RSS

Arkib Kategori: Syiah

Dr. Abdullah Yasin: Ciri-ciri Aqidah Syiah Dan Sanggahannya

 

 

 
Tinggalkan komen

Posted by di 23 Disember 2011 in Syiah

 

Label: ,

Bilakah KeIslaman Muawiyah bin Abi Sufian.


Muawiyah Bin Abi Sufian r.a di lahirkan   pada 20 Sebelum H (603M) dan Wafar 60H ( 680M). Beliau adalah pengasas Kekhalifahan Bani Umaiyah (661M-750M)

Riwayat hidupnya penuh dengan kontroversi, berpunca daripada perbedzaan pendapat dengan Khalifah  Ali r.a., mengenai perlaksanaan hukum keatas pembunuhan Khalifah Usman r.a. Kerana itu rekod baiknya ditutupi dengan pelbagai keburukan. Antaranya beliau digambarkan sebagai sahabat yang lewat masuk Islam. Ada riwayat menyebut beliau masuk Islam ketika atau era pembukaan Makah pada tahun  8 Hijrah.

Prof. Dr.Ibrahim Ali Sya’wat, seorang Profesor Sejarah Islam Universiti al Azhar di dalam bukunya,  Kesalahan-kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Di Betulkan Semula, menulis mengenai Bilakah KeIslaman Muawiyah Bin Abi Sufian, seperti berikut:

Dari sudut tuduhan beliau lewat masuk Islam sehinggalah pada hari berlakunya pembukaan Mekah, kita dapati al-Allamah Ibn Asakir telah menjawab tuduhan ini. Beliau meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Muawiyah yang berkata:

“Saya sebenarnya telah masuk Islam terlebih dahulu dari itu (dari hari pembukaan kota Mekah) tetapi saya menyembunyikan Islam saya… Demi Allah ketika Rasulullah meninggalkan bumi Hudaibiyah, pada ketika itulah saya beriman dengan baginda”.[1]

Berdasarkan laporan ini jelas sekali Muawiyah sebenarnya telah memeluk Islam pada hari Hudaibiyah lagi iaitu pada tahun ke enam hijrah dan beliau membersihkan diri beliau dari termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibebaskan oleh nabi pada hari pembukaan kota Mekah. Inilah kemungkinan menjadi faktor yang membuatkan nabi memilihnya menjadi penulis wahyu baginda.

 

 


[1] Rujuk Tarikh Dimasyq, jil. 19, him.. 344.

 
2 Komen

Posted by di 11 Ogos 2011 in Pemalsuan Sejarah, Syiah

 

Label: ,

Kitab Syiah: Bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah?

Muawiyah di mata Imam Ali

Bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah? Bandingkan dengan pertanyaan: Apakah Nabi Isa pernah mengklaim dirinya sebagai tuhan?
Sepertinya Muawiyah telah menjadi simbol kesesatan dan kekafiran, juga kemunafikan, hanya karena memerangi Ali dan merampas khilafah dari Ali. Padahal Muawiyah tidak pernah menjadi khalifah semasa Ali hidup. Tapi ada sisi lain yang jarang diungkap, yaitu pandangan Imam Syi’ah sendiri tentang Muawiyah. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali dan Hasan tentang Muawiyah? Bagaimana Imam Ali memandang konflik yang meletus dengan Muawiyah?

Kita malah jarang mendapat data primer dari imam syi’ah sendiri, yang sering kita dapatkan adalah data-data sekunder yang sudah tidak murni lagi, karena terbukti jauh berbeda [baca: berlawanan] dengan data primer dari ucapan imam Syi’ah yang maksum, yang suci dari dosa.

Kita sering mendengar pernyataan yang menyebut Muawiyah sebagai kafir, tapi kita jarang membaca keterangan dari imam Ali, lalu bagaimana pendapat Imam Ali sebenarnya?

Dari Ibnu Tharif dan Ibnu Alwan dari Ja’far dari ayahnya, bahwa Ali mengatakan pada pasukannya :
Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kamilah yang benar, mereka pun demikian
Biharul Anwar jilid 32 hal 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mukminin Ali.
Riwayat ini diriwayatkan juga oleh Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal 45.

Jadi Ali sendiri tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai kafir, seperti anggapan orang sekarang.

Lebih jelas lagi, dalam Nahjul Balaghah:
Pada awalnya, kami bertempur dengan penduduk Syam, dan nampak bahwa tuhan kita sama, begitu juga Nabi kita sama, begitu juga kami dan mereka sama-sama mengajak kepada Islam, tingkat keimanan kami pada Allah dan kepercayaan kami pada Rasul adalah sama, begitu juga mereka tidak melebihi kami dalam iman pada Allah dan percaya para Rasul, seluruhnya satu, kecuali perbedaan yang ada tentang darah Utsman, dan kami tidak ikut serta membunuhnya.
Nahjul Balaghah, wa min kitabin lahu katabahu ila ahlil amshar yaqushshu fiihi ma jara bainahu wa baina ahli shiffin, hal 448.

Perlu diketahui, kitab Nahjul Balaghah memiliki banyak cetakan, janganlah kami disalahkan jika cetakan yang ada pada kami berbeda dengan yang ada pada pembaca.

Kita baca di atas, Ali tidak menuduh Muawiyah sebagai kafir.
Dari Abdullah bin Ja’far Al Himyari dalam kitab Qurbul Isnad dari Harun bin Muslim dari Mas’adah bin Ziyad, dari Ja’far, dari ayahnya, bahwa Ali tidak pernah memvonis orang yang memeranginya sebagai musyrik maupun munafik, tetapi Ali hanya mengatakan: mereka adalah saudara kami yang membangkang. Qurbul Isnad, dari Wasa’ilu As Syi’ah jilid 15 hal 69 – 87.

Ali memang tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai munafik, tapi hanya pengikutnya saja yang berpandangan keliru dan Muawiyah sebagai kafir dan munafik. Alih-alih menganggap kafir, Ali malah menganggap Muawiyah sebagai saudaranya.

Seperti kenyataan dari kitab Bible yang katanya firman Yesus, tidak pernah ada keterangan menyatakan Nabi Isa atau Yesus adalah tuhan, tapi dari kaum Nasrani saja yang menyatakan hal itu.

 
1 Komen

Posted by di 10 Ogos 2011 in Syiah

 

Label:

Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash

Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash

Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/09/majmu-fatawa-kedudukan-muawiyah-dan-amr-bin-ash/

Muawiyah dan Amr Bin Ash termasuk orang-orang beriman. Tidak ada satupun salaf yang menuduh mereka sebagai orang munafik. Bahkan telah Tsabit dalam kitab sohih bahwasanya Amr bin Ash ketika membaiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ia berkata :”Agar Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu”. Maka Rasulullah bersabda: “ tidakkah engkau tahu bahwasanya Islam akan Memusnahkan apa yang telah lalu?”[1].

Dan diketahui bahwa yang Islam yang memusnahkan (dosa,red) merupakan Islamnya orang-orang beriman, bukan Islamnya Orang-orang Munafik.

Amr Bin Ash juga termasuk orang yang berhijrah setelah Hudaibiyah secara sukarela bukan paksaan. Sedangkan orang-orang Muhajirin bukanlah orang Munafik, tetapi yang munafik adalah sebagian orang yang telah ada didalam kaum Anshar yang merupakan Penduduk Madinah. Ketika para pemuka dan kebanyakan penduduknya Masuk Islam, sebagian orang-orang Munafik tersebut berpura-pura sebagai pemeluk Islam. Berbeda dengan  Penduduk Mekkah yang Para pemuka dan kebanyakan Penduduknya adalah kafir, tidak ada yang menunjukkan Keimanannya kecuali orang-orang yang sungguh-sungguh beriman baik lahir maupun batin.

Diantara mereka ada yang disiksa dan diboikot, berbeda dengan orang Munafik yang berpura-pura Muanfik demi kepentingan dunianya.

Adapun yang yang menunjukkan keislamannya di Mekkah akan diganggu kepentingan dunianya. Kemudian sebagian besar orang-orang beriman ikut serta Hijrah Ke Madinah Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Hijrah kesana.

Sebagian dari mereka dihalang-halangi, seperti contohnya sekelompok laki-laki dari Bani Makhzum, semisal Walid bin Mughirah Saudaranya kholid dan Saudara abu Jahal dari Ibunya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berqunut untuk mereka dan bertutur dalam qunutnya : ‘Ya Allah, selamatkanlah Al Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam, dan orang-orang yang lemah dari kaum mukminin. Ya Allah, keraskanlah tindakan-Mu atas suku Mudhar, dan timpakan atas mereka tahun-tahun seperti tahun-tahun Yusuf (paceklik, red).[2]

Kaum Muhajirin dari awal hingga Akhir  tak satupun yang dituduh nifak. Bahkan semuanya termasuk orang-orang beriman yang disaksikan keimanan mereka, sedangkan melaknat Mukmin sama dengan membunuhnya.[3]

Adapun Muawiyah bi Abu Sofyan dan yang semisalnya dari kalangan ath-Thulaqaa` -yang masuk Islam setelah era Fath Makkah-, Seperti Ikrimah bin abu Jahal, Harits bi Hisyam, suhail bin Amr, Sofwan bin Umayyah, dan Abu Sufyan bin Harist bin Abdul Mutthalib. Merek termasuk yang baik Islamnya dengan kesepakatan Kaum Muslimin. Tidak seorangpun menuduh mereka setelah Hijrah sebagai Munafik. Adapun Muawiyah, Rasulullah telah memintanya untuk menjadi penulis Rasulullah dan beliau bersanda “Ya Allah ajarkanlah Ia Kitab dan Hisab, dan peliharalah dia dari Adzab[4]

Saudaranya Yang bernama Yazid bin Abi Sufyan lebih baik dan lebih utama darinya, dia adalah salah seorang amir yang diutus oleh Abu Bakar Siddiq Rodiyallahu anhu ketika penaklukkan Syam. Abu Bakar memberinya Wasiyat yang terkenal. Abu Bakar berjalan kaki sedang ia berkendaraan. Maka ia berkata kepada Abu Bakar: “Wahai khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun, sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah. Amr bin Ash adalah amir yang selanjutnya, dan amir yang ketiga adalah Syarajil bin Hasanah, dan keempat adalah kholid Bin walid. Mereka adalah Amir secara  Mutlak. Kemudian diganti oleh Umar, kemudian Ia menyerahkan Pimpinan kepada Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah ditetapkan dalam As Sohih sebagai orang kepercayaan Ummat ini[5]

Penaklukkan Syam adalah dibawah pimpinan Abu Ubaidah dan penaklukkan Iraq dibawah Pimpinan Saad Bin Abi Waqqash.

Kemudian ketika Yazid bin Abu Sufyan Wafat Pada saat kekhilafahan Umar, digantikan oleh Saudaranya Muawiyah.

Umar termasuk orang yang paling agung firasatnya, lelaki paling berpengetahuan, pemimpin kebenaran, Paling bertanggung jawab dalam kebenaran, dan paling tahu tentang kebenaran tersebut.

Hingga Ali bin Abu Thalib berkata Radiyallahu anhu berkata: “kami menganggap ketenangan itu disampaikan lewat lisan Umar.

Bersabda nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: “ Sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan lewat lisan umar dan hatinya”[6].

Beliau juga bersabda:”kalaulah aku tidak diutus kepada kalian, niscaya akan diutus Umar kepada Kalian”[7],

Ibnu Umar berkata:” aku tidak pernah mendengar umar berkata sesungguhnya aku telah meyakini sesuatu, kecuali hal itu terjadi sesuai dengan apa yang ia Yakini.”.

Sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda kepadanya: “ tidaklah setan berpapasan denganmu pada satu jalan niscaya ia pasti memilih jalan lain dari jalan yang engkau lalui.”[8]

Umar dan Abu Bakar tidak pernah sekalipun mengangkat pimpinan munafik untuk kaum Muslimin, keduanya juga tidak mengangkat kerabat mereka, dan tidak terpengaruh dengan celaan orang-orang yang mencela. Bahkan ketika keduanya memerangi orang-orang murtad dan mengembalikan mereka kedalam Islam, keduanya melarang mereka mengendarai kuda dan membawa pedang sampai terlihat jelas taubat mereka.

Umar pernah Berkata kepada Saad Bin Abi Waqqash-amir iraq ketika itu-: “ jangan angkat satupun dari mereka dan jangan bermusyawarah dengan mereka dalam peperangan. Sesungguhnya mereka pernah menjadi pemimpin besar. Seperti Tholihah As Asadi, Aqra bin habis, Uyainah bin Hison, dan Asy’ats bi Qaisy al Kindi dan yang semisal mereka. Ketika Umar dan Abu Bakar Takut ada unsur kenifakan dalam diri mereka, keduanya tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin kaum Muslimin.

Kalaulah Amr bin Ash dan Muawiyah bin Abu sufyan dan yang semisal keduanya termasuk orang yang ditakuti kenifakannya, niscaya mereka tidak akan diangkat memimpin kaum Muslimin. Bahkan Amr bin Ash telah diperintahkan Oleh Rasulullah pada perang Dzatussalaasil, dan Nabi tidak mengangkat orang munafik sebagai pemimpin kaum Muslimin.

Sungguh Rasulullah telah mengangkat Abu Sufyan bin harb ayahnya Muawiyah sebagai Gubernur di Najran. Rasulullah wafat sedangkan Abu Sufyan masih menjadi wakilnya di Najran.

Sungguh kaum Muslimin telah sepakat bahwa keislaman Muawiyah lebih baik dari keislaman ayahnya Abu Sufyan, Bagaimana Mungkin mereka dianggap munafik sedangkan nabi shallallahu Alaihi Wasallam mengamanahkan urusan kaum Muslimin kepada mereka pada masalah ilmu dan amal?!

Sungguh telah diketahui bahwasanya pernah terjadi fitnah yang melibatkan Muawiyah dan Amr Bin Ash, dan selain keduanya. Tidak satupun penolong dan yang memerangi dan yang tidak memerangi mereka menuduh mereka berdusta Kepada Nabi Shallallahu alihi Wasallam, Bahkan seluruh ulama dan Sahabat setelah mereka telah bersepakat bahwa mereka berkata jujur kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan dipercaya riwayatnya, sedangkan orang munafik tidak dipercaya oleh nabi Shallallahu alaihi Wasallam, Bahkan berdusta kepada Nabi dan didustakan oleh nabi.

Semoga Bermanfaat


[1]Hadits Riwayat Muslim dalam Kitab Iman dari Abu Syumasah Al Mahri

[2] Hadits Riwayat Bukhari dalam Kitab Adzan dan Muslim dalam Kitab Masajid

[3] Hadits Riwayat Bukhari dalam Kitab Iman dan Nadzar dari Tsabit bin Ad Dhohak.

[4] Hadit Riwayat Ahmad  4/127 dari Irbad bin Sariyyah As Sulami, Al Haitsami berkata dikitab Al Majma 9/359 : (didalamnya ada Harits bin Ziyad dan tidak aku dapati ada yang mentsiqahkannya… rijal-rijal lainnya tsiqah dan sebagian ada yang diperselisihkan

[5] Hadits Riwayat Bukhari, Bab Fadhoilus Sahabah 3744 dari Anas

[6] Hadits Riwayat Turmudzi daam Kitab Manaqib no.3682 dan ia berkata : hasan gharib, dan riwayat Ibnu majah dalam  Muqaddimah

[7] Hadits Riwayat Turmudzi daam Kitab Manaqib no.3686 dan ia berkata : hasan gharib

[8] Hadits Riwayat Bukhari bab Fadhailus Sahabah no.3683, Dan riwayat Muslim bab Fadhoilus Sahabah (22/4396)

MAJMU FATAWA Jilid 35

 
Tinggalkan komen

Posted by di 10 Ogos 2011 in Pemalsuan Sejarah, Syiah

 

Label: , , ,

Wahabi: Syiah terGELAK BESAR

Cerita wahabi timbul lagi. Kali ni lebih parah, dikaitkan dengan teroris. Lebih parah pemimpin agama negeri, mufti kerajaan negeri dituduh teroris. Habis keliru rakyat Perlis.

Sebaliknya Syiah Malaysia @ Syiah Perlis pasti terGELAK besar. Abu Hassan seorang Siyah Perlis, aku kira yang paling besar gelaknya. Syiah sangat benci kepada Wahabi, terutama Muhammad Abdul Wahab (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) dan lebih-lebih lagi Ibnu Taimiyah (lahir: 22 Januari 1263/10 Rabiul Awwal 661 H – wafat: 1328/20 Dzulhijjah 728 H)

Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Minhajus Sunnah mengelar mereka Rafidah yang membuat ghuluw (berlebihan) terhadap ahli bait nabi s.a.w , membangun masjid di atas perkuburan, beribadah kepada kuburan sebagai tandingan Allah. Katanya Ghuluw adalah akar kesyirikan.

Namun saya bukan pula penyokong wahabi. Ada juga yang tidak berkenan dengan wahabi. Justru saya suka beradap didalam berbedza pendapat. kalau tidak pi Makah dan Madinah nak buat macam mana, nak sembahyang ikut sapa, kalau tak ikut imam wahabi, malah sangat suka pula kalau ikut Syikh Suraim atau Sudais…..  kalau dok di Malaysia pun kalau dengar sura depa dua, uhhh macam dok di Masjidil Haram.

 
1 Komen

Posted by di 27 Julai 2011 in Syiah

 

Label:

Dr. Sayid Husain Al-Musawi: Mengapa Saya Keluar SYIAH

Aku dilahirkan di Karbala. Membesar dalam suasana ajaran Syiah di bawah jagaan kedua ibu bapa yang berpegang teguh dengan agama. Aku belajar di madrasah-madrasah di Kota Karbala sehingga aku bergelar seorang pemuda.
Kemudian bapa ku menghantar ku ke Al-Hauzah Al-Ilmiah Al-Najafiah1 iaitu sebuah pusat pengajian terbesar di dunia untuk aku mencedok ilmu daripada ulama-ulama Syiah yang besar dan masyhur ketika ini seperti Samahah Al-Imam Al-Sayid Muhammad Al-Hussain Kasyif al-Ghito’. Beliau mengajar kami di al-Hauzah Al-Ilmiah Al-‘Aliyyah. Cita-cita ku ialah untuk menjadi pakar rujuk dalam agama dan mengetuai Al-Hauzah serta berkhidmat kepada agama dan umat seterusnya memajukan umat Islam. Impian ku ialah untuk melihat umat Islam bersatu padu dan dipimpin oleh seorang Imam dalam keadaan aku mampu melihat negara-negara kafir hancur di hadapan Umat Islam. Terdapat banyak lagi impian para pemuda Islam yang cemburu untuk agamanya yang tidak tertulis di sini…….

BACA BUKU SETEBAL  248 HALAMAN SELANJUTNYA DI

http://aburedza.files.wordpress.com/2011/07/mengapa-aku-tingalkan-syiah.pdf

 
Tinggalkan komen

Posted by di 20 Julai 2011 in Syiah

 

Label: ,

Al Imam Al Qodhi Abi Ya’la : “Meluruskan Sejarah Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan”

Penulis kitab ini adalah Al Imam Al Qodhi Abi Ya’la Muhammad bin Husain Al Fara’ yang diriwayatkan oleh anaknya Abil Husain Muhammad darinya, kemudian diteliti (tahqiq) oleh Syaikh Abdul Hamid bin Ali Al Faqihi .

e-BOOK setebal 54 halaman ini, adalah Muqoddimah (pendahuluan) dari kitab beliau – Rahimahullah- yang berjudul “Tanzihu Kholil Mu’minin Mu’awiyah bin Abi Sufyan min Dzulmi wal Fisqi fii Mutholabatihi bi Da mi Amiril Mu’minin Utsman bin Affan ” kemudian diterbitkan dalam edisi Bahasa Indonesia dengan judul “Meluruskan Sejarah Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan”

Kandungan  e-book ini yang diusahakan oleh Kampungsunah adalah seperti berikut:

Daftar Isi

Dari Penerbit………………………………………………………………………Ms 3

Fitnah Pada Masa Dzun Nurain Utsman Bin ‘Affan    ……………………..……….. 5

Pergerakan Ahlul Fitnah Dan Sikap Utsman Terhadap Mereka…………………… 14

Pengepungan Dan Syahidnya Utsman……………………………………………… 19

Usaha-Usaha Utsman Untuk Menghentikan Pengepungan………………………… 22

Detik-Detik Syahidnya Utsman…………………………….………………………. 25

Khilafah Ali Bin Abi Thalib……………………………….……………………….. 28

Sikap Penduduk Daerah Lain Terhadap Baiat Ali Bin Abi Thalib…………………. 34

Sikap Ali Bin Abi Thalib Terhadap Para Pemberontak………………….………….. 35

Sikap Muawiyah Bin Abi Sufyan Terhadap Baiat Ali Bin Abi Thalib…………….. 42

Penutup……………………………………………………………………………… 53

SILA KLIK LINK BERIKUT UNTUK MEMBACA  ON LINE ATAU SAVE UNTUK MEMBACA DILUAR TALIAN:

http://aburedza.files.wordpress.com/2011/07/meluruskan-sejarah-tragedi-terbunuhnya-utsman-bin-affan-abuyaala.pdf

 
Tinggalkan komen

Posted by di 17 Julai 2011 in Pemalsuan Sejarah, Sejarah, Syiah

 

Label: ,

Ulama Besar Syiah: Abu Thalib Tidak Meninggal Sebagai Mukmin!

Menghujat Abu Hurairah, Menghujat Kitab Sendiri .Apakah Ulama Syiah Dibayar Bani Umayah?

Kata abdul husein, Abu Hurairah termasuk orang bayaran bani Umayah untuk menjelek-jelekkan Ali dan keturunannya.

Abu Hurairah meriwayatkan hadits tentang Abu Thalib yang menolak bersyahadat saat wafatnya. Tapi abdul husein tidak bisa menerimanya. Katanya:

Hadis ini adalah  satu dari banyak hadis yang dibuat oleh para tentara bayaran untuk menyanjung musuh-musuh Ali dan keturunannya. Bani Umayyah mencoba apa pun yang mungkin untuk menyebarkannya.

Artinya, hadits ini adalah palsu, buatan orang-orang bayaran Bani Umayyah.

Dalam Tafsir Al Qummi: surat Al Qashash ayat 56. Al Qummi berkata:

ayat ini turun mengenai Abu Thalib, Rasulullah berkata padanya: wahai paman, katakan Laa ilaaha illallah, aku akan bisa berguna bagimu di hari kiamat, Abu Thalib menjawab: wahai keponakanku, aku lebih mengenal diriku, ketika meninggal dunia, Abbas bersaksi bahwa dia mengucapkannya saat meninggal. Kata Rasulullah: aku tidak mendengarnya, dan aku berharap dapat berguna baginya di hari kiamat nanti.

Fadhlullah Ar Rawandi, seorang ulama syiah, dalam kitabnya berjudul Nawadir Ar Rawandi hal 10 berkata: Rasulullah bersabda: orang yang paling ringan siksanya adalah pamanku, aku mengeluarkannya dari dasar neraka sampai ke lembahnya, dia mengenakan dua sandal dari api, membuat otaknya mendidih.

Al Majlisi menukil dari Ibnu Abil Hadid dalam syarah Nahjul Balaghah:

manusia berselisih tentang keislaman Abu Thalib. Imamiyah dan Zaidiyah berpendapat: mereka berdua mati dalam keadaan muslim. sebagian guru kami dari kalangan Mu’tazilah juga meyakini pendapat itu, di antaranya: Abu Qasim Al Balkhi, Abu Ja’far Al Iskafi dan lainnya. Sementara kebanyakan manusia, yaitu dari kalangan ahli hadits dan kebanyakan guru kami dari basrah dan lainnya: dia mati di atas agama kaumnya, dan mereka meriwayatkan hadits yang terkenal: bahwa Rasulullah bersabda menjelang matinya Abu Thalib: wahai pamanku, katakan Laa Ilaaha Illallah, kalimat yang akan kujadikan saksi di hadapan Allah kelak di hari kiamat. Jawab Abu Thalib: Jika bukan karena aku takut orang arab mengatakan bahwa Abu Thalib takut saat mati, aku akan mengatakannya. Dan diriwayatkan bahwa Abu Thalib berkata: aku berada pada agama orang-orang tua, dikatakan juga bahwa dia berkata: aku berada pada agama Abdul Muthalib, dan ada lagi yang mengatakan bahwa Abu Thalib mengatakan lainnya.

Banyak ahli hadits meriwayatkan bhawa firman Allah : at taubah 113-114, turun berkenaan dengan Abu Thalib, karena Rasulullah memohonkan ampunan untuknya setelah dia mati.

Mereka juga meriwayatkan bahwa ayat : sesungguhnya engkau tidak bisa memberi petunjuk pada orang yang kau suka. adalah turun berkenaan Abu Thalib.

Mereka juga meriwayatkan bahwa Ali datang menemui Rasulullah setelah wafatnya Abu Thalib, dan berkata: pamanmu yang sesat telah mati, apa perintahmu kepadaku? Dan mereka berhujjah bahwa tidak pernah Abu Thalib terlihat melakukan shalat, dan shalat adalah pembeda antara muslim dan kafir, juga Ali dan Ja’far tidak mengambil harta warisannya sedikitpun.

Mereka meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: sesungguhnya Allah telah menjanjikanku untuk meringankan azabnya karena jasanya padaku, dia berada di lembah neraka. Mereka juga meriwayatkan bahwa ada yang berkata pada Rasulullah shallallahualaihiwasallam  : alangkah baiknya jika engkau memohonkan ampunan untuk ayah dan ibumu, Rasulullah shallallahualaihiwasallam menjawab: jika aku memohonkan ampunan bagi mereka berdua, aku akan memohonkan ampunan bagi Abu Thalib, karena dia telah berbuat apa yagn tidak dilakukan oleh ayah dan ibuku. Dan  Abdullah, Aminah serta Abu Thalib berada di salah satu kamar neraka.

Biharul Anwar jilid 35 hal 155.

Nukilan di atas adalah dari para ulama syiah.

Apakah para ulama syiah di atas juga orang bayaran Bani Umayah?

 

Sumber: http://hakekat.com/

_____________

Tulisan di atas menjawab sangahan seorang pembaca, Ake Weha, melalui tulisan beliau yang saya turunkan di bawah ini:

(Ake Weha menulis kepada saya sebagai respon kepada tulisan saya: Abu Thalib bin Abdul Mutalib : Mukmin atau Kafir ?)

APAKAH ANDA BEGITU YAKIN DENGAN REFERENSI TENTANG PENGKAFIRAN TERHADAP ABU THALIB AYAHANDA DARI IMAM ALI SEKALIGUS PEMELIHARA SANG YATIM PIATU YAITU RASULULLAH SAW?

SILAHKAN ANDA BELAJAR DAN BELAJAR LAGI SERTA MAU MENDENGAR , SEBELUM KEMATIAN MENDATANGI ANDA DAN MENINGGALKAN WEBSITE INI DENGAN INFO TIDAK SEIMBANG.

BUKANKAH SEBAIK-BAIKNYA YATIM PIATU ADALAH RASULULLAH SAW , DAN SEBAIK-BAIKNYA PEMELIHARA YATIM PIATU ADALAH ABU THALIB.

SESUNGGUHNYA, ILMU TENTANG KEMULIAAN ABU THALIB DITUTUPI OLEH POLITIK ZAMAN UMAYYAH DAN PENCINTANYA.
BELAJARLAH LAGI WALAUPUN ANDA TELAH MERASA DIRI SEBAGAI ULAMA ATAU PUN ORANG YANG BERILMU. BUKANKAH ULAMA LEBIH BERAT TANGGUNG JAWAB NYA DI HARI KIAMAT?

UNTUK ANDA INGAT-INGAT, KALAU SUATU SAAT NANTI ANDA “MASUK SYURGA” MAKA ANDA AKAN MENEMUI BAHWA SELURUH PENGHULU-PENGHULU SYURGA ADALAH KELUARGA NABI YANG UTAMA YAITU:
– Rasulullah SAW
– Khadijah
– Fathimah
– Ali bin Abu Thalib
– Hasan
– Husen

pERLUKAH SAYA MENGIRIM REFERENSI BUAT ANDA?

—Apakah Anda masih mau mendengar atau sekedar study banding sebelum kematian menjemput?———-

Assalaamu’alaikum ya Akhifillah !

 

Baca juga di sini ADA KAITAN

 
Tinggalkan komen

Posted by di 3 Julai 2011 in Syiah, Uncategorized

 

Label: ,

Dr Sulaiman Nordin:Teori Wilayatul Faqih Imam Khomeini

 
Tinggalkan komen

Posted by di 19 Jun 2011 in Syiah

 

Label: ,

Mufti Wilayah Persekutuan – SYIAH Bukan Ahlul Bait

Dapatkan artikal berkaitan di:

http://www.muftiwp.gov.my/v1/index.php?option=com_content&view=article&id=88

Mengenai Imam ke 12 , Imam Mahdi Syiah, disini mungkin ada kaitan:

http://aburedza.wordpress.com/2010/02/10/imam-ke-12-imam-mahdi-ia-ujud-atas-andaian-bukan-atas-kelahiran/

 
3 Komen

Posted by di 18 Jun 2011 in Syiah

 

Label: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers