Ini kerana sudah jelas bahawa hari tersebut bukanlah hari pertama yang sebenar (permulaan umur dunia). Bahkan hari pertama yang disandarkan kepada sesuatu yang tidak dinyatakan dalam ayat tersebut, iaitu zaman pertama kemenangan Islam, dan zaman pertama Nabi s.a.w. boleh beribadah dengan aman (tanpa sebarang gangguan) dan zaman permulaan pembinaan masjid”. Kerana itulah sepakat para sahabat memulakan tahun Islam dengan tarikh hijrah, iaitu hari pertama Nabi s.a.w. dan para sahabat memasuki Madinah.

Dan setelah para sahabat sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai asas permulaan tahun Islam, mereka membincangkan pula, tentang dari bulan manakah kita akan mulakan perhitungan tahun. Maka timbullah pelbagai pendapat. Ada yang mencadangkan supaya dimulakan dengan rejab, dan ada pula dengan ramadhan. Namun Saidina Usman mencadangkan supaya dimulakan dengan bulan muharram. Antara alasannya ialah ia adalah bulan haram (bulan yang dihormati oleh masyarakat arab, kerana diharamkan berperang padanya), dan ia juga adalah masa kembalinya para jemaah daripada menunaikan ibadah haji. Dan antara sahabat yang juga mencadangkan bulan muharram ialah Saidina Umar dan Saidina Ali. Akhirnya, mereka telah memilih bulan muharram sebagai permulaan tahun hijrah, dan bukannya rabiul awwal. Dan antara sebab yang mungkin paling tepat kerana memilih bulan muharram dan bukannya bulan rabiul awwal ialah, kerana permulaan keazaman untuk berhijrah adalah pada bulan muharram. Ini kerana perjanjian Aqabah berlaku pada bulan zulhijjah. Dan perjanjian tersebutlah yang membawa kepada peristiwa hijrah. Dan bulan pertama yang muncul setelah zulhijjah ialah muharram, kerana itu sesuai dijadikan muharram sebagai bulan pertama, kalendar tahun umat Islam.

Inilah sebahagian fakta yang berkaitan dengan persoalan tarikh hijrah. Semoga fakta ini, sedikit sebanyak menghilangkan kekeliruan tentang persoalan bilakah sebenarnya berlaku peristiwa hijrah Nabi s.a.w. Hijrah sebenarnya mengingatkan kita tentang pengorbanan dan matlamat perjuangan umat Islam. Hijrah juga menginsafkan kita bahawa kita sentiasa bergerak menuju Allah SWT. Kerana itu kita sentiasa perlu menambahkan kebaikan dan amal soleh kita. Orang yang berhijrah adalah orang yang berusaha meninggalkan dosa-dosa dan maksiat. Dan perkara itu tidak akan tercapai melainkan dengan keazaman yang tinggi. Sama-samalah kita berhijrah kerana Allah untuk sampai kepada Allah. Dan ingatlah bahawa orang yang berhijrah sentiasa memerlukan bimbingan Allah dalam hijrahnya menuju Allah. Hijrah bukan kerana Allah adalh sia-sia,dan hijrah tanpa bimbingan Allah, tidak akan sampai ke destinasinya.

 

  • Sumber utama artikel ini ialah kitab Fathul Bari, Syarah Sohih Bukhari. (Kitab Manaqib al-Ansar, bab at-Tarikh, juz 7, m/s 341, 342).

[1] Berdasarkan peristiwa ini, kita berpendapat bahawa fadhilat yang dinyatakan dalam membaca doa awal tahun dan doa akhir tahun adalah palsu. Ini kerana pada zaman baginda, belum ditentukan lagi permulaan tahun. Dan tiada yang boleh menyatakan fadhilat seseuatu kecuali Allah dan rasulNya. Dan sesungguhnya agama Islam itu sudah sempurna. Dan amalan tersebut tiada dijumpai asasnya dalam kitab-kitab hadis.

 

Artikal lain berkaitan:

https://aburedza.wordpress.com/2009/12/25/ali-bin-abi-thalib-r-a-mencadangkan-peristiwa-hijrah-nabi-sebagai-asas-tahun-islam/

https://aburedza.wordpress.com/2010/11/15/mengenali-taqwin-hijrah/

Sejarah Tahun Hijrah

Selepas berdirinya negara Islam pada zaman Rasullullah S.A.W., tahun Qamariyah masih diteruskan tetapi tidak ditetapkan tahun-tahunnya. Oleh itu kaum muslimin memberi nama tahun-tahun itu dengan nama peristiwa besar yang terjadi di dalamnya. Antaranya ialah tahun pertama (Tahun al-Izn) iaitu izin hijrah dari Makkah ke Madinah, tahun kedua (Tahun al-Amr) iaitu tahun diperintahkan memerangi kaum musyrikin dan akhirnya tahun kesepuluh yang dikenali sebagai tahun a l – Wa d a ‘ iaitu tahun haji al-Wada’ atau haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Peristiwa semasa pemerintahan khalifah ‘Umar bin al-Khattab merupakan titik tolak perubahan takwim hijrah dimana khalifah ‘Umar telah mengumpulkan beberapa orang sahabat pada hari Rabu 20 Jamadilakhir tahun 17 Hijrah bagi menentukan tarikh yang patut diambil sebagai permulaan tahun Islam. Dalam perbincangan tersebut pendapat ‘Ali ibn Abi Talib diterima dengan mengemukakan cadangan supaya menjadikan Hijrah Nabi Muhammad S.A.W. dari Makkah ke Madinah sebagai permulaan tahun Islam dan mereka juga bersetuju dengan pandangan Uthman menjadikan Muharam sebagai bulan pertama dalam sejarah Islam.

Awal Muharam tahun berlakunya hijrah Nabi Muhammad s.a.w. diambil sebagai permulaan tarikh Islam sekalipun hijrah tidak bermula dan berakhir pada hari itu, kerana sebenarnya hijrah bermula pada akhir bulan Safar dan Baginda sampai ke pinggir Madinah pada hari Isnin, kemudian masuk ke Madinah pada hari Jumaat 12 Rabiulawal.

 

Baca selanjutnya di:

https://aburedza.wordpress.com/2009/12/25/ali-bin-abi-thalib-r-a-mencadangkan-peristiwa-hijrah-nabi-sebagai-asas-tahun-islam/

Hijrah Nabi S.A.W Ke Madinah

Selepas para sahabat berhijrah ke Madinah, Rasulullah s.a.w masih tetap berada di Mekah, menunggu keizinian Allah untuk turut sama berhijrah. Sahabat yang belum berhijrah menurut Ibnu Hisham[i] bersumber dari Ibnu Ishaq[ii] hanya Abu Bakar r.a dan keluarganya, Ali r.a dan orang-orang yang di tahan dan diseksa.

Mengenai Hijrah Nabi s.a.w Imam Bukhari[iii] melaporkan,  Dari Aisyah r.a katanya[iv]:

“Sungguh sedikit waktu bagi Nabi s.a.w pada hari-hari itu, namun beliau memerlukan datang ke rumah Abu Bakar pagi atau petang. Maka ketika telah diizinkan bagi beliau untuk pergi (hijrah) ke Madinsh, kami tidak pernah terkejut melainkan ketika beliau datang ke rumah kami waktu zuhur, lalu kedatangan beliau itu  diberitahu kepada Abu Bakar.

Kata Abu Bakar, “ Nabi s.a.w. tidak akan datang saat ini melainkan  ada urusan yang sangat penting.”

Ketika Nabi s.a.w masuk ke tempat Abu Bakar, beliau bersabda kepadanya, “Suruh keluarlah orang yang ada di dekatmu”

Kata Abu Bakar, “Ya Rasulullah , hanya ada dua orang anakku, Aisyah dan Asma’”

Sabda Nabi s.a.w , “ Tahukah engkau bahawa sesungguhnya aku telah diberi izin untuk keluar (hijrah)?

Kata Abu Bakar, “Anda perlu teman , ya Rasulullah!”

Sabda beliau, “ Ya, kawan”

Kata Abu Bakar, Ya Rasulullah, aku punya dua ekor unta, yang sengaja ku sediakan untuk keluar hijrah, ambillah seekor untuk Anda.”

Sabda Nabi, “ Ku ambil seekor dengan harganya.”

Ibnu Hisham didalam Sirah Nabawiyah[v] bersumber dari Ibnu Ishak juga ada menceritakan seperti hadis Bukhari seperti di atas dan menambah bahawa Rasulullah keluar dari rumahnya pada waktu malam, melalui para pemuda Quraisy yang mengepung rumahnya yang tertidur, lalu  Baginda s.a.w menaburkan tanah ke kepala mereka. Apabila hari siang baharu mereka sedar Rasulullah telah pergi.

Tidak pula diceritakan selepas Baginda s.aw. keluar dari rumanya, baginda menuju ke mana, adakah terus ke rumah Abu Bakar r.a  atau pun tidak. Bagaimanapun Baginda tiba dirumah Abu Bakar r.a pada waktu tengah hari, waktu kebanyakan masyarakat Arab berehat atau tidur siang. Sesungguhnya Allah dan Rasulnya yang tahu betapa hebat halangan Quraisy terhadap Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w perlu berhati-hati dalam mengatur pergerakannya.

Dr. Ali Muhamad As-Salabi dalam bukunya Biografi Rasulullah s.a.w[vi] menyambung cerita daripada Aisyah r.a[vii]:

Aisyah meneruskan ceritanya, “Kami pun menyediakan persiapan secepat mungkin, dan kami menyiapkan bekalan untuk mereka yang dimasukkan ke dalam uncang, lalu Asma’ binti Abu Bakar mengoyak kainnya untuk mengikat mulut uncang itu. Akhirnya dia digelar dengan “Dzat an-nitaqain,” (pemilik dua tali pinggang). Kemudian menyusuli Rasulullah s.a.w dan Abu Bakar di Gua Tsur, lalu kedua-duanya bersembunyi di Gua itu selama tiga malam. Abu Bakar telah menyuruh anaknya Abdullah mengintip apakah yang diperkatakan Quraisy tentang mereka berdua di siang hari dan melaporkan segala-galanya kepada beliau di waktu senja. Begitu juga beliau menyuruh orang suruhannya Amir bin Fuhairah untuk membawa kambing ternakannya ke tempat ternakan, dan bila petang dibawa berhampiran ke pintu gua untuk diperah susunya. Rasulullah dan Abu Bakar juga mengupah seorang lelaki daripada Bani Ad-Dil iaitu daripada Bani ‘Abd bin ‘Adiy (sebagai penunjuk jalan) yang telah diberi jaminan untuk menjaga keamanannya oleh keluarga Al-‘Ash bin Wail As- Sahami. Dia di atas agama orang-orang kafir Quraisy, lalu kedua- duanya menjamin keamanannya. Мака diserahkan kepadanya untuk memelihara tunggangannya dan berjanji akan bertemu di Gua Tsur selepas tiga malam pada pagi hari ketiga. Kemudian Rasulullah s.a.w. dan Abu Bakar serta Amir bin Fuhairah, hambanya yang setia dan penunjuk jalan bertolak daripada Gua Tsur dan kemudian mereka menuju ke arah pantai.”

Ibnu Hisham menyebut bersumber dari Ibnu Ishaq  Rasulullah s.a.w kelar bersama Abu Bakar r.a dari rumah Abu Bakar melalui pintu rahsia di depan rumah Abu Bakar r.a. Dr. Ali pula menambah mereka keluar melalui pintu kecil  dibahagian atas rumah Abu Bakar[viii] , supaya tidak dapat dikesan oleh Quraisy. Ibnu Hisham berkata mereka menuju ke Gua Tsur dan tiba disana waktu malam. Mereka berada di gua Tsur selama 3 malam. Pada pagi berikutnya mereka berjanji dengan penunjuk jalan, bernama Abdullah bin Ariqat (Uraiqit), untuk membawa 2 ekor unta tunggangan yang disediakan oleh Abu Bakar r.a, untuk mula berhijrah.

Sebelum Baginda Rasulullah meninggalkan Mekah beliau s.a.w berkata[ix]:

“Demi Allah  s.w.t. sesungguhnya kamu sebaik-baik bumi Allah s.w.t.  dan bumi Allah s.w.t yang lebih di kasihi Allah s.w.t. dan sekiranya  aku tidak diusir daripada kamu nescaya aku tidak meninggalkan kamu”


[i] Ibnu Hisham atau Abu Muhammad ‘Abd al-Malik bin Hisham  wafat 213 H

[ii] Ibnu Ishaq atau Muhammad bin Ishaq bin Yasar , wafat  151 H. Beliau adalah tokoh sejarah yang dipertikai riwayatnya, baca di sini https://aburedza.wordpress.com/2009/07/22/455/ Baca juga pelbagai pandangan pada ruangan Komentar. Sebagai tambahan, pandangan Maulana  Muhamad Asri Yusof didalam bukunya Ibnu Ishak, mengenai  Perjalanan Hijrah Nabi Berlaku Pada Siang Hari di http://www.scribd.com/doc/27100813/Peristiwa-Hijrah-Nabi-s-a-w-Ke-Madinah-Berlaku-Pada-Siang-Hari

[iii] Imam Bukhari , wafat  256 H

[iv] Terjemahan Hadis Sahih  Bukhari, Penerbit Klang Book Center, cetakan 2005, Mukasurat 227-228

[v] Sirah Nabwiyah, Ibnu Hisham Jilid 2 , Penerbit Dini Sdn. Bhd. Cetakan 2006

[vi] Edesi terjemahan oleh Arifin Ladari, Penerbit Berlian Publication cetakan 2008

[vii] Pada nota kaki Dr. Ali Muhamad As-Salabi menyebut dipetik dari Bukhari, Manaqib al-Ansar Bab Hijrah Nabi(3905)

[viii] Pada nota kaki dicatit bersumber dari Al-Hijrah fi Al-Quran (334)

[ix] Dr. Ali Muhamad As-Salabi memetik daripada At Tirmizi , kitab al-Manaqib bab kelebihan Mekah dan di sahkan oleh al Bani.

SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BAHARU HIJRIYAH 1432

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH

1432

Ya Allah,

Apa yang telah kami lakukan sepanjang tahun lalu

dari apa yang Engkau tegahkan kami daripadanya ,

maka tidak sempat kami bertaubat daripadanya

dan Enkau tidak meredzainya

dan tidak Engkau melupainya

dan Engkau berlemah lembut ke atas kami

walaupun Engkau berkuasa menyeksa kami ,

malah Engkau memberi peluang supaya kami bertaubat

setelah kami melakukan maksiat  ke atas Engkau,

maka kami sesungguhnya  kami memohon keampunan Engkau,

maka ampunilah bagi kami dan apa yang kami lakukan padanya

dari apa yang Engkau redzainya

dan Engkau telah menjanjikan kami ganjaran pahala ke atasnya,

maka kami memohon akan dikau wahai tuhan yang mulia

yang mempunyai kesabaran dan kemuliaan

semuga Enkau menerima daripada kami

dan janganlah Engkau memutuskan harapan kami daripada Engkau

wahai Tuhan yang mulia.


Ya Allah,

Engkaulah yang kekal, qadim lagi azali

dan di atas kelebihan Engkau yang besar dan kemurahan Engkau yang melimpah

dan ini adalah tahun baru yang sesungguhnya telah mendatangi kami,

kami mohon kepada Engkau pemeliharaan padanya daripada syaitan yang direjam,

pembantu-pembantunya dan tentera-tenteranya

dan kami memohon pertolongan di atas nafsu

yang banyak  mendorong kepada kejahatan

dan kami memohon kepada Engkau

bagi melakukan sebarang pekerjaan

yang boleh mendekatkan diri kami kepada Engkau.

Ya Allah, Tuhan yang mengubah segala keadaan,

ubahkanlah  keadaan kami kepada sebaik-baik  keadaan,

dengan kekuasaan dan kekuatan Engkau,

wahai Tuhan yang maha tinggi.

Wahai Tuhan kami,

kurniakanlah kepada kami kebahagian di dunia

dan kebahagian di akhirat

dan peliharalah kami akan azab api neraka.

Amin.

Dialog Kaab Bin Malik Dengan Anaknya: Solat Jumaat Pertama Di Madinah

Dialog Kaab Bin Malik Dengan Anaknya: Solat Jumaat Pertama Di Madinah

Abdul Rahman bin Kaab bin Malik menceritakan :

Aku adalah penuntun ayahku iaitu Kaab bin Malik setelah pengelihatannya hilang (buta) . Bilamana aku keluar bersamanya untuk solat Jumaat, kemudian terdengar suara azan di Madinah  beliau akan berdoa untuk Abu Umamah ( Abu Umamah ialah As’ad Bin Zurarah iaitu sahabat yang menumpangkan di rumahnya Mush’ab bin Umair, utusan Nabi s.a.w ke Madinah selepas Iqrar Aqabah Pertama[1]). Ayahku iaitu Kaab bin Malik sering berbuat  demikian dalam beberapa waktu. Setiapkali beliau mendengar azan untuk solat Jumaat, beliau pasti berdoa untuk Abu Umamah dan memohon keampunan untuknya.

Aku bertanya kepada diriku, “Demi Allah ayahku telah lemah, mengapakah aku tidak bertanyanya mengapa setiap kali mendengar azan untuk solat Jumaat beliau berdoa untuk Abu Umamah?”

Maka pada suatu hari Jumaat , aku keluar bersama ayah dan ketika  ayah mendengar azan Jumaat, beliau lantas berdoa untuk Abu Umamah.

Aku pun bertanya kepadanya:

“Wahai ayahku kenapakah setiap kali mendengar azan Jumaat, engakau berdoa untuk Abu Umamah?”

Ayah berkata:

“Wahai anakku, Abu Umamah As’ad bin Zurarah adalah orang pertama sekali mengadakan solat Jumaat untuk kami di Madinah di Hazm an-Nabit di kawsan tanah berbatu Bani Bayadhah yang bernama Naqi’ al-Khadhamat”.

Aku bertanya lagi:

“Berapakah kalian ketika itu”

Ayah menjawab:

“Empat puluh orang”

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai semua sahabat Rasulullah s.a.w dan semoga Allah memberi mereka  tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.


Rujukan:  Sirah Nabawiyah Oleh Ibnu Hisyam


[1] Dr Ali Muhamad As-Salabi dalam bukunya Biografi Rasulullah s.a.w,  bagaimanapun Ibnu Hisham didalam Sirah Nabawiyah menyebut selepas hijrah para sahabat Mushab bin Umair di tempatkan di rumah Saad bin Mu’az bin an Mu’man.

Persediaan Hijrah : Turunnya Perintah Berperang

Persediaan Hijrah : Turunnya Perintah Berperang

Ibnu Hisham didalam Sirah Nabawiah bersumber daripada Muhammad bin Ishak mengatakan sebelum Iqrar Aqabah Rasulullah s.a.w tidak diizinkan berperang.  Baginda s.a.w hanya diperintahkan berdakwah kepada jalan Allah, bersabar terhadap semua gangguan dan memaafkan orang yang jahil. Ketika itu kaum Quraisy menyeksa pengikut Nabi s.a.w, sehingga ada yang berhijrah ke Habsyah dan ke tempat-tempat lain.

Bersumber dari Urwah bin az Zubair Ibnu Hisham mengatakan ayat pertama turun bagi keizinan berperang di jalan Allah ialah Al Haj  39-41, bermaksud:

39. Diizinkan berperang bagi orang-orang (Islam) yang diperangi (oleh golongan penceroboh), kerana sesungguhnya mereka telah dianiaya; dan sesungguhnya Allah amat berkuasa untuk menolong mereka (mencapai kemenangan).

40. Iaitu mereka yang diusir dari kampung halamannya dengan tidak berdasarkan sebarang alasan yang benar, (mereka diusir) semata-mata kerana mereka berkata: “tuhan kami ialah Allah”. Dan kalaulah Allah tidak mendorong setengah manusia menentang pencerobohan setengahnya yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan serta gereja-gereja (kaum Nasrani), dan tempat-tempat sembahyang (kaum Yahudi), dan juga masjid-masjid (orang Islam) yang sentiasa disebut nama allah banyak-banyak padanya dan sesungguhnya Allah akan menolong sesiapa yang menolong ugamanya (ugama Islam); sesungguhnya Allah maha kuat, lagi maha kuasa; –

41. Iaitu mereka (umat Islam) yang jika kami berikan mereka kekuasaan memerintah di bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat, dan mereka menyuruh berbuat kebaikan serta melarang dari melakukan kejahatan dan perkara yang mungkar. Dan (ingatlah) bagi Allah jualah kesudahan segala urusan.

Kemudian turun pula  Al Baqarah ayat 193 maksudnya;

193. dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan (sehingga) menjadilah ugama itu semata-mata kerana Allah….

Ibnu Ishak berkata ketika Allah mengizinkan berperang dan orang-orang Ansar beriqrar  baerjanji setia dengan Rasulullah s.a.w, beginda pula menyuruh para sahabat berhijrah ke Yathrib bersatu dengan saudara Ansar. Rasulullah s.a.w bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza Jalla telah menjadikan untuk kalian  saudar dan negeri yang akan kalian merasa aman di sana”

Setelah itu para sahabat mula berpindah ke Yathrib, sementara Rasulullah tetap berada di Makah.

Rujukan:

Sirah Nabwiyah – Ibnu Hisham