Anakku dengarlah pesanan ini …..

Luqman al Hakim menasihati anaknya:

Hai anakku,

Dunia ini umpama lautan yang terbentang luas,

Ramai manusia karam di dalamnya.

Oleh itu sekiranya engkau mampu

Jadikanlah kampalmu itu daripada keimanan kepada Allah,

Persediaan mu melalui tawakal

Dan muatan mu  daripada ketakwaan.

Dan sekiranya engkau terselamat,

Maka ia adalah kerana rahmat Allah.

Dan sekiranya engkau karam,

Maka ia adalah kerana dosa-dosamu.

Al A’masyi r.a  berpesan:

Barang siapa yang modal pokoknya takwa

Maka lidah-lidah menjadi kelu untuk menyifati keuntungan agamanya.

Barang  siapa yang modal pokoknya dunia

Maka lidah juga tidak mampu menjumlah kerugian agamanya.

Utsman r.a berkata:

Bingung dalam memikirkan pekara dunia

Akan menjadi hati gelap.

Sedang bingung memikirkan akhirat

Akan menjadi hati terang.

Ali bin Abi Thalib r.a mengungkapkan:

Barang  siapa menuntut ilmu

Maka syurgalah yang dicarinnya

Barang siapa mencari maksiat

Maka nerakalah yang dicarinya.

Ahli hikmah menulis:

Barang siapa membuat dosa sambil ketawa

Maka Allah akan mencampakkan dia ke dalam neraka dalam keadaan menangis.

Barang siapa menangis ketika berbuat taat

Maka Allah akan memasukkan ke syurga dalam keadaan ketawa.

Maksud firman Allah:

Dan sediakanlah bekalan

Dan sesungguhnaya sebaik-baik bekalan adalah takwa

Dan bertakwalah kepada Ku wahai orang-orang yang berakal.(QS 2:197)

Advertisements

Surat Khalifah Umar r.a kepada Abu Musa al-Asy’ari r.a

Antara kandungan surat Khalifah Umar r.a  kepada Abu Musa al-Asy’ari r.a, gubernur di Basrah, menyebut :

“Adapun  sesudah  itu,  sesungguhnya  menegakkan  hukum  (al qadla)   adalah  suatu  kewajiban  yang  pasti  dan  tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka  pahamilah  jika  sesuatu diajukan  orang  kepadamu.  Sebab,  tidaklah  ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat  dilaksanakan.

Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang  berkedudukan tinggi  (syarif)  tidak  sempat  berharap  akan  keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib  atas  orang  yang  menuduh,  dan mengucapkan   sumpah   wajib  bagi  orang  yang  mengingkari (tuduhan).    Sedangkan    kompromi    (ishlah,    berdama) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan  hal  yang halal.

Dan  janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan  dengan  perkara  yang  telah  kau putuskan  kemarin  tetapi  kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang  benar;  sebab  kebenaran  itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih  baik  daripada  berketerusan dalam kebatilan.

Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab  dan Sunnah,   kemudian   temukanlah   segi-segi   kemiripan  dan kesamaannya,  dan  selanjutnya   buatlah   analogi   tentang berbagai  perkara  itu,  lalu  berpeganglah  pada  segi yang paling  mirip  dengan   yang   benar.

Untuk   orang   yang mendakwahkan  kebenaran  atau  bukti, berilah tenggang waktu yang  harus  ia  gunakan  dengan  sebaik-baiknya.  Jika   ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan  haknya.  Tetapi  jika  tidak,  maka anggaplah  benar  keputusan  (yang  kau  ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan,dan  lebih  jelas  dari  ketidakpastian  (al-a’ma, kebutaan,kegelapan)

Barang siapa  telah  benar  niatnya  kemudian teguh  memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa  yang  terjadi  antara  dia  dan  orang banyak.

Dan  barang  siapa  bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya  (tidak  tulus), maka Allah akan menghinakannya …”

Sumber : Dipetik dari tulisan oleh  Nurcholish Madjid  bertajuk  TAQLID DAN IJTIHAD : MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA

TAZKIRAH PROF ABDUL RASHID SAID ASGAR : USIA 40 TAHUN

Oleh :  Aburedza

Prof. Abdul Rashid Said Asgar

Prof. Abdul Rashid Said Asgar

Dalam memperkatakan tentang motivasi kepada sikap kawan dan teman , semasa sembang-sembang santai  setelah selesai solat Asar kelmarin Prof Rashid membaca sepotong ayat yang menarik :

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Maksudnya :

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS al Ahkaf : 15 )

Satu ayat yang sangat baik yang mengandungi  doa tanda kesyukuran. Allah menyebut pada umur 40 tahun, mengapa Allah memilih umur 40 tahun ? Demikian persoalan Prof Rashid yang ditinggalkan untuk saya fikirkan.

Saya kemudian memerhatikan huraian Maulana  Abdullah Yusof Ali dalam terjemahan Al Quranya menyebut  …..setelah ia besar sampai ke peringkat dewasa yang sempurna kekuatannya ( ashudd) dan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun …. Peringkat  ashudd dianggapkan antara umur 18 dan 30 atau 32 tahun.  Antara umur 30 – 40 tahun sesaorang itu berada pada tahap puncak kelakiannya. Selepas umur itu beliau melihat kepada zuriatnya yang sedang membesar, dan memang tepatlah ia menyerahkan keturunan muda yang baru itu kepada Tuhan. Selepas 40 tahun mungkin pula keupayan kerohaniannya  akan meningkat.

Ustaz Zahazan Mohamed dalam bukunya 101 Doa dari al Quran memetik dari  tafsir ayat 15 surah al ah Kaf oleh al Imam al Baghawi mengatakan ayat ini menceritakan kelebihan Abu Bakar r.a. Beliau merupakan sahabat karib Nabi s.a.w. sejak berusia 18 tahun. Semasa Muhammad s.a.w  menjadi Nabi , usia Abu Bakar r.a ialah 38 tahun. Berkat usahanya berdakwah pada umurnya sekitar 40 tahun beliau berjaya mengislamkan ayah, ibu dan anak-anaknya. Ayat ini mengajar kita cara untuk bersyukur kepada Allah.

Ustaz Zahazan Mohamed menambah kita juga wajar  mengamalkan doa ini sebagai tanda  bersyukur atas nikmat iman dan Islam yang turut dinikmati keluarga kita.

Membaca doa kesyukuran dari ayat di atas yang di titipkan oleh Prof Rashid , saya teringat pula kepada doa nabi Sulaiman a.s pada ayat 19 surah an Naml :

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Maksudnya :

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Bandingan Kehidupan Dunia

Firman Allah, surah Yunus :
ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ
[Ayat : 24]
Sesungguhnya bandingan kehidupan dunia
hanyalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit,
lalu tumbuhlah dengannya tanam-tanaman di bumi
dari jenis yang dimakan oleh manusia dan binatang;
hingga apabila bumi itu menampakkan keindahannya dan berhias,
dan penduduknya menyangka bahawa mereka dapat menguasainya (mengambil hasilnya),
datanglah perintah Kami menimpakannya di malam atau siang hari,
lalu Kami jadikan dia hancur-lebur,
seolah-olah ia tidak ada sebelum itu.
Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat keterangan Kami satu persatu
bagi kaum yang mahu berfikir.
 
 
 

ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ

 
[Ayat : 25]

Dan Allah menyeru manusia ke tempat kediaman yang selamat, dan memberi hidayah-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

 

 
 
 
 

Nasihat Sufyan Ats-Tsauri Kepada Ali bin AI-Hasan

Sufyan Ats-Tsauri * berkata kepada Ali bin AI-Hasan dalam nasihatnya,

“Saudaraku, hendaklah engkau makan dari penghasilan yang baik dan apa yang dihasilkan tanganmu. Jangan memakan dan memakai kotoran manusia (zakat), karena perumpamaan orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti ruang atas yang tidak mempunyai ruang bawahnya. la selalu takut jatuh ke bawah dan ruang atasnya rusak.

Orang yang memakan kotoran manusia (zakat) itu selalu berbicara dengan hawa nafsu dan merendah kepada manusia karena takut mereka menghindar daripadanya.

Saudaraku, jika Anda memakan sesuatu dari manusia, maka Anda memotong lidah Anda, menghormati sebagian manusia, dan menghina sebagian yang lain. Ini belum termasuk apa yang menimpa Anda pada Hari Kiamat kelak. Sesungguhnya yang diberikan kepadamu adalah kotorannya dan yang dimaksud dengan kotoran ini bahwa orang tersebut mencuci amal perbuatannya dari dosa-dosa.

Jika Anda memakan sesuatu dari manusia; jika Anda diajak kepada kemungkaran. Anda pasti menurutinya, karena orang yang memakan kotoran manusia (zakat) adalah seperti orang yang bersekutu dengan orang lain dalam satu kepentingan dan ia harus berbagi hasil dengannya.

Saudaraku, lapar dan sedikit ibadah itu lebih baik daripada Anda kenyang dengan kotoran manusia (zakat) dan banyak ibadah.

Aku mendapat khabar bahwa Rasulullah saw  bersabda,

‘Jika salah seorang dari kalian mengambil tali, kemudian mengambil kayu bakar hingga membelakangi (memenuhi) punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia berdiri di depan saudaranya; ia mengemis kepadanya, dan berharap kepadanya.’

Aku juga mendapat khabar, bahwa Umar bin Khaththab ra  berkata,

‘Barangsiapa di antara kalian kerja, kami memujinya. Dan barangsiapa di antara kalian tidak kerja, kami mencurigainya.’

Umar bin Khaththab ra  juga berkata,

‘Hai para qari’, angkatlah kepala kalian, dan kalian jangan menambah kekhusyukan melebihi kekhusyukan yang ada di dalam hati. Berlomba-­lombalah kalian dalam kebaikan, dan jangan menjadi tanggungan orang lain, karena jalan ini telah terlihat dengan jelasl’

Ali bin Abu Thalib ra berkata,

‘Sesungguhnya orang yang makan dari tangan manusia adalah seperti orang yang menanam pohon di tanah milik orang lain.’

Jadi bertakwalah kepada Allah, karena seseorang tidak mendapatkan sesuatu dari manusia melainkan ia menjadi orang hina dan kerdil di mata manusia, padahal kaum Mukminin itu adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.

Anda jangan sekali-kali mencari uang dari pekerjaan kotor kemudian Anda menginfakkanya dalam ketaatan kepada Allah, karena meninggalkan pekerjaan kotor adalah kewajiban yang diwajibkan Allah, dan sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.

Tidakkah Anda pernah melihat orang yang pakaiannya terkena air kencing, kemudian ia ingin membersihkannya dan mencucinya dengan air kencing yang lain? Tidakkah Anda lihat ia membersihkannya dengan air kencing yang lain? Ya, sesungguhnya kotoran itu tidak bisa dibersihkan kecuali dengan sesuatu yang bersih.

Demikian pula kesalahan, ia tidak bisa dihapus kecuali dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali hal-hal yang baik­-baik, serta sesungguhnya hal-hal yang haram itu tidak diterima dalam amal perbuatan apa pun.

Ataukah Anda pernah melihat seseorang melakukan dosa kemudian ia menghapusnya dengan dosa yang lain’?”

(Diriwayatkan Abu Nu’aim).

____________

*Sufyan Ats-Tsauri – nama aslinya Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al Kufi, ia seorang Al-hafidh adl Dlabith (Penghapal yang cermat). Ia lahir di Kufah pada tahun 97 H dan wafat  191 H. Ayahnya Sa’id salah seorang ulama Kufah, Ia cermat dalam periwayatan hadist sehingga Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Ma’in menjulukinya “Amirul Mu’minin fi al-Hadits”, gelar yang sama disandang oleh Malik bin Anas.

Khutbah Utbah bin Ghazwan

Khalid bin Umar Al-Adawi berkata, bahwa Utbah bin Ghazwan* pernah berkhutbah kepada kami. la mulai khutbahnya dengan memuji Allah, dan menyanjung-Nya. Setelah itu, ia berkata,

Amma ba’du.

Sesungguhnya dunia telah mengumumkan diri akan segera pergi. Dia akan pergi dengan cepat, dan tidak ada yang tersisa di dalamnya kecuali sisa seperti sisa air minuman yang diminum seseorang. Setelah itu, kalian pindah ke negeri yang abadi. Oleh karena itu, pindahlah kalian dengan amal perbuatan kalian yang paling baik, karena telah disebutkan kepada kami, bahwa batu dilemparkan dari atas tepi Jahannam kemudian batu tersebut jatuh di dalamnya selama tujuh puluh tahun, namun belum sampai di dasarnya.

Demi Allah, neraka Jahannam tersebut pasti penuh. Apakah kalian heran? Sungguh juga telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara daun pintu di surga adalah seperti perjalanan selama empat puluh tahun, dan pasti daun pintu tersebut didatangi pada suatu hari, sedang ia dalam keadaan penuh sesak.

Sungguh, aku adalah orang ketujuh bersama Rasulullah saw  dan kami tidak mempunyai makanan selain daun-daun pohon, hingga mulut kami terluka. Kemudian aku mengambil kain burdah, lalu menyobeknya menjadi dua; satu untuk aku pakai, dan satunya untuk Sa’ad bin Malik ra ( Saad bin abi Waqas ra ). Dan sekarang, setiap dari kami menjadi salah seorang gubernur di salah satu kota.

Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari menjadi besar dalam diriku, sedang di sisi Allah bernilai kecil.

Sesungguhnya kenabian itu telah terputus hingga yang tersisa adalah kerajaan, kalian akan mengetahui perbuatan penguasa sepeninggal kami kelak (Diriwayatkan Muslim).

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­____________________

* Utbah bin Ghazwan adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw, dan sahabat generasi pertama yang masuk Islam. la ikut perang Badar dan perang-perang lainnya bersama Rasulullah saw. la termasuk salah satu komandan perang kaum Muslimin. Dialah sahabat yang membangun dan mendirikan kota Basrah.

Hidup laksana pengembara

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata :

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “

(Riwayat Bukhori)

Pelajaran : Imam Nawawi  menulis ,

  1. Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu bila datang ajalnya.
  2. Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
  3. Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.
  4. Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
  5. Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
  6. Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
  7. Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
  8. Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.

Wahai anakku ayahnda ulangi pesanan Luqman al Hakim

Satu ketika

Dan  ketika Lukman berkata kepada anaknya,

di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:

 

Hai anakku,

janganlah kamu mempersekutukan Allah

sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

 

Dan Kami perintahkan kepada manusia  agar berbuat baik

kepada dua orang ibu-bapaknya;

ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah

yang bertambah-tambah,

dan menyapihnya dalam dua tahun.

 

Bersyukurlah kepada-Ku

dan kepada dua orang ibu bapakmu,

hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu

untuk mempersekutukan dengan Aku

sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,

maka janganlah kamu mengikuti keduanya,

dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,

dan ikutilah jalan orang-orang  yang kembali kepada-Ku,

kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu,

maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

 

 Hai anakku,

sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan  seberat biji sawi,

dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,

niscaya Allah akan membalasinya

Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

 

Hai anakku,

dirikanlah salat

dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik

dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar

dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.

Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

 

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia

karena sombong

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong

lagi membanggakan diri.

 

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan

dan lunakkanlah suaramu.

Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai

Luqman 13 – 19

LIHAT JUGA DI SINI

https://aburedza.wordpress.com/2009/04/30/pesan-untuk-putra-putri-ku-redza-firdaus/

https://aburedza.wordpress.com/2009/05/08/pesan-untuk-putra-putri-ku-redza-firdaus-nabila-dan-haikal-…2/

https://aburedza.wordpress.com/2009/05/15/kenali-luqman-al-hakim-wahai-anakku/

Kenali Luqman al Hakim wahai anakku …

Putra putriku , tahukah siapa yang memberi nasihat kepada anak-anaknya  dan kepada kita juga, melalui Firman Allah SWT  pada surah Luqman 13-19 dulu. Kali ini mari kita mengenali siapa Luqman Al Hakim itu.

Dipetik dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Luqman bukanlah seorang nabi mahu pun raja tetapi beliau hanyalah seorang pengembala ternakan yang berkulit hitam. Lalu Allah telah memerdekakannya dan sesungguhnya Dia redha dengan segala kata-kata dan wasiat Luqman. Maka kerana itu, kisah ini diceritakan di dalam AI-Qur’an agar kita semua dapat mengambil pedoman dan berpegang dengan wasiat-wasiatnya.”

Ibnu Kathir berkata: ‘Ulama’ salaf berselisih pendapat tentang diri Luqman; adakah dia seorang nabi atau pun seorang hamba yang soleh tanpa taraf kenabian? Di antara dua pendapat ini, kebanyakan mereka berpegang dengan pendapat yang kedua.’

Beliau berkata lagi: “Yang masyhur di kalangan Jumhur ulama’ ialah Luqman AI-Hakim; adalah seorang yang bijaksana bertaraf wali dan bukannya seorang nabi. Bukan sedikit ulama’  yang menyatakan tentang perkara ini. Di an tara para ulama’ tersebut ialah seperti Mujahid, Sa’id bin AI-Musayyab dan Ibnu Abbas. Wallahu A’lam.”

Ibnu Kathir ada menyebutkan di dalam kitab sejarahnya: “Beliau ialah Luqman bin Unqaa’ bin Sadam.” Diceritakan dari As­ Suhaili, dari Ibnu Jarir dan AI-Qutaibi: “Beliau ialah Luqman bin Tharan”

Dikatakan bahawa beliau ialah anak kepada AI- Baura’. Ibnu Ishaq ada menyebutkan beliau ialah Luqman bin AI Baura’ bin Tarikh iaitu Aazar Abu Ibrahim AI-Khalil.

Wahab berkata: “Beliau adalah anak saudara perempuan Nabi Ayyub a.s.” Menurut Muqatil pula: “Beliau adalah sepupu Nabi Ayyub a.s.”

Dikatakan, beliau adalah dari kalangan anak Aazar dan telah hidup selama seribu tahun. Sempat hidup bersama .dengan Nabi Daud a.s dan mengambil ilmu darinya. Luqman telah mengeluarkan fatwa sebelum Nabi Daud a.s dibangkitkan dan setelah baginda nabi Daud as diutus kepada umat, beliau berhenti dari mengeluarkan fatwanya lagi. Ibnu Kathir berkata: “Dikatakan, beliau , adalah seorang Qadhi di zaman Nabi Daud a.s. Wallahu A’lam.”

AI-Allahamah AI-Alusy berkata: “Kebanyakan pendapat mengatakan bahawa beliau hidup di zaman Nabi Daud a.s.” Katanya lagi: “Orang juga berselisih pendapat, adakah beliau seorang yang merdeka atau seorang hamba ? Kebanyakan pihak mengatakan beliau adalah seorang hamba Habsyi”

Ibnu Qutaibah berkata: “Luqman adalah seorang hamba Habsyi kepada seorang lelaki dari kalangan bani Israil. Kemudian beliau dibebaskan dan diberikannya harta.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia telah berkata: Rasullullah s.a.w. pernah bersabda:

“Adakah engkau semua tahu siapakah dia Luqman? “Mereka pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih tahu.” Baginda bersabda: “Dia adalah seorang Habsyi.” Pendapat yang mengatakan dia adalah seorang habsyi, adalah dari lbnu Abbas dan Mujahid.

As-Suhaili berkata: “Luqman adalah Naubah dari penduduk Ielah ( Sebuah bandar di tepi laut merah )” Demikian juga dipetik oleh Qatadah, dari Abdullah bin Az-Zubair: Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “Apakah cerita terakhir yang sampai kepadamu tentang perihal diri Luqman? “J abir menjawab: “Dia adalah seorang yang pendek, pesek hidungnya dari keturunan Naubah.” lanya juga sebagaimana yang disebutkan dari Sa’id bin AI­ Musayyab, katanya: “Luqman adalah dari Sudan, Mesir.”

AI-Hassan AI-Basri pula berkata: “Luqman telah membina sebuah singgahsana di Ramlah, Syam. Pada masa itu, tempat tersebut masih lagi belum dibangunkan. Dia berada di sana sehinggalah Ian jut usianya dan meninggal dunia.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Aku telah diberitahu bahawa kubur Luqman adalah di antara Masjid Ar-Ramlah dan tempat didirikan pasar pada hari ini.Di tempat tersebut terdapat 70 kubur nabi-nabi  sebelum Luqman.

Dilaporkan, bahawa Luqman adalah seorang mufti sebelum Nabi Daud a.s dibangkitkan. Apabila baginda diutuskan kepada umatnya, Luqman berhenti dari memberikan fatwa. Ada orang bertanyakan; padanya tentang hal itu lalu dia pun berkata: “Adakah aku tidak mahu berhenti apabila aku telah merasa cukup?!! ”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Mujahid: “Beliau adalah seorang Qadhi di kalangan kaum bani Israil di zaman Nabi Daud a.s”

Demikian  putra putri ku ayahnda perkenalkan siapa itu Luqmanal Hakim. Tidak kira siapapun dia, yang penting beliau adalah seorang yang mempunyai hikmah kebijaksanaan. Kata-katanya diberkati Allah dan dirakamkan didalam Al Quran.

Maklumat di atas ayahnda petik secara terpisah-pisah dari tulisan Muhammad Khair Ramadhan Yusuf dalam bukunya Lukman al Hakim