Mencari Lailatul Qadar

Mencari Lailatul Qadar [i]

Dalam suatu Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari ibn Umar, Nabi bersabda:

“Saya melihat mimpimu bersepakat menetapkan bahwa lailatul qadar pada tujuh yang akhir. Маkа barangsiapa hendak mencari malam al qadar, carilah pada malam tujuh yang akhir”.

Hadis Ibnu Umar Nabi s.a.w bersabda:

“Barangsiapa  mencari lailatul qadar  maka hendaklah dicari di malam dua puluh tujuh”

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ubadah Ibn Shamit:

“Rasulullah mengkhabarkan kepada kami tentang lailatul qadar. Beliau berkata: “Dia di dalam bulan Ramadlan, di puluhan yang akhir, malam 21, atau malam 23, atau malam 25, atau malam 27, atau malam 29, atau di akhir malam bulan Ramadlan. Barangsiapa mengerjakan qiyam pada malam itu karena imannya kepada Allah dan karena mengharap heridhaan-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu dan dosa yang akan datang”.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah bersabda:

“Carilah dengan segala daya-upaya malam al qadar di malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadan”.

Diriwayatkan oleh Muslim, dari Ibn Umar, bahwa Nabi s.a.w. bersabda:

“Carilah lailatul qadar pada sepuluhan yang akhir; jika seseorang kamu lemah mencari, maka janganlah kamu kalah dalam mencari pada tu­juh yang akhir”.

Tujuh yang akhir ini ada yang mengatakan mulai pada ma­lam 23, karena mengingat bahwa bulan Ramadan sering kurang. Ada yang mengatakan malam 24. ( Bergantung Ramadan 29 atau 30 hari)

Berkata Al Qurthubi: “Jumhur ulama berpendapat, bahwa lailatul qadar itu pada malam 27, mengingat Hadits Nabi, yang diriwayatkan oieh Ubai ibn Ka’ab, ujarnya:

“Saya mendengar Rasulullah bersabda : Malam Al-qadar, adalah malam duapuluh tujuh”.

Dari kumpulan Hadits yang telah disebutkan, dapatlah kita menetapkan bahwa lailatul qadar adalah pada suatu malam dalam sepanjang tahun. Dia berulang-ulang  saban tahun, dan dia terletak pada puluhan yang akhir dari bulan Ramadlan, berpindah-pindah pada malam yang ganjil. Hadits-hadis menggalakkan kita mencaharinya dengan mengerjikan ibadat, karena ibadat pada malam itu mendapat pahala yang lebih baik dari 1000 bulan, tanpa lailatul qadar.

A1 Hafidh Ibn Ha jar, menetapkan bahwa pendapat yang paling kuat, ialah pendapat yang menetapkan bahwa lailatul qadar di malam-malam yang ganjil dari puluhan yang akhir bulan Ramadlan.


[i] Di petik dari Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms 244-246 – Cetakan Bulan Bintang 1977

Advertisements

Kebesaran Lailatul Qadar

Kebesaran Lailatul Qadar [i]

Kebesaran malam ini sebenamya berpangkal pada dua perkara:

Pertama: Turunnya Al Qur-an.

Turunnya Al Qur-an layak benar dijadikan hari besar, karena dialah malam dimulai penghidupan baru.

Firman Allah s.w.t. :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan

Kedua: Turunnya para Malaikat dalam suatu perangkatan besar yang penuh bercahaya gilang gemilang, disertai Jibril un­tuk memberikan ”tahiyyah” kepada Shaimin mukhlishin dan untuk menyaksikan amal ibadat mereka, serta untuk mengembangkan salam dan rahmat diantara penduduk bumi.

Karananyalah malam ini dapat dinamakan “lailatus Salam”. Para Malaikat turun mengucapkan Salam kepada penduduk bumi. Dapat dinamakan juga “lailatus syaraf” (malam kemulia­an) bagi umat Islam ini. Dan dinamakan juga dengan “lailatut Tajalli malam Allah melimpahkan cahaya-Nya dan hidayah- Nya kepada para ‘abid, para shaim dan orang-orang yang beribadat malam.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas r.a., ujarnya:

“Bersabda Rasulullah s.a.w.: Apabila datang lailatul qadar turunlah Jibril dalam suatu perangkatan besar. Mereka bersalawat kepada segala hamba yang sedang berdiri, atau sedang duduk yang menyebut nama Allah. Маkа apabila telah datang hari raya, Allah membanggakan diri kepada Malaikat-Nya dengan hamba-Nya itu. Allah bertitah: “Hai Malaikat-Ku! apakah pembalasan kepada seseorang upahan yang telah menyempurnakan karyanya? “Para Malaikat menjawab: “Tuhan kami, pembalasannya disempurnakan upahnya”. Berkata Allah s.w.t.: Malaikatku, hamba-hambaku baik lelaki, atau perempuan telah menyelesaikan fardhu yang diwajibkan atas mereka. Kemudian mereka keluar ke tanah lapang, untuk berdo’a. Demi Kebesaran Ku, Keagungan-Ku, Kemulian- Ku, Ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, Aku akan memperkenankan do’a mereka. Kemudian berkatalah Allah kepada hambanya: Kembalilah kamu sungguh Aku telah menggantikan keburukanmu dengan kebaikan”.

Malam itu menjadi salam dari permulaannya, hingga keluar fajar, Larntaran itulah dia lebih baik dari 1000 bulan. 1000 bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Itulah menurut kebiasaan umur manusia. Маkа malam itu lebih baik dari umur manusia, dari umur segala manusia, bahkan lebih dari itu.

Ringkasnya, malam itu lebih baik dari sepanjang masa.

Diantara keutamaan yang Allah limpahkan kepada para ham­ba muslimin, ialah mengampuni segala dosa bagi orang-orang yang beribadat di malam itu.


[i] Di petik dari Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms 234-238 – Cetakan Bulan Bintang 1977

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar [i]

Lailatul qadar, adalah salah satu dari malam-malam bulan Ramadan yang disebutkan dalam dua surah A1 Qur-an. Dalam surah Ad Dukhan Allah mensifatkannya dengan malam yang mendatangkan keberkatan (lailah mubarakah), di malam itu diselesaikan segala urusan.

Firman Allah maksudnya :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur-an) di malam yang penuh keberkatan. Sesungguhnya Kami adalah orang yang memberi peringatan. Di dalamnya diselesaikan segala urusan yang penuh mengandung hikmah. Sebagai suatu perintah dari diri Kami. Sesungguh­nya Kami mengirimkan utusan-utusan sebagai suatu Rahmat dari Tuhaumu. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (ayat 2; S. 44, Ad Dukhan).

 

Dalam Surat Al Qadar Allah mensifatkannya dengan suatu sifat yang sangat mulia, yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Malaikat turun di dalamnya. Dan malam itu merupakan “salam” (kesejahteraan) bagi manusia.

Firman Allah maksudnya :

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur-an) pada malam Al qadar. Apakah yang dimaksudkan dengan malam al qadar. Malam al qadar itu adalah lebih baik dari 1000 bulan. Turunlah Malaikat dan Ruh(Jibril) padanya dengan idzin Tuhan mereka. Selamatlah malam itu hingga keluar fajar(ayat I 6; Al Qadar).

Dalam surat All Baqarah di isyaratkan kepada sebab-sebab yang karenanya malam ini memperoleh kedudukan yang sangat tinggi itu.

Firman Allah maksudnya:

„Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur-an untuk menjadi pelunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan yang nyata yang merupakan petunjuk dan pemisah antara yang haq dan dengan yang bathil”. (Q.A. 185; S. 2; Al Baqaroh).

Sudah nyata, bahwa permulaan turun Al Quran atau permulaan turun ayat Risalah, adalah didalam bulan Ramadlan. Lailatul qadar, adalah malam yang penuh keberkatan (lailah mubarakah) yang mempiuiyai keistimewaan, malam yang lebih baik dari seriibu bulan, bahkan dari seumur manusia.

Al Imam Muhammad Abduh mema’nakan Al Qadar sebagai berikut: Qadar adakala berma’na: “taqdir”, karena Allah pada malam ini memulai mentaqdirkan agamaNya dan membatasi Khiththah untuk Nabi-Nya dalam menyeru manusia kepada Agama, yang melepaskan mereka dari kerusakkan dan kehancuran, yang sedang mereka derita. Dan adakala berma’na: “syarf” (kemuliaan dan kebesaran), karena Allah telah mengangkatkan pada malam itu kedudukan Nabi-Nya dan memuliakannya dengan Risalah, membangkitnya menjadi Rasul. Hal ini telah diisyaratkan Allah, bahkarn ditegaskan, bahwa malam itu, adalah malam yang mulia, malam difturankan All Qur-an.

Dalam Surat AI Qadar berulangkali Allah metnyebutkan kalimat Al Qadar dan ditanyakan apakah Al Qadar itu?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kemuliaan malam itu, adalah kemuliaan yang sukar diketahui keadaannya.


[i]Di Scan dari Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms232-234 – Cetakan Bulan Bintang 1977

DENGAR JUGA KULIAH INI :

Amalan Nabi s.a.w Di Malam Sepuluh Terakhir

Amalan Nabi s.a.w Di Malam Sepuluh Terakhir[i]

 

Adalah Rasulullah s.a.w. mengkhususkan puluhan akhir (dari 21-30 atau dari 20-29) dari bullan Ramadan, dengan beberapa ibadat yang beliau tidak kerjakan di likur yang lain.

Di antara ibadat-ibadat yang beliau istimewakan, ialah:

  1. Menghidupkan malamnya.
  2. Membangunkan keluarganya (isterinya) untuk shalat di malam-malam yang sepuluh itu.
  3. Mengikat kain pinggang ( Tidak bersama isteri)
  4. Mandi diantara maghrib dan ‘isya dan menghiaskan diri diam-diam yang diharapkan adanya lailatul qadar.Berdaya upaya dengan segala kesanggupan dan kesungguhan, mencari lailatul qadar.
  5. Mengerjakan i’tikaf di dalam mesjid pada likur yang terakhiir dalam bulan Ramadlan.

‘Aisyah r.a berkata:

“Adalah Nabi s.a.w. bersungguh sungguh di puluhan yang akhir, ара yang beliau tidak kerjakan di puluhan yang lain”. (H.R. Muslim).

 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah r.a , ujarnya:

“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila telah masuk puluhan yang akhir, dari bulan Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengikat pinggangnya”.

 

Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dari Abu Jaafar Muhammad ibn Ali  bahawa Nabi s.a.w bersabda:

“Barangsiapa datang kepadanya bulan Ramadan, lalu berpuasa pada siang harinya, dia shalat malam pada malamnya, dia pejamkan matanya dari melihat dari yang dilarang Allah, dia pelihara kemaluannya, lidah dan tangannya dan selalu berusaha shalat jama’ah dan bersegera menghadiri Jumaat, maka sungguh dia sempurna, mendapatkan lailatul qadar dan memperoleh pahala pemberian Allah yang tidak ternilai harganya”.



[i] Pedoman Puasa- Prof. DR. T.M Hasbi Ash. Shiddieqy  ms225-227